Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Showing posts with label Life. Show all posts

"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini ak...


"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini aku mendapat panggilan mendadak untuk mengikuti pertemuan kantor secara daring. Libur panjang yang jarang-jarang kudapatkan tiba-tiba diinterupsi dengan telepon dari atasan. Oleh karena itu, duduklah aku di hadapan layar komputer sepanjang siang ini. 


Anak lelakiku yang baru berusia tiga tahun tak juga berhenti mengitari meja ruang tamu yang kugunakan. Mulutnya masih terus mendengungkan suara yang kuyakini menirukan suara sirine pemadam kebakaran. Di saat yang sama, bosku meminta laporan kemajuan penelitian yang sedang kami kerjakan sebelum libur.


Nyaris kehabisan kesabaran, aku berteriak pada si sulung,


"Kakak, duduk!"


Setelah meminta ijin mematikan video, aku mendatangi suami yang ada di dapur.


"Yah, mohon bantuannya menjaga kakak. Aku sudah bilang tadi, minta waktu dua jam saja untuk meeting ini," nada suaraku meninggi. Sedikit emosi karena merasa suami tidak memahamiku.


"Tunggu, sebentar lagi tempenya matang," ucap suami dengan nada yang tidak sekalem biasanya.


Siang itu mood-ku memburuk. Mendapati hal tidak berjalan sesuai rencana - libur panjang yang terganggu pekerjaan dan anggota keluarga yang kurang kooperatif - membuatku uring-uringan beberapa jam kemudian.


***

Malam itu aku meluapkan kekesalanku pada suami. Kondisi lapar dan keadaan yang tidak sesuai ekspektasi adalah kelemahanku. Aku bisa merasa sangat jengkel dengan emosi yang sulit dibendung. 


"Kamu tahu, Yang?" Suami mulai menggunakan panggilan sayang. Tandanya ia sedang ingin berbicara lebih serius daripada biasanya. 


"Tadi siang aku sengaja memasakkanmu sesuatu yang bisa kau makan dulu. Kamu terlihat lelah dan lapar tadi," lanjutnya membuatku terperangah. Jadi ketika aku dibutakan emosi tadi siang, suamiku malah memikirkan bagaimana menjaga istrinya tetap waras. 


Tak dapat berkata-kata, aku pun meminta maaf dengan pelukan. Dan saat beberapa hari kemudian liburan kami berakhir, baru kusadari bahwa hal yang paling kubenci bukanlah sesuatu yang berjalan tidak sesuai rencana. Berpisah jarak dengan suami oleh sebab LDM membuatku lebih tersiksa. 


Nb: sebelum sesi ngobrol dengan suami, aku sudah meminta maaf pula pada si kecil :) 



#hari5

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah ...



Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah mertua - kakek dari anak-anak kami. Padahal jarak rumah kami menuju rumah Mbah Kung, alias kakek, hanya terpaut 16 kilometer saja! 


Ketakutan akan menularkan virus pada lansia dengan komorbid adalah salah satu alasan kami. Pasalnya tiap hari aku dan suami berada di dalam lingkungan kerja yang penuh paparan virus. Jadi, setelah meyakinkan diri dengan hasil swab negatif, aku baru berani mengiyakan ajakan suami untuk bersilaturahmi. 


Kami berangkat dengan segala macam perlengkapan bak akan maju perang. Protokol kesehatan sebisa mungkin diterapkan. Setiap personel membawa sebuah masker cadangan. Tentunya selain Baby Nadin karena pemakaian masker untuk usia di bawah dua tahun tidak direkomendasikan. Bekal pun disiapkan, mengantisipasi untuk tidak jajan sembarangan. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke rumah Mbah Kung pun dilaksanakan. 


Sepanjang jalan menuju rumah Mbah Kung, aku dibuat terkejut-kejut karena suasana sudah begitu ramai. Dua tempat wisata yang kami lalui penuh pengunjung. Mobil-mobil berjajar memenuhi tempat parkir. 


Sedih, marah, dan kecewa kurasakan saat itu. Ketika hasil pemeriksaan Covid-19 di laboratorium kami masih terus menunjukkan banyak hasil positif tiap harinya, masih ada yang sengaja menciptakan kerumunan dengan dalih menjaga kesehatan mental. 


Tak ingin kubahas kubu-kubu yang terbentuk karena sebagian menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Bukan ranahku untuk membahas hal itu. Namun melihat bagaimana para nakes bekerja tiada henti mengorbankan diri, rasanya tidak etis masih mengeluhkan kurang piknik. Atau yang paling dekat, teman-temanku sesama pemeriksa di laboratorium. Kami masih harus bekerja di hari libur, mengorbankan libur hari raya untuk tetap bekerja dengan target sampel yang luar biasa banyaknya. 


Rasanya seperti dikhianati teman sendiri.. Huhuhu.. 


Tak lama, kami tiba di rumah Mbah Kung. 


Dan menjumpai para tetangga dan saudara sedang bekerja bakti membangun gapura TANPA MASKER. Hatiku mencelos. Kutatap suami yang membalas dengan pandangan keraguan. Membawa anak dan bayi berusia tujuh bulan jadi kekhawatiran utama. 


Sepanjang berada di sana, kami banyak-banyak berdoa untuk kekebalan tubuh dan perlindungan dari-Nya. Tentu dengan wajah yang tetap tertutup masker hingga kami pulang.


Kami pun sepakat, selama beberapa bulan ke depan, tidak akan bepergian bersama si kecil jika tidak dalam kondisi darurat atau penting. 


#hari2

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja,"    Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. ...


"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja," 

 

Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. Rontok rasanya hati ini. Terlebih bila ia melanjutkan, 


"Aku sedih kalau ibu kerja."

 

Setiap ibu pasti punya tantangannya masing-masing. Tak terkecuali aku, seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Pagi hari, kutinggalkan anak-anak dengan menguatkan hati, mereka akan baik-baik saja, di bawah pengawasan orang terpercaya. Sore - atau malam hari jika terpaksa lembur - kujumpai mereka dengan sedikit rasa bersalah dan tubuh yang lelah, memastikan masih bisa membersamai mereka tanpa amarah. 

 

Tiap detik yang kami miliki menjadi sangat berharga. Tak jarang, ketika sedang bersiap-siap pergi ke kantor pada pagi hari, Fatha akan merayuku, 

 

"Ibu temani Kakak main, yuk," atau... 

 

"Ibu bobok saja sini sama Kakak."

 

Jika menuruti kata hati, inginnya kuhampiri ia, memeluknya, dan kembali menarik selimut, sembari melakukan pillow talk. Sambil memikirkan win-win solution, biasanya aku akan mengambil woven wrap kesayangan, lalu mengajaknya beraktivitas dengan meletakkannya dalam gendongan.


Adakalanya, Fatha bersikukuh memintaku tidak meninggalkannya pergi. Jika sudah seperti itu, aku harus memutar otak mencari cara membuatnya melepasnya tanpa drama. Di sinilah aku merasa pentingnya kreativitas seorang ibu. Ia harus bisa selalu mencari cara untuk tetap membersamai anak-anaknya dengan cinta. Beberapa langkah yang sering kuterapkan di antaranya:


  • Menerima kenyataan bahwa kondisi tidak ideal ini harus dialami. Menepis rasa bersalah, karena banyak hal yang sudah kulakukan untuk mereka, anak-anakku. Memasakkan mereka makanan kesukaan, menemani bermain, membacakan buku, menanyakan perasaan mereka, dan berusaha untuk tetap berkepala dingin saat menghadapi tantrum mereka. Aku percaya, di balik segala kekurangan dan kelemahanku sebagai ibu, lebih banyak hal baik yang sudah kulakukan untuk mereka. Dengan begitu, rasa bersalah sedikit demi sedikit bisa pudar.
  • Mencari banyak referensi tentang permainan anak-anak. Saat ini menemukan ide permainan anak sudah sangat gampil surampil. Tinggal buka peramban di ponsel, ketikkan kata kunci, lalu voila! beragam alternatif permainan yang dicari langsung tersedia. Jika ingin versi lebih spesifik, bisa dengan mengunduh dan memasang aplikasi Chai's Play di ponsel. Beberapa jenis permainan yang disukai Fatha adalah meniup gelembung sabun, memotong kertas, atau bermain kuda-kudaan. Menjanjikannya satu sesi permainan tersebut sepulangku dari kerja hampir selalu dapat menaklukkan hatinya.
  • Mengikuti intuisi ibu dan kemauan anak. Setelah menemukan berbagai ide dari internet, supaya tak mudah galau, sebaiknya kita tetap berpegang teguh pada visi dan misi keluarga yang sudah ditetapkan. Kita tak mudah galau dengan arus informasi yang didapatkan dari mana-mana karena sudah tahu ke mana keluarga kita akan dibawa: mana prioritas yang akan dipilih dan model pengasuhan seperti apa yang akan diterapkan. Bahwa yang terpenting adalah fokus pada kebutuhan anak dan tidak perlu membandingkannya dengan anak lain. Tugas ibu adalah mengarahkan, mendampingi, dan membersamai anak dalam belajar.
  • Bersikap fleksibel dan meyakini bahwa anak tidak berniat mempersulit urusan kita. Anak-anak hanya ingin mendapat perhatian dari orang tuanya. Selalu ada motif yang mendasari setiap perilaku mereka yang kadang kita anggap annoying. Memahami peristiwa dari sudut pandang anak hampir selalu dapat mengurangi konflik yang terjadi. Contohnya, saat beberapa hari lalu kutemukan Fatha merendam boneka hafiznya di dalam ember, ingin rasanya aku berteriak, "Ibu menabung sekian lama untuk membelikanmu boneka itu, Naaak.. Kenapa usianya hanya sampai tiga tahun?"  Namun setelah menahan diri untuk tidak reaktif, kutemukan jawaban yang mencengangkan. "Kakak mau mengajari Hafiz wudhu, Bu." Surutlah emosiku berganti rasa haru.

 

Menjadi ibu sejatinya adalah terus belajar. Dengan terus mengasah kreativitas dan intuisi sebagai seorang ibu, semoga menjadikan kita ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu yang tidak menggoreskan luka di hati anak-anaknya, yang membekas hingga mereka dewasa. Aamiin..

 

#hari1
#ch5kepenulisan
#clustersolutif
#bundaproduktif
#institutibuprofesional

  Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar,...

 


Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar, workshop, maupun pelatihan, rasanya ingin segera kusambar saja.

Mengenal Rangkul - Relawan Keluarga Kita sejak tahun 2017, aku merasa nyaman saat mengikuti sesi bicara rangkul alias sesi curhat. Sempat vakum beberapa saat, akhirnya aku mengikuti Sesi Rangkul kembali pada tahun 2020. Nadin, anak keduaku, sudah lahir kala itu. Suamiku memberikan restu sepenuhnya, ketika sempat mencuri dengar sesi curhat yang dilakukan secara daring.

"Aku suka kalau kamu sering ikut acara seperti ini, Yang," ungkapnya beberapa saat kemudian.

"Kenapa?" tanyaku penasaran, meski sudah mengetahui alasannya.

"Karena setelahnya, kamu jadi berkali lipat lebih ceria dan bahagia," lanjutnya.

Bagaimana tidak bahagia jika perempuan dengan kuota 21.000 kata per hari diberi kesempatan menyalurkan uneg-unegnya. Hohoho..

Singkat cerita, aku mengantongi lisensi dari suami untuk mengikuti rangkaian pelatihan menjadi relawan Keluarga Kita alias Rangkul. Alhamdulillah, seleksi pertama lolos, sehingga aku dapat melanjutkan seleksi berikutnya menjadi Rangkul berupa tiga bulan pelatihan secara daring.

Bahagia, bukan? Aku yang biasanya sering terkendala waktu dan lokasi yang jauh di daerah, saat ini bisa mengakses ilmu dan wawasan dengan lebih mudah di tengah kesibukan bekerja dan menjadi ibu.

Tentang Rangkul

Rangkul adalah relawan penggerak pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya, atau disingkat Keluarga Kita. Tujuan utamanya adalah menciptakan keluarga Indonesia yang berdaya dengan meningkatkan kapasitas orang tua.

Ada kurikulum yang diterapkan dalam Keluarga Kita dan tidak akan saya bahas di sini. Pelatihan baru berlangsung dua hari, soalnya. Jadi, saya belum bisa merangkumnya. Hihihi.

Pertemuan kedua ini, kami diajarkan bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. Fasilitator harus memperhatikan hal-hal berikut, di antaranya penampilan baik, rileks, menjaga kontak mata, menyesuaikan intonasi dan pace suara atau tempo, dan mendengarkan sepenuh hati.

Selain sharing materi, beberapa peserta diberi kesempatan praktek. Sayang sekali aku belum mendapatkan kesempatan itu. But it's okay. Yang penting latihan jalan terus.

Teknik Berbagi Pengalaman

Yang menarik, kami juga diajarkan cara berbagi pengalaman alias sharing alias curhat, dengan baik dan benar. Beberapa kali mengikuti Sesi Bicara Rangkul, aku baru ngeh sekarang jika tanggapan kakak-kakak fasilitator memang menggiring kita untuk melengkapi skema curhat tersebut menjadi lengkap dan dapat diambil hikmahnya.

Contohnya begini,

Berbicara pengasuhan, ada ketakutan untuk tidak dapat bersikap adil kepada kedua anak saya. Fatha, 3 tahun, sering meminta saya menemaninya sepulang kerja. Kondisi lelah, lapar, dan mengantuk, kadang membuat saya tidak cukup sabar mengabulkan permintaannya. Apalagi ada Nadin yang baru berusia 6 bulan meminta jatah nenen jika sudah mendengar suara ibunya.

Saya merasa bersalah, mudah terpancing amarah padahal sebenarnya Fatha tidak bersalah. Mungkin energi dan pikiran saya yang terkuras oleh pekerjaan kantor membuat saya berlaku seperti itu.

Akhirnya saya meminta bantuan Uti untuk bisa menghandle Nadin dengan memberikan ASI perah, sementara saya menenangkan Fatha. Tentu tidak langsung berhasil. Kadang Fatha ngambek, atau Nadin menangis kencang mencari ibunya.

Saya berencana untuk membuat kesepakatan dengan Fatha. Saya akan memeluknya sepulang kantor dan membersihkan diri. Setelahnya, saya meminta waktu sesaat untuk mengisi perut dan menyusui adiknya. Setelahnya kami main bersama lagi. Semoga dengan begitu, Fatha akan merasa lebih dihargai perasaannya, dan Nadin tetap mendapatkan haknya.

Berdasarkan contoh di atas, sudah terlihat, bukan, curhat yang terstruktur? Jadi curhat harus memuat:

  1. Cerita yang kita alami
  2. Cerita yang kita rasakan
  3. Analis keduanya
  4. Cerita keberhasilan
  5. Cerita kegagalan, dan
  6. Rencana perbaikan
Tidak sabar rasanya segera praktek sungguhan, saling menimpali, dan menanggapi sharing pengalaman dari kawan-kawan :)

 


Menulis dan Media Sosial Jika diingat-ingat lagi, sudah sangat lama saya mengenal blog. Ketika berkenalan dengan internet saat SM...



Menulis dan Media Sosial

Jika diingat-ingat lagi, sudah sangat lama saya mengenal blog. Ketika berkenalan dengan internet saat SMA, Friendster dan Multiply merupakan platform pertama tempat saya bisa menulis dengan bebas dan bahagia. Tentu saja konten ceritanya masih sangat asal-asalan dan sekenanya saja. Berkisah dengan bebas dan hasil karya bisa dibaca orang lain merupakan suatu kebanggaan sendiri, terlepas dari bermanfaat atau tidaknya bagi pembaca.

Berlanjut ketika Facebook masih memiliki fitur catatan, kita bisa menulis di sana. Saya kurang merasa nyaman sebenarnya, karena menulis kurang bisa fokus. Keinginan untuk melihat unggahan foto atau share kuis dari teman lain lebih menyita waktu daripada kegiatan menulis itu sendiri.

Pemberhentian berikutnya adalah Blogspot pada tahun 2008. Saat itu saya menggunakan platform ini untuk mengunggah foto-foto karya saya dengan caption seperlunya. Jadi alih-alih meluapkan isi pikiran dalam bentuk tulisan, saya memilih mengekspresikan karya dengan gambar.

Blogspot ini pun perlahan saya abaikan semenjak mengenal Instagram. Pameran foto hasil jepretan sekenanya saya pindahkan ke sana. Blogspot pertama saya pun menjadi berdebu hingga kini.

Tahun 2016, ketika merasa bahwa hiruk pikuk media sosial sudah mulai terasa riuh dan menyesakkan, tergerak hati saya untuk kembali melirik blog. Saya bimbang memilih antara Wordpress atau Blogspot. Mengingat sudah pernah menggunakan Blogspot sebelumnya, mulailah saya membangun Wordpress pada tahun itu. Ingin mencoba rasa berbeda dengan tampilan lebih clean dan minimalis.

Postingan awal saya lebih banyak berupa curhat. Bayangkan saja blog ini sebagai diary online yang bisa diakses oleh siapa pun. Saat itu saya sengaja membuat nama blog yang tidak mengandung sedikit pun unsur nama saya, tujuannya agar identitas saya tetap anonim. Kegalauan saya saat itu yang sudah beberapa tahun menikah dengan suami namun belum dipercaya Tuhan menimang buah hati saya tuliskan di sana. Membiarkan identitas anonim ternyata membuat tulisan saya lebih mengalir. Tak perlu lagi saya memikirkan banyak atau tidaknya orang yang menyukai atau mengomentari postingan saya.

Tuhan sepertinya tidak ingin saya terlalu lama galau dan menyampah di blog. Baru dua postingan saya tentang "harapan memiliki anak", Ia mengabulkan doa saya dan suami. Vakum selama beberapa lama, akhirnya saya kembali menulis di blog karena ingin membangun portofolio saya sebagai seorang ibu sekaligus mengabadikan kisah #elfathamirza dalam satu rumah. Cita-cita menulis dengan tujuan memberikan manfaat untuk lebih banyak pembaca mulai terpupuk saat itu. Berharap orang lain yang mungkin memiliki masalah sama dengan saya bisa tersemangati atau lebih-lebih mendapatkan solusi.

Karena sesuatu hal yang pernah dikisahkan di sini dan di sini, cerita saya berpindah dari Wordpress ke Blogspot. Sampailah hingga hari ini saya menulis di blog ini :)

FYI, bahasan mengenai mengapa saya suka menulis sudah pernah dikupas di sini.

Mengapa Blog?

Saya merasa jauh lebih nyaman menulis di blog. Pertama, karena tidak berbatas karakter. Jika Instagram hanya memberi kuota sekitar 2000 karakter, blog memberi kesempatan menulis secara mengalir. Memang, kita bisa melanjutkan tulisan pada komen postingan di instagram. Tapi saya merasa blog memberi kesempatan lebih banyak orang yang membaca sharing saya.

Alasan lain mengapa saya menulis di blog adalah:

  • Portofolio dan Album Kenangan
Jejak perjalanan hidup Fatha saya rekam melalui unggahan di blog ini. Saya berharap blog ini berfungsi sebagai album kenangan yang bisa dibuka kembali nanti. Saat ini pun ketika membaca kembali postingan beberapa bulan lalu, hikmah yang sebelumnya tidak tampak menjadi terlihat. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, bisa menjadi ide perenungan baru.
  • Buku Catatan
Ilmu itu mengikat makna. Setiap kali menulis, ilmu yang sudah didapatkan akan makin terekam kuat dalam ingatan.

Jika saat masih sekolah dulu kita sering pinjam-meminjam catatan kawan, maka tak ubahnya dengan blog ini. Hikmah maupun kisah bisa dibaca dan semoga memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.


Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga be...

Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga berkualitas “A”. Acara yang diberi judul “A” Home Team itu mengundang Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto dari Padepokan Margosari yang sudah banyak dikenal sebagai penggagas Ibu Profesional, School of Life Lebah Putih, Jaritmatika, dan banyak komunitas lainnya.

Saya dan Suami sebenarnya sudah sejak beberapa minggu sebelumnya tertarik mengikuti acara ini. Duluuu sekali saat Fatha belum lahir, kami pernah mengikuti acara tadabur alam yang diselenggarakan oleh CBE dan berkesempatan mendengarkan kisah-kisah beliau. Rasanya ingin mengisi kembali semangat kami dalam membangun cita-cita keluarga.

Sayangnya, acara tersebut dijadwalkan hampir berbarengan dengan acara kantor Suami yang mana beliau terlibat sebagai panitia. Suami berjanji akan memberikan kepastian mengenai bisa tidaknya hadir saat H-1.

Alhamdulillah di hari yang dijanjikan, beliau menyampaikan kabar gembira. Atasan Suami memberikan lampu hijau atas izin yang disampaikan suami, dengan catatan pada Hari Sabtu sebelum pukul 18.00, Suami sudah tiba di venue acara.

Secepat kilat kami mendaftar untuk acara tersebut dan kami bersyukur masih ada seat :)


Sebelum Acara

Meskipun panitia menyediakan Kids Corner bagi keluarga yang membawa anak, kami sepakat untuk menitipkan Fatha bersama Uti. Alasannya, usia minimal untuk anak dititipkan di Kids Corner adalah 24 bulan. Fatha belum memenuhi syarat. Sebenarnya bisa saja kami mengajak Fatha masuk ke dalam ruang kelas sepanjang acara. Namun mengingat betapa aktifnya Fatha saat ini, kami tidak berani mengambil risiko acara belajar jadi terganggu dengan keasyikan bermain bersama Si Kecil.

Akhirnya saya berangkat hanya berdua saja bersama Suami.

Sesampainya di venue, Hotel Laras Asri Salatiga, kami sempat takjub dengan background panggung. Penggunaan MMT sudah telalu mainstream sehingga panitia memilih memanfaatkan glass board sebagai media membuat background. Menurut cerita Mbak Ade (Rumah Jelajah) sebagai Bu Lurah CBE Kampung Juara, ide menggunakan glass board ini muncul tiba-tiba. Berkat tangan dingin Mas Kliwon, dalam waktu 1 jam, jadilah hasil karya berikut ini.

PicsArt_10-21-09.19.23

Tentunya penggunaan media ini lebih less waste karena meminimalisir MMT yang hanya dapat digunakan sekali. Cocok dengan konsep yang diusung oleh CBE Kampung juara, zero waste. Konsep zero waste ini sudah terasa saat mendaftar ulang. Kami disambut oleh ceria dan ramahnya anak-anak Kampung Juara yang memberikan name tag serta satu buah cangkir untuk masing-masing peserta yang hadir. Panitia menyediakan air mineral dalam dispenser di belakang ruangan sehingga peserta bisa sewaktu-waktu mengisi ulang botol minum atau cangkirnya.


Berlangsungnya Acara

Acara tepat dimulai pukul 08.30 sesuai rencana. Kami disambut oleh penampilan anak-anak Kampung Juara: Young Wish Band dan sambutan dalam 3 bahasa, Bahasa Inggris, Korea, Dan Jawa, yang dibawakan dengan sangat fasih oleh Mbak Devi.

"A" Home Team merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian  workshop mengenai keluarga. Selain materi dasar ini, diagendakan dalam 2 bulan ke depan akan diselenggarakan workshop serupa dengan tema family strategic planning.

Bu Septi mengawali materinya dengan menyampaikan oleh-oleh dari Silicon Valley, USA, markas Facebook. Bu Septi berkisah mengenai kronologis bagaimana akhirnya dapat bergabung dengan Facebook Community Leadership Program dengan berbekal kemantapan hati, kepercayaan diri, dan niat yang tulus mendedikasikan diri untuk anak-anaknya. Di tengah keterbatasan bahasa, Bu Septi dengan percaya dirinya menulis proposal dalam Bahasa Indonesia meski seleksi diadakan oleh perusahaan multinasional, meyakini bahwa tim penyeleksi akan menemukan cara menerjemahkan proposal tersebut.

Beliau juga menceritakan tentang negosiasi yang dilakukan dengan pihak panitia hingga akhirnya Mbak Ara, putri keduanya, dapat ikut mendampingi beliau di Amerika. Dengan bangga beliau berkisah bahwa pada acara yang diselenggarakan oleh Facebook itu, Mbak Ara yang menjadi bintangnya. Bu Septi justru dikenal sebagai “Ibunya Ara”.
Satu hal yang berkesan bagi saya, Bu Septi selalu menekankan bahwa kemuliaan ibu ada pada anaknya. Ketika segala daya upaya orang tua diniatkan untuk anaknya, maka hasil yang diperoleh pun lebih spektakuler apabila dibandingkan dengan pekerjakan atau kegiatan yang diniatkan untuk kepentingan atau nama baiknya sendiri.

Selain itu Bu Septi kembali mengingatkan saya bahwa kita sebagai orang tua harus menyelesaikan tugas mendidik anak sesuai fitrahnya saat pre akil baligh. Maka ketika anak-anak sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan akil baligh, mereka sudah tahu ke mana harus melangkah dan apa tujuan hidup mereka. Anak kemudian menjadi pengambil keputusan atas hidup mereka sendiri.

Kembali pada tema membentuk keluarga berkualitas “A”, Bu Septi dan Pak Dodik memberikan kami latihan untuk dipraktekkan. Masing-masing keluarga diminta membuat diagram venn pada kertas flip chart yang sudah disediakan. Masing-masing lingkaran merepresentasikan satu individu dalam keluarga, dalam hal ini suami dan istri. Selanjutnya masing-masing lingkaran tersebut diisi dengan aktivitas yang sering dilakukan oleh masing-masing pasangan. Diidentifikasi pula aktivitas mana yang sering dipermasalahkan oleh pasangannya. Tak lupa pada bagian irisan kedua lingkaran dituliskan aktivitas yang sering dan dapat dilakukan bersama-sama.

Setelah aktivitas-aktivitas tersebut teridentifikasi, kami diminta untuk mencari solusi bagi aktivitas yang menjadi masalah bagi pasangannya.

Dalam kasus saya dan suami, misalnya, main games adalah salah satu kegiatan suami yang saya kurang suka. Pasalnya waktu bersama yang kami miliki sebagai pasangan cukup terbatas. Di saat kami dapat bertemu di akhir pekan, saya berharap suami dapat mencurahkan waktunya untuk saya dan putra kami. Ternyata, suami juga kurang menyukai sifat saya yang kurang disiplin. Ketika berencana akan keluar bersama, saya biasanya menghabiskan waktu lebih lama dari yang sudah disepakati.

Akhirnya muncul sebuah solusi, waktu untuk persiapan pergi harus dibuat lebih awal. Selama suami menunggu saya, ia diperbolehkan untuk memainkan game favoritnya.

Sesimpel itu :)

PicsArt_10-21-08.57.20.jpg

Diagram venn yang sudah kami buat itu kemudian dapat ditambahkan sesuai jumlah anggota keluarga yang ada. Nantinya di rumah, kami perlu memasang kertas tersebut di tempat yang mudah diakses oleh seluruh anggota keluarga sehingga dapat diisi oleh siapa saja. Dengan begitu kami dengan mudah dapat mengidentifikasi aktivitas menyenangkan apa yang dapat kami lakukan bersama-sama. Kami juga bisa memberikan kritikan atau masukan mengenai kegiatan atau aktivitas anggota keluarga lain yang dirasa membuat diri sendiri kurang nyaman.

Oh iya, kami juga diminta menuliskan indikator sebuah keluarga dapat dikategorikan berkualitas “A”. Indikator ini sifatnya customized, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing keluarga. Artinya, kebahagiaan keluarga kami hanya ditentukan oleh keluarga kami sendiri dan bukan oleh keluarga lain. Kami tidak perlu membandingkan atau melirik keluarga lain untuk bisa bahagia dan mencapai impian kami.

Indikator ini haruslah sesuatu yang dapat diukur. Misalnya, kami bahagia jika komunikasi berjalan dengan baik. Indikatornya adalah minimal sekali dalam seminggu, kami dapat berdiskusi mengenai evaluasi kegiatan seminggu yang lalu serta rencana kegiatan seminggu ke depan.

Tahapan yang diperlukan untuk membentuk “A” Home Team adalah:

  1. Membentuk tim: Ciri-ciri sebuah tim adalah memiliki tujuan dan tata nilai bersama. Selain itu tim harus memiliki cara berkomunikasi koordinasi yang baik.
  1. Menentukan target dan indikator keberhasilan

  2. Menentukan peran masing-masing
Dalam kasus keluarga kami dengan usia anak masih 1 tahun, menentukan peran anak memang cukup tricky. Berdasarkan pengalaman Bu Septi, pada usia 0-5 tahun, orang tua perlu memposisikan diri sebagai teman bermain Si Kecil. Untuk mengajarkan tanggung jawab, anak perlu diberi kesempatan menjadi manajer dengan pilihan peran yang ia tentukan. Contohnya saat anak memlih menjadi manajer toilet, orang tua menjelaskan tugas apa yang harus ia lakukan. Anak juga perlu ditanyai indikator sukses menurut versinya. Pengalaman Mbak Enes, putri pertama Bu Septi dan Pak Dodik, ia diberi kesempatan menjadi manajer toilet selama 2 jam, dan anggota keluarga lain dipersilakan makan di toilet.. Anak diberikan atribut sebagai manajer, misalnya topi atau emblem.

PicsArt_10-21-08.54.58.jpg

Mendengarkan kisah keluarga Padepokan Margosari yang inspiratif membuat saya dan suami makin bersemangat untuk menentukan mimpi yang tinggi, namun dapat dijangkau. Beberapa ide di kepala kami perlu untuk dikeluarkan dengan brainstorming dan dipetakan strategi untuk merealisasikannya.

Terlebih ketika kami bertemu dengan keluarga lain yang terlihat lebih “matang” dalam hal konsep dan tujuan hidupnya. Contohnya “Doyan Dolan” milik Keluarga Pak Lukmanul Hakim dan Bunda Noor Widyaningsih. Mereka memantapkan hati berbagi ilmu mengenai parenting dan jahit-menjahit melalui kegiatan “jalan-jalan”.

Beruntungnya kami, di akhir sesi acara, saat door prize dibagikan, kami sempat mendapatkan tote bag lucu dari Pol.Ja milik Bunda Noor. Alhamdulillah :)

PicsArt_10-21-09.15.06.png

Nb: door prize yang kami dapatkan berdasarkan penilaian panitia untuk kategori pasangan paling mesra. Saya dan suami tertawa geli sepulangnya dari acara. Tidak menyangka anggapan "mesra" dinobatkan pada kami. Usut punya usut, salah satu panitia menyatakan bahwa pada saat sesi awal melihat saya dan suami bertangisan. Hehehe.

Bagaimana bisa?

Jadi ketika di awal materi Bu Septi meminta masing-masing pasangan berhadap-hadapan, saling memegang paha, dan menyatakan pada pasangan betapa hebatnya dulu saat pertama kali berjumpa, saya dan suami yang sama-sama melankolis tiba-tiba flashback ke masa 5 tahun lalu. Saya jadi teringat betapa banyak kesalahan saya pada suami dan betapa ia dengan sabar memaafkan kesalahan, keegoisan, bahkan tak segan membimbing saya menjadi istri dan ibu yang lebih baik.

Apalagi saat panitia memberi kesempatan untuk saling memeluk pasangan, spontan kami berpelukan.

Di akhir acara barulah kami tersadar, kami adalah pasangan paling "lebay" (dalam arti yang baik tentu saja :D

Tiga tahun menikah dan hampir 2 tahun merencanakan program kehamilan. Sudah beberapa kali mendapatkan pengalaman dengan dokter Sp.OG dengan ...

Tiga tahun menikah dan hampir 2 tahun merencanakan program kehamilan. Sudah beberapa kali mendapatkan pengalaman dengan dokter Sp.OG dengan berbagai karakternya. Beberapa macam pemeriksaan dan analisis sudah dilakukan. Obat-obatan hormonal dan penyubur pun sudah pernah dicicipi.


Dua minggu yang lalu mas suami gembar-gembor mengenai klinik fertilitas dan IVF di Magelang yang tidak terlalu jauh dari rumah. Program IVF atau in vitro fertilization yang dimiliki klinik tersebut merupakan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan siklus alami. Artinya calon ibu tidak diminta mengkonsumsi obat-obatan hormonal untuk memicu pelepasan sel telur, hanya mengandalkan siklus ovulasinya. Imbasnya, biaya IVF di klinik ini sangat terjangkau.


Tapi yang memikat hati untuk mengikuti program hamil di klinik tersebut adalah bujukan mas suami, yang katanya dokternya komunikatif, baik hati, tidak sombong, de el el. Namanya istri solehah, tentunya patuh dengan perintah suami, maka di suatu hari Senin yang cerah, kami menuju ke klinik tersebut. FYI, saat itu siklus hari ke-6 saya, alias sudah akan penghabisan masa menstruasi. Sehari sebelumnya mas suami sudah mendaftarkan nama saya via telepon.


Saya tiba di klinik pada hari H sedikit terlambat dari jadwal. Selain karena jam pulang kantor yang sangat mepet, ditambah sempat ada insiden ban bocor *untung masih ada tambal ban buka*. Masuk ke klinik, saya disambut dengan suasana yang tenang dan serba pink. Mas suami sudah lebih dulu tiba dan mengurus formulir pendaftaran. Setelah berat badan ditimbang, tekanan darah diukur dan berbagai pertanyaan diajukan (“sudah pernah melakukan program apa saja, bagaimana hasilnya, bagaimana siklus menstruasinya, dll).


Nah, bedanya dengan klinik-klinik lain yang sudah pernah saya sambangi, jumlah pasien yang hadir per sesinya tidak semelimpah lainnya. Jadi pada saat konsultasi setelahnya, kami merasa sangat tenang dan nyaman, tidak terkesan diburu-buru. dr. Doddy juga langsung memasang wajah ramah dan perhatian pada kami para pasiennya. Berbagai pertanyaan yang diajukan dijawab dengan santai dan menenangkan. Kami juga menunjukkan hasil analisis sperma suami 6 bulan yang lalu. Pak Dokter kemudian meminta dilakukan analisis ulang mengingat hasil yang sudah cukup lama.


Akhirnya disepakati 4 hari kemudian pada saat siklus hari ke-10 saya, suami melakukan analisis sperma di klinik tersebut dan siangnya saya menemui dr. Yunita untuk deteksi ovulasi dan pertubasi.


Di hari yang dijadwalkan pada pukul 12.30, saya sudah tiba di klinik dan mendapat nomor urut 2. Sebelumnya saya diminta untuk ke lab dan menyerahkan sampel urin untuk dites ovulasi. Sebelumnya suami sudah melakukan analisis sperma di lab yang sama.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya masuklah kami ke ruang praktek dr. Yunita. Obsgyn satu ini sangat komunikatif, terlihat cerdas dan pembawaannya menyenangkan. Dan seperti halnya dr. Doddy, konsultasi dengan dr. Yunita terasa santai karena tidak terkesan diburu-buru waktu. Setelah dilakukan USG transvaginal dan membacakan hasil tes ovulasi, dinyatakan bahwa ovulasi akan berlangsung sebentar lagi. Folikel di indung telur sebelah kanan dan kiri sudah menunjukkan tanda-tanda pecah dan sudah terjadi peningkatan kadar hormon LH-FSH. Hasil analisis sperma suami menunjukkan hasil asthenozoospermia, yaitu jumlah sel sperma yang bergerak lurus cepat kurang dari seharusnya. Bu dokter menyarakan mas suami untuk mengurangi aktivitas bermotor dan pola hidup tidak sehat (stress, kurang olahraga, dll), serta meresepkan vitamin E dan asam folat.


Dokter meminta kami untuk makin intens berhubungan di waktu-waktu ini – yang sayangnya tidak bisa sepenuhnya kami patuhi karena kendala jarak –


Selanjutnya kami menuju UGD untuk melakukan pertubasi. Ruangan UGD terasa sangat nyaman karena semua ditata serba putih dan pink, ditambah perawatnya langsung memutarkan lagu instrumental saat kami masuk dan menunggu dr. Yunita selesai praktek. Ketika saya sudah diminta berganti pakaian dan suami sudah dengan kostum a la operasi (yang juga berwarna pink), berposisi di atas meja eksekusi, mendadak ada serombongan orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Dr. Doddy langsung menghampiri kami dengan ramah dan menyampaikan permohonan maaf karena dalam rangka akreditasi rumah sakit, ada semacam supervisi dari tim penilainya. Saya dan mas suami hanya berbisik-bisik sambil cekakak-cekikik karena merasa surprise dengan keadaan itu.


Setelah menunggu beberapa saat, bu dokter tiba dan prosedur pertubasi dilakukan. Tidak perlu digambarkan bagaimana mules dan linunya saat alat-alat itu dimasukkan ke dalam organ genital saya. Alhamdulillah, hasilnya kedua tuba falopii saya dinyatakan paten, bebas sumbatan.


Mohon doanya semoga program bulan ini berhasil~

Jadi ceritanya mas suami baru semangat-semangatnya dengan usaha barunya. Mohon doanya ya semua, semoga usaha baru ini berkah serta menjadik...

Jadi ceritanya mas suami baru semangat-semangatnya dengan usaha barunya. Mohon doanya ya semua, semoga usaha baru ini berkah serta menjadikan rizki melimpah dan bermanfaat. Nah, karena ada tambahan pekerjaan inilah, mas suami jadi makin sibuk dan susah dihubungi. Padahal saya tipe-tipe perempuan yang gampang terpancing emosi dan air mata kalau sudah merasa kurang perhatian. Untung saja mas suami membebaskan saya untuk melakukan guilty pleasure semacam nyalon dan shopping. Hanya saja akal sehat saya seringkali muncul, merasa kasihan dengan mas suami yang kerja keras banting tulang, mas tega ngabis-abisin uang yang udah jungkir-balik dikumpulkan. Pengalihan perhatian saya kemudian berubah ke hal-hal yang lebih produktif. Ya semacam mulai belajar menjahit, merajut kisah kasih asmara berdua selamanya dompet, tas, dan aksesoris lainnya.

Nah, kebetulan kemarin pas lagi sumpek-sumpeknya pikiran, saya sempat mampir ke toko alat jahit, trus kebelilah itu benang dan resliting buat dompet rajutan warna krem yang sedang on going dikerjakan. Ya, niatnya sih biar bisa bikin rajutan semacam Do*a punya, meski nanti hasil akhirnya tak tahulah seperti apa :p

Kembali ke masalah mancing-mancing emosi, sebenarnya ada satu lagi alasan saya mendadak mellow selain cari perhatian mas suami. Oke, apalagi kalau bukan masalah A-N-A-K…

Beruntung saya punya teman-teman yang senasib sepenanggungan yang perhatian dan selalu saling mendukung di saat-saat paling down kami. Dari obrolan dengan kawan-kawan inilah suatu ketika saya dipertemukan dengan blog Mbak Dian. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari acara blog walking itu adalah setiap pasangan akan diberi anak atau tidak, termasuk jenis kelaminnya, adalah hak mutlak dari Tuhan. Mau kita berusaha semaksimal mungkin, dengan campur tangan siapa pun, keputusan akan diberi berapa anak, laki-laki atau perempuan, semua kembali pada Allah.  Pernyataan tentang hal itu sudah jelas-jelas temaktub dalam Al Quran Surat As Syuura ayat 49-50:

49. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki,

50. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Membaca dua ayat yang disampaikan Mbak Dian tersebut, membuat hati makin adem dan tenang. Meskipun untuk bisa mencapai taraf ketenangan dan kedamaian tertinggi sampai di titik “tidak memikirkan lagi kapan punya anak” dirasa masih sangat jauh untuk bisa dilakukan, setidaknya sekarang kami *saya, terutama* sudah mampu tersenyum dan menjawab dengan tenang jika ada orang-orang bawel perhatian menanyakan hal tersebut.

Siapa tahu, ya, siapa tahu, Tuhan menjawab pertanyaan itu segera :)

Beberapa saat yang lalu saya sudah bercerita mengenai kegemaran saya membaca. Kali ini, sebelum mulai bercerita lagi, ada sebuah pengakuan y...

Beberapa saat yang lalu saya sudah bercerita mengenai kegemaran saya membaca. Kali ini, sebelum mulai bercerita lagi, ada sebuah pengakuan yang ingin saya buat.

Saya khilaf.

Setelah setumpuk buku Asma Nadia sudah terbeli beberapa minggu yang lalu, kali ini saya tak dapat menahan godaan untuk membeli salah satu buku Mbak Asma yang lain: Catatan Hati Pengantin.

Perasaan dan kesan yang saya dapat seusai membaca buku-buku Catatan Hati by Asma Nadia ini selalu serupa: perasaan khawatir, terharu, beruntung, sedih, dan beragam perasaan lain yang berujung pada satu hal, rasa syukur.
Ucapan syukur yang selalu muncul ketika membaca kisah-kisah sedih dan dramatis, yang selama ini hanya saya dapatkan lewat sinetron karena, alhamdulillah, keluarga besar mama papa adalah keluarga yang harmonis meski dengan segala permasalahannya. Rasa beruntung yang membuat saya makin merasa berempati dengan berbagai masalah yang dimiliki oleh keluarga lain. Rasa khawatir yang selalu terbersit ketika memikirkan keluarga yang baru saja saya dan suami bangun, mampukah bertahan dan menjadi semakin kokoh seiring berjalannya waktu? Mampukan keluarga kami menjadi tempat "pulang" yang selalu dirindukan setelah penat dirasakan akibat tekanan pekerjaan-dan-lain-lain? Bisakah kami selalu saling mendukung untuk menciptakan suasana terbaik bagi putra-putri kami nanti? Bisakah kami tetap setia dan tidak tergoda pada segala macam hal buruk di luar sana?

Yang jelas, banyak upaya yang dibutuhkan untuk menjawab "ya" pada semua pertanyaan di atas. Dan mengutip tagline pada sampul buku Catatan Hati Pengantin:
"Allah, mohon jadikan pendamping di dunia menjadi kekasih kami di surga nanti."

Aamiin...

Saya suka sekali membaca. Sejak mulai mengenal huruf, rasanya semua genre bacaan sudah pernah saya coba nikmati. Tapi kali ini bukan itu yan...

Saya suka sekali membaca. Sejak mulai mengenal huruf, rasanya semua genre bacaan sudah pernah saya coba nikmati. Tapi kali ini bukan itu yang ingin saya ceritakan. Bukan mengenali asal muasal atau perjalanan sejarah pengalaman membaca saya. Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang salah satu aliran tulisan yang pernah saya gemari pada masanya.


Namanya teenlit. Sebutan untuk berbagai novel romantis dengan target pembaca putih abu-abu atau bahkan lebih muda lagi. Novel yang mirip-mirip dengan kisah drama korea karena tokoh-tokoh perempuannya beruntung karena selalu dipertemukan dengan tokoh laki-laki yang cantik romantis, setia  dan pengertian. Kondisi yang serba ideal lah. Saat itu sih saya hanya percaya tidak percaya saja dengan isi ceritanya. Nothing to lose. Membaca murni hanya sebagai hiburan dan tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati. Pun ketika usia beranjak tua dewasa, dan genre novel yang saya baca mulai merambah ke genre chicklit yang kadang bumbu ceritanya lebih "horor" karena berisi kisah percintaan tokoh yang lebih "dewasa". Secara keseluruhan hampir tidak ada yang berbeda. Tokoh perempuan sebagai center of view jatuh cinta pada pria yang salah, sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya tidak jauh dari rutinitasnya selama ini: entah pegawai di kedai kopi langganannya, sesama pengunjung perpustakaan kota, teman sekelas atau sekantornya, atau bahkan sahabat tempat curhatnya selama ini.


Sudah mulai bisa membaca arah pembicaraan ini? Belum? Nah, ini intinya.


Saya terlalu percaya bahwa cerita-cerita dalam novel itu terlalu dramatis. Tokoh-tokohnya pun terlalu tangguh. Dan saya bukan orang yang tangguh. Minimal dalam hal perasaan dan pengalaman cinta. Mengingat rekam jejak pacaran saya yang dihitung jari saja saja tidak bisa, saking tidak adanya :p di luar kisah cinta bertepuk sebelah tangan tentunya :D. Nah, saking inginnya saya melindungi perasaan yang rapuh itu, saya percaya bahwa suatu saat nanti, di waktu yang tepat, saya akan bisa jatuh cinta kepada lelaki yang sudah saya miliki. Bukan memperjuangkan cinta seseorang yang masih memiliki peluang untuk lepas dari genggaman. Sepertinya saya terlalu takut untuk bermain tidak aman, bukan? Tapi pada akhirnya saya mensyukuri keputusan yang saya ambil. Paling tidak sampai detik ini saya masih percaya bahwa saya mencintai lelaki yang kini jadi suami saya, dan bukan tidak mungkin rasa cinta itu makin bertambah besar lagi nanti :p.


Dan masalah perasaan sang suami kepada saya, apakah sebesar yang saya miliki atau tidak, hmmm.. Biarlah saya percaya bahwa cinta kami sama besarnya. Seperti lagu Om Andre Hehanusa,
"Yakinkan hatimu kau milikku, kar'na ku tahu engkau begitu.."
Paling tidak hal itu bisa meminimalisasi rasa khawatir saya karena tinggal berjauhan dengan suami :D.


Oya, setelah saya pikir-pikir lagi, sekarang ini saya lebih suka membaca cerita dongeng anak-anak atau kisah-kisah motivasi yang menghibur dan membangun alih-alih kedua macam bacaan berbunga-bunga tadi.. *kabur*

Sebuah email yang sudah bertengger di dalam sent item  sejak 2 tahun lalu mendadak muncul dalam ingatan dan memaksa untuk dibaca. Bolehlah s...

Sebuah email yang sudah bertengger di dalam sent item sejak 2 tahun lalu mendadak muncul dalam ingatan dan memaksa untuk dibaca. Bolehlah saya kutipkan dalam postingan kali ini:


"Tahun 2014. Mungkin memang sudah bukan masanya menuliskan catatan harian di dalam sebuah diary. Apalagi sejak satu dasawarsa terakhir, media sosial a.k.a social media telah mengaburkan batasan antara ranah pribadi dengan publik. Orang dengan mudah dan santainya menyebarkan suatu informasi, yang kadang bersifat terlalu pribadi, ke dalam akun media sosial mereka. Yah, apapun alasannya, mereka punya hak untuk itu bukan? Dan kali ini saya bukan hendak membahas mengenai itu :)"


"Hari ini saya memutuskan untuk mulai menulis. Menulis apa saja. Berkisah tentang apa saja yang saya suka. Istilah kerennya sih 'nyampah'. Tujuannya semacam mengeluarkan unek-unek untuk melegakan perasaan saja. Tapi tidak menutup kemungkinan jika nanti rupanya tulisan ini bermanfaat. Buat saya atau siapa saja yang membacanya. Semoga. Siapa tahu suatu saat saya berubah pikiran mengunggah coretan-coretan dalam folder surat elektronik saya ke dalam blog atau akun media sosial saya :D. Ya, siapa tahu :)."


"Sebagai permulaan, tadinya saya berencana menuliskan keluh-kesah mengenai kegalauan yang sedang saya rasakan. Tentang penelitian tesis. Tentang suami yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dan menjadi susah untuk diajak ngobrol :(. Tentang mimpi-mimpi yang rasanya semakin jauh untuk dikejar. Tentang ilmu-ilmu yang baru saya peroleh dari kursus singkat dan majalah yang saya baca. Tentang apa saja. Informasi yang begitu banyak berseliweran di kepala, hingga membingungkan saya: mana yang akan ditulis lebih dahulu :p."


"Mari anggap saja postingan awal ini sebagai prolog untuk catatan harian saya. Insyaallah besok pagi kita mulai dengan cerita pertama ;)."


"Nb: postingan ini rencananya akan saya kirim ke email saya sendiri dan email suami. Barangkali beliaunya berminat 'mengintip' curhatan-curhatan saya. Dengan membuka peluang seperti itu, paling tidak muncul sugesti dalam diri saya untuk tidak memendam uneg-uneg sendiri :)"


catatan: pada akhirnya memang saya mengirimkan email tersebut ke email suami yang tentu saja tidak dibaca dan dibahas lagi *tertawa getir*, dan mengunggahnya ke dalam blog ini :)

Saya adalah seorang istri dari seorang lelaki pekerja keras dan penyayang. Kami menikah tiga tahun lalu dan meskipun hidup terpisah di dua k...

Saya adalah seorang istri dari seorang lelaki pekerja keras dan penyayang. Kami menikah tiga tahun lalu dan meskipun hidup terpisah di dua kota berbeda, kehidupan pernikahan kami sangat membahagiakan. Meski tak bisa berjumpa setiap hari, setidaknya sekali sepekan atau bilamana dibutuhkan, kami akan saling mengunjungi. Menghabiskan waktu bersama dengan hanya sekedar bercanda, menonton film berdua di rumah atau di bioskop, membaca, berolahraga, berbelanja keperlulan keluarga, memasak (he cooks much much better than I do), membereskan rumah, jalan-jalan, makan, atau bahkan tidur. Tidur dalam arti sebenarnya karena kegiatan sehari-hari kami sangat menyita energi, waktu dan pikiran.


Oke, mungkin ada beberapa hal yang menurut orang lain belum kami miliki. Anak misalnya. Di saat-saat tertentu, ketika emosi dan mood sedang turun, adakalanya perasaan iri, galau, sedih, kecewa dan perasaan-perasaan negatif lainnya muncul.


Tapi bukankah kunci untuk bisa berbahagia adalah bersyukur?


Saya memutuskan untuk berbahagia dan menerima segala ketidaksempurnaan yang ada. Fokus pada apa yang saya miliki saat ini: pekerjaan yang sesuai dengan renjana, suami yang luar biasa sabar dan mencintai saya apa adanya, keluarga besar yang selalu mendukung kami, dan berkah lain yang tak terhitung jumlahnya.


Jadi, sudah sepantasnya saya bersyukur dan berbahagia :)