Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Matahari terbit belum terlalu tinggi ketika Fatha tiba-tiba mengajak saya keluar kamar. Ia mengingatkan saya akan rencana  proyek keluarga ...

Tabungan 3S (Memisahkan Pos Pengeluaran)

Matahari terbit belum terlalu tinggi ketika Fatha tiba-tiba mengajak saya keluar kamar. Ia mengingatkan saya akan rencana proyek keluarga yang sudah kami susun kemarin. Tangannya menunjuk pada gelas-gelas plastik bekas minuman yang kemarin sudah saya cuci. Hari ini kami mengubah tabung-tabung tersebut menjadi celengan 3S Fatha.


Bagian dalam gelas kami beri kertas HVS dengan gambar tertentu. Karena Fatha belum bisa membaca, gambar-gambar inilah yang berfungsi untuk membedakan tujuan tabung satu dengan lainnya. Penjelasan tentang peruntukan masing-masing tabung ini sudah sempat kami bahas kemarin.

Tabung spend kami tandai dengan gambar balon dan es krim. Tabungan untuk membeli sepeda dalam tabung save diberi gambar sepeda roda dua. Terakhir, sebagian uang Fatha disisihkan dalam tabung share bergambar masjid untuk diberikan pada orang yang berhak melalui infak.

Hari ini Fatha sudah mulai mengisi tabung-tabung tersebut. Saya juga sudah mulai membiasakan diri saat pagi tadi ia berujar,

"Bu, minta uang.."



Sudah saatnya Si Kecil dilatih mengenal uang dan bagaimana cara bijak mengelolanya. Kita belajar sedikit demi sedikit ya, Nak :)

#Harike2
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

0 comment(s):

Bu, Kakak mau ini Ujar Fatha suatu malam. Jari telunjuknya mengarah pada dua buah sepeda berwarna magenta dan pink. Saat itu kami sedang ...

Mengasah Kecerdasan Finansial Balita

Bu, Kakak mau ini
Ujar Fatha suatu malam. Jari telunjuknya mengarah pada dua buah sepeda berwarna magenta dan pink. Saat itu kami sedang berada di rumah seorang kawan Ibu.

"Kakak mau main sepeda?" tanya saya memastikan. Dijawab Fatha dengan anggukan. Malam itu kami meminta ijin Mbak Calysta, putri teman Ibu, agar Fatha bisa mengobati rasa penasarannya untuk memegang dan mengeksplorasi sepeda tersebut.

Hingga usianya yang menginjak 2 tahun, Fatha belum memiliki sepeda, roda tiga atau empat sekalipun. Beberapa kali ia meminjam sepeda milik sepupu atau kerabatnya saat berkunjung di luar kota. Fatha memang sudah menunjukkan ketertarikan pada mainan beroda ini. Bahkan beberapa kali jika melewati toko mainan dan menemukan kenampakan sepeda, ia akan berlama-lama memperhatikan lalu mencoba menaikinya.

  


Awalnya, Ayah dan Ibu sepakat hendak membelikan sepeda Fatha saat ia nanti berusia 3 tahun. Pertimbangannya, badannya sudah lebih tinggi, gerakannya sudah lebih lincah, dan Uti sudah tak perlu mengejar-ngejarnya kesana kemari. Pikiran Ibu mulai goyah saat salah seorang teman ibu membuka pre order balance bike merk lokal dengan harga sangat terjangkau. Mengapa bisa selisih banyak? Karena pembelian dalam skala besar, tentu harga jadi lebih murah.

Setelah berdiskusi dengan Ayah, sambil menunjukkan beberapa artikel tentang manfaat balance bike di sini dan di sini, maka kami putuskan untuk mengikuti PO tersebut. Masih cukup waktu untuk mengumpulkan tabungan, pikir kami.

Mumpung kemarin Ibu Fatha baru saja mendapatkan materi mengenai mendidik anak agar cerdas finansial, maka digunakanlah kesempatan ini. Ibu akan berusaha mengenalkan konsep menabung kepada Fatha supaya tercapai cita-citanya memperoleh sepeda mini-nya sendiri. Hehehe..

Rencananya akan dibuat 3 buah wadah celengan dengan peruntukannya masing-masing:

  • Tabung Spend
Tabung ini dikhususkan untuk jajan sehari-hari Fatha. Saat ini ia memang belum mengenal konsep "jajan". Kata "belanja" ia ketahui setelah suatu ketika mendengar Uti belanja telur di warung Bu Ari. Tapi beberapa kali ia sudah meminta dibelikan balon atau es krim. Nantinya uang di tabung ini dikumpulkan agar Fatha hanya membeli dua barang kesayangannya itu sesekali. Tentunya menunggu jumlahnya cukup dan tidak membelanjakan uangnya setiap hari.
  • Tabung Save
Konsep menabung untuk membeli barang yang diidamkan akan diperkenalkan melalui tabung ini. Harapan Ibu, Fatha bisa menyisihkan sebagian uang yang diberikan Ibu pada Fatha. Jika sudah terkumpul jumlah yang cukup, maka balance bike dapat dibeli.
  • Tabung Share
Dalam setiap harta kita, ada bagian dan hak Tuhan yang harus dikeluarkan. Rencananya, Fatha mengumpulkan uang di dalam tabung ini, dan dibawa ke masjid setiap akhir pekan. Sedekah bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan, atau dimasukkan ke dalam kotak infak di masjid.

Sore ini Ibu dan Fatha mengagendakan eksekusi rencana yang sudah disusun. Insya Allah, Fatha mulai mengisi tabung-tabungnya esok hari. Semoga lancar..


#Harike1
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

0 comment(s):

Langit Salatiga pada Sabtu sore itu terlihat biru cerah. Kontras dengan Gunung Merbabu yang tampak tegar di kejauhan. Mendung diikuti ...

Berwisata sambil Belajar: Dunia Vektor dan Reservoir Penyakit


Langit Salatiga pada Sabtu sore itu terlihat biru cerah. Kontras dengan Gunung Merbabu yang tampak tegar di kejauhan. Mendung diikuti hujan yang biasanya menggelayut tak muncul sama sekali. Ayah berkendara dengan memboncengkan Ibu dan Fatha dalam gendongan. Jalan raya tampak lengang, seperti hari-hari biasa.

Lima belas menit perjalanan terasa singkat. Kami pun tiba di sebuah bangunan perkantoran dengan lapangan berumput hijau di bagian depannya. Jangan bayangkan gedung perkantoran ini seperti gedung bertingkat di kota-kota besar.


Gedung yang kami tuju sangat sederhana dan bersahaja. Suasana asri mendominasi, disebabkan oleh pepohonan rindang yang menaungi. Pohon kamboja yang meranggas menambah kesan eksotis bangunan yang kami tuju.

Hari itu kami berencana berwisata ke Dunia Vektor dan Reservoir Penyakit, atau yang lebih dikenal sebagai Duver. Duver merupakan wahana wisata ilmiah yang dibangun pada tahun 2011 oleh Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (B2P2VRP). Balai Besar ini merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Penelitian Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.


Ketika masuk pintu gerbang, kami disambut oleh petugas keamanan yang berjaga. Ah ya, Duver hanya buka di hari Senin sampai dengan Jumat pukul 08.00 hingga 16.00. Saat itu seharusnya wahana tersebut ditutup.


Kami mendapat akses untuk masuk ke dalam Duver karena sehari-hari Ibu Fatha bekerja di sana. Jadi kami diperbolehkan masuk, namun Ibu Fatha-lah yang harus berperan sebagai guide bagi Ayah dan Fatha. Hehehe..


Tampilan depan Duver

Buat yang bertanya-tanya, apa saja isi Duver, kita mulai dari bagian luar dulu, ya. Informasi mengenai definisi vektor dan reservoir penyakit termuat pada dinding samping gedung.


Tampilan poster pada dinding bagian luar gedung

Nyamuk, lalat, dan kecoa merupakan sebagian vektor penyakit yang bisa ditemukan di Indonesia. Sudah bisa mengira-ngira artinya? Ya, vektor adalah serangga penular penyakit, dari hewan kepada manusia atau antar manusia. Penyakit yang ditularkan oleh serangga-serangga ini dinamakan penyakit tular vektor. Contoh yang paling umum ditemukan adalah demam berdarah dengue, malaria, filariasis limfatik atau penyakit kaki gajah, dan chikungunya.

Mirip seperti vektor, reservoir juga merupakan makhluk hidup yang dapat menularkan penyakit. Bedanya, kuman atau agen penyakit pada reservoir dapat berkembang biak di dalam tubuhnya sehingga mampu ditularkan pada makhluk hidup lain. Reservoir dapat berupa vertebrata (manusia atau hewan) dan tidak mengalami gejala klinis penyakit, atau gejala yang timbul sangat ringan.


Penjelasan mengenai vektor dan reservoir penyakit kami dapat dengan lebih jelas dan menarik di dalam gedung Duver. Begitu melewati pintu masuk, sepasang maskot Duver, yaitu Mosqi dan Ratty telah menyambut. Mosqi adalah nyamuk berwarna kecoklatan yang digambarkan sedang dirangkul oleh Ratty. Ratty berbulu kelabu dan mengenakan jas laboratorium berwarna biru. Tangan kanan si tikus ini memegang kaca pembesar.


Mosqi Si Nyamuk, dan Ratty Si Tikus maskot Duver
Setelah memotret mereka berdua, Ibu Fatha baru sadar, lampu ruangan belum dinyalakan. Pantas gelap :D

Tepat di samping kiri kedua maskot tersebut, beberapa pigura berisi "sketsa" tampak dipajang berderet. Setelah diamati baik-baik, rupanya bukan sketsa yang dibingkai oleh pigura, melainkan kolase dari ratusan ekor lalat, nyamuk, dan kecoa. Kolase tersebut membentuk berbagai bentuk seperti logo Bhakti Husada, kecoa raksasa, mikroskop, peta Indonesia, bahkan wajah presiden, wakil presiden, dan mantan menteri kesehatan RI.

Kolase serangga vektor

Berada di seberang "lukisan" serangga, terpajang sebuah layar LCD besar yang biasa digunakan untuk menayangkan film. Biasanya film edukasi mengenai serangga vektor atau hewan penular penyakit ditayangkan ketika ada pengunjung.



Siswa-siswa SD sedang menyaksikan film tentang siklus hidup nyamuk. Foto diambil dari koleksi B2P2VRP

Sampai saat ini, diketahui ada 2 spesies nyamuk yang telah terbukti menularkan demam berdarah dengue (DBD):  Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Demam berdarah menjadi masalah di hampir semua daerah di Indonesia.

Berbeda dari DBD, malaria diakibatkan oleh plasmodium dan ditularkan oleh  nyamuk Anopheles. Uniknya, ada 20 lebih spesies yang diketahui berperan sebagai vektor malaria di Indonesia. Padahal habitat atau tempat hidup Anopheles ini berbeda-beda tergantung spesiesnya. Pun cara mengendalikan nyamuk tersebut.


Itulah sebabnya pengetahuan mengenai jenis dan sebaran nyamuk Anopheles sangatlah penting. Peta sebaran ini dipasang pada dinding sebelah LCD, tak jauh dari poster mengenai siklus penularan DBD dan penyakit kaki gajah.


Peta sebaran nyamuk Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria. Pengunjung diperkenankan menekan saklar lampu yang merepresentasikan satu spesies nyamuk. Lampu akan menyala di lokasi tempat nyamuk tersebut menularkan penyakit.

Siklus penularan penyakit tular vektor penting diketahui untuk memutus rantai penularan

Anjungan berikutnya adalah koleksi awetan nyamuk yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Koleksi tersebut tersimpan rapi pada kotak-kotak kayu besar bertutup kaca. Mikroskop dan kaca pembesar telah disediakan bagi pengunjung untuk mengamati nyamuk lebih dekat.

Spesimen awetan nyamuk dari Sulawesi. Informasi mengenai nama spesies, lokasi, metode, tanggal penangkapan, dan nama petugas penangkap ditulis pada label sebagai satu kesatuan dengan spesimen.

Para pengunjung cilik biasanya tertarik dengan kenampakan nyamuk di bawah mikroskop. Foto diambil dari koleksi B2P2VRP.

Berbagai macam peralatan penangkapan dan pengendalian nyamuk dari masa ke masa ditampilkan pada sebuah lemari kayu dengan pintu kaca. Kesan kuno dan klasik timbul karena alat-alat yang dipajang di sana merupakan alat-alat berusia tua yang sudah tidak digunakan lagi.

Kenampakan lemari penyimpanan alat

Kotak-kotak kayu berjendela kaca memuat beragam diorama. Beragam model pengendalian nyamuk DBD dan malaria, leptospirosis, serta habitat tempat ditemukannya tikus dapat dipelajari di sana.


Model pengendalian nyamuk dengan penyemprotan insektisida secara IRS

Tampilan deretan diorama

Diorama ini berupa miniatur rumah dan lingkungan yang umum ditemukan nyamuk atau kuman penyebab leptospirosis. Cara mengendalikan penyakit tersebut ditunjukkan dengan orang-orangan mini yang sedang menyemprotkan insektisida. Tempat penampungan air yang berpotensi sebagai tempat hidup nyamuk juga ditunjukkan melalui model-model mini ini.


Poster hasil penelitian

Anjungan-anjungan berikutnya memperlihatkan bagaimana proses penangkapan nyamuk, tikus, dan kelelawar di lapangan. Manekin dengan pakaian lapangan memeragakan bagaimana menggunakan alat-alat survei. Jenis-jenis hewan penular penyakit dipamerkan dalam kotak-kotak kaca berukuran sangat besar.



Cara menggunakan perangkap tikus dan kelelawar yang disemonstrasikan oleh bapak-bapak manekin berpakaian seragam lapangan.

Bermacam jenis kelelawar yang sudah diawetkan. 


Berbagai jenis tikus awetan hasil tangkapan di lapangan

Parasit cacing yang ditemukan pada organ di dalam perut tikus.

Contoh reservoir berupa unggas

Jenis reservoir yang tergolong dalam mamalia, termasuk kambing, anjing, dan harimau.

Pak manekin menunjukkan cara menggunakan aspirator untuk menangkap nyamuk dalama keadaan tetap hidup, serta deeper untuk mengumpulkan jentik nyamuk.

Keluar dari bangunan gedung, kami menemui sepetak kecil taman dan "kebun binatang mini". Ternyata bukan sembarang taman, tempat tersebut mempertontonkan tanaman dan hewan alami yang berperan sebagai musuh alami vektor dan reservoir penyakit. Ada ikan dan ular. Ada pula hewan-hewan yang sering ditemukan di sekitar kita, namun rupanya berperan juga sebagai reservoir penyakit. Contohnya ayam yang dapat menularkan penyakit flu burung.



Taman pengendalian vektor dan reservoir

Tak terasa hampir satu jam kami berkeliling. Padahal Duver tergolong imut untuk ukuran wahana ilmiah. Tapi karena memuat banyak informasi ilmiah, waktu pun berasa singkat.

Tak afdol, berkunjung tanpa berswafoto 🙈

Kami pun pulang menuju rumah sebelum azan maghrib berkumandang. Tertarik pergi ke sana? Detail prosedurnya bisa teman-teman baca pada tautan ini. Biaya masuk cukup dua ribu rupiah per orang.

Selamat berkunjung :)





0 comment(s):

"Halo-halo Bandung.. Ayo Ibu nyanyi," Fatha menarik tangan saya suatu siang. Ia menggenggam ujung selimut dan dan mengarahkan...

Lihat Aku, Ibu (Semua Anak adalah Bintang)


"Halo-halo Bandung.. Ayo Ibu nyanyi," Fatha menarik tangan saya suatu siang. Ia menggenggam ujung selimut dan dan mengarahkannya ke mulut saya. Spontan, saya ikut menyanyi seakan-akan di hadapan mikrofon, menirukan kata-kata dan gayanya.

Fatha berusia 22 bulan saat ini. Ia sedang gemar bernyanyi. Belasan lagu anak, perjuangan, dan lagu-lagu earworm macam "Sayur Kol" sering terdengar mengalun dari bibirnya. Tak jarang, di tengah aktivitas bermain, ia mendendangkan potongan-potongan lirik tersebut.

Berbekal materi Bunsay Level 7, saya makin peka terhadap tingkah lakunya. Hal-hal kecil yang ia gemari tercatat dalam portofolio-nya. Termasuk kegemarannya saat ini, gerak dan lagu.

Mengikuti ke mana minat si kecil menjadi salah satu strategi pembelajaran yang kami lakukan. Seperti filosofi "membuat atau meninggikan gunung, bukan meratakan lembah", orang tua harus belajar tanggap terhadap tanda-tanda yang diberikan oleh buah hati tercinta.

Saat ini pendekatan melalui musik atau suara serta permainan yang melibatkan banyak gerakan sangat efektif untuk Fatha belajar. Ia mampu menguasai banyak hal mulai dari kemandirian hingga fitrah spiritual melalui berbagai hal yang menyenangkan menurutnya.

Mengamati gerakan sholat berjamaah para bapak, misalnya. Dengan senang hati Fatha akan menirukan. Atau mengenal bacaan-bacaan surat pendek sehingga ia familiar.

Memperkenalkan dengan banyak aktivitas juga merupakan salah satu strategi untuk mengenali minat dan bakat Si Kecil. Semakin dini terdeteksi, maka peluang untuk mengembangkan minat dan bakat tersebut akan semakin besar. Walau tak jarang pada usia yang lebih besar, anak akan menunjukkan perubahan minat.

Yang jelas hingga level 7 ini baik Fatha, Ibu, maupun Ayah masih sama-sama menikmati tantangan demi tantangannya. Semakin banyak kegiatan spontan maupun proyek keluarga yang dilakukan, maka kedekatan kami pun terasa makin kuat.

Terima kasih, Ibu Profesional..

#AliranRasa
#Level7
#Bunsay4

0 comment(s):

Hari Jumat ini merupakan hari yang istimewa untuk Fatha. Ayah berjanji akan mengajaknya sholat Jumat di masjid dekat rumah. Sejak malam seb...

Sholat Jumat (Semua Anak adalah Bintang)

Hari Jumat ini merupakan hari yang istimewa untuk Fatha. Ayah berjanji akan mengajaknya sholat Jumat di masjid dekat rumah. Sejak malam sebelumnya, Ayah dan Ibu sudah melakukan sounding, menyampaikan padanya hal-hal penting yang harus dilakukan.

"Kakak besok sholat di samping Ayah ya. Shalat yang khusyuk, tidak lari-lari di dalam masjid," Ayah berpesan.

Saat menjelang azan dhuhur, Fatha sudah selesai wudhu dan berpakaian rapi. Ia bahkan sudah meminta sajadahnya disampirkan pada pundaknya.

Ayah bercerita sepulang dari masjid. Fatha sangat kooperatif saat ibadah, alhamdulillah. Ia sempat bertemu kawan-kawan tetangga dan saling menyapa.

Yang membuat terharu, Fatha menaati pesan Ayah untuk tetap tenang saat khotbah dan sholat Jumat. Ia mengamati sekelilingnya dengan baik.


Menurut pendidikan berbasis fitrah, anak usia 2-7 tahun memang perlu didekatkan dengan kedua orang tuanya. Ia perlu menghayati peran ayah dan ibu dalam kehidupannya. 

Kewajiban lelaki untuk sholat berjamaah di masjid adalah salah satu contohnya. Ayah sebagai role model perlu dihadirkan agar Fatha paham bahwa ini lho salah satu hal yang membedakan lelaki dan perempuan. Ibu boleh sholat di rumah, dan wajib menutup seluruh auratnya, antara lain dengan cara mengenakan mukena. Sedangkan Ayah sebagai laki-laki cukup menutup aurat dengan celana panjang atau kain sarung.

Semoga kamu selalu jadi anak shalih ya Nak :)

#Harike16
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Belajar fisika sederhana dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai dilakukan Fatha. Eits, tak perlu berpikir rumit, Hukum Boyle yang membahas...

Memompa Ban Sepeda (Semua Anak adalah Bintang)

Belajar fisika sederhana dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai dilakukan Fatha. Eits, tak perlu berpikir rumit, Hukum Boyle yang membahas hubungan tekanan dan volume dipelajari melalui prinsip pompa sepeda.

Cerita berawal dari rencana Om Adhit yang akan berolahraga sebelum berangkat menuju tempat pemungutan suara. Sepeda merah kesayangannya sudah dikeluarkan dari garasi dan dilap hingga mengkilap. Rupanya ban belakangnya kempes. Jadilah Om Adhit mengeluarkan pompa dan mulai mengisi ban dengan udara.

Fatha yang mengamati sejak awal mulai penasaran ketika melihat si pompa. Ia mulai bertanya dan meminta ijin pada Om Adhit untuk memegang benda yang baru pertama kali dilihatnya.


Om Adhit menjelaskan dengan praktik langsung. Tuas pengisap ia tarik dan dilepaskan ke arah Fatha. Fatha berteriak kegirangan. Ia pun melakukan hal yang sama dengan bantuan Om Adhit.

Pagi itu Fatha belajar tentang udara yang tak terlihat namun dapat dirasakan melalui kegiatan memompa sepeda. Tentu saja, Fatha terlihat senang mengenali dan melakukan hal baru.

#Harike15
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Jika ditanya, apa profesi utama Ibu Fatha, tanpa ragu saya menjawab, " A happy playmate and best friend for a 2-year-old todd...

Ketika Harus Meninggalkan Si Kecil (Dilema Ibu Bekerja)




Jika ditanya, apa profesi utama Ibu Fatha, tanpa ragu saya menjawab, "A happy playmate and best friend for a 2-year-old toddler."

Menjadi teman bermain Fatha adalah cita-cita saya semenjak diperistri oleh ayahnya. Penantian beberapa tahun untuk kelahirannya membuat saya memantapkan hati akan mendedikasikan waktu dan tenaga buat keluarga. Oke, mungkin masih jauh dari kata ideal. Ada masanya saya harus tega mengabaikan tangisan atau rayuan Si Kecil ketika harus meninggalkannya jauh ke luar kota selama beberapa hari.

Tugas lain sebagai abdi negara memang sering membuat dilema. Saya bergabung di institusi pemerintahan sejak lulus kuliah S1. Dulunya tak pernah terlintas dalam benak saya bahwa menjadi ibu bekerja akan segalau ini. Mana yang akan dipilih apabila tugas negara menanti, sedangkan Si Kecil sebagai amanah utama sedang butuh banyak perhatian.

Perasaan rindu dan bersalah kadang muncul meski tak sampai menghantui. Manajemen emosi agar perasaan negatif itu tidak berlarut-larut sangat diperlukan dalam situasi saya. Ayah Fatha sering mengingatkan,
Beruntunglah anak kita yang sudah belajar menata hatinya saat berpisah dari Ayah Ibunya. Penting untuk selalu menghargai perasaannya. Tugas kita adalah membuatnya  tak segan menyampaikan emosinya.
Kami selalu menyempatkan pillow talk saat sedang bersama; memastikan bahwa buah hati kami tahu, ia dicintai dan diharapkan kehadirannya. Fatha adalah anak dengan tipe bahasa kasih sentuhan. Menghujaninya dengan perhatian dan sentuhan fisik mampu mencuri hatinya. Memberikannya banyak pelukan, senyuman, belaian di kepala, atau bahkan pijatan-pijatan lembut saat menjelang tidur adalah quality time kami bersama.

Ayah Fatha sering mengingatkan saya akan sebuah kesepakatan yang kami berdua jalankan.
Tak ada gawai ketika sedang membersamai Si Kecil. Seluruh fokus dan perhatian ditujukan padanya. Tatap matanya ketika berbicara dan tanggapi setiap komunikasi darinya.
Saya sering merasa takjub dengan hal sederhana ini. Ketika merasa dihargai dan diperhatikan, anak lebih mudah diajak berkompromi. Contohnya seperti ini.

Saya berencana meninggalkan Fatha selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan. Dua atau tiga hari sebelumnya, saya meminta ijin untuk tak dapat membersamainya. Saya mencari waktu khusus saat sedang berdua. Saat menyusui, misalnya. Momen-momen seperti itu, saya bisa menatap mata Fatha sambil menyampaikan maksud kata-kata saya. Ia pun merespon dengan baik.

Jika hari itu ia belum memberikan ijin, saya akan mengulangnya lagi di kesempatan berikutnya. Seringnya Si Anak Bujang memahami dan merestu keberangkatan saya. Terlebih jika saat berangkat ia menyaksikan sendiri bagaimana saya naik kendaraan, sepanjang tugas luar kota Fatha tidak akan merengek mencari Ibunya.

Semoga hingga besar nanti, kami selalu bisa menjalin komunikasi dengan baik. Bukankah kepercayaan bisa dibangun, salah satunya dengan kelancaran komunikasi dari hati ke hati? :)



0 comment(s):

Beberapa hari terakhir, Ibu dan Uti cukup dipusingkan oleh menurunnya selera makan Fatha. Biasanya ia lahap menghabiskan makanan yang sudah...

Anak Posyandu (Semua Anak adalah Bintang)

Beberapa hari terakhir, Ibu dan Uti cukup dipusingkan oleh menurunnya selera makan Fatha. Biasanya ia lahap menghabiskan makanan yang sudah disiapkan. Ibu sempat suudzon, apakah gigi Fatha ada yang akan tumbuh lagi? Ternyata belum.

Berbarengan dengan Ibu harus pergi keluar kota, jadwal Posyandu tiba. Fatha berangkat bersama Uti dengan membawa buku KIA. Menu PMT bulan ini cukup spesial, yaitu rice bowl. Nasi chicken katsu dengan saus barbekyu dihidangkan dalam sebuah mangkok kertas.

Tak disangka, Fatha melahap makanannya dengan gembira. Ia duduk di pojokan dan menyantap sendiri rice bowl-nya. Sepertinya memang Fatha sedang bosan makan menu yang itu-itu saja. Hehehe.

Ibu kembali bisa tenang. Apalagi setelah Uti bercerita bahwa hasil penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan menunjukkan peningkatan yang cukup banyak daripada bulan lalu :)


Fatha belajar berlatih mandiri dengan menghabiskan sendiri jatah makannya. Ia juga sudah belajar mengatasi ketidaknyamanannya berada di lingkungan dengan banyak orang. Meskipun saat ditimbang ia sempat menangis dan meminta "sama Ibu aja", tapi hal itu tak berlangsung lama.

Tumbuh sehat dan tetap bahagia ya Nak 😘

#Harike14
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Hari ini Ibu pulang dari trip singkat ke luar kota. Seperti biasa, oleh-oleh yang dibawa pulang adalah satu eksemplar majalah. Fatha te...

Keliling Dunia (Semua Anak adalah Bintang)

Hari ini Ibu pulang dari trip singkat ke luar kota. Seperti biasa, oleh-oleh yang dibawa pulang adalah satu eksemplar majalah.

Fatha tertarik membolak-balik halaman majalah tersebut. Ia menunjuk banyak objek menarik baik yang sudah dikenalnya maupun yang baru saja ia lihat. Ada gajah, jam tangan, opor dan gudeg, minion, hingga boneka Matryoshka dari Rusia.

Ibu bercerita bahwa sebelum Fatha lahir, Ayah dan Ibu pernah berfoto bersama para minion. Ibu sampai membukakan halaman album foto untuk menunjukkan buktinya. Hehehe..

Semoga suatu saat Fatha berkesempatan melihat secara langsung objek-objek khas dari pulau atau negara lain. Aamiin..


Bagian yang diasah kemampuannya pada permainan hari ini adalah ranah intrapersonal dan interpersonal. Interaksi dengan ibu melalui percakapan mengenai isi reportase menyentuh ranah interpersonalnya. Sedangkan kegiatan menyanyi dengan menggunakan ujung selimut (yang Fatha imajinasikan sebagai mikrofon) merupakan bagian ranah intrapersonalnya. 

#Harike13
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Akhir-akhir ini Fatha menunjukkan ide kreatifnya dalam beralasan ketika diminta mandi. Ia akan mencari beragam cara menghindar bila sudah ...

Hukum Archimedes Dasar a la Fatha (Semua Anak adalah Bintang)

Akhir-akhir ini Fatha menunjukkan ide kreatifnya dalam beralasan ketika diminta mandi. Ia akan mencari beragam cara menghindar bila sudah tiba waktunya membersihkan tubuh. Kami pun tak mau kalah darinya. Kalimat kunci "ayo bermain air" menjadi senjata andalan untuk membujuk Fatha.

Kemarin pagi, Fatha semangat menuju kamar mandi saat Ibu berjanji akan mengajaknya bermain air dalam botol. Ia menunjukkan keinginan mandi sendiri.

Setelah mengguyur seluruh tubuh dengan air, menggosok tubuhnya dengan sabun, kemudian ia membilasnya kembali dengan air. Terakhir, Fatha minta waktu untik menceburkan diri dan berendam dalam ember berisi air hangat.

Saat berendam inilah, tangan-tangan mungilnya mulai mengambil satu persatu botol ASI perah Ibu yang akan dicuci. Ia mengisinya penuh dengan air dan memindahkannya ke dalam ember.

Ibu melihatnya sebagai kesempatan untuk "bermain sulap". Botol yang penuh berisi air akan tenggelam saat dimasukkan ke dalam ember berisi air. Sebaliknya, saat botol dikosongkan dan dimasukkan ke dalam air, ia akan mengapung.

Kami belajar fisika dasar melalui Hukum Archimedes dengan cara yang menyenangkan. Dengan alat yang seadanya, permainan dijalani Fatha dengan asyik dan serius.


Permainan ini sekaligus bermanfaat untuk mengasah kecerdasan naturalisnya, terutama dalam kemampuan logis matematika saat melihat fenomena alam.


#Harike12
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Building blocks adalah salah satu jenis media permainan favorit Fatha. Ia bisa berimajinasi membentuk semua benda dengan potongan-potongan...

Menjadi Insinyur (Semua Anak adalah Bintang)

Building blocks adalah salah satu jenis media permainan favorit Fatha. Ia bisa berimajinasi membentuk semua benda dengan potongan-potongan balok berwarna.

Kali ini, tema yang ia pilih adalah bangunan gedung dan mobil. Ia memilih dua keping blok berwarna merah dan biru untuk merepresentasikan warna sirine. Fatha terinspirasi dari suara sirine mobil polisi yang ia dengar malam sebelumnya. 

Oh ya, rumah kami terletak tidak jauh dari kantor polisi. Ada saatnya mobil patroli polisi terlihat dari seberang jalan. Fatha suka mengamati nyala biru lampu sirine. Apalagi jika sudah terdengar suara "nguing nguing", ia bersemangat memberitahu semua orang dan mulai bercerita.


Cukup lama Fatha memasang, membongkar, dan dan kembali memasang balok-balok mainannya. Kecerdasan spasialnya dilatih untuk mengimajinasikan dan merealisasikan bayangannya mengenai sebuah bentuk.

Ibu Fatha tentu saja ikut bermain bersamanya :D

#Harike11
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Konsep pertumbuhan tanaman menjadi salah satu pokok bahasan mata kuliah "struktur dan perkembangan tumbuhan" Ibu dulu. Tak disang...

Biology 101 (Semua Anak adalah Bintang)

Konsep pertumbuhan tanaman menjadi salah satu pokok bahasan mata kuliah "struktur dan perkembangan tumbuhan" Ibu dulu. Tak disangka, kali ini ide mengulang praktikum tersebut muncul setelah kami menyantap habis satu buah srikaya.

Banyak biji srikaya yang berhasil dikumpulkan. Daripada terbuang sia-sia, percobaan mengecambahkan biji tersebut kami lakukan. Berbekal sebuah cawan, biji kami "rendam" dalam kapas basah. Setelah ditutup dengan lap, cawan diletakkan dalam tempat yang jauh dari jangkauan sinar matahari.

Rencananya, pengamatan akan kami lakukan beberapa hari lagi. Semoga biji srikaya kami tumbuh sehat.


Selain bereksperimen dengan biji srikaya, pagi harinya Fatha berinisiatif menyiram tanaman di halaman rumah Yangyut. Ia juga mendengarkan penjelasan sederhana tentang proses fotosintesis.

"Tumbuhan butuh air untuk untuk memasak makanannya. Seperti halnya Kak Fatha butuh minum air putih dan nenen buat tumbuh."

Kami belum menjelaskan dengan detail bahwa sinar matahari dan karbondioksida dibutuhkan untuk proses ini. Mungkin di kesempatan berikutnya. Hehehe..

Kedua aktivitas ini membuat Fatha bersinggungan dengan alam, sehingga kecerdasan naturalisnya bisa diasah.

#Harike10
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Kebersihan merupakan sebagian dari iman. Meskipun demikian, prioritas membersihkan rumah menjadi urutan kesekian setelah fokus utama pada F...

Melantai - Menyapu dan Menyepel Lantai (Semua Anak adalah Bintang)

Kebersihan merupakan sebagian dari iman. Meskipun demikian, prioritas membersihkan rumah menjadi urutan kesekian setelah fokus utama pada Fatha.

Mengingat betapa lincahnya ia sekarang, sangat berisiko untuk perhatian terpecah antara mendampingi Fatha bermain dan melakukan pekerjaan lain.

Alhamdulillah semakin besar usianya, Fatha sudah bisa diberi kepercayaan mengerjakan tugas rumah tangga. Awalnya memang ia sedang suka mengimitasi apapun yang dilakukan oleh orang dewasa di sekelilingnya. Lama-kelamaan ia paham ketika sudah mengotori ruangan, maka tanggung jawabnya turut membereskan.

Biasanya ketika ada orang dewasa yang mulai memegang sapu atau pel lantai, Fatha akan ikut mengambil sapu miliknya dan turut membantu membersihkan lantai.

Ada salah satu sapu dengan tangkai patah separuh yang kemudian dimodifikasi menjadi sapu milik Fatha.

Melalui kegiatan menyapu lantai ini, Fatha melatih kecerdasan kinestetiknya. Ia belajar mengerjakan tugas rumah tangga sebagai salah satu kemampuan dasar survival.


#Harike9
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

0 comment(s):

Menulis dan Media Sosial Jika diingat-ingat lagi, sudah sangat lama saya mengenal blog. Ketika berkenalan dengan internet saat SM...

Why Do I Blog



Menulis dan Media Sosial

Jika diingat-ingat lagi, sudah sangat lama saya mengenal blog. Ketika berkenalan dengan internet saat SMA, Friendster dan Multiply merupakan platform pertama tempat saya bisa menulis dengan bebas dan bahagia. Tentu saja konten ceritanya masih sangat asal-asalan dan sekenanya saja. Berkisah dengan bebas dan hasil karya bisa dibaca orang lain merupakan suatu kebanggaan sendiri, terlepas dari bermanfaat atau tidaknya bagi pembaca.

Berlanjut ketika Facebook masih memiliki fitur catatan, kita bisa menulis di sana. Saya kurang merasa nyaman sebenarnya, karena menulis kurang bisa fokus. Keinginan untuk melihat unggahan foto atau share kuis dari teman lain lebih menyita waktu daripada kegiatan menulis itu sendiri.

Pemberhentian berikutnya adalah Blogspot pada tahun 2008. Saat itu saya menggunakan platform ini untuk mengunggah foto-foto karya saya dengan caption seperlunya. Jadi alih-alih meluapkan isi pikiran dalam bentuk tulisan, saya memilih mengekspresikan karya dengan gambar.

Blogspot ini pun perlahan saya abaikan semenjak mengenal Instagram. Pameran foto hasil jepretan sekenanya saya pindahkan ke sana. Blogspot pertama saya pun menjadi berdebu hingga kini.

Tahun 2016, ketika merasa bahwa hiruk pikuk media sosial sudah mulai terasa riuh dan menyesakkan, tergerak hati saya untuk kembali melirik blog. Saya bimbang memilih antara Wordpress atau Blogspot. Mengingat sudah pernah menggunakan Blogspot sebelumnya, mulailah saya membangun Wordpress pada tahun itu. Ingin mencoba rasa berbeda dengan tampilan lebih clean dan minimalis.

Postingan awal saya lebih banyak berupa curhat. Bayangkan saja blog ini sebagai diary online yang bisa diakses oleh siapa pun. Saat itu saya sengaja membuat nama blog yang tidak mengandung sedikit pun unsur nama saya, tujuannya agar identitas saya tetap anonim. Kegalauan saya saat itu yang sudah beberapa tahun menikah dengan suami namun belum dipercaya Tuhan menimang buah hati saya tuliskan di sana. Membiarkan identitas anonim ternyata membuat tulisan saya lebih mengalir. Tak perlu lagi saya memikirkan banyak atau tidaknya orang yang menyukai atau mengomentari postingan saya.

Tuhan sepertinya tidak ingin saya terlalu lama galau dan menyampah di blog. Baru dua postingan saya tentang "harapan memiliki anak", Ia mengabulkan doa saya dan suami. Vakum selama beberapa lama, akhirnya saya kembali menulis di blog karena ingin membangun portofolio saya sebagai seorang ibu sekaligus mengabadikan kisah #elfathamirza dalam satu rumah. Cita-cita menulis dengan tujuan memberikan manfaat untuk lebih banyak pembaca mulai terpupuk saat itu. Berharap orang lain yang mungkin memiliki masalah sama dengan saya bisa tersemangati atau lebih-lebih mendapatkan solusi.

Karena sesuatu hal yang pernah dikisahkan di sini dan di sini, cerita saya berpindah dari Wordpress ke Blogspot. Sampailah hingga hari ini saya menulis di blog ini :)

FYI, bahasan mengenai mengapa saya suka menulis sudah pernah dikupas di sini.

Mengapa Blog?

Saya merasa jauh lebih nyaman menulis di blog. Pertama, karena tidak berbatas karakter. Jika Instagram hanya memberi kuota sekitar 2000 karakter, blog memberi kesempatan menulis secara mengalir. Memang, kita bisa melanjutkan tulisan pada komen postingan di instagram. Tapi saya merasa blog memberi kesempatan lebih banyak orang yang membaca sharing saya.

Alasan lain mengapa saya menulis di blog adalah:

  • Portofolio dan Album Kenangan
Jejak perjalanan hidup Fatha saya rekam melalui unggahan di blog ini. Saya berharap blog ini berfungsi sebagai album kenangan yang bisa dibuka kembali nanti. Saat ini pun ketika membaca kembali postingan beberapa bulan lalu, hikmah yang sebelumnya tidak tampak menjadi terlihat. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, bisa menjadi ide perenungan baru.
  • Buku Catatan
Ilmu itu mengikat makna. Setiap kali menulis, ilmu yang sudah didapatkan akan makin terekam kuat dalam ingatan.

Jika saat masih sekolah dulu kita sering pinjam-meminjam catatan kawan, maka tak ubahnya dengan blog ini. Hikmah maupun kisah bisa dibaca dan semoga memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.


0 comment(s):