Mengenalkan anak usia dini untuk "melek literasi" sebenarnya tidak rumit. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan dan dikemas dalam bentuk permainan, seperti proyek keluarga kami bulan ini.
Proyek diawali dengan merencanakan buku apa yang akan kami tamatkan selama tantangan 10++ hari. Pada perjalanannya, ada buku yang bisa kami selesaikan sesuai target, ada pula yang sama sekali belum tersentuh. Bahkan ada buku yang justru tiba-tiba lebih menarik perhatian kami.
Apresiasi dalam wujud Pohon Literasi ternyata membangkitkan semangat kami bertiga. Ada rasa puas dan bahagia saat dalam satu hari ada satu helai daun yang berhasil ditambahkan.
Di akhir kegiatan, kami menghitung jumlah total daun yang berhasil "tumbuh". Fatha pun sudah bisa membandingkan mana daun yang mewakili buku bacaan Ayah, Ibu, maupun ia sendiri :)
Sepanjang perjalanan tantangan level ini, sebetulnya kami bertiga sama-sama menikmatinya. Sayangnya Ayah dan Ibu Fatha masih belum mahir manajemen waktu. Kadang kami terlewat tidak dapat mencontohkan konsistensi membaca buku. Dalam hal ketepatan jadwal membaca, Fatha memang juaranya.
Atau ada juga saat-saat ketika Ibu sudah berhasil menambah bab atau jumlah buku, namun terlewat melaporkan atau sekadar menempelkan helaian daun.
Setelah dikroscek bersama kawan-kawan sekelas-senasib-seperjuangan, sebagian besar merasakan tantangan berat di level ini adalah manajemen waktu. Kapan harus meluangkan waktu membaca dan yang tak kalah penting: menulis laporan :)
Semoga kami berhasil menaklukkan tantangan bulan depan dan seterusnya dengan lebih baik lagi. Tetap semangat membaca semuanya..
Ps: bonus beberapa bloopers dan kejadian di balik kamera saat menjalankan game tantangan level 5
Rentang konsentrasi Fatha yang masih sangat singkat tak jarang memunculkan cerita lucu. Di saat ibu sudah semangat mengajaknya membaca buku, Fatha ingin segera mengakhirinya. Hehehe..
Atau saat perhatiannya teralihkan dengan objek lain ^^
#AliranRasa
#Tantangan10hari
#GameLevel5
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Setelah sempat terseok-seok di beberapa hari terakhir, alhamdulillah proyek membaca Fatha dan Ayah Ibu bisa dilaporkan hasilnya. Tak disan...
Hari keempat belas proyek membaca, Ibu meminjam buku milik Ayah Fatha mengenai tips fotografi menggunakan kamera ponsel. Sebenarnya buku ini merupakan hadiah ulang tahun Ibu untuk Ayah, tapi tak ada salahnya Ibu baca duluan ya. Ehehehe..
Jadi buku ini merupakan karya salah satu pengguna akun instagram yang Ibu follow, Mbak Ariana. Melihat postingan foto-fotonya sejak lama, memang nyaris tidak percaya bahwa foto-foto yang ia unggah pada akun tersebut merupakan hasil jepretan dengan kamera ponsel.
Bahagianya saat membaca buku ini, ada banyak tips dan langkah-langkah untuk membuat foto secantik foto Mbak Ariana.
Secara garis besar, langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil jepretan yang berkualitas menurut Mbak Ariana adalah:
Kenali ponsel kita sendiri. Tak perlu ponsel yang mahal, selama kita sudah menguasai dasar menggunakannya, sudah cukup untuk memperoleh foto yang bisa mewarnai feed instagram kita. Berbeda jika foto yang dibutuhkan harus dalam kualitas pixel yang besar (misal untuk dicetak dalam bentuk spanduk atau banner), tak ada salahnya berinvestasi untuk sebuah kamera dengan lensa fix.
Berlatih memotret satu objek dengan sudut dan posisi yang berbeda. Hal ini akan menambah jam terbang kita sekaligus menambah kepekaan terhadap objek yang akan difoto.
Menggunakan pencahayaan alami dari sinar matahari misalnya, dapat dibantu dengan diffuser berupa cermin. Memotret makanan atau produk di rumah, sebaiknya tidak dilakukan di dalam ruangan. Kita bisa menggunakan lokasi teras karena sinar matahari cukup bisa didapatkan, namun tidak terlalu banyak seperti di halaman karena dapat menyebabkan over exposure.
Mengikuti beberapa kaidah dalam teknik fotografi seperti rule of third (mengenai bagaimana meletakkan objek pada bidang gambar). Bahasan mengenai hal ini sudah bisa ditemukan lewat google.
Belajar mengenai sudut pengambilan gambar, semisal bird eye view (BEV) atau flat lay, eye level, maupun 45 derajat.
Belajar beberapa aplikasi editing untuk mempercantik foto yang sudah dihasilkan. Meskipun kamera kita belum memiliki fitur yang membuat latar belakang gambar terlihat blur, dengan aplikasi yang tepat, foto bisa terlihat seakan-akan diambil dengan menggunakan kamera DSLR dengan lensa fix.
Setelah membaca buku ini, rasanya ingin segera berlatih dan mempraktekkan ilmu dari Mbak Ariana :)
#HariKe15
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Hari Sabtu lalu Ibu kembali dari tugas di luar kota. Karena malam sebelumnya Ibu melewatkan waktu tidur, akhirnya hutang tidur dibayar hari ...
Hari Sabtu lalu Ibu kembali dari tugas di luar kota. Karena malam sebelumnya Ibu melewatkan waktu tidur, akhirnya hutang tidur dibayar hari kemarin. Akibatnya Ibu sempat melewatkan waktu membaca bersama Fatha.
Hari Minggu ini, bertepatan dengan ulang tahun Kak Raafi, kami membuat kejutan untuknya.
Acara keluarga ini dihadiri oleh keluarga besar termasuk Uti dan YangYut. Kak Raafi mendapatkan beberapa hadiah dari saudara-saudaranya. Salah satu kado yang diperoleh Kak Raafi adalah buku cerita tentang Nabi.
Fatha berkesempatan meminjam buku tersebut dan membaca satu kisah mengenai Nabi Yunus. Cerita yang sudah sangat ia kenal mengenai Nabi Yunus yang terjebak di dalam perut ikan paus dan berdoa kepada Allah.
Halaman lain yang menarik perhatian Fatha adalah pop-up mengenai kapal besar Nabi Nuh AS, Laut Merah yang dibelah oleh Nabi Musa AS, serta Bukit Safa dan Marwah tempat Hajar mencarikan air minum untuk Nabi Ismail AS.
Terima kasih atas pinjaman bukunya, Kak Raafi..
#HariKe14
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Proyek membaca hari ini berhasil dituntaskan Fatha dan Ibu meski kami masih terpisah jarak 400 km. Ibu menerima kabar dari Uti melalui pesa...
Proyek membaca hari ini berhasil dituntaskan Fatha dan Ibu meski kami masih terpisah jarak 400 km. Ibu menerima kabar dari Uti melalui pesan singkat mengenai perkembangan proyek membaca Fatha.
Buku pilihannya hari ini masih mengenai belajar mandiri, serial Halo Balita. Temanya mengenai kemandirian Sali, Si Tokoh Utama, mengenakan baju sendiri. Fatha bercerita pada Uti, "srot", celana dipakai.
Selain asyik dengan bukunya sendiri, Fatha pun ikut Uti "membaca" Al Quran. Awalnya ia memperhatikan Uti mengaji, lama-kelamaan ia mengambil alih Al Quran dari hadapan Uti. Tentunya dengan posisi masih terbalik.
Tak masalah, buat anak seusia Fatha, kontak dan kedekatan dengan buku sudah bisa dijalin meski ia masih menganggapnya sebagai mainan saja. Semoga sampai dewasa pun ia memiliki kemampuan literasi yang baik.
Bagaimana kabar Ibu?
Alhamdulillah hari ini tugas membaca Ibu Fatha ada perkembangan. Beberapa artikel mengenai blogging berhasil diselesaikan Ibu, sekaligus mempraktekkannya secara langsung.
Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu Rumah Belajar (Rumbel) Literasi di kota kami sedang mengadakan kulwap mengenai proyek membuat blog yang menarik. Tugas pertamanya adalah membuat blog dengan platform Blogspot. Nantinya kami akan belajar banyak hal mengenai blogging ini.
Nah, Ibu Fatha baru sempat mempraktekkan tugas-tugas ini hari ini. Rapelan, judulnya. Dimulai dari memindahkan semua isi rumah lama di WordPress menuju rumah baru ini. Tutorial lengkapnya Ibu acu dari artikel ini.
Taraaa..
Postingan di rumah lama berhasil bermigrasi ke sini dalam hitungan menit. Memang, Ibu masih harus mengedit beberapa permalink. Untungnya jumlah entri post di blog belum seberapa banyak.
Langkah selanjutnya adalah mempercantik tampilan blog. Ibu belajar dari Emak K lewat kulwap beberapa hari yang lalu. Belum puas, Ibu sekalian berselancar mencari template-template yang cocok di hati lewat link ini. Ah iya, konsultasi dengan Emak K juga dilakukan secara japri. Hehehe. Terima kasih, Mbak Widi..
Next, ketika rumah baru sudah mulai tertata rapi, Ibu justru gamang. Apakah akan menutup permanen rumah lama, atau cukup mengganti privacy setting-nya supaya tak terindeks Google. Kembali, Ibu mencari-cari bahasan mengenai hal ini. Sempat galau antara artikel yang pro terhadap Blogspot atau yang lebih mengunggulkan Wordpress.
Akhirnya daripada hanya bingung tanpa keputusan, Ibu pun memutuskan untuk lanjut saja belajar mengenali seluk beluk rumah baru ini, memperbanyak dan memperkaya isinya, belajar mengenai kepenulisan blog di sini dan dari sumber lain. Semoga kemampuan menulis makin terasah. Aamiin..
#HariKe13
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Sumber Bacaan
Carolina Ratri. 2018. Bagaimana Menentukan Ciri Khas Gaya Ngeblog Buat Para Lyfestyle Blogger. https://www.carolinaratri.com/2018/04/mencari-ciri-khas-lifestyle-blogger.html. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.
John Mamad. 2014. Wordpress vs Blogger, Mana yang Lebih Baik?
https://www.centerklik.com/wordpress-vs-blogger-mana-lebih-baik/ Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.
Tutorial Migrasi WordPress ke Blogger. https://www.jagoanhosting.com/tutorial/tutorial-wordpress/migrasi-wordpress. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.
Widi Utami. 2019. Plus Minus Menggunakan Platform Blogspot. https://widiutami.com/plus-minus-menggunakan-platform-blogspot.html. Diakses pada tanggal 25 Januari 2019.
Mendadak saya harus bertugas di luar kota selama tiga hari. Jadilah reading time bersama Fatha harus diwakili Uti. Saya berpesan kepada ...
Mendadak saya harus bertugas di luar kota selama tiga hari. Jadilah reading time bersama Fatha harus diwakili Uti. Saya berpesan kepada Uti sebelum berangkat bahwa kegiatan membaca Fatha bisa didokumentasikan atau minimal dilaporkan. Tentu saja saya tak sampai hati meminta Uti mengajak Fatha menempel daun pada Pohon Literasi tiap ada buku yang ia tamatkan :) Hari ini Uti bercerita melalui pesan di ponsel bahwa Fatha kembali membuka salah satu buku favoritnya, "Hmmm..." Halaman yang paling ia sukai adalah adegan sang tokoh utama sedang asyik bermain sepakbola bersama kawan-kawannya.
Fatha dengan serunya bercerita bagaimana ia senang sekali bermain bola di halaman rumah YangYut (eyang buyut).
"Dulll", ucapnya menirukan suara tendangannya yang mengenai bola.
Bagian buku lainnya yang Fatha suka adalah penggambaran ekspresi senang yang berbunga-bunga. Ada banyak bunga tiruan yang ditempel pada halaman tersebut.
Ia tertarik meraba dan mencabut bebungaan yang menempel pada halaman tersebut.
Ibu sama sekali belum berhasil menamatkan satu bab lagi karena masih harus mengikuti rapat. Sedihnya... Pertemuan baru saja berakhir saat tulisan ini diunggah.
Alhamdulillah Fatha masih tetap bersemangat membaca meskipun Ibu belum berhasil mencontohkan tamat satu buku lagi. Buku yang Fatha baca adalah "Aku Bisa Merapikan Mainan Sendiri" dari Seri "Halo Balita".
Fatha begitu menjiwai kegiatan ini karena sudah sering ia lakukan. Cerita tentang merapikan mainan sebagai salah satu proyek keluarga kami bisa disimak di sini dan sini.
Ayah belum memberikan kabar mengenai progress buku bacaannya, "Ayah Edy Punya Cerita". Kami memaklumi karena pasca cuti selama dua hari, tentu tugas Ayah di kantor tidak sedikit.
Ibu mulai membaca Buku " Berteman dengan Demam" tulisan Dokter Apin namun belum menamatkan satu bab pun. InsyaAllah akan dilanjutkan esok hari :)
Hari ini Ibu menyempatkan cuti 1 hari, mumpung Ayah juga cuti dan sedang ada di rumah. Kami bertiga bersama Uti sepakat untuk berjalan-jalan ke kota sebelah sekaligus mencari beberapa perabotan untuk memaksimalkan penataan rumah. Ceritanya sih supaya barang-barang bisa tertata dengan rapi, kami mencari tempat penyimpanan yang praktis.
Nah, karena keasyikan bepergian ini, Ayah dan Ibu lagi-lagi belum bisa menyelesaikan tantangan membaca. Fathalah satu-satunya yang berhasil on track dan istiqomah membaca. Hari ini ia memilih buku "Aku Bisa Membuang Sampah" dari seri "Halo Balita.
Semoga esok pagi aktivitas membaca bisa pulih seperti biasa..
Hari ini hanya Fatha yang berhasil menjalankan dengan konsisten aktivitas membacanya. Ayah dan Ibu sama-sama KO akibat radang tenggorokan.
Fatha mengulang kembali Buku "Aku Bisa Mandi Sendiri". Kali ini ia minta dibacakan Ayah. Ia bahkan sempat membawa alat peraga berupa sabun mandi.
Selain buku, Fatha juga menunjukkan ketertarikan pada poster aneka binatang. Ia menunjukkan pada Ibu beberapa jenis hewan yang sering kami lihat wujud dan dengar suaranya seperti katak atau kodok ("kwok-kwok" atau "kong kong"), anjing ("awk awk"), dan kucing ("miaw").
Acara menempel daun pun belum dapat dilakukan malam ini. InsyaAllah pemasangan daun Fatha dirapel esok hari. Maaf ya, Nak ^^
Tantangan Bunsay level 5 telah memasuki hari kedelapan. Alhamdulillah kami sekeluarga masih menikmati reading time meski sulit menyamakan waktu membaca bersama.
Ayah Fatha masih bertugas di luar kota dan hanya menyetorkan laporan kholas membaca melalui pesan bergambar di gawai. Sayangnya saya lupa menanyakan sinopsis bab kesembilan buku yang sedang Ayah baca.
Judul bab sembilan yang sudah Ayah tuntaskan
Bagaimana dengan tugas membaca Fatha?
Hari ini ia memilih sendiri Buku "Mencintai Rasulullah: 365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW.". Fatha mengambil buku dari rak, meletakkan di atas karpet, dan mengajak saya membaca bersama-sama. Ternyata Fatha belum terlalu tertarik dengan isinya karena lebih banyak tulisan daripada gambarnya.
Buku yang rencananya akan menjadi bekal saya bercerita kepada Fatha selama 1 tahun penuh ^^
Tak masalah, Fatha sudah berinisiatif memilih sendiri buku yang belum pernah ia baca sebelumnya. Setidaknya ini memicu rasa ingin tahunya.
Saya hanya mampu membacakan dua paragraf cerita pertama, setelah itu Fatha lebih asyik membolak-balik halaman sendiri, mencari gambar ilustrasi yang dianggapnya menarik. Fatha bertanya sesekali mengenai ilustrasi yang ia temukan dan saya jawab berdasarkan lirikan sepintas pada cerita yang ada di sebelahnya :)
Fatha mengamati ilustrasi Jabir bin Abdullah yang sedang mengangkut hasil bumi di kebunnya untuk melunasi hutang ayahnya. Ayahnya telah gugur sebagai syuhada pada Perang Uhud. Rasulullah meminta Jabir untuk memanggil para penagih hutang. Atas kehendak A Allah dan doa Rasulullah, Jabir dapat membayar semua hutang ayahnya.
Salah satu kejadian menarik sore ini adalah saat Fatha meminta ponsel saya. Ia berkali-kali menyebut, "hape, hape, Ayah."
Rupanya Fatha sedang merindukan Ayahnya. Situasi kurang memungkinkan bagi kami untuk melakukan panggilan video. Akhirnya saya merayu Fatha untuk mengobati rasa kangen dengan membuka-buka album foto di mana ada gambar Sang Ayah.
Ketika menatap wajah Ayah dalam gambar dirasa cukup untuk melipur lara
Saya menganggap kegiatan mengamati album foto ini sebagai salah satu aktivitas membaca karena kami berdua bisa bercerita berdasarkan gambar-gambar yang ada :)
Tugas membaca saya baru bertambah tiga artikel dari Buku "Faces & Places".
Bagian ketujuh bercerita mengenai pertemuan Desi Anwar dengan Tony Buzan. Saya sontak bersorak dalam hati karena merasa sudah sangat "mengenal" Tony Buzan melalui karyanya "Mind Map". Pertama kali saya mengenal konsep "Mind Map" Pak Buzan melalui bukunya yang diam-diam saya baca dari koleksi Mama. Seingat saya, konsep ini menginspirasi saya saat harus melakukan presentasi Bahasa Inggris saat kuliah dulu.
Sedihnya, naskah tugas saya tersebut musnah bersama tutupnya blog saya di Multiply karena belum sempat saya cadangkan. Huhuhu..
Nah, Desi Anwar dengan kocaknya berkisah, andai ia sudah mengenal Pak Buzan saat masih bersekolah, tentulah ia bisa menjadi seperti Einstein atau Leonardo da Vinci. Bukan "sekadar" pembaca berita atau penulis yang dikejar tenggat. Beliau yang belum mengenal saja sudah sehebat itu, sedangkan saya yang sudah terpapar "Mind Map" pada usia sekolah masih seperti ini saja :))
Pada bagian yang berbeda, Desi Anwar berkisah mengenai seni bepergian. Bahwa bepergian saat ini tak lagi semenarik atau seromantis dahulu.
Orang dapat dengan mudah mengakses pesawat dan mendapati bandara maupun tempat tujuan terlihat seragam. Bepergian tak lagi berbeda dan dinanti. Orang cenderung pasif dan statis saat harus menunggu kehadiran pesawat maupun saat berada di dalam kabin. Berbeda saat melalui perjalanan darat atau laut, kita bergerak. Perpindahan menuju tujuan sangat bisa dirasakan.
Benar juga, sih ;)
Bagian terakhir yang saya baca hari ini adalah kisah mengenai Almarhum Ayah Desi Anwar. Desi Anwar mengenang beliau sebagai orang yang unik, selalu mempertanyakan segala hal, terutama alasan di balik segala kejadian maupun perbuatan, dengan kata "mengapa?". Pertanyaan ini membuat kita mampu menahan emosi saat menghadapi sesuatu yang di luar perkiraan.
Karya Desi Anwar ini terasa ringan saat dibaca, namun memuat makna yang dalam. Inilah yang membuat saya membacanya pelan-pelan, agar dapat mencerna dan menyerap hikmahnya.
Dan berikut ini tampilan Pohon Literasi kami di penghujung pekan pertama.
Agenda membaca Fatha dan saya siang tadi diwarnai dengan "berebut" buku bacaan. Separuh bagian terakhir Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang rencananya saya tamatkan hari ini rupanya menjadi incaran Fatha. Ia melirik pada halaman berilustrasi mobil. Ia langsung menunjuk gambar tersebut dan meminta buku yang sedang saya pegang.
Halaman bergambar mobil yang menarik perhatian Fatha
Selain buku yang saya baca, Fatha juga membaca Buku "Cilukba!" dan belajar mengenai konsep posisi "di atas" dan "di bawah". Selama ini ia lebih mengenal istilah "naik" dan "turun".
Buku "Cilukba!" dengan halaman pop-up
Malam tadi, beberapa saat Fatha tak terdengar suaranya. Saya sudah sempat waswas jika ia sedang asyik bermain sesuatu yang membahayakan. Ketika saya intip ia di ruang tamu, ternyata Fatha sedang asyik membaca surat kabar. Salah satu halaman yang ia minati adalah segmen olah raga dengan foto seorang pemain sepakbola sedang menggiring bola.
Fatha asyik membaca koran
Ayah belum selesai menamatkan bab sembilan Buku "Ayah Edy Punya Cerita" sedangkan Ibu baru saya melalap habis Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang kemarin sempat tertunda.
Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Gaya bertuturnya yang mengalir mengingatkan saya pada Buku "Catatan Indah untuk Tuhan" karya Mas Saptuari Sugiharto. Banyak ilmu dan tips penting seputar presentasi yang saya dapatkan dari pengalaman Budiman Hakim yang disampaikan seakan-akan beliau mendongeng langsung untuk saya.
Pelajaran yang saya ambil adalah bahwa setiap orang, apapun profesinya, mempraktekkan presentasi dalam kesehariannya tanpa disadari. Bukan hanya creative director atau copywriter, bartender maupun khatib Sholat Jumat pun secara sadar maupun tidak, telah melakukan presentasi.
Nah, strategi presentasi yang baik dan menarik saya dapatkan dalam buku ini. Termasuk memperbanyak latihan sebelum "pentas" dan mempersiapkan materi sebaik mungkin, serta mengurangi kata-kata "eee..eee" jika kita kehilangan ide.
Penghujung hari keenam, inilah kenampakan Pohon Literasi kami. Hanya Fatha yang berhasil menambah dua helai daun :)
Pohon Literasi pada hari kelima
Cerita di balik Pohon Literasi
Fatha senang sekali dengan Pohon Literasi yang kami buat. Beberapa kali ia tergoda memetik daunnya
Salah satu proyek keluarga yang cukup konsisten kami kerjakan hingga sepekan berturut-turut adalah proyek merimbunkan Pohon Literasi. Ada banyak hikmah yang kami dapatkan.
Saya merasa waktu kontak dengan gawai, terutama saat di rumah, makin berkurang. Waktu lebih baik dihabiskan dengan membaca buku. Fatha juga makin jarang protes dengan gawai saya. Ayah Fatha pun tak disangka-sangka berhasil menaklukkan tantangan membaca ini.
Pohon Literasi makin terlihat berwujud "pohon"
Hari ini Fatha memilih sendiri Buku bacaannya. Ia menurunkan salah satu buku saya dari rak dengan berucap, "berat". Saya terkejut melihatnya menggotong "Visual Dictionary" setebal 600 halaman lebih seorang diri.
Visual Dictionary, saya dapatkan dari sebuah toko buku saat bertugas sekitar tujuh tahun lalu
Fatha meminta saya membuka halaman yang memperlihatkan gambar sepeda. Ia mengamati baik-baik dan saya menunjukkan satu persatu bagian-bagian kendaraan tersebut. Mulai dari roda dan ban sepeda, sadel, pedal, hingga setang.
Fatha sedang membandingkan bentuk sepeda di gambar dengan sepeda milik Om Adit dalam ingatannya
Tak berapa lama Fatha sudah membolak-balik halaman dan saya ajak ia memperhatikan bentuk kendaraan lainnya, yaitu mobil. Fatha membandingkan gambar mobil pada buku dengan mainan mobil-mobilannya.
Mobil balap vs. SUV
Horee.. hari ini Fatha berhasil mendapat dua helai daun karena berhasil memperhatikan dua tema pada buku tebal Ibu.
Ayah hari ini sukses menyelesaikan satu bab lagi Buku "Ayah Edy Punya Cerita". Bab kedelapan ini bercerita mengenai gejala on dan off pada anak.
Apakah itu?
Gejala on off merupakan sikap anak-anak yang berbeda saat di rumah dan di lingkungan luar rumah. Bisa jadi ia aktif di rumah dan pasif saat di luar, atau sebaliknya.
Munculnya gejala ini bisa jadi dipengaruhi oleh perbedaan sikap orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya. Misalkan ayah cenderung keras sedangkan ibu lembut. Termasuk perbedaan kesepakatan ayah dan ibu saat menghadapi Si Kecil. Sangat penting bagi ayah dan ibu untuk sepakat tidak ada yang membela anak ketika ia berbuat salah.
Oleh-oleh Ayah untuk Ibu pada trip kali ini adalah resensi buku
Ibu berhasil menamatkan Buku "Asyiknya Mendongeng: dari Nol sampai Mahir" karya Kak Adin. Berbeda dari buku tentang presentasi kemarin, buku ini lebih banyak menuturkan teori. Jadi membaca buku ini seperti membaca pelajaran Bahasa Indonesia mengenai Dongeng. Kabar baiknya, saya jadi lebih percaya diri mendongeng untuk Fatha dengan ide yang random karena menurut buku ini, mendongeng itu mudah. Jadi semangat ingin mengasah kemampuan berkisah dan mendongeng untuk Si Kecil.
Salah satu "text book" favorit Ibu
Oh ya, mengenai dongeng dan kisah ini, saya pernah membaca dari sumber yang saya sudah lupa, bahwa dongeng bisa "menyesatkan" karena bisa jadi nilai yang ditanamkan kurang sesuai. Misalkan dongeng "kancil mencuri mentimun". Lebih baik berkisah mengenai sejarah atau sirah nabi.
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat di atas. Dongeng jika dikemas dengan baik, mengajarkan pada anak value yang diharapkan dimiliki keluarga justru akan lebih mudah dicerna daripada sekadar memerintah.
Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing, bukan?
Ps: bloopers from today's challenge
Fatha menirukan ekspresi Kak Adin di sampul buku. Ibu sempat bingung beberapa saat. "ngapain kamu, Nang?" :p
Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalamnya karena merasa sudah sering mempraktekkan dalam aktivitas sehari-hari.
Buku "Aku Bisa Makan Sendiri" menjadi salah satu favorit Fatha. Ia menunjukkan pada saya bagian Tokoh Utama Sali sedang makan bersama Kumi kucingnya. Fatha bahkan turut mempraktekkan doa sebelum makan ("bismillah") dan selesai makan ("alhamdulillah").
Saya hari ini sedang mencoba memulai buku baru berjudul "Saya Pengen Jago Presentasi" karya Budiman Hakim. Beberapa halaman pertama buku ini sudah sangat menggoda saya untuk segera menamatkan bukunya. Sayang sekali tugas lain menunggu sehingga baru selesai hingga separuh jalan.
Ayah Fatha tak disangka-sangka di tengah kesibukannya masih konsisten melahap dua bab Buku "Ayah Edy Punya Cerita".
Bab keenam menekankan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membentuk Pola asuh anak. Namun saat ini jaman sudah berbeda. Lingkungan bisa menjadi ancaman berbahaya yang dapat menggantikan posisi orang tua dalam membentuk pola perilaku anak kita. Bahaya lingkungan buruk bisa merusak perilaku anak. Dan jika orang tua tidak bisa menggantisipasi ini sejak dini maka lingkunganlah yang akan merusak perilaku anak.
Menentukan pola asuh untuk anak pun harus disesuaikan dengan tipologi dan karakter anak serta kita sendiri sebagau orang tua, seperti dicontohkan dalam kisah di bab enam.
Ringkasnya, hari keempat ini, beginilah kenampakan Pohon Literasi kami. Makin rimbun, alhamdulillah :)
Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkaskan sebuah buku, bisa menghabiskan satu-dua bab dalam sehari. Terlepas dari berapa pun jumlah halamannya.
Saya pun ikut termotivasi untuk ikut membaca di luar "tema serius" yang sehari-hari harus diselesaikan. Meski hanya satu-dua artikel singkat namun cukup menghibur dan memunculkan ide baru buat mendongengkan Fatha.
Hari ketiga ini ada lima helai daun yang berhasil tumbuh pada Pohon Literasi kami.
Fatha sukses menyelesaikan "Halo Balita: Aku Bisa Mandi Sendiri" yang ia pilih. Buku ini memang di luar reading tracker yang pernah kami susun sebelumnya. Fatha sudah sangat familiar dengan beberapa judul "Halo Balita", termasuk tema mandi ini.
Fatha menunjuk "ciduk" alias gayung yang digunakan Sali, sang tokoh utama, mengambil air untuk mandi. Ia pun memeragakan bagaimana biasanya ia mandi. Termasuk adegan menggigil kedinginan ketika keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.
Bagian saya membaca bertambah dua artikel lagi mengenai perjalanan Desi Anwar ke Turki dan Laut Bali. Ayah pun berhasil menamatkan dua bab lagi.
Bab keempat dalam buku "Ayah Edy Punya Cerita" sudah diselesaikan oleh Ayah. Intisarinya, proses mendidik anak perlu disesuaikan dengan zamannya. Kita sebagai orang tua tak perlu memberikan intervensi berlebihan karena justru akan melukai anak dan berakibat fatal pada perkembangannya.
Bab kelima cukup mengena di hati Ayah karena menceritakan bagaimana kalimat positif memiliki efek yang dahsyat bagi masa depan anak. Dengan pengalaman yang kurang ideal di masa lalu, Ayah dan Ibu jadi bertekad untuk dapat menyuntikkan kalimat-kalimat positif untuk Fatha setiap hari.
Kami berharap pengalaman membaca hari-hari selanjutnya bisa semenyenangkan ini meskipun bukan lagi dalam rangka menjalankan tantangan :)
Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru aktivitas membaca. Bukan hanya buku ceritanya sendiri, ia mulai suka melirik buku yang sedang saya baca.
Fatha membolak-balik halaman buku
Ia juga menunjuk gambar-gambar yang menarik pada sampul buku tersebut. Dengan mudahnya Fatha menemukan gambar becak dan mengingat jelas namanya.
Di kesempatan berbeda, Fatha memilih buku "Hmmm..." dan belajar mengenai emosi. Marah, sedih, takut, jijik, dan senang ditunjukkan melalui beberapa ekspresi dan perumpamaan pada buku tersebut. Fatha juga senang menyentuh bagian-bagian bertekstur pada buku tersebut.
Fatha mengenal emosi dan berbagai macam tekstur pada sensory play Buku "Hmmm..."
Sesi membaca hari kedua, saya menghabiskan dua artikel Buku "Faces & Places" lanjutan hari kemarin. "Bertemu Sinterklas" adalah judul artikel yang pertama, menceritakan kisah Desi Anwar saat berhasil menemui "Sinterklas" di kantor pusatnya di Finlandia. Ia menceritakan dengan bahasa yang lugas namun menarik dan plot twist yang menghibur.
Cerita kedua mengenai kunjungan Desi Anwar ke Tibet untuk menemui Dalai Lama di suatu pergantian tahun. Beliau selalu mampu menceritakan sisi positif seorang tokoh dengan sangat baik. Dalai Lama yang rendah hati dan sederhana tergambarkan dalam artikel ini.
Bagaimana dengan Ayah?
Alhamdulillah, Ayah ngebut dan berhasil menyelesaikan tiga bab pertama Buku "Ayah Edy Punya Cerita".
Bab pertama Ayah tamatkan saat di dalam perjalanan. Intisari yang didapat oleh Ayah setelah membaca bagian ini adalah jika kita ingin mengubah perilaku negatif anak maka mulailah dengan memperbaiki perilaku kita sebagai orang tuanya.
Bab kedua menekankan bahwa setiap anak membutuhkan waktu untuk dapat bermetamorfosis menjadi manusia yang luar biasa di masa depan. Ayah Edy menggambarkannya dengan kisah ulat bulu yang akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.
Bab ketiga menjelaskan bahwa anak kita merupakan makhluk paling canggih yang pernah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Tidak ada ciptaan Allah yang menjadi produk gagal. Menjadi orang tualah yang harus dipersiapkan dengan baik.
Alhamdulillah perjalanan membaca hari kedua selesai dengan baik. Masing-masing anggota keluarga mampu menikmati tiap prosesnya. Rangkuman kegiatan dalam bentuk Pohon Literasi bisa dilihat di bawah ini.
Pohon Literasi Hari Kedua. Sebagian permukaan kertas gambar sudah menjadi korban coretan Fatha. Termasuk beberapa helai daun yang harus diganti karena dicopot paksa :)
Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi memenuhi tantangan kali ini sekaligus menumbuhkan kecintaan kami pada membaca, malam hari kami pilih sebagai waktu membaca bersama.
Ah iya, sayang sekali minggu ini Ayah Fatha harus kembali ke rantau lebih awal karena akan bertugas ke luar kota selama sepekan. Beliau harus mempersiapkan segala sesuatunya sehingga terpaksa skip acara membaca bersama di hari pertama.
Hari pertama membaca bersama, saya memilih buku karya Desi Anwar, salah seorang jurnalis ternama dari Indonesia. Bukunya yang berjudul "Faces & Places" ini merupakan kumpulan sembilan puluh artikel lepasnya mengenai tempat dan orang yang pernah ia jumpai selama perjalanan hidupnya.
Buku pertama yang saya pilih
Membaca buku ini membuat saya takjub dan tertular semangat menjelajahi belahan dunia lain dan mencari serpihan ilmu dan hikmah dari tokoh maupun kejadian yang kita temui.
Saya berhasil menamatkan dua bab berjudul "Menonton paus di Sydney" dan "Merauke -- Pertemuan di Perbatasan". Kisah yang pertama menceritakan pengalaman Desi Anwar menyaksikan pertunjukan kawanan paus di lautan terbuka. Di saat semua orang siap dengan kamera masing-masing, para paus tidak menampakkan diri. Mereka justru muncul ketika para penonton justru sedang tidak siap dengan alat rekam masing-masing. Kisah ini mengajarkan pada saya bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kadang memang cukup untuk dinikmati, bukan untuk dipamerkan.
Cerita kedua adalah tentang Pak Ma'ruf, polisi di daerah perbatasan Merauke yang menikmati tugasnya dengan bercocok tanam dan membiarkan pengunjung menikmati hasilnya. Ia mengandalkan gado-gado jualan sang istri untuk merawal dan memelihara taman dan kebun yang ia kelola. Saya terkesan dengan dedikasi Pak Ma'ruf memanfaatkan lahan yang ada menjadi tempat yang indah dan berbuah.
Bab kedua yang sudah berhasil saya selesaikan
Membaca bersama Fatha ternyata tak kalah serunya. Selama ini kami membaca satu buku yang sama, Fatha mengamati gambar dan saya bercerita. Kali ini saya mencoba membuka buku pilihan saya dan Fatha saya minta memilih sendiri buku bacaannya. Ia mengambil buku berjudul "Suara Apa Itu?" yang sudah ia tempatkan pada rak bukunya.
Fatha asyik bercerita tentang Ayah yang mengendarai sepeda bersama Ibu dan anak-anaknya.
Fatha juga sudah mampu menebak nama-nama alat transportasi yang ada pada halaman terakhir buku tersebut.
Rangkuman bacaan hari kemarin kami kemas dalam Pohon Literasi di bawah ini. Ayah belum berhasil menamatkan bab pada buku yang ia baca. Semoga esok kami bertiga sama-sama bisa menambah satu helai daun pada ranting pohon kami.
The Saputros terdiri dari Ayah, Ibu, Fatha, dan Nadin. Ibu yang akan paling sering muncul di sini karena mendapat tugas dan kewajiban sebagai pemegang kunci rumah. Semoga kisah keluarga kami bermanfaat untuk pembaca..
Menulis adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Semacam belanja online :)
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Menulis secara online merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mengabadikan cerita dan kisah kami sekeluarga. Semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Ananda.
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances