Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

  Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar,...

Teknik Berbagi Pengalaman: Belajar Bersama Rangkul dan Keluarga Kita

 


Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar, workshop, maupun pelatihan, rasanya ingin segera kusambar saja.

Mengenal Rangkul - Relawan Keluarga Kita sejak tahun 2017, aku merasa nyaman saat mengikuti sesi bicara rangkul alias sesi curhat. Sempat vakum beberapa saat, akhirnya aku mengikuti Sesi Rangkul kembali pada tahun 2020. Nadin, anak keduaku, sudah lahir kala itu. Suamiku memberikan restu sepenuhnya, ketika sempat mencuri dengar sesi curhat yang dilakukan secara daring.

"Aku suka kalau kamu sering ikut acara seperti ini, Yang," ungkapnya beberapa saat kemudian.

"Kenapa?" tanyaku penasaran, meski sudah mengetahui alasannya.

"Karena setelahnya, kamu jadi berkali lipat lebih ceria dan bahagia," lanjutnya.

Bagaimana tidak bahagia jika perempuan dengan kuota 21.000 kata per hari diberi kesempatan menyalurkan uneg-unegnya. Hohoho..

Singkat cerita, aku mengantongi lisensi dari suami untuk mengikuti rangkaian pelatihan menjadi relawan Keluarga Kita alias Rangkul. Alhamdulillah, seleksi pertama lolos, sehingga aku dapat melanjutkan seleksi berikutnya menjadi Rangkul berupa tiga bulan pelatihan secara daring.

Bahagia, bukan? Aku yang biasanya sering terkendala waktu dan lokasi yang jauh di daerah, saat ini bisa mengakses ilmu dan wawasan dengan lebih mudah di tengah kesibukan bekerja dan menjadi ibu.

Tentang Rangkul

Rangkul adalah relawan penggerak pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya, atau disingkat Keluarga Kita. Tujuan utamanya adalah menciptakan keluarga Indonesia yang berdaya dengan meningkatkan kapasitas orang tua.

Ada kurikulum yang diterapkan dalam Keluarga Kita dan tidak akan saya bahas di sini. Pelatihan baru berlangsung dua hari, soalnya. Jadi, saya belum bisa merangkumnya. Hihihi.

Pertemuan kedua ini, kami diajarkan bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. Fasilitator harus memperhatikan hal-hal berikut, di antaranya penampilan baik, rileks, menjaga kontak mata, menyesuaikan intonasi dan pace suara atau tempo, dan mendengarkan sepenuh hati.

Selain sharing materi, beberapa peserta diberi kesempatan praktek. Sayang sekali aku belum mendapatkan kesempatan itu. But it's okay. Yang penting latihan jalan terus.

Teknik Berbagi Pengalaman

Yang menarik, kami juga diajarkan cara berbagi pengalaman alias sharing alias curhat, dengan baik dan benar. Beberapa kali mengikuti Sesi Bicara Rangkul, aku baru ngeh sekarang jika tanggapan kakak-kakak fasilitator memang menggiring kita untuk melengkapi skema curhat tersebut menjadi lengkap dan dapat diambil hikmahnya.

Contohnya begini,

Berbicara pengasuhan, ada ketakutan untuk tidak dapat bersikap adil kepada kedua anak saya. Fatha, 3 tahun, sering meminta saya menemaninya sepulang kerja. Kondisi lelah, lapar, dan mengantuk, kadang membuat saya tidak cukup sabar mengabulkan permintaannya. Apalagi ada Nadin yang baru berusia 6 bulan meminta jatah nenen jika sudah mendengar suara ibunya.

Saya merasa bersalah, mudah terpancing amarah padahal sebenarnya Fatha tidak bersalah. Mungkin energi dan pikiran saya yang terkuras oleh pekerjaan kantor membuat saya berlaku seperti itu.

Akhirnya saya meminta bantuan Uti untuk bisa menghandle Nadin dengan memberikan ASI perah, sementara saya menenangkan Fatha. Tentu tidak langsung berhasil. Kadang Fatha ngambek, atau Nadin menangis kencang mencari ibunya.

Saya berencana untuk membuat kesepakatan dengan Fatha. Saya akan memeluknya sepulang kantor dan membersihkan diri. Setelahnya, saya meminta waktu sesaat untuk mengisi perut dan menyusui adiknya. Setelahnya kami main bersama lagi. Semoga dengan begitu, Fatha akan merasa lebih dihargai perasaannya, dan Nadin tetap mendapatkan haknya.

Berdasarkan contoh di atas, sudah terlihat, bukan, curhat yang terstruktur? Jadi curhat harus memuat:

  1. Cerita yang kita alami
  2. Cerita yang kita rasakan
  3. Analis keduanya
  4. Cerita keberhasilan
  5. Cerita kegagalan, dan
  6. Rencana perbaikan
Tidak sabar rasanya segera praktek sungguhan, saling menimpali, dan menanggapi sharing pengalaman dari kawan-kawan :)

 


0 comment(s):