Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Disclaimer : artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Teori dan kondisi ideal mungkin menyatakan hal yang berbeda. Namun setid...

Tips Sukses Menyusui a la Ibu Fatha



Disclaimer: artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Teori dan kondisi ideal mungkin menyatakan hal yang berbeda. Namun setidaknya yang saya tulis di sini merupakan kondisi yang sudah terbukti berhasil untuk saya pribadi. Kebijakan pembaca disarankan :)

Siapa di antara ibu-ibu pembaca yang pernah mengalami masalah saat menyusui Si Kecil, terutama pada saat hari-hari pertama kelahiran? Bendungan ASI yang berujung pada mastitis di payudara, puting lecet, ASI yang keluar sedikit (atau dianggap sedikit), hingga bayi mengalami bingung puting.
Jika pernah, mari tosss.. Saya pernah beberapa kali merasakan hampir semua masalah tersebut.

Meskipun sejak hamil saya sudah berusaha membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan mengenai menyusui, dengan mengikuti kelas persiapan kehamilan maupun kelas menyusui, kenyataan di lapangan sungguh sangat berbeda. Misalnya, dikatakan bahwa bayi harus menyusu sekehendaknya, dan harus dibangunkan tiap dua jam sekali untuk menyusu. Pada prakteknya, menyusui itu beraaaat luar biasa. Kondisi tubuh saya yang belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan, ditambah kekhawatiran untuk tidak mampu memberikan yang terbaik bagi Fatha, menyebabkan saya sempat terkena sindrom baby blues.

Jangankan untuk mandi dan merapikan rumah, hanya untuk sekadar menyempatkan makan pun saya tak sanggup. Sariawan bermunculan di rongga mulut saya, bekas jahitan di jalan lahir terasa nyeri tak karuan, dan puting terasa perih bak diiris-iris ketika harus menyodorkan payudara ke mulut Fatha. Apalagi saya tinggal di kampung yang solidaritas dan kekeluargaan di antara penduduknya masih sangat kental. Terhitung sejak hari pertama kami pulang dari klinik bidan, tamu sudah berdatangan mengucapkan selamat. Setiap hari. Saat saya masih berjuang dengan posisi dan pelekatan menyusui. Untungnya tetangga-tetangga bukan tipe yang sering saya dengar melalui curhatan teman-teman saya. Yang saking perhatiannya, malah memberikan pendapat ketika tidak diminta. Atau malah membandingkan dengan kisahnya sendiri, anaknya, saudaranya, atau tetangganya yang lain :)

Titik balik terjadi pada saat usia Fatha menginjak 3 minggu. Angka pada timbangan yang seharusnya sudah bertambah, justru turun sebanyak 20% dari berat badan lahir. Padahal batas toleransi penurunan berat badan bayi yang diijinkan pada usia 1 minggu hanya sebesar 10% karena proses adaptas bayi di duniai. Itu pun pada minggu kedua, seharusnya berat badan bayi sudah harus kembali naik, setidaknya sama dengan berat badan lahir.

Konsultasi dengan dokter spesialis anak (DSA), dilakukanlah observasi baik pada Fatha maupun pada saya. Beliau mengamati posisi dan pelekatan menyusui. Ternyata tidak ada masalah. Cek darah rutin Fatha pun menunjukkan semuanya baik-baik saja: kadar gula darah, haemoglobin. Hingga akhirnya DSA menyimpulkan bahwa intake makanan (dalam hal ini ASI) Fatha tidak cukup untuk pertumbuhannya.

DSA menyarankan Fatha dirawat di perina RS bersalin tempat kami berkonsultasi dengan pemberian ASI perah setiap 2 jam atau sekehendak Fatha. Dalam kondisi emosi yang masih amburadul, saya menyalahkan diri sendiri. Beruntung Ayah dan Uti Fatha saat itu memberikan dukungan terbaik mereka. Mengetahui saya dalam kondisi under pressure, mereka memberikan pengertian bahwa saya harus bisa berlapang dada menerima kenyataan seandainya tidak bisa memberikan ASI eksklusif kepada Fatha.


Tujuan dari mengASIhi kan memberikan yang terbaik buat anak. Kalau ternyata tidak mampu, masih ada susu formula. Let it go saja. Yang penting Fatha tumbuh sehat
dengan hati-hati Ayah Fatha merayu saya.

Karena ekspektasi yang tinggi untuk bisa memberikan ASI eksklusif ini, saya sempat marah pada Ayah dan Uti Fatha. Saya beranggapan bahwa mereka tidak mendukung saya. Harapan saya tinggal pada konselor laktasi yang sudah beberapa kali saya temui saat belajar tentang posisi dan pelekatan serta saat saya mengalami bendungan ASI. Beliau meminta saya untuk tetap berpikiran positif dan yakin bahwa ASI cukup. Beliau juga berpesan untuk saya mengikuti prosedur yang berlaku, termasuk mengenai pemberian ASIP dengan botol dan dot, alih-alih gelas seperti yang saya harapkan.

Yang terpenting sekarang, berat badan Fatha bisa normal dulu, baru nanti dipikirkan bagaimana selanjutnya.

Saya akhirnya takluk, menyadari bahwa produksi ASI saya justru makin macet saat saya stress.

Empat hari Fatha dirawat di perina, Alhamdulillah beratnya naik secara signifikan. DSA pun mengijinkan Fatha pulang ke rumah. Sampai di rumah, drama botol dan dot masih berlangsung. Saya merasa cemburu pada dot dan Uti, karena Fatha lebih memilih memyusu lewat dot dan diberikan oleh Uti. Saya benar-benar kepayahan kejar setoran. Ada kalanya Fatha sudah merengek-rengek minta ASI, sedangkan saya masih berjuang memerah.

Untungnya hal ini tidak berlangsung lama. Setelah target peningkatan berat badan tercapai, DSA justru meminta saya untuk full menyusui secara langsung. Saat itu saya menyebutnya relaktasi karena Fatha sudah mengalami bingung puting. Lagi-lagi dengan dukungan Bu Titik, konselor laktasi yang membantu saya melalui masa-masa sulit, relaktasi berhasil dilakukan dalam waktu kurang dari seminggu. Oh iya, saat itu usia Fatha belum genap dua bulan.

Bu Titik menyarankan saya untuk memperbanyak kontak skin to skin dengan Fatha. Istilah beliau, “bermain dada”. Pemakaian dot sebagai media pemberian ASIP benar-benar dihentikan. Berat badan Fatha pada bulan berikutnya pun naik melebihi kenaikan berat minimal (KBM).
Bonusnya, sebelum kembali bekerja saat usia Fatha 2 bulan, saya sudah berhasil mengumpulkan stok ASIP dalam jumlah cukup.

Alhamdulillah..

Dari situ saya memahami bahwa ada banyak hal yang bisa mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif, di luar teori-teori yang sudah ada, yaitu:


  • Keteguhan hati “Menyusui harus keras kepala”

Memang benar, menyusui harus dengan tekad yang kuat. Keras kepala. Meskipun lingkungan kadang tidak memberikan dukungan yang kita harapkan, selama kita yakin, pasti mampu. Tentunya diawali dengan ilmu dan pengetahuan yang tepat mengenai menyusui karena praktek tanpa ilmu dan teori tentu akan sulit dilaksanakan. Busa jadi ada kemungkinan berhasil, tapi dengan ilmu yang cukup, kita bisa makin percaya diri saat mengambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya. Seperti pada kasus bingung puting Fatha, karena saya sudah tahu, risiko bingung puting mungkin saja terjadi akibat penggunaan dot, namun saya memutuskan untuk tetap mengikuti prosedur di klinik. Proses relaktasi pun makin mudah dilakukan karena sudah paham sebab-akibatnya.


  • Realistis

Banyak teori yang memaksa kita harus begini, atau melarang kita begitu. Dalam kondisi ideal, tentunya teori tersebut punya banyak keuntungan. Penggunaan dot menyebabkan bayi bingung puting, atau bingung puting laten  yang menyebabkan produksi ASI terhambat. Bayi lebih suka "pasrah" mengisap botol susu daripada payudara ibu. Kalaupun mau, hisapannya tidak cukup kuat untuk "mengosongkan" payudara ibu. Akibat tidak dikosongkan dengan baik, produksi ASI pun melambat.

Kadang ada beberapa teman yang curhat ke saya. Mereka merasa tertekan karena dipandang tidak cukup kuat berusaha menyusui. Hanya karena bayi mereka disusukan dengan media dot saat ditinggal bekerja. Siapa yang beranggapan seperti itu? Tentu saja sesama ibu menyusui lainnya yang beruntung pengasuh anaknya rela belajar memberikan ASI dengan cup feeder atau gelas.

Saya harus bersyukur, baik suami maupun ibu berkenan bersusah payah melatih diri maupun Fatha untuk meminumkan ASIP dengan gelas. Pada saat saya saya harus berpisah dengan Fatha selama sembilan hari karena tugas, alhamdulillah Fatha masih ingat bagaimana cara menyusu dengan benar.

Tapi bagaimana dengan ibu-ibu lain yang tidak mendapatkan privilege seperti saya?

Saya teringat pada dua orang konselor laktasi senior yang sangat bijak dan menenangkan. Yang pertama, KL yang mendampingi saya saat mengalami berbagai masalah di atas. Satu lagi yang saya temui ketika kebetulan harus memerah di klinik laktasi saat sedang bertugas di Kemenkes.

Keduanya menekankan bahwa dalam keadaan yang tidak ideal, kita harus mencari strategi agar konsekuensi terburuk tidak terjadi. Dalam kasus bingung puting karena penggunaan dot tadi misalnya, diupayakan ibu bekerja tetap dapat menyusui bayinya sekehendak hati saat malam hari. Harapannya, bingung puting tidak terjadi.

Benar juga. Pada akhirnya ketika kita menerima keadaan kita dengan realistis, selama sudah mempersiapkan langkah-langkah pencegahan, semua bisa berjalan baik.


  • Kembali ke tujuan awal

Seperti yang disampaikan Ayah Fatha, bahwa tujuan utama menyusui adalah memberikan kebutuhan utama bayi berupa makanan bergizi. Model seperti saya yang mudah stress ketika keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan, maka mantra ini bekerja dengan baik. Kemungkinan terpahit jika ASIP saya habis saat sedang bekerja adalah saya harus pulang ke rumah dan menyusui Fatha secara langsung. Jika ijin sudah terlalu banyak, ya terpaksa menggunakan rencana cadangan, memberikan Fatha susu formula. Toh susu formula sudah diformulasikan cocok untuk pencernaan bayi. Toh bukan MPASI dini. Pikir saya kala itu. Alhamdulillah plan B itu tidak pernah terjadi. Allah telah mencukupkan rejeki ASI, kemungkinan karena saya pada akhirnya berpikir legowo. Tidak lagi dikejar target.

Pssst, saya tidak pernah menyampaikan pendapat saya ini kepada keluarga maupun kerabat, hanya saya pendam dalam hati. Kekhawatiran yang ada di dalam pikiran saya, justru mereka jadikan alasan untuk memberikan Fatha sufor ketika saya sedang berjuang menyediakan ASI perah untuk Fatha. Jadinya plan B tadi memang hanya saya jadikan sugesti dalam pikiran saja agar saya tenang dan tdan tidak gampang panik saat stok ASIP menipis.


  • Membentuk support system yang baik

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar memang sangat penting untuk keberhasilan ASI eksklusif. Bagaimana mungkin Ibu berhasil memberikan ASI eksklusif jika tekanan maupun godaan muncul di sana-sini untuk menyambung dengan sufor. Apalagi ditambah embel-embel, “ASI-mu tak akan cukup”, atau “anakmu kehausan, nangis terus, sini ibu buatkan susu.”

Edukasi mengenai ASI eksklusif dan standar emas pemberian makanan untuk bayi memang idealnya dilakukan sebelum bayi lahir. Kadang berhasil, bisa juga belum. Jika memang belum berhasil, ibulah yang mesti membentengi diri dari lingkungan yang tidak sesuai menurut standarnya.

Dalam kasus saya, justru kerabat dekat yang sering membuat mood saya amburadul karena membandingkan Fatha dengan bayi lain, atau menyalahkan saya karena dianggap terlalu keras kepala. Nah, saya membentuk support system dengan jumlah personil minimal, namun benar-benar saya percaya. Cukup Ayah dan Uti Fatha yang Alhamdulillah sudah sepemahaman mengenai ASI eksklusif.



  • Be happy

Semua langkah di atas akan lebih mantap hasilnya jika kita selalu merasa bahagia. Syukuri tiap tetes ASI yang keluar. Selalu berdoa dan dan tetap yakin bahwa Tuhan akan mencukupkan rizki anak kita melalui ASI yang kita hasilkan.

Bukankah menyusui juga bagian dari ibadah kita sebagai ibu?


Dan saya percaya bahwa hati yang bahagia adalah ASI booster terbaik. Selamat mengASIhi buibu :)


0 comment(s):

Setelah sempat terseok-seok di beberapa hari terakhir, alhamdulillah proyek membaca Fatha dan Ayah Ibu bisa dilaporkan hasilnya. Tak disan...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #15

Setelah sempat terseok-seok di beberapa hari terakhir, alhamdulillah proyek membaca Fatha dan Ayah Ibu bisa dilaporkan hasilnya.

Tak disangka, Fatha mendapatkan skor 15, sama seperti ibu, sedangkan Ayah harus puas dengan skor 9.


Fatha perlu menerima apresiasi tertinggi karena sebagian besar skor perolehannya merepresentasikan "judul buku", bukan hanya "judul bab".

Tepuk tangan buat Fatha :)

BTW, Ayah dan Ibu masih punya PR menuntaskan buku yang sudah mulai dibaca. Hehehe

#HariKe16
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Hari keempat belas proyek membaca, Ibu meminjam buku milik Ayah Fatha mengenai tips fotografi menggunakan kamera ponsel. Sebenarnya buku ini...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #14

Hari keempat belas proyek membaca, Ibu meminjam buku milik Ayah Fatha mengenai tips fotografi menggunakan kamera ponsel. Sebenarnya buku ini merupakan hadiah ulang tahun Ibu untuk Ayah, tapi tak ada salahnya Ibu baca duluan ya. Ehehehe..

Jadi buku ini merupakan karya salah satu pengguna akun instagram yang Ibu follow, Mbak Ariana. Melihat postingan foto-fotonya sejak lama, memang nyaris tidak percaya bahwa foto-foto yang ia unggah pada akun tersebut merupakan hasil jepretan dengan kamera ponsel.

Bahagianya saat membaca buku ini, ada banyak tips dan langkah-langkah untuk membuat foto secantik foto Mbak Ariana.

Secara garis besar, langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil jepretan yang berkualitas menurut Mbak Ariana adalah:

  1. Kenali ponsel kita sendiri. Tak perlu ponsel yang mahal, selama kita sudah menguasai dasar menggunakannya, sudah cukup untuk memperoleh foto yang bisa mewarnai feed instagram kita. Berbeda jika foto yang dibutuhkan harus dalam kualitas pixel yang besar (misal untuk dicetak dalam bentuk spanduk atau banner), tak ada salahnya berinvestasi untuk sebuah kamera dengan lensa fix. 
  2. Berlatih memotret satu objek dengan sudut dan posisi yang berbeda. Hal ini akan menambah jam terbang kita sekaligus menambah kepekaan terhadap objek yang akan difoto.
  3. Menggunakan pencahayaan alami dari sinar matahari misalnya, dapat dibantu dengan diffuser berupa cermin. Memotret makanan atau produk di rumah, sebaiknya tidak dilakukan di dalam ruangan. Kita bisa menggunakan lokasi teras karena sinar matahari cukup bisa didapatkan, namun tidak terlalu banyak seperti di halaman karena dapat menyebabkan over exposure.
  4. Mengikuti beberapa kaidah dalam teknik fotografi seperti rule of third (mengenai bagaimana meletakkan objek pada bidang gambar). Bahasan mengenai hal ini sudah bisa ditemukan lewat google.
  5. Belajar mengenai sudut pengambilan gambar, semisal bird eye view (BEV) atau flat lay, eye level, maupun 45 derajat.
  6. Belajar beberapa aplikasi editing untuk mempercantik foto yang sudah dihasilkan. Meskipun kamera kita belum memiliki fitur yang membuat latar belakang gambar terlihat blur, dengan aplikasi yang tepat, foto bisa terlihat seakan-akan diambil dengan menggunakan kamera DSLR dengan lensa fix.
Setelah membaca buku ini, rasanya ingin segera berlatih dan mempraktekkan ilmu dari Mbak Ariana :)


#HariKe15
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

2 comment(s):

Hari Sabtu lalu Ibu kembali dari tugas di luar kota. Karena malam sebelumnya Ibu melewatkan waktu tidur, akhirnya hutang tidur dibayar hari ...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #13

Hari Sabtu lalu Ibu kembali dari tugas di luar kota. Karena malam sebelumnya Ibu melewatkan waktu tidur, akhirnya hutang tidur dibayar hari kemarin. Akibatnya Ibu sempat melewatkan waktu membaca bersama Fatha.

Hari Minggu ini, bertepatan dengan ulang tahun Kak Raafi, kami membuat kejutan untuknya.


Acara keluarga ini dihadiri oleh keluarga besar termasuk Uti dan YangYut. Kak Raafi mendapatkan beberapa hadiah dari saudara-saudaranya. Salah satu kado yang diperoleh Kak Raafi adalah buku cerita tentang Nabi.


Fatha berkesempatan meminjam buku tersebut dan membaca satu kisah mengenai Nabi Yunus. Cerita yang sudah sangat ia kenal mengenai Nabi Yunus yang terjebak di dalam perut ikan paus dan berdoa kepada Allah.

Halaman lain yang menarik perhatian Fatha adalah pop-up mengenai kapal besar Nabi Nuh AS, Laut Merah yang dibelah oleh Nabi Musa AS, serta Bukit Safa dan Marwah tempat Hajar mencarikan air minum untuk Nabi Ismail AS.

Terima kasih atas pinjaman bukunya, Kak Raafi..

#HariKe14
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Proyek membaca hari ini berhasil dituntaskan Fatha dan Ibu meski kami masih terpisah jarak 400 km. Ibu menerima kabar dari Uti melalui pesa...

Migrasi Wordpress ke Blogspot ft. Stimulasi Membaca Fatha Day #12

Proyek membaca hari ini berhasil dituntaskan Fatha dan Ibu meski kami masih terpisah jarak 400 km. Ibu menerima kabar dari Uti melalui pesan singkat mengenai perkembangan proyek membaca Fatha.


Buku pilihannya hari ini masih mengenai belajar mandiri, serial Halo Balita. Temanya mengenai kemandirian Sali, Si Tokoh Utama, mengenakan baju sendiri. Fatha bercerita pada Uti, "srot", celana dipakai.

Selain asyik dengan bukunya sendiri, Fatha pun ikut Uti "membaca" Al Quran. Awalnya ia memperhatikan Uti mengaji, lama-kelamaan ia mengambil alih Al Quran dari hadapan Uti. Tentunya dengan posisi masih terbalik.

Tak masalah, buat anak seusia Fatha, kontak dan kedekatan dengan buku sudah bisa dijalin meski ia masih menganggapnya sebagai mainan saja. Semoga sampai dewasa pun ia memiliki kemampuan literasi yang baik.




Bagaimana kabar Ibu?

Alhamdulillah hari ini tugas membaca Ibu Fatha ada perkembangan. Beberapa artikel mengenai blogging berhasil diselesaikan Ibu, sekaligus mempraktekkannya secara langsung.

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu Rumah Belajar (Rumbel) Literasi di kota kami sedang mengadakan kulwap mengenai proyek membuat blog yang menarik. Tugas pertamanya adalah  membuat blog dengan platform Blogspot.  Nantinya kami akan belajar banyak hal mengenai blogging ini.

Nah, Ibu Fatha baru sempat mempraktekkan tugas-tugas ini hari ini. Rapelan, judulnya. Dimulai dari memindahkan semua isi rumah lama di WordPress menuju rumah baru ini. Tutorial lengkapnya Ibu acu dari artikel ini.

Taraaa..

Postingan di rumah lama berhasil bermigrasi ke sini dalam hitungan menit. Memang, Ibu masih harus mengedit beberapa permalink. Untungnya jumlah entri post di blog belum seberapa banyak.

Langkah selanjutnya adalah mempercantik tampilan blog. Ibu belajar dari Emak K lewat kulwap beberapa hari yang lalu. Belum puas, Ibu sekalian berselancar mencari template-template yang cocok di hati lewat link ini. Ah iya, konsultasi dengan Emak K juga dilakukan secara japri. Hehehe. Terima kasih, Mbak Widi..

Next, ketika rumah baru sudah mulai tertata rapi, Ibu justru gamang. Apakah akan menutup permanen rumah lama, atau cukup mengganti privacy setting-nya supaya tak terindeks Google. Kembali, Ibu mencari-cari bahasan mengenai hal ini. Sempat galau antara artikel yang pro terhadap Blogspot atau yang lebih mengunggulkan Wordpress.

Akhirnya daripada hanya bingung tanpa keputusan, Ibu pun memutuskan untuk lanjut saja belajar mengenali seluk beluk rumah baru ini, memperbanyak dan memperkaya isinya, belajar mengenai kepenulisan blog di sini dan dari sumber lain. Semoga kemampuan menulis makin terasah. Aamiin..

#HariKe13
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sumber Bacaan

Carolina Ratri. 2018. Bagaimana Menentukan Ciri Khas Gaya Ngeblog Buat Para Lyfestyle Blogger. https://www.carolinaratri.com/2018/04/mencari-ciri-khas-lifestyle-blogger.html. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.

John Mamad. 2014. Wordpress vs Blogger, Mana yang Lebih Baik?
https://www.centerklik.com/wordpress-vs-blogger-mana-lebih-baik/ Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.

Tutorial Migrasi WordPress ke Blogger. https://www.jagoanhosting.com/tutorial/tutorial-wordpress/migrasi-wordpress. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.

Widi Utami. 2019. Plus Minus Menggunakan Platform Blogspot. https://widiutami.com/plus-minus-menggunakan-platform-blogspot.html. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.


0 comment(s):

Mendadak saya harus bertugas di luar kota selama tiga hari. Jadilah reading time  bersama Fatha harus diwakili Uti. Saya berpesan kepada ...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #11



Mendadak saya harus bertugas di luar kota selama tiga hari. Jadilah reading time bersama Fatha harus diwakili Uti. Saya berpesan kepada Uti sebelum berangkat bahwa kegiatan membaca Fatha bisa didokumentasikan atau minimal dilaporkan.

Tentu saja saya tak sampai hati meminta Uti mengajak Fatha menempel daun pada Pohon Literasi tiap ada buku yang ia tamatkan :) Hari ini Uti bercerita melalui pesan di ponsel bahwa Fatha kembali membuka salah satu buku favoritnya, "Hmmm..."
Halaman yang paling ia sukai adalah adegan sang tokoh utama sedang asyik bermain sepakbola bersama kawan-kawannya.











Fatha dengan serunya bercerita bagaimana ia senang sekali bermain bola di halaman rumah YangYut (eyang buyut).


"Dulll", ucapnya menirukan suara tendangannya yang mengenai bola.


Bagian buku lainnya yang Fatha suka adalah penggambaran ekspresi senang yang berbunga-bunga. Ada banyak bunga tiruan yang ditempel pada halaman tersebut.






Ia tertarik meraba dan mencabut bebungaan yang menempel pada halaman tersebut.

Ibu sama sekali belum berhasil menamatkan satu bab lagi karena masih harus mengikuti rapat. Sedihnya... Pertemuan baru saja berakhir saat tulisan ini diunggah.


#HariKe12 
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

2 comment(s):

Bagaimana kabar membaca selepas 10 hari? Alhamdulillah Fatha masih tetap bersemangat membaca meskipun Ibu belum berhasil men...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #10









Bagaimana kabar membaca selepas 10 hari?

Alhamdulillah Fatha masih tetap bersemangat membaca meskipun Ibu belum berhasil mencontohkan tamat satu buku lagi. Buku yang Fatha baca adalah "Aku Bisa Merapikan Mainan Sendiri" dari Seri "Halo Balita".

Fatha begitu menjiwai kegiatan ini karena sudah sering ia lakukan. Cerita tentang merapikan mainan sebagai salah satu proyek keluarga kami bisa disimak di sini dan sini.

Ayah belum memberikan kabar mengenai progress buku bacaannya, "Ayah Edy Punya Cerita". Kami memaklumi karena pasca cuti selama dua hari, tentu tugas Ayah di kantor tidak sedikit.

Ibu mulai membaca Buku " Berteman dengan Demam" tulisan Dokter Apin namun belum menamatkan satu bab pun. InsyaAllah akan dilanjutkan esok hari :)

Berikut wujud Pohon Literasi kami hari ini.


#HariKe11
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Hari ini Ibu menyempatkan cuti 1 hari, mumpung Ayah juga cuti dan sedang ada di rumah. Kami bertiga bersama Uti sepakat untuk berjal...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #9





Hari ini Ibu menyempatkan cuti 1 hari, mumpung Ayah juga cuti dan sedang ada di rumah. Kami bertiga bersama Uti sepakat untuk berjalan-jalan ke kota sebelah sekaligus mencari beberapa perabotan untuk memaksimalkan penataan rumah. Ceritanya sih supaya barang-barang bisa tertata dengan rapi, kami mencari tempat penyimpanan yang praktis.

Nah, karena keasyikan bepergian ini, Ayah dan Ibu lagi-lagi belum bisa menyelesaikan tantangan membaca. Fathalah satu-satunya yang berhasil on track dan istiqomah membaca. Hari ini ia memilih buku "Aku Bisa Membuang Sampah" dari seri "Halo Balita.


Semoga esok pagi aktivitas membaca bisa pulih seperti biasa..

#HariKe10
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Hari ini hanya Fatha yang berhasil menjalankan dengan konsisten aktivitas membacanya. Ayah dan Ibu sama-sama KO akibat radang tenggor...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #8






Hari ini hanya Fatha yang berhasil menjalankan dengan konsisten aktivitas membacanya. Ayah dan Ibu sama-sama KO akibat radang tenggorokan.

Fatha mengulang kembali Buku "Aku Bisa Mandi Sendiri". Kali ini ia minta dibacakan Ayah. Ia bahkan sempat membawa alat peraga berupa sabun mandi.


Selain buku, Fatha juga menunjukkan ketertarikan pada poster aneka binatang. Ia menunjukkan pada Ibu beberapa jenis hewan yang sering kami lihat wujud dan dengar suaranya seperti katak atau kodok ("kwok-kwok" atau "kong kong"), anjing ("awk awk"), dan kucing ("miaw").







Acara menempel daun pun belum dapat dilakukan malam ini. InsyaAllah pemasangan daun Fatha dirapel esok hari. Maaf ya, Nak ^^

#HariKe9
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Tantangan Bunsay level 5 telah memasuki hari kedelapan. Alhamdulillah kami sekeluarga masih menikmati reading time meski sulit menyamakan...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day#7


Tantangan Bunsay level 5 telah memasuki hari kedelapan. Alhamdulillah kami sekeluarga masih menikmati reading time meski sulit menyamakan waktu membaca bersama.

Ayah Fatha masih bertugas di luar kota dan hanya menyetorkan laporan kholas membaca melalui pesan bergambar di gawai. Sayangnya saya lupa menanyakan sinopsis bab kesembilan buku yang sedang Ayah baca.



Judul bab sembilan yang sudah Ayah tuntaskan




Bagaimana dengan tugas membaca Fatha?

Hari ini ia memilih sendiri Buku "Mencintai Rasulullah: 365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW.". Fatha mengambil buku dari rak, meletakkan di atas karpet, dan mengajak saya membaca bersama-sama. Ternyata Fatha belum terlalu tertarik dengan isinya karena lebih banyak tulisan daripada gambarnya.
Buku yang rencananya akan menjadi bekal saya bercerita kepada Fatha selama 1 tahun penuh ^^




Tak masalah, Fatha sudah berinisiatif memilih sendiri buku yang belum pernah ia baca sebelumnya. Setidaknya ini memicu rasa ingin tahunya.

Saya hanya mampu membacakan dua paragraf cerita pertama, setelah itu Fatha lebih asyik membolak-balik halaman sendiri, mencari gambar ilustrasi yang dianggapnya menarik. Fatha bertanya sesekali mengenai ilustrasi yang ia temukan dan saya jawab berdasarkan lirikan sepintas pada cerita yang ada di sebelahnya :)

Fatha mengamati ilustrasi Jabir bin Abdullah yang sedang mengangkut hasil bumi di kebunnya untuk melunasi hutang ayahnya. Ayahnya telah gugur sebagai syuhada pada Perang Uhud. Rasulullah meminta Jabir untuk memanggil para penagih hutang. Atas kehendak A Allah dan doa Rasulullah, Jabir dapat membayar semua hutang ayahnya.




Salah satu kejadian menarik sore ini adalah saat Fatha meminta ponsel saya. Ia berkali-kali menyebut, "hape, hape, Ayah."

Rupanya Fatha sedang merindukan Ayahnya. Situasi kurang memungkinkan bagi kami untuk melakukan panggilan video. Akhirnya saya merayu Fatha untuk mengobati rasa kangen dengan membuka-buka album foto di mana ada gambar Sang Ayah.


Ketika menatap wajah Ayah dalam gambar dirasa cukup untuk melipur lara




Saya menganggap kegiatan mengamati album foto ini sebagai salah satu aktivitas membaca karena kami berdua bisa bercerita berdasarkan gambar-gambar yang ada :)

Tugas membaca saya baru bertambah tiga artikel dari Buku "Faces & Places".

Bagian ketujuh bercerita mengenai pertemuan Desi Anwar dengan Tony Buzan. Saya sontak bersorak dalam hati karena merasa sudah sangat "mengenal" Tony Buzan melalui karyanya "Mind Map". Pertama kali saya mengenal konsep "Mind Map" Pak Buzan melalui bukunya yang diam-diam saya baca dari koleksi Mama. Seingat saya, konsep ini menginspirasi saya saat harus melakukan presentasi Bahasa Inggris saat kuliah dulu.

Sedihnya, naskah tugas saya tersebut musnah bersama tutupnya blog saya di Multiply karena belum sempat saya cadangkan. Huhuhu..

Nah, Desi Anwar dengan kocaknya berkisah, andai ia sudah mengenal Pak Buzan saat masih bersekolah, tentulah ia bisa menjadi seperti Einstein atau Leonardo da Vinci. Bukan "sekadar" pembaca berita atau penulis yang dikejar tenggat. Beliau yang belum mengenal saja sudah sehebat itu, sedangkan saya yang sudah terpapar "Mind Map" pada usia sekolah masih seperti ini saja :))

Pada bagian yang berbeda, Desi Anwar berkisah mengenai seni bepergian. Bahwa bepergian saat ini tak lagi semenarik atau seromantis dahulu.

Orang dapat dengan mudah mengakses pesawat dan mendapati bandara maupun tempat tujuan terlihat seragam. Bepergian tak lagi berbeda dan dinanti. Orang cenderung pasif dan statis saat harus menunggu kehadiran pesawat maupun saat berada di dalam kabin. Berbeda saat melalui perjalanan darat atau laut, kita bergerak. Perpindahan menuju tujuan sangat bisa dirasakan.

Benar juga, sih ;)

Bagian terakhir yang saya baca hari ini adalah kisah mengenai Almarhum Ayah Desi Anwar. Desi Anwar mengenang beliau sebagai orang yang unik, selalu mempertanyakan segala hal, terutama alasan di balik segala kejadian maupun perbuatan, dengan kata "mengapa?". Pertanyaan ini membuat kita mampu menahan emosi saat menghadapi sesuatu yang di luar perkiraan.

Karya Desi Anwar ini terasa ringan saat dibaca, namun memuat makna yang dalam. Inilah yang membuat saya membacanya pelan-pelan, agar dapat mencerna dan menyerap hikmahnya.

Dan berikut ini tampilan Pohon Literasi kami di penghujung pekan pertama.






#HariKe8
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Agenda membaca Fatha dan saya siang tadi diwarnai dengan "berebut" buku bacaan. Separuh bagian terakhir Buku " Saya Pengen ...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #6


Agenda membaca Fatha dan saya siang tadi diwarnai dengan "berebut" buku bacaan. Separuh bagian terakhir Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang rencananya saya tamatkan hari ini rupanya menjadi incaran Fatha. Ia melirik pada halaman berilustrasi mobil. Ia langsung menunjuk gambar tersebut dan meminta buku yang sedang saya pegang.

Halaman bergambar mobil yang menarik perhatian Fatha




Selain buku yang saya baca, Fatha juga membaca Buku "Cilukba!" dan belajar mengenai konsep posisi "di atas" dan "di bawah". Selama ini ia lebih mengenal istilah "naik" dan "turun".


Buku "Cilukba!" dengan halaman pop-up




Malam tadi, beberapa saat Fatha tak terdengar suaranya. Saya sudah sempat waswas jika ia sedang asyik bermain sesuatu yang membahayakan. Ketika saya intip ia di ruang tamu, ternyata Fatha sedang asyik membaca surat kabar. Salah satu halaman yang ia minati adalah segmen olah raga dengan foto seorang pemain sepakbola sedang menggiring bola.


Fatha asyik membaca koran




Ayah belum selesai menamatkan bab sembilan Buku "Ayah Edy Punya Cerita" sedangkan Ibu baru saya melalap habis Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang kemarin sempat tertunda.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Gaya bertuturnya yang mengalir mengingatkan saya pada Buku "Catatan Indah untuk Tuhan" karya Mas Saptuari Sugiharto. Banyak ilmu dan tips penting seputar presentasi yang saya dapatkan dari pengalaman Budiman Hakim yang disampaikan seakan-akan beliau mendongeng langsung untuk saya.

Pelajaran yang saya ambil adalah bahwa setiap orang, apapun profesinya, mempraktekkan presentasi dalam kesehariannya tanpa disadari. Bukan hanya creative director atau copywriter, bartender maupun khatib Sholat Jumat pun secara sadar maupun tidak, telah melakukan presentasi.

Nah, strategi presentasi yang baik dan menarik saya dapatkan dalam buku ini. Termasuk memperbanyak latihan sebelum "pentas" dan mempersiapkan materi sebaik mungkin, serta mengurangi kata-kata "eee..eee" jika kita kehilangan ide.

Penghujung hari keenam, inilah kenampakan Pohon Literasi kami. Hanya Fatha yang berhasil menambah dua helai daun :)

Pohon Literasi pada hari kelima




Cerita di balik Pohon Literasi


Fatha senang sekali dengan Pohon Literasi yang kami buat. Beberapa kali ia tergoda memetik daunnya




#HariKe7
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

0 comment(s):

Salah satu proyek keluarga yang cukup konsisten kami kerjakan hingga sepekan berturut-turut adalah proyek merimbunkan Pohon Literasi. Ada ...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #5


Salah satu proyek keluarga yang cukup konsisten kami kerjakan hingga sepekan berturut-turut adalah proyek merimbunkan Pohon Literasi. Ada banyak hikmah yang kami dapatkan.

Saya merasa waktu kontak dengan gawai, terutama saat di rumah, makin berkurang. Waktu lebih baik dihabiskan dengan membaca buku. Fatha juga makin jarang protes dengan gawai saya. Ayah Fatha pun tak disangka-sangka berhasil menaklukkan tantangan membaca ini.

Pohon Literasi makin terlihat berwujud "pohon"





Hari ini Fatha memilih sendiri Buku bacaannya. Ia menurunkan salah satu buku saya dari rak dengan berucap, "berat". Saya terkejut melihatnya menggotong "Visual Dictionary" setebal 600 halaman lebih seorang diri.

Visual Dictionary, saya dapatkan dari sebuah toko buku saat bertugas sekitar tujuh tahun lalu



Fatha meminta saya membuka halaman yang memperlihatkan gambar sepeda. Ia mengamati baik-baik dan saya menunjukkan satu persatu bagian-bagian kendaraan tersebut. Mulai dari roda dan ban sepeda, sadel, pedal, hingga setang.

Fatha sedang membandingkan bentuk sepeda di gambar dengan sepeda milik Om Adit dalam ingatannya



Tak berapa lama Fatha sudah membolak-balik halaman dan saya ajak ia memperhatikan bentuk kendaraan lainnya, yaitu mobil. Fatha membandingkan gambar mobil pada buku dengan mainan mobil-mobilannya.

Mobil balap vs. SUV



Horee.. hari ini Fatha berhasil mendapat dua helai daun karena berhasil memperhatikan dua tema pada buku tebal Ibu.

Ayah hari ini sukses menyelesaikan satu bab lagi Buku "Ayah Edy Punya Cerita". Bab kedelapan ini bercerita mengenai gejala on dan off pada anak.

Apakah itu?

Gejala on off merupakan sikap anak-anak yang berbeda saat di rumah dan di lingkungan luar rumah. Bisa jadi ia aktif di rumah dan pasif saat di luar, atau sebaliknya.

Munculnya gejala ini bisa jadi dipengaruhi oleh perbedaan sikap orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya. Misalkan ayah cenderung keras sedangkan ibu lembut. Termasuk perbedaan kesepakatan ayah dan ibu saat menghadapi Si Kecil. Sangat penting bagi ayah dan ibu untuk sepakat tidak ada yang membela anak ketika ia berbuat salah.


Oleh-oleh Ayah untuk Ibu pada trip kali ini adalah resensi buku





Ibu berhasil menamatkan Buku "Asyiknya Mendongeng: dari Nol sampai Mahir" karya Kak Adin. Berbeda dari buku tentang presentasi kemarin, buku ini lebih banyak menuturkan teori. Jadi membaca buku ini seperti membaca pelajaran Bahasa Indonesia mengenai Dongeng. Kabar baiknya, saya jadi lebih percaya diri mendongeng untuk Fatha dengan ide yang random karena menurut buku ini, mendongeng itu mudah. Jadi semangat ingin mengasah kemampuan berkisah dan mendongeng untuk Si Kecil.



Salah satu "text book" favorit Ibu


Oh ya, mengenai dongeng dan kisah ini, saya pernah membaca dari sumber yang saya sudah lupa, bahwa dongeng bisa "menyesatkan" karena bisa jadi nilai yang ditanamkan kurang sesuai. Misalkan dongeng "kancil mencuri mentimun". Lebih baik berkisah mengenai sejarah atau sirah nabi.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat di atas. Dongeng jika dikemas dengan baik, mengajarkan pada anak value yang diharapkan dimiliki keluarga justru akan lebih mudah dicerna daripada sekadar memerintah.

Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing, bukan?

Ps: bloopers from today's challenge

Fatha menirukan ekspresi Kak Adin di sampul buku. Ibu sempat bingung beberapa saat. "ngapain kamu, Nang?" :p



#HariKe6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

4 comment(s):

Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalam...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #4




Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalamnya karena merasa sudah sering mempraktekkan dalam aktivitas sehari-hari.





Buku "Aku Bisa Makan Sendiri" menjadi salah satu favorit Fatha. Ia menunjukkan pada saya bagian Tokoh Utama Sali sedang makan bersama Kumi kucingnya. Fatha bahkan turut mempraktekkan doa sebelum makan ("bismillah") dan selesai makan ("alhamdulillah").




Saya hari ini sedang mencoba memulai buku baru berjudul "Saya Pengen Jago Presentasi" karya Budiman Hakim. Beberapa halaman pertama buku ini sudah sangat menggoda saya untuk segera menamatkan bukunya. Sayang sekali tugas lain menunggu sehingga baru selesai hingga separuh jalan.





Ayah Fatha tak disangka-sangka di tengah kesibukannya masih konsisten melahap dua bab Buku "Ayah Edy Punya Cerita".






Bab keenam menekankan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membentuk Pola asuh anak. Namun saat ini jaman sudah berbeda. Lingkungan bisa menjadi ancaman berbahaya yang dapat menggantikan posisi orang tua dalam membentuk pola perilaku anak kita. Bahaya lingkungan buruk bisa merusak perilaku anak. Dan jika orang tua tidak bisa menggantisipasi ini sejak dini maka lingkunganlah yang akan merusak perilaku anak.





Menentukan pola asuh untuk anak pun harus disesuaikan dengan tipologi dan karakter anak serta kita sendiri sebagau orang tua, seperti dicontohkan dalam kisah di bab enam.



Ringkasnya, hari keempat ini, beginilah kenampakan Pohon Literasi kami. Makin rimbun, alhamdulillah :)







#HariKe5 
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

6 comment(s):

Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkas...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #3


Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkaskan sebuah buku, bisa menghabiskan satu-dua bab dalam sehari. Terlepas dari berapa pun jumlah halamannya.

Saya pun ikut termotivasi untuk ikut membaca di luar "tema serius" yang sehari-hari harus diselesaikan. Meski hanya satu-dua artikel singkat namun cukup menghibur dan memunculkan ide baru buat mendongengkan Fatha.

Hari ketiga ini ada lima helai daun yang berhasil tumbuh pada Pohon Literasi kami.




Fatha sukses menyelesaikan "Halo Balita: Aku Bisa Mandi Sendiri" yang ia pilih. Buku ini memang di luar reading tracker yang pernah kami susun sebelumnya. Fatha sudah sangat familiar dengan beberapa judul "Halo Balita", termasuk tema mandi ini.





Fatha menunjuk "ciduk" alias gayung yang digunakan Sali, sang tokoh utama, mengambil air untuk mandi. Ia pun memeragakan bagaimana biasanya ia mandi. Termasuk adegan menggigil kedinginan ketika keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.

Bagian saya membaca bertambah dua artikel lagi mengenai perjalanan Desi Anwar ke Turki dan Laut Bali. Ayah pun berhasil menamatkan dua bab lagi.





Bab keempat dalam buku "Ayah Edy Punya Cerita" sudah diselesaikan oleh Ayah. Intisarinya, proses mendidik anak perlu disesuaikan dengan zamannya. Kita sebagai orang tua tak perlu memberikan intervensi berlebihan karena justru akan melukai anak dan berakibat fatal pada perkembangannya.






Bab kelima cukup mengena di hati Ayah karena menceritakan bagaimana kalimat positif memiliki efek yang dahsyat bagi masa depan anak. Dengan pengalaman yang kurang ideal di masa lalu, Ayah dan Ibu jadi bertekad untuk dapat menyuntikkan kalimat-kalimat positif untuk Fatha setiap hari.

Kami berharap pengalaman membaca hari-hari selanjutnya bisa semenyenangkan ini meskipun bukan lagi dalam rangka menjalankan tantangan :)

#HariKe4
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

2 comment(s):

Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru a...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #2


Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru aktivitas membaca. Bukan hanya buku ceritanya sendiri, ia mulai suka melirik buku yang sedang saya baca.

Fatha membolak-balik halaman buku




Ia juga menunjuk gambar-gambar yang menarik pada sampul buku tersebut. Dengan mudahnya Fatha menemukan gambar becak dan mengingat jelas namanya.




Di kesempatan berbeda, Fatha memilih buku "Hmmm..." dan belajar mengenai emosi. Marah, sedih, takut, jijik, dan senang ditunjukkan melalui beberapa ekspresi dan perumpamaan pada buku tersebut. Fatha juga senang menyentuh bagian-bagian bertekstur pada buku tersebut.

Fatha mengenal emosi dan berbagai macam tekstur pada sensory play Buku "Hmmm..."




Sesi membaca hari kedua, saya menghabiskan dua artikel Buku "Faces & Places" lanjutan hari kemarin. "Bertemu Sinterklas" adalah judul artikel yang pertama, menceritakan kisah Desi Anwar saat berhasil menemui "Sinterklas" di kantor pusatnya di Finlandia. Ia menceritakan dengan bahasa yang lugas namun menarik dan plot twist yang menghibur.

Cerita kedua mengenai kunjungan Desi Anwar ke Tibet untuk menemui Dalai Lama di suatu pergantian tahun. Beliau selalu mampu menceritakan sisi positif seorang tokoh dengan sangat baik. Dalai Lama yang rendah hati dan sederhana tergambarkan dalam artikel ini.

Bagaimana dengan Ayah?

Alhamdulillah, Ayah ngebut dan berhasil menyelesaikan tiga bab pertama Buku "Ayah Edy Punya Cerita".

Bab pertama Ayah tamatkan saat di dalam perjalanan. Intisari yang didapat oleh Ayah setelah membaca bagian ini adalah jika kita ingin mengubah perilaku negatif anak maka mulailah dengan memperbaiki perilaku kita sebagai orang tuanya.






Bab kedua menekankan bahwa setiap anak membutuhkan waktu untuk dapat bermetamorfosis menjadi manusia yang luar biasa di masa depan. Ayah Edy menggambarkannya dengan kisah ulat bulu yang akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.





Bab ketiga menjelaskan bahwa anak kita merupakan makhluk paling canggih yang pernah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Tidak ada ciptaan Allah yang menjadi produk gagal. Menjadi orang tualah yang harus dipersiapkan dengan baik.






Alhamdulillah perjalanan membaca hari kedua selesai dengan baik. Masing-masing anggota keluarga mampu menikmati tiap prosesnya. Rangkuman kegiatan dalam bentuk Pohon Literasi bisa dilihat di bawah ini.

Pohon Literasi Hari Kedua. Sebagian permukaan kertas gambar sudah menjadi korban coretan Fatha. Termasuk beberapa helai daun yang harus diganti karena dicopot paksa :)




Bonus enam helai daun untuk kami hari ini :)

#HariKe3
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

2 comment(s):

Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi m...

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #1


Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi memenuhi tantangan kali ini sekaligus menumbuhkan kecintaan kami pada membaca, malam hari kami pilih sebagai waktu membaca bersama.

Ah iya, sayang sekali minggu ini Ayah Fatha harus kembali ke rantau lebih awal karena akan bertugas ke luar kota selama sepekan. Beliau harus mempersiapkan segala sesuatunya sehingga terpaksa skip acara membaca bersama di hari pertama.

Hari pertama membaca bersama, saya memilih buku karya Desi Anwar, salah seorang jurnalis ternama dari Indonesia. Bukunya yang berjudul "Faces & Places" ini merupakan kumpulan sembilan puluh artikel lepasnya mengenai tempat dan orang yang pernah ia jumpai selama perjalanan hidupnya.




Buku pertama yang saya pilih


Membaca buku ini membuat saya takjub dan tertular semangat menjelajahi belahan dunia lain dan mencari serpihan ilmu dan hikmah dari tokoh maupun kejadian yang kita temui.

Saya berhasil menamatkan dua bab berjudul "Menonton paus di Sydney" dan "Merauke -- Pertemuan di Perbatasan". Kisah yang pertama menceritakan pengalaman Desi Anwar menyaksikan pertunjukan kawanan paus di lautan terbuka. Di saat semua orang siap dengan kamera masing-masing, para paus tidak menampakkan diri. Mereka justru muncul ketika para penonton justru sedang tidak siap dengan alat rekam masing-masing. Kisah ini mengajarkan pada saya bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kadang memang cukup untuk dinikmati, bukan untuk dipamerkan.

Cerita kedua adalah tentang Pak Ma'ruf, polisi di daerah perbatasan Merauke yang menikmati tugasnya dengan bercocok tanam dan membiarkan pengunjung menikmati hasilnya. Ia mengandalkan gado-gado jualan sang istri untuk merawal dan memelihara taman dan kebun yang ia kelola. Saya terkesan dengan dedikasi Pak Ma'ruf memanfaatkan lahan yang ada menjadi tempat yang indah dan berbuah.




Bab kedua yang sudah berhasil saya selesaikan


Membaca bersama Fatha ternyata tak kalah serunya. Selama ini kami membaca satu buku yang sama, Fatha mengamati gambar dan saya bercerita. Kali ini saya mencoba membuka buku pilihan saya dan Fatha saya minta memilih sendiri buku bacaannya. Ia mengambil buku berjudul "Suara Apa Itu?" yang sudah ia tempatkan pada rak bukunya.

Fatha asyik bercerita tentang Ayah yang mengendarai sepeda bersama Ibu dan anak-anaknya.




Fatha juga sudah mampu menebak nama-nama alat transportasi yang ada pada halaman terakhir buku tersebut.

Rangkuman bacaan hari kemarin kami kemas dalam Pohon Literasi di bawah ini. Ayah belum berhasil menamatkan bab pada buku yang ia baca. Semoga esok kami bertiga sama-sama bisa menambah satu helai daun pada ranting pohon kami.





#HariKe2
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

3 comment(s):