Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Showing posts with label IIP. Show all posts

Masa kecilku tak lepas dari buku. Rasanya, sepanjang ingatanku, buku identik dengan prestasi. Pasalnya, Mama akan memberikan kami - aku dan ...




Masa kecilku tak lepas dari buku. Rasanya, sepanjang ingatanku, buku identik dengan prestasi. Pasalnya, Mama akan memberikan kami - aku dan adik laki-lakiku - hadiah berupa buku jika kami berhasil menjadi juara kelas. Apabila meraih peringkat satu di kelas, maka kami berhak mendapatkan tiga buah buku. Jumlah itu akan berkurang seiring turunnya peringkat. 

 

Aku masih ingat, hanya ada satu buah toko buku kecil di kota kami. Toko Buku Gramedia yang tidak bertahan lama berdiri. Setiap usai penerimaan rapor, Mama dan Papa akan membawa kami ke sana, meminta kami memilih buku kesukaan masing-masing.

 

Aku tahu persis, budget membeli buku Mama Papa sangat terbatas. Tetapi jika menyangkut pelajaran, bagaimana pun caranya mereka akan berusaha membelikan. 

 

Menyadari bahwa koleksi buku di rumah terbatas, sedangkan keinginan membaca sangat besar, aku sering berkunjung ke perpustakaan sekolah atau bermain ke rumah kawan-kawan sekolahku. Ada dua sahabat masa kecilku yang kuingat memiliki rak buku penuh dengan set Widya Wiyata atau novel karangan Enid Blyton. Setiap hari sepulang sekolah, selalu kusempatkan jalan kaki menuju rumah mereka, hanya untuk memenuhi hasrat membaca.


Oh ya, kami juga berlangganan Majalah Bobo kala itu. Majalah Bobo yang terbit tiap minggu, hanya dapat terbeli sebulan sekali, Bisa dibayangkan, bukan, kami kesulitan mengikuti cerita bersambungnya karena tidak rutin membaca tiap terbitan.

 

Hingga di bangku SMA, aku masih membaca Majalah Bobo ini. Kali ini giliran adik bungsuku - yang usianya selisih sepuluh tahun dariku - yang berlangganan. Aku masih dapat menikmati beberapa rubrik di dalamnya. Ya, walapun aku merasa sudah banyak perubahan terjadi. Makin banyak isi tentang idola anak-anak pada masa itu. Macam poster Coboy Junior, atau artis-artis anak yang tidak kuikuti perkembangannya.

 

Memasuki masa kuliah, bacaanku beralih ke Majalah Annida. Mbak Helvy Tiana Rosa dan adiknya, Asma Nadia, serta beberapa penulis lain seperti Ifa Avianty yang menjadi penulis favoritku kala itu. Mengalami beberapa kali pergantian genre favorit, sampai akhirnya sekarang aku kembali menggemari buku anak-anak. Apalagi jika bukan karena ingin membahagiakan anak-anak :)

 

Kisah-kisah anak-anak perempuan di Asrama Malory Towers atau Petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, Petualangan para detektif STOP karya Stefan Wolf, Kisah Hardy Boys tulisan Franklin W. Dixon, hingga karya-karya dalam negeri seperti buku karangan Arswendo Atmowiloto. Apalagi kalau bukan Serial Noni, Imung, dan Keluarga Cemara. Aku bahkan sempat berbuku ke toko buku loak untuk mendapatkan koleksi-koleksi lama itu. Beberapa hari yang lalu, aku bahkan sudah melengkapi koleksi Laura Ingals Wilder yang terkenal dengan Serial Little House on The Prairie. Duh, bahagia rasanya bisa melalap habis buku-buku penuh kenangan itu.

 

Saat ini, Fatha dan Nadin sudah memiliki satu buah rak buku yang diisi dengan koleksi buku Halo Balita dan Confidence in Science. Membaca seri CIS mengingatkanku pada Widya Wiyata di masa kecilku dulu. Belum termasuk buku-buku hasil buruan Big Bad Wolf, tentunya. Aku berharap, mereka bisa mencintai buku sebagai sumber ilmu. Belajar karena suka dan butuh, bukan karena keterpaksaan.

 

Oleh sebab itu, aku merasa luar biasa bahagia ketika beberapa hari yang lalu, Fatha berujar,

 

"Bu, aku kok belum bisa baca ya," saat ia membuka-buka halaman surat kabar.

 

Mengenalkan huruf dan kata menjadi lebih menyenangkan karena keinginan langsung dari dalam dirinya. Semoga kalian menjadi anak-anak pintar nan bijaksana yang sayang-sayangku..

   "Aduh, aku lupa pake sunscreen ," ceplosku pagi ini setiba di ruangan. Padahal sepagian ini aku sudah berkeliling kantor. Beber...

 


 "Aduh, aku lupa pake sunscreen," ceplosku pagi ini setiba di ruangan. Padahal sepagian ini aku sudah berkeliling kantor. Beberapa rekan kerjaku tertawa geli. Mungkin karena dianggapnya, kok lebay, mempermasalahkan hal sepele. Hehehe..

Bagiku, menggunakan skincare adalah bagian dari mencintai diri sendiri. Merawat tubuh yang sudah diamanahkan Allah adalah sebuah kewajiban, seperti halnya makan makanan yang bergizi, cukup tidur, dan berolahraga secara rutin.

Jika diingat-ingat lagi, sejak kecil orang tuaku sudah sering mengajarkan bagaimana cara merawat dan mencintai diri sendiri. Bukan hanya secara fisik, Mama juga mengingatkanku untuk tetap memperhatikan kebutuhan sendiri, sebelum memikirkan orang lain.

Awalnya pesan Mama kuanggap egois. Hidup di dua rumah, bersama Yangti di pagi hingga siang hari, dilanjutkan sore dan malam bersama kedua orang tua, membuatku terbiasa hidup dengan standar ganda. Yangti terlihat sebagai sosok ideal yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Beliau terlihat sangat sempurna di mataku dan para tetangga.

Mama menganut prinsip yang berbeda. Membantu orang lain boleh, namun setelah memenuhi kebutuhan diri sendiri. Misalnya, kami memasak sepanci penuh gulai daging. Jika ingin memberikan pada tetangga, pastikan keluarga sudah mendapatkan dahulu bagiannya.

Bertahun-tahun aku mengidolakan Yangti karena terlihat begitu baik seperti malaikat. Semua berubah ketika pada akhirnya aku berkeluarga dan memiliki anak. Suatu ketika aku membawa pulang nasi kotak dari kantor berisi ayam bakar. Pikirku, bisa dimakan oleh Fatha.

Rupanya Yangti menemukannya lebih dahulu dan memberikannya pada tetangga dengan alasan,

"Anak kecil jangan dibiasakan makan ayam ras. Lebih baik masakkan untuknya ayam kampung."

Aku hanya tertegun dan sempat ada perasaan dongkol kala itu. Maksud hati ingin memberikan menu spesial buat si kakak, apa daya sudah disabotase terlebih dahulu. Hehehe

Akhirnya aku menelaah kembali cerita-cerita Mama sebelumnya. Sepertinya aku lebih cocok dengan pemikiran beliau. Kita memang harus sudah selesai memikirkan diri sendiri sebelum memikirkan orang lain. Selesai mencintai diri sendiri, baru kemudian mencintai orang lain...

 Judul di atas merupakan filosofi yang sering diucapkan teman-teman seperjuangan saat menemui kendala dalam pengasuhan anak, terlebih saat o...



 Judul di atas merupakan filosofi yang sering diucapkan teman-teman seperjuangan saat menemui kendala dalam pengasuhan anak, terlebih saat orang lain dirasa mulai mencampuri ranah tersebut. Sampai saat ini saya mempercayai filosofi itu. Akan tetapi dalam perjalanannya, saya sering mendapati beberapa kesulitan menemukan sejauh mana batasan parenting yang akan diterapkan untuk putra-putri kami, Fatha (3 tahun) dan Nadin (7 bulan).

***


Peran ganda sebagai seorang ibu dan pekerja, kadang membuat saya minder, dan merasa tidak seberuntung ibu-ibu dengan kesibukan di ranah domestik. Ada kekhawatiran putra-putri kami tidak terpenuhi hak-haknya dengan baik. Terlebih kondisi long-distance marriage membuat frekuensi pertemuan dengan suami hanya bisa dilakukan sepekan sekali.

Beruntung, suami adalah tipe orang yang kooperatif, terutama dalam membangun visi dan misi keluarga. Bersama suami, kami berdua sama-sama senang belajar terutama untuk kebutuhan pengasuhan Fatha dan Nadin.

Awalnya saya tipe orang yang mudah galau ketika ada seminar menarik, atau melihat tinjauan mengenai buku-buku yang dianggap bagus untuk anak. Keinginan untuk mengikuti, membeli, dan melahap habis semua materi tersebut sering tak dapat dibendung. Ingin rasanya menerapkan semua ilmu tentang pengasuhan anak yang tersebar di jagad maya.

Alhamdulillah semenjak memperbaiki metode komunikasi bersama suami, saya makin mampu menetapkan hati pada model pengasuhan anak. Tetap berpegang teguh pada visi dan misi keluarga yang sudah ditetapkan sehingga makin mudah menentukan model pengasuhan yang sesuai. Saya sudah tidak mudah galau dengan arus informasi yang saya dapatkan dari mana-mana karena sudah tahu ke mana keluarga kami akan dibawa. Kami sudah menentukan mana prioritas yang akan dipilih dan model pengasuhan seperti  apa yang akan diterapkan. Hal yang terpenting adalah fokus pada kebutuhan anak dan tidak perlu membandingkan dengan anak lain. Tugas ibu adalah mengarahkan dan mendampingi anak belajar.

Bahkan saya merasa suami makin mendukung langkah mengikuti berbagai kelas pengembangan diri. Beliau selalu menyempatkan waktu mendiskusikan tugas-tugas yang harus dikerjakan bersama. Mungkin suami pun merasakan perubahan: saya tak lagi mudah uring-uringan dan makin santai ketika mendapati hal-hal berjalan tidak sesuai rencana.

Saya merasakan kehidupan makin tertata rapi, apalagi semenjak belajar mengenai bullet journal.  Agenda kegiatan saya pastikan tercatat rapi, bukan hanya untuk kegiatan kantor, namun juga untuk aktivitas utama di rumah.


Ada tugas utama yang saat ini harus bisa saya kuasai. Ilmu mengenai manajemen waktu dan emosi merupakan pekerjaan rumah agar saya bisa menyeimbangkan kedua “dunia” yang saat ini saya tekuni, yaitu sebagai ibu dan pekerja. Semoga Allah meridhoi tiap langkah ikhtiar untuk kebaikan keluarga kami. Aamiin.

Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan N...





Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan Nadin. Fatha masih menunjukkan tanda-tanda cemburu jika Nadin sedang bersama denganku. Praktis, ayahnya akan membersamainya selalu.


Sebelumnya, akhir pekan menjadi waktu kami bertiga bersenang-senang bersama, piknik ala kadarnya di alun-alun atau hutan kota. Sejak pandemi terjadi, hari libur difokuskan menjadi waktu beberes rumah. Segala “kekacauan” yang terjadi di hari kerja harus dibenahi saat aku dan suami full berada di rumah. Akibatnya, waktu berkualitas antara kami berdua nyaris tidak ada lagi. Pesan-pesan singkat di WA yang sebelumnya “berwarna-warni”, sekarang menjadi monoton seperti,


“Kalau pulang, nitip sabun dan sampo sekalian ya, Yah,” atau


“Besok pulang awal ya, Yah. Jadwal Nadin imunisasi. Fatha tidak ada temannya.”


Jarang sekali aku menemukan kalimat-kalimat gombal a.k.a. mesra atau humor-humor yang terselip di antara percakapan kami berdua.


Sampai pada akhirnya, pelatihan Relawan Keluarga Kita alias RANGKUL membahas mengenai hubungan reflektif. Ada salah satu peserta yang berbagi pengalaman tentang hubungannya dengan anaknya. Ketika sang ibu masih belum tuntas dengan dirinya sendiri, ada saja emosi negatif yang berimbas pada anak. Aku jadi merefleksikan pengalaman itu pada diriku sendiri. Saat ini aku sudah bisa mengendalikan emosi ketika menghadapi si kecil. Nada tinggi sudah mulai jarang terdengar. Kuncinya aku sudah cukup makan, istirahat, atau tidur, saat menghadapi mereka.


Namun hubungan dengan suami masih jadi tugas besar yang harus segera diselesaikan.


Berbekal ilmu yang aku dapatkan dari pelatihan kemarin, berikut langkah yang coba aku lakukan:


1. Menyusun strategi dan menentukan waktu untuk bisa berbicara berdua saja dengan suami. Berhubung saat ini kami sedang terpisah jarak, aku membuat semacam undangan dengan bantuan Canva untuk private session yang kuberi judul “Sesi Ngobrol Asyik The Saputros”. Saputro adalah nama belakang suami. Harapannya, aku dan suami bisa menyampaikan hal-hal yang mengganjal serta menemukan solusi bersama. Tentunya dikemas dengan lebih seru supaya tidak kami jadikan sebagai beban.


Konsep sesi curhat ini mengadaptasi dari podcast atau siniar milik beberapa orang selebgram yang aku ikuti, seperti Fitri Tropica (Fitrop) dan Nycta Gina. Seru sekali mendengar obrolan mereka bersama suami. Ngobrol dengan bahan diskusi yang ringan, namun bisa menarik untuk terus disimak.


Nah, jika cerita keluarga lain saja menarik untuk disimak, apalagi kisah keluarga sendiri, bukan?


2. Menyampaikan maksud baik tersebut pada suami dengan menggunakan teknik I-message. 


Apa itu teknik I-message?

Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara.


Formatnya adalah “Aku merasa… saat…. Aku ingin… karena…”.


Contoh I-message yang kusampaikan pada suami seperti berikut,


“Yah, sepertinya akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua, ya. Nanti sore ayah ada waktu pukul berapa? Yuk, kita ngobrol bareng. Aku seneng banget kalau bisa ngobrol sama ayah, soalnya sering dapat pencerahan, atau setidaknya bikin perasaan lebih lega.”


Tak lupa kukirimkan gambar undangan private session yang sudah kubuat sebelumnya. 


Persiapan Sesi Curhat dengan Lima Teknik Komunikasi 

Keesokan malamnya, Sesi Curhat atau Private Session atau Sesi Ngobrol Asyik The Saputros akan dilangsungkan. Nah, supaya lebih greget dan berkesan, aku mempelajari kembali lima teknik komunikasi yang sudah kubaca sebelumnya.


1.    Menggunakan I-message. Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara. Contohnya sudah dibahas pada postingan sebelumnya.


2.    Mengungkapkan kebutuhan diri. Misalkan dengan menyampaikan bahwa aku butuh dukungan suami untuk mencari solusi bersama.


3.    Mengungkapkan maaf. Jika ada kesalahan yang sudah diperbuat, tentu saja tak perlu gengsi menyampaikan permohonan maaf.


4.    Mengajak bersepakat. Di akhir sesi curhat, aku berencana mengajak suami untuk mencapai kesepakatan bersama. Apa rencana aksi yang akan kami lakukan.


5.    Menunjukkan apresiasi. Seperti apapun acara berjalan, berhasil atau tidak berhasil, menemukan solusi atau tidak, aku tetap harus menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih pada suami karena telah mendengarkan dan aktif berdiskusi.


Rencananya diskusi akan berlangsung melalui aplikasi Whatsapp Call. Aku sudah meminta izin pada suami untuk merekam diskusi kami. Rasanya sudah tak sabar menunggu malam itu.


Saat eksekusi, awalnya sempat ada sabotase dari Kakak,


"Ibu, aku mau ngobrol dengan ayah," dan sesi ngobrol tertunda hingga dua jam berikutnya. Hehehe..


Semoga saja acara ini bisa berlanjut dalam beberapa episode. Entah tiap minggu, dua minggu, atau sebulan sekali, akan sangat berkesan dan bermanfaat bila konsisten dijalankan.





 



  Aku bersyukur Allah memberiku masa kecil yang menyenangkan. Orang tua hadir tak hanya secara fisik, tetapi mereka tak pernah habis melimpa...

 


Aku bersyukur Allah memberiku masa kecil yang menyenangkan. Orang tua hadir tak hanya secara fisik, tetapi mereka tak pernah habis melimpahkan kasih sayang dan perhatian yang kubutuhkan. Mereka mendidikku dengan demokratis dan tanpa kekerasan. Mereka tak pernah membebaniku target berat, meski wajah bahagia mereka tak dapat disembunyikan ketika aku berhasil mencapai targetku sendiri. Ibu tegas namun penyayang. Ayah bertanggung jawab dan tak pernah merokok demi kesehatannya dan anak-anaknya. Adik-adik jahil tapi diam-diam penuh perhatian.

 Aku bersyukur Allah memberiku suami yang penyayang. Meski tak dapat mendampingi secara fisik 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dia selalu ada untukku dan putra-putri kami. Suami bersedia dimintai pendapat di kala aku butuh nasehat serta menyempatkan waktu untuk kami menuntut ilmu.

 Aku bersyukur Allah menganugerahkan putra dan putri yang sehat dan pembelajar giat. Mereka selalu membuat kami terpana dengan tingkah laku lucu dan pintarnya. Yang mau memahami saat kami memberikan penjelasan. Yang mengajarkan kami untuk menjadi orang tua terbaik baginya.

 Aku bersyukur Allah memberiku kerabat dan teman-teman yang sangat baik, bersedia mengingatkan di kala aku lupa, mendoakan kebaikan di saat kami membutuhkan.

 Aku bersyukur Allah memercayakanku dengan amanah pekerjaan saat ini. Mendewasakanku dengan berbagai ujian dan tempaan. Membuatku bersyukur dengan apa yang aku miliki dan apa yang tidak aku dapatkan. Membuatku makin meyakini bahwa semua yang kuperoleh adalah yang terbaik menurut versi-Nya.

 Aku bersyukur Allah menjadikanku pribadi yang penuh rasa syukur. Orang yang optimis namun tetap penuh kehati-hatian. Perempuan pekerja keras dan fokus. Manusia yang baik dan tulus. Senang membantu orang lain yang membutuhkan. Menyayangi keluarga dan menjadikannya prioritas utama. 

 Aku bersyukur Allah mengingatkanku untuk tak henti bersyukur. Memberiku perasaan damai dan ikhlas akan semua ketetapan-Nya. Mengingatkanku bahwa semua yang kumiliki adalah titipan yang sifatnya sementara. Memberiku harapan, bahwa saling mencinta dan mengasihi karena-Nya akan mengumpulkan kami kembali di Jannah-Nya. Insya Allah.. 

 Semoga Allah mampukan.

 

 #hari7

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Aku sangat takut pada kematian. Membayangkan bagaimana aku akan meninggalkan dunia tanpa bekal tabungan akhirat membuatku bergidik ngeri.  P...


Aku sangat takut pada kematian. Membayangkan bagaimana aku akan meninggalkan dunia tanpa bekal tabungan akhirat membuatku bergidik ngeri. 


Pikiranku melayang pada salah satu sesi muhasabah yang diadakan Rohis Fakultas saat kuliah. Sedikit ekstrem, kami dibaringkan pada sebuah lubang-lubang galian yang dialasi selembar tikar. Seorang kakak tingkat berjaga dan mengawasi setiap lubang, membacakan puisi seakan mewakili senandika kami. 


"Ya Allah, jika Engkau masih memperkenankan aku hidup, maka ingin rasanya aku menghabiskan waktu dengan baik. Betapa menyesalnya aku dengan setiap detik yang kujalani sebelum ini terjadi," tak terasa air mataku ikut mengalir saat mendengar ratapan kakak tingkat. Bagaimana jika Allah benar-benar memanggilku saat itu? Bagaimana caraku menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur nanti? 


***


Bulan November, enam tahun lalu, Bapak meninggalkan Ibu dan ketiga orang anaknya, menghadap Sang Pencipta. Kehilangan orang tersayang, salah satu panutan sontak membuatku limbung. 


Saat itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kematian itu. Beberapa menit sebelum berpulang, aku masih bercakap-cakap dengan Bapak sambil membuatkannya teh manis hangat. 


Bapak jatuh di kamar mandi pada saat aku sedang bersiap-siap berangkat kerja. Saat itu hanya ada kami berdua di rumah. Ibu sudah lebih dahulu berangkat mengajar. 


Sayup-sayup kudengar suara rintihan dari dalam kamar mandi. Ketika kutemukan, bapak berada dalam posisi tengkurap sedang berusaha membuka pintu. 


Perasaanku tidak enak ketika harus meninggalkannya seperti itu, menitipkannya pada tetangga. Setelah menghubungi Ibu, aku memantapkan hati menuju kantor. 


Dua jam setelahnya, Ibu meneleponku. Dengan suara terbata-bata, beliau mengabarkan bahwa Bapak berpulang. Seperti petir menggelegar tepat di atas kepalaku. Aku baru benar-benar merasakan beratnya kehilangan


Setahun pertama setelah kepergiannya, aku masih merasakan kehilangan itu. Apapun yang kulakukan, tak ada yang bisa membuatku bersemangat. Bayangan  akan kematian selalu menghantuiku. Bagaimana jika aku menemui-Nya dalam keadaan tidak siap? 


***


Saat ini kematian masih menjadi hal yang kutakuti untuk alasan yang lain. Membayangkan bagaimana anak-anak dibesarkan tanpa sosok orang tua - ibu, khususnya - membuatku sangat khawatir. 


Kemudian bayangan tentang tokoh-tokoh anak yang terlunta-lunta saat ditinggalkan oleh orang tuanya dalam sinetron Indonesia sukses membuatku menitikkan air mata. Bagaimana mereka akan tumbuh tanpa arahan yang jelas, bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap? Bagaimana jika mereka tidak dibesarkan oleh orang yang benar-benar menyayangi mereka? 


Teringat akan salah satu "mata kuliah" pranikah yang kupelajari dari tulisan Asma Nadia dan Isa Alamsyah. Sejatinya, visi mendidik anak adalah mempersiapkan anak agar mereka bisa tetap hidup dengan baik saat orang tua tinggalkan. Mengajarkan kemandirian adalah kuncinya. 


Suami selalu mengingatkan bahwa kematian bukanlah perpisahan. Aku selalu berdoa agar keluarga besar kami nanti dapat dipertemukan kembali di Surga-Nya. Aamiin


#hari6

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini ak...


"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini aku mendapat panggilan mendadak untuk mengikuti pertemuan kantor secara daring. Libur panjang yang jarang-jarang kudapatkan tiba-tiba diinterupsi dengan telepon dari atasan. Oleh karena itu, duduklah aku di hadapan layar komputer sepanjang siang ini. 


Anak lelakiku yang baru berusia tiga tahun tak juga berhenti mengitari meja ruang tamu yang kugunakan. Mulutnya masih terus mendengungkan suara yang kuyakini menirukan suara sirine pemadam kebakaran. Di saat yang sama, bosku meminta laporan kemajuan penelitian yang sedang kami kerjakan sebelum libur.


Nyaris kehabisan kesabaran, aku berteriak pada si sulung,


"Kakak, duduk!"


Setelah meminta ijin mematikan video, aku mendatangi suami yang ada di dapur.


"Yah, mohon bantuannya menjaga kakak. Aku sudah bilang tadi, minta waktu dua jam saja untuk meeting ini," nada suaraku meninggi. Sedikit emosi karena merasa suami tidak memahamiku.


"Tunggu, sebentar lagi tempenya matang," ucap suami dengan nada yang tidak sekalem biasanya.


Siang itu mood-ku memburuk. Mendapati hal tidak berjalan sesuai rencana - libur panjang yang terganggu pekerjaan dan anggota keluarga yang kurang kooperatif - membuatku uring-uringan beberapa jam kemudian.


***

Malam itu aku meluapkan kekesalanku pada suami. Kondisi lapar dan keadaan yang tidak sesuai ekspektasi adalah kelemahanku. Aku bisa merasa sangat jengkel dengan emosi yang sulit dibendung. 


"Kamu tahu, Yang?" Suami mulai menggunakan panggilan sayang. Tandanya ia sedang ingin berbicara lebih serius daripada biasanya. 


"Tadi siang aku sengaja memasakkanmu sesuatu yang bisa kau makan dulu. Kamu terlihat lelah dan lapar tadi," lanjutnya membuatku terperangah. Jadi ketika aku dibutakan emosi tadi siang, suamiku malah memikirkan bagaimana menjaga istrinya tetap waras. 


Tak dapat berkata-kata, aku pun meminta maaf dengan pelukan. Dan saat beberapa hari kemudian liburan kami berakhir, baru kusadari bahwa hal yang paling kubenci bukanlah sesuatu yang berjalan tidak sesuai rencana. Berpisah jarak dengan suami oleh sebab LDM membuatku lebih tersiksa. 


Nb: sebelum sesi ngobrol dengan suami, aku sudah meminta maaf pula pada si kecil :) 



#hari5

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi wa...

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi waktu mengingat ada Fatha, sang kakak yang masih butuh banyak perhatian. Awalnya penggunaan pospak hanya dibatasi saat malam hari. Lama-kelamaan kami - terutama aku - terlalu nyaman karena dimanjakan oleh fitur tahan air yang dimilikinya. Selama lebih dari enam bulan kami menjadi pemakai setia pospak.

 

Keadaan berubah ketika suatu hari aku menemukan ruam pada selangkangan Nadin. Ruam yang merah dan terlihat basah masih belum membuatku khawatir.

 

"Ah, tinggal oleskan losion ruam popok dan hentikan sementara pemakaian pospak, maka beberapa hari lagi kulit mulus kembali," pikirku kala itu.

 

Namun prediksiku salah. Tiga hari kemudian, ruam tak juga membaik, malah bertambah luas. Tanpa pikir panjang, aku membuat janji dengan dokter anak yang praktek di Senin pagi itu

.

"Nadin tidak boleh dipakaikan pospak sama sekali ya, Bu," jelas Bu Dokter setelah usai memeriksa si kecil. Lanjutnya,

 

"Ini saya resepkan krim untuk mengatasi ruam dan obat anti alergi untuk diminum. Sementara ini, hindari makanan laut dan telur karena dicurigai memicu alergi Nadin." 

 

Aku kaget dan sedikit menyesali keadaan. Padahal Nadin sedang senang-senangnya makan. Segala menu yang disiapkan selalu dilahapnya tandas tak bersisa. Hal yang tidak kutemui saat permulaan MPASI Fatha, kakaknya. Toh ia masih bisa mengkonsumsi protein hewani lain, pikirku. Daging sapi, ayam, hati, dan ikan air tawar termasuk jenis lauk yang masih diizinkan untuk dikonsumsi anak bayi.

 

Beberapa malam berikutnya, kami mulai beradaptasi ulang dengan jadwal tidur di malam hari. Sejak tidur pada pukul sembilan, setidaknya tiga hingga empat kali Nadin terjaga dan merengek karena buang air kecil. Tenaga ekstra harus kukerahkan karena tidurku jadi tak nyenyak lagi. Belum lagi Fatha yang bersungut-sungut karena terganggu dengan suara adiknya. Biasanya, saat memakai pospak, Nadin hanya terlihat gelisah saat meminta nenen. Menyusui dapat dilakukan sambil terkantuk-kantuk. Alhamdulillah perjuangan berbuah manis. Dalam beberapa hari, ruam pada kulit Nadin sudah benar-benar sembuh.


Merasa tidak sanggup dengan pola tidur seperti saat memiliki bayi baru lahir, aku memutuskan untuk mencoba cloth diaper alias clodi. Pilihan jatuh pada merek Klodiz Izzyeco karena harga lumayan terjangkau bila dibandingkan dengan merk lain. Menggunakan perekat berupa kancing alih-alih velcro menjadi salah satu pertimbangan lainnya. Pengalaman beberapa kali dengan velcro, lama kelamaan daya rekatnya tidak sekuat saat pertama kali digunakan. Selain itu, bagian inner bisa dilepas pasang karena menggunakan model pocket, . Satu set popok terdiri dari bagian cover dan dua buah insert panjang (dua lapis) serta pendek (selapis).


Gambar diambil dari https://www.minikinizz.com/istilah

 

Sebagai permulaan, aku membeli tiga set clodi. Rencananya tiap malam kami hanya akan menggunakan sebuah popok saja. Setelah melakukan prewash, musim hujan menghalangi kami untuk dapat langsung menggunakan popok tersebut. Dua hari kemudian Nadin baru dapat menggunakannya setelah clodi kering benar. Sepekan uji coba dengan Klodiz, alhamdulillah dia cocok. Tidak ada ruam baru yang muncul, atau kemerahan sebagai tanda awal ruam. Aku dan suami memutuskan untuk membeli lebih banyak clodi. Dua kantong besar pospak yang sudah telanjur dibeli kami hibahkan pada dua orang kawan.


Hari ini hujan kembali mengguyur kota kami. Selusin popok baru sudah kucuci alias prewash dengan harapan dapat segera dipakai. Tiga popok lama sudah hampir kering dan direncanakan akan dipakai malam ini. Ketika akan kuangkat ketiga clodi dari atas jemuran,


"Ya Allah, Ayah. Atap ruang jemuran kita bocor," pekikku melihat cucian yang seharusnya sudah kering menjadi basah kembali oleh air hujan. Alamat malam nanti kami harus kembali ronda mengganti popok Nadin. Hihihi..

 

 

#hari4

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalag...



Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalagi film lepas, menjadi pelarianku di saat pikiran penat.

 

Dulu, sebelum menikah dan punya anak, aku mampu menamatkan satu drakor yang terdiri dari 16 episode dalam dua-tiga hari. Sekarang setelah ada duo krucil Fatha-Nadin menemani, tentu saja tak bisa kujalankan kebiasaan lama itu. Satu episode diselesaikan dalam sepekan sudah menjadi sebuah prestasi untukku. 


Namun postingan ini bukan hendak membahas tentang hobiku menikmati drakor. Tentu saja karena masih banyak hobi lain yang lebih layak dibanggakan, seperti menghabiskan waktu bermain bersama Fatha dan Nadin. Nb: bukan pencitraan lho ya :) 

 

Salah satu drama yang sedang kuikuti adalah drakor keluaran tahun 2018 berjudul "What's Wrong with Secretary Kim". Serial lama yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan. Pasalnya aku tidak tertarik melanjutkan setelah menonton tiga episode pertama, terlalu monoton buatku. Aku tergerak melanjutkan karena rekomendasi salah satu rekan kerja yang mengatakan drama ini layak tonton.

 

Serial ini berkisah tentang Kim Mi So yang telah menjadi sekretaris selama sembilan tahun untuk vice president sebuah perusahaan besar. Ia memulai karirnya selepas lulus dari sekolah, tanpa sempat mengenyam pendidikan tinggi. Sembilan tahun bekerja, ia dikenal sebagai sekretaris yang cakap dan lihai.

 

Hal yang membuatku sangat terkesan dari kisah Mi So, ia memulai perjuangannya sebagai sekretaris dengan kemampuan di bawah rata-rata. Salah satu episode menjelaskan bagaimana kualifikasi Mi So saat melamar pekerjaan: tanpa pengalaman kerja mumpuni dan baru lulus dari SMA. Padahal saingannya rata-rata adalah lulusan universitas bergengsi di luar negeri dengan sederet pengalaman kerja. Tentunya ada faktor keberuntungan khas drakor di sana, bahwa sang vice president, Lee Young Joon, sudah menaruh rasa sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mirip drama-drama FTV kita :)

 

Kim Mi So terlihat tidak berbakat di awal kerja. Banyak kesalahan yang ia lakukan hingga membuatnya berkali-kali meminta maaf. Namun semangat belajarnya luar biasa. Selain Bahasa Inggris, ia akhirnya tertantang untuk mempelajari Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin dengan mentor Young Joon. Etos kerja yang baik, tekun, dan kemauan belajar yang tinggi membuatnya terampil dengan kemampuan problem solving yang baik. Young Joon pernah mengatakan,

 

"Apa jadinya aku tanpamu." Kalimat yang menunjukkan kompetensi Mi So sebagai sekretaris andalan Young Joon, bukan dalam konteks romansa di sana.

 

Ketika  Mi So galau memutuskan akan berhenti dari bekerja dengan alasan ingin melanjutkan hidup, ia mendapatkan pencerahan. Sejatinya Mi So sangat menikmati pekerjaan sebagai sekretaris. Melayani dan membantu orang lain adalah hasrat terdalamnya. Jika meminjam istilah pemetaan bakat Abah Rama Royani, maka potensi kekuatan Mi So adalah serving atau melayani.

 

Kang Rendy Saputra melalui bukunya, Muda Mulia, pernah berkata,


Untuk dapat memahami peran yang harus kita mainkan di dalam kehidupan, maka kita harus benar-benar mengenali diri kita. Mengenali siapa kita sebenarnya dan seperti apa kita seharusnya.

 

Istilah yang digunakan Kang Rendy dalam buku tersebut adalah "menemukan berlian diri". Ketika dihadirkan ke dunia, maka Allah tidak akan membiarkan manusia hidup begitu saja tanpa bekal apa-apa. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan. Manusia dibekali dengan bakat dan renjana atau inner strength. Semakin cepat  menemukan bakat tersebut, maka semakin cepat pula kita dapat mengasahnya dan mencapai kesuksesan sejak dini.


Namun jika yang terjadi sebaliknya, kita tak jua menemukan berlian diri, maka cara selanjutnya yang bisa ditempuh adalah mencari hasrat terbesar dalam diri sendiri. Caranya bisa dengan membuat daftar aktivitas positif yang mampu membangkitkan semangat dan membuat mata-berbinar bahagia. Atau dengan mengingat prestasi yang pernah kita raih semasa kecil.


Kim Mi So pada akhirnya menyadari bahwa hasrat terbesarnya adalah melayani. Karenanya, ia mampu bertahan dari berbagai macam tantangan selama bertahun-tahun bekerja. 

 

Pelajaran yang dapat kuambil dari kisah Mi So adalah sebisa mungkin mengenalkan Fatha dan Nadin dengan berbagai aktivitas sejak dini. Tujuannya agar mereka lebih mudah mengenali bakat dan hasratnya sejak dini. Semoga Allah mempermudah mereka menemukan dan mengasah berlian diri :)

  

#hari3

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional