Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Showing posts with label Aliran Rasa. Show all posts

Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy , rekan seperjuanga...

Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy, rekan seperjuangan yang akan menyemangati selama nanti kami berpuasa di Kelas Kepompong.

Sempat terpikir satu nama, rekan satu regional yang juga kawan seperjuangan saat di Bunda Sayang, Mbak Rina Mutiarasari.  Sebelum sempat "melamar"-nya menjadi buddy, rupanya Mbak Rina berpikiran sama, malah beliau lebih dulu menjapri saya. Alhamdulillah, betapa senangnya. Meskipun minat belajar kami berbeda (kami bergabung di keluarga yang tidak beririsan), tapi semoga semangat belajar dan kedisiplinan Mbak Rina menular juga. Hehehe..

Mbak Rina adalah seorang Ibu berputra 2 yang masih berusia balita. Tentunya saya akan banyak belajar, terutama bagaimana menyiasati waktu belajar dan bekerja saat masih marus membersamai Si Kecils.

Aliran rasa Mbak Rina selama mengikuti Bunda Cekatan adalah sebagai berikut:

"Banyak sekali ilmu yang bertebaran. Awalnya Ibu ingin mencari satu demi satu ilmu terlebih dahulu. Dan langsung praktek agar tidak lupa. Tapi sesampainya di sini, ternyata cara mungkin kurang pas karena sesampainya di sini, sudah dapat ilmu dan sudah praktek, juga sembari jalan ambil ilmu dari keluarga Ratu Dapur yang saya ikuti."

"Karena sudah praktek, maka Ibu mulai melirik keluarga yang lain (dan baru belajar di keluarga yang lain). Dan ternyata semua saling tumpang tindih dan berkaitan maka keluarga-keluarga yang saling berkaitan tersebut baru mulai Ibu ikuti dan ambil ilmunya. Banyak sekali, ada parenting, portofolio, coaching, dan Keluarga Cemara. Sedang keluarga manajemen belum Ibu ikuti."

"Apa saja yang didapat:
Banyak sekali, ada food prep, resep-resep, bumbu dasar, frozen food, contoh menu 7/10 mingguan, dan lain-lain. Dan dari keluarga yang baru Ibu ikuti juga sangat banyak, antara lain:
  • Portofolio: mengumpulkan bank data (sudah mulai)
  • Cemara: ilmu lain tentang food prep (sama dengan Ratu Dapur)
  • Cocoa: coaching for kids (baru mulai)
  • Gizi: asupan makanan dan feeding rules (on the way)
  • Homeschooling: tujuan dan bagaimana; kurikulum (baru materi saja)
Hasil

  • Portofolio: mengumpulkan bank data
  • Cemara: mulai mengurangi barang
  • Cooking: food prep; memasak lebih cepat
  • Gizi: berusaha memenuhi gizi meski anak masih picky eater"
"Yang akan diperdalam:
Homeschooling: kurikulum dan upload di sosmed
Cocoa: Hadir, dengarkan, encourage" 

Berdasarkan aliran rasa yang sudah Mbak Rina utarakan, saya mencoba mencari beberapa "makanan" yang semoga bisa menjadi bekal beliau selama menjadi kepompong nanti.



Menyusun Kurikulum Pendidikan di Rumah
(catatan hasil mengikuti kulwap yang saya ikuti, belum sempat diposting)

Menyusun Kurikulum Pendidikan Keluarga

Kurikulum Homeschooling

12 Tips for Coaching Kids: Learn How to Coach Children for Life

Mengikuti Sharing "Parent as Coach, Pendekatan Coaching dalam Pengasuhan Anak Remaja", dari Seorang Coach Profesional

Sepertinya Mbak Rina sudah sempat melahap beberapa artikel di atas lewat hasil intipan saya pada postingan blog-nya. Oh ya, postingan yang dimaksud bisa diintip di alamat ini https://mutiarasaririna.blogspot.com/2020/03/8-kelas-ulat-bekal-untuk-buddyku.html?m=1

Sedangkan aliran rasa saya bisa dilihat di bawah ini



#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Belajar mengatur keuangan bukan hanya tugas Ibu. Fatha mulai ikut mempelajari hal ini melalui tantangan level 8. Memahami konsep bahwa ...


Belajar mengatur keuangan bukan hanya tugas Ibu. Fatha mulai ikut mempelajari hal ini melalui tantangan level 8. Memahami konsep bahwa rejeki dari Allah tidak melulu berupa uang adalah salah satunya. Misalnya, rejeki berupa waktu luang untuk bisa berkumpul bersama keluarga.

Hal lain yang juga dipelajari Fatha adalah belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar menentukan prioritas mana yang akan ia pilih untuk lebih dulu dicapai, contohnya. Saat ini Fatha sedang berusaha mengumpulkan uang dalam tabungan untuk membeli sepeda idaman.

Alhamdulillah sampai dengan tantangan berakhir, ia masih semangat menabung. Perkiraan Ibu, setelah Idul Fitri Fatha sudah bisa mewujudkan cita-citanya mengayuh sendiri sepeda barunya. InsyaAllah.


Ibu juga belajar banyak dari kegiatan menabung Fatha. Mengelompokkan pengeluaran ke dalam 3 kategori: spend, save, dan share sudah diadaptasi Ibu dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebelum Fatha lahir, Ayah Fatha sudah mengajari Ibu membuat pos-pos pengeluaran agar bisa mengelola keuangan dengan baik. Kami menggunakan file folder dengan beberapa sekat partisi.

Saat hamil Fatha, prioritas kami adalah keempat pos tersebut. Meskipun pada akhirnya stroller tidak jadi dibeli karena digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting :)

Prioritas pos pengeluaran setelah Fatha lahir

Alhamdulillah, sejak memperoleh asupan materi mengenai pengelolaan keuangan dari level 8, kami kembali berbenah dan belajar konsisten mengatur pemasukan dan pengeluaran. Bukankah teladan dari orang tua adalah cara belajar paling baik buat Si Kecil? :)

#AliranRasa
#Level8
#Bunsay4
#KuliahBunsayIIP
#CerdasFinansial
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

"Halo-halo Bandung.. Ayo Ibu nyanyi," Fatha menarik tangan saya suatu siang. Ia menggenggam ujung selimut dan dan mengarahkan...


"Halo-halo Bandung.. Ayo Ibu nyanyi," Fatha menarik tangan saya suatu siang. Ia menggenggam ujung selimut dan dan mengarahkannya ke mulut saya. Spontan, saya ikut menyanyi seakan-akan di hadapan mikrofon, menirukan kata-kata dan gayanya.

Fatha berusia 22 bulan saat ini. Ia sedang gemar bernyanyi. Belasan lagu anak, perjuangan, dan lagu-lagu earworm macam "Sayur Kol" sering terdengar mengalun dari bibirnya. Tak jarang, di tengah aktivitas bermain, ia mendendangkan potongan-potongan lirik tersebut.

Berbekal materi Bunsay Level 7, saya makin peka terhadap tingkah lakunya. Hal-hal kecil yang ia gemari tercatat dalam portofolio-nya. Termasuk kegemarannya saat ini, gerak dan lagu.

Mengikuti ke mana minat si kecil menjadi salah satu strategi pembelajaran yang kami lakukan. Seperti filosofi "membuat atau meninggikan gunung, bukan meratakan lembah", orang tua harus belajar tanggap terhadap tanda-tanda yang diberikan oleh buah hati tercinta.

Saat ini pendekatan melalui musik atau suara serta permainan yang melibatkan banyak gerakan sangat efektif untuk Fatha belajar. Ia mampu menguasai banyak hal mulai dari kemandirian hingga fitrah spiritual melalui berbagai hal yang menyenangkan menurutnya.

Mengamati gerakan sholat berjamaah para bapak, misalnya. Dengan senang hati Fatha akan menirukan. Atau mengenal bacaan-bacaan surat pendek sehingga ia familiar.

Memperkenalkan dengan banyak aktivitas juga merupakan salah satu strategi untuk mengenali minat dan bakat Si Kecil. Semakin dini terdeteksi, maka peluang untuk mengembangkan minat dan bakat tersebut akan semakin besar. Walau tak jarang pada usia yang lebih besar, anak akan menunjukkan perubahan minat.

Yang jelas hingga level 7 ini baik Fatha, Ibu, maupun Ayah masih sama-sama menikmati tantangan demi tantangannya. Semakin banyak kegiatan spontan maupun proyek keluarga yang dilakukan, maka kedekatan kami pun terasa makin kuat.

Terima kasih, Ibu Profesional..

#AliranRasa
#Level7
#Bunsay4

Mengenalkan anak usia dini untuk "melek literasi" sebenarnya tidak rumit. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang m...


Mengenalkan anak usia dini untuk "melek literasi" sebenarnya tidak rumit. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan dan dikemas dalam bentuk permainan, seperti proyek keluarga kami bulan ini.


Proyek diawali dengan merencanakan buku apa yang akan kami tamatkan selama tantangan 10++ hari. Pada perjalanannya, ada  buku yang bisa kami selesaikan sesuai target, ada pula yang sama sekali belum tersentuh. Bahkan ada buku yang justru tiba-tiba lebih menarik perhatian kami.

Apresiasi dalam wujud Pohon Literasi ternyata membangkitkan semangat kami bertiga. Ada rasa puas dan bahagia saat dalam satu hari ada satu helai daun yang berhasil ditambahkan.

Di akhir kegiatan, kami menghitung jumlah total daun yang berhasil "tumbuh". Fatha pun sudah bisa membandingkan mana daun yang mewakili buku bacaan Ayah, Ibu, maupun ia sendiri :)



Sepanjang perjalanan tantangan level ini, sebetulnya kami bertiga sama-sama menikmatinya. Sayangnya Ayah dan Ibu Fatha masih belum mahir manajemen waktu. Kadang kami terlewat tidak dapat mencontohkan konsistensi membaca buku. Dalam hal ketepatan jadwal membaca, Fatha memang juaranya. 

Atau ada juga saat-saat ketika Ibu sudah berhasil menambah bab atau jumlah buku, namun terlewat melaporkan atau sekadar menempelkan helaian daun.

Setelah dikroscek bersama kawan-kawan sekelas-senasib-seperjuangan, sebagian besar merasakan tantangan berat di level ini adalah manajemen waktu. Kapan harus meluangkan waktu membaca dan yang tak kalah penting: menulis laporan :)

Semoga kami berhasil menaklukkan tantangan bulan depan dan seterusnya dengan lebih baik lagi. Tetap semangat membaca semuanya..

Ps: bonus beberapa bloopers dan kejadian di balik kamera saat menjalankan game tantangan level 5



Rentang konsentrasi Fatha yang masih sangat singkat tak jarang memunculkan cerita lucu. Di saat ibu sudah semangat mengajaknya membaca buku, Fatha ingin segera mengakhirinya. Hehehe..



Atau saat perhatiannya teralihkan dengan objek lain ^^


#AliranRasa

#Tantangan10hari 

#GameLevel5  
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti Anonim Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya sa...




Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti
Anonim


Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya saya jalani dengan keterpaksaan. Saat masih menjadi siswa SD, ujian Bahasa Indonesia dengan topik mengarang indah selalu menjadi mimpi buruk. Saya merasa kosakata terbatas pada itu-itu saja. Beranjak dewasa, qodarullah profesi saya mengharuskan menulis sebagai kegiatan utamanya. Berat memang. Sampai sekarang saya masih merasa kemampuan menulis saya berada di bawah rata-rata.

Kesadaran untuk tetap menulis dengan segala keterbatasan tersebut kembali muncul setelah #elfathamirza lahir. Teringat saat masih kanak-kanak, ibu sering mendongeng untuk saya bukan dengan buku cerita, melainkan dengan kisah hidupnya. Saya selalu tertarik dengan dongeng ibu karena selalu berkisah tentang tempat, keadaan, dan tokoh-tokoh yang baru (meskipun kemudian saya menyadari, dongeng impromptu ini adalah strategi cerdik ibu mengatasi kekurangan buku bacaan anak-anaknya 🙈)

Saya kemudian berpikir, betapa seorang anak sangat mengagumi orang tuanya. Bahwa sepenggal kisah yang menurut kita biasa, bisa jadi segalanya di mata mereka.

Sejak saat itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Melalui #projectofgratitude yang sempat mati suri selama dua tahun, saya kembali menemukan semangat bercerita. Saat ini saya sudah mulai mencicipi manfaatnya, meskipun masih berupa remah-remah saja.

Menulis buat saya adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan saya fokus pada apa yang sedang saya lakukan.

Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu (belanja, ehm) online.

Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.

Mengapa online?

Beberapa kali saya kehilangan cerita, foto, dan dokumen lama di gawai. Menyimpan secara online merupakan ikhtiar untuk mengabadikan cerita yang semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Si Kecil.

Sejak proses kehilangan itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Tentang kisah keseharian dalam bentuk blog, artikel populer, maupun ilmiah. (Dua poin terakhir menjadi PR besar saya tahun 2019 ini, mohon doanya). Saya berharap tulisan saya bisa memberikan manfaat bukan hanya untuk saya, namun juga orang lain yang membacanya. Semoga ada sesuatu yang masih bisa dikenang dan bermanfaat untuk sekitar meskipun saya sudah tiada.

Bismillah..

Tugas demi tugas program Bunda Sayang (Bunsay) dari empat level sudah dilalui. Makin hari, kami makin menikmati tantangan ini. Saya sudah ...


Tugas demi tugas program Bunda Sayang (Bunsay) dari empat level sudah dilalui. Makin hari, kami makin menikmati tantangan ini. Saya sudah mulai menemukan pola yang nyaman untuk mengerjakan tugas: malam hari setelah Fatha terlelap.

Observasi pun bisa dilakukan dengan nyaman meski kadang sulit mengambil dokumentasi berupa foto. Baik saya maupun Fatha sama-sama menikmati setiap tantangan. Bagaimana tidak, tantangan yang diberikan mengharuskan kami untuk bermain bersama. Waktu yang berkualitas kami rasakan, walau durasinya tidak terlalu lama.

Seperti level-level sebelumnya, tantangan level keempat ini membuat saya makin menikmati momen kebersamaan dengan Fatha. Ide-ide permainan paling sering muncul darinya. Jadi seakan-akan semua kegiatan mengalir begitu saja tanpa direncana.

Namun di situlah asyiknya. Fatha merasa melakukan sesuatu tanpa paksaan dan sesuai inisiatifnya sedangkan saya bisa menghemat energi karena cukup mengikuti keinginannya.

Hasil pengamatan saya melalui kegiatan-kegiatan harian Fatha selama dua pekan berturut-turut menyimpulkan suatu hal. Bahwa saat ini Fatha masih bisa mengembangkan ketiga gaya belajarnya tergantung dari jenis kegiatan yang ia lakukan. Ada kalanya Fatha menunjukkan kecenderungan gaya belajar visual saat bermain dengan gambar dan warna, di lain waktu kinestetik yang lebih dominan saat harus mengerahkan kemampuan motorik kasarnya.
Semua tantangan yang sudah dilalui pada level ini membuat kami bisa lebih kreatif bermain dan belajar. Terima kasih untuk fasilitator Mbak Sindu dan teman-teman sekelas batch #4 atas sharing ilmu dan pengalamannya sehingga tantangan bulan ini berjalan lancar :)

#AliranRasa #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Mengapa perlu melatih kemandirian? Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menja...

Mengapa perlu melatih kemandirian?


Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menjaganya, dan mendampinginya. Pada suatu titik, orang tua harus melepas anak menghadapi dunianya sendiri. Semakin dini anak diperkenalkan pada kemandirian, maka anak akan lebih cepat mandiri.

Fitrah anak adalah ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Ia akan dengan mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kita sebagai orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini, dengan memanipulasi keadaan sehingga anak dipaksa untuk mandiri. Tidak ada salahnya memberikan tantangan pada anak-anak dan meminimalisir bantuan. Seperti halnya orang dewasa, tantangan ini dibuat sekiranya pada batas maksimal kemampuan anak. Di batas maksimal yang dapat dicapai ini, anak akan berusaha dengan sekuat tenaga, sehingga kemampuannya berkembang dengan baik.
"What doesn't kill you makes you stronger"

Apakah tolak ukur kemampuan ini? Menurut Pak Dodik yang kata-katanya sudah pernah saya tulis pada postingan ini, takarannya adalah tega. Orang tua haruslah tega untuk menahan diri tidak segera memberikan bantuan. Orang tua mesti tega melihat anaknya bersusah payah terlebih dahulu untuk dapat meraih keinginan.

Bagaimana caranya?


Tentunya semua dilakukan secara bertahap, dimulai dari level tantangan paling mudah yang sekiranya anak bisa melakukan. Sedikit demi sedikit tingkat kesulitan bisa ditambah. Orang tua bisa merasakan seberapa ambang batas toleransi anak.

Berdasarkan pengalaman dengan Fatha, langkah yang saya lakukan adalah:

Membuat target latihan untuk Si Kecil


Saat mendapatkan materi melatih kemandirian untuk anak, saya menyambut antusias tantangan yang diberikan. Saat itu saya optimis Fatha akan menikmati setiap game tantangan yang kami siapkan.

Jadi di hari pertama setelah kuliah Bunsay mengenai kemandirian, saya sudah membuat daftar jenis-jenis latihan apa saja yang sekiranya cocok diterapkan untuk Fatha. Dari sekian banyak aktivitas yang berhasil kami identifikasi, secara umum ada 2 kegiatan besar yang kami pilih yaitu:
  1. Berpakaian, meliputi aktivitas memilih pakaian yang akan digunakan, melepas, serta mengenakan baju

  2. Aktivitas merapikan, termasuk merapikan mainan dan meletakkan kembali barang pada tempatnya
Kedua aktivitas besar itu kemudian saya susun dalam wujud habit tracker dan dijadikan checklist untuk pencapaian Fatha. Setiap selesai melaksanakan tantangan, saya memberikan tanda di kolom hari pada baris jenis tantangan yang sudah dikerjakan. Tanda lingkaran jika hasilnya masih belum sesuai harapan, atau tanda bintang jika dirasa Fatha sudah mampu bekerja sama dengan baik.

PicsArt_10-23-03.07.49

Untuk jangka panjang, saya bercita-cita habit tracker ini ditulis dalam lembaran kertas yang lebih besar sehingga dapat ditempel di dinding. Setiap satu tugas ditunaikan dengan baik, Fatha mendapatkan sebuah stiker bintang untuk ditempelkan. Tentunya hal ini akan lebih menarik buat Fatha.


Sounding kepada Si Kecil, termasuk menyampaikan maksud dan tujuan

Segala sesuatu yang melibatkan Fatha, sebisa mungkin kami sampaikan padanya. Apa saja harapan kami terhadapnya juga kami komunikasikan. Misalnya ketika kemarin saya dan Ayah Fatha sepakat untuk mengajarkan Fatha mandiri dalam hal berpakaian. Saat informasi tersebut belum disampaikan, Fatha masih menganggapnya sambil lalu. Ternyata begitu hari berikutnya kami coba ajak bicara, Fatha menyambut baik aktivitas lepas-lepas baju :)

Konsisten menjalankan latihan

Lagi-lagi sedikit oleh-oleh dari Workshop "A" Home Team kemarin. Keluarga Padepokan Margosari memberikan pernyataan yang membuat saya dan suami merenung,
Pembiasaan adalah untuk binatang. Melatih binatang untuk bisa melakukan sesuatu adalah dengan dibiasakan. Manusia dapat dibedakan dari binatang karena kemampuannya berpikir.

Oleh sebab itu, mendidik anak memerlukan aktivitas berpikir. Artinya kita sebagai orang tua tidak hanya memberikan instruksi dan berharap anak serta-merta menuruti. Melibatkan anak untuk memperhatikan sebab dan akibat atau konsekuensi atas tindakan yang tidak atau yang justru dilakukan bisa menjadi salah satu solusi.

Contoh kasusnya begini. Saat itu Fatha masih asyik bermain dengan kabel dan pengisi daya ponsel saya walau sudah saatnya ia mandi pagi. Padahal saya juga sudah harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Saya menyampaikan pada Fatha,

"Nak, sudah saatnya mandi. Semakin lama Fatha main, waktu  cibung-cibungnya berkurang lho. Mari mandi sekarang".

Harapan saya, Fatha sudah terbiasa memahami sebab-akibat segala sesuatu sehingga ia dapat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih. Bukan hanya sekedar terbiasa melakukan sesuatu.

Mengucapkan terima kasih

Salah satu bentuk reward yang sepakat untuk kami berikan pada Fatha setiap kali ia berhasil adalah ucapan terima kasih yang tulus. Kadang bentuk penghargaan yang spontan berupa tepuk tangan juga kami lakukan. Bentuk apresiasi yang sederhana ini diharapkan lebih mengena buat Fatha. Ada saatnya Fatha lebih dulu bertepuk tangan untuk dirinya sendiri jika ia berhasil melakukan pencapaian.

Semoga Fatha selalu jadi anak yang bahagia dan berakhlak mulia ya Nak :)

#AliranRasa
#GameLevel2
#Level2
#KuliahBundaSayang
#Bunsay4
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Sumber Bacaan

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Materi #2 Program Bunda Sayang Batch #4. 2018

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak ...

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak bisa dianggap gagal  karena banyak sekali manfaat yang kami sekeluarga dapatkan.

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti perkuliahan Bunda Sayang (Bunsay) Ibu Profesional Batch 4 ini. Materi yang disampaikan pada level pertama ini benar-benar hal mendasar yang sangat saya butuhkan, terutama untuk keluarga tersayang. Jika mengenang kembali masa awal saya menikah dengan Pak Suami, betapa banyak cerita-cerita lucu, sedih, mengesankan akibat miss komunikasi.

Semakin matang usia pernikahan, semakin kami menyadari bahwa banyak hal yang harus disinkronkan agar kedamaian keluarga tercapai. Persis seperti materi Komukasi Produktif yang saya dapatkan pada pertemuan pertama Bunda Sayang, bahwa setiap pasangan suami istri berasal dari dua individu yang berbeda dengan latar belakang yang juga berbeda. Perbedaan latar belakang ini meliputi cara pandang (Frame of Reference/FoR) maupun pengalaman masa lalu (Frame of Experience/FoE).

Kami berdua mengakui, tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang berat karena merupakan masa penyesuaian bagi kami. Walaupun begitu, kami beruntung karena Allah memberikan kesempatan bagi kami untuk dapat mengenal individu masing-masing di tiga tahun pertama pernikahan. Kami memiliki cukup waktu untuk dapat melebur ego masing masing menjadi kepentingan bersama.

Saat itu kami menyusun cita-cita dan rencana mengenai seperti apa model pengasuhan yang akan kami terapkan untuk putra-putri kami nantinya. Berkaca dari kondisi pengasuhan yang kurang ideal di masa lalu, kami pun menyusun strategi untuk menjadi orang tua idaman versi kami.

Alhamdulillah tidak lama setelah konsep tersebut terbentuk, Allah memercayakan Fatha dalam kehidupan kami. Berbagai idealisme yang dulu pernah kami cita-citakan tentunya tidak selalu dapat tercapai. Terlebih kondisi pernikahan saya dan Pak Suami harus dijalani dengan jarak jauh dan hanya dapat bertemu sepekan sekali rentan mengalami miss komunikasi.

Di saat-saat seperti ini, prinsip-prinsip mengenai komunikasi produktif yang saya dapatkan dari kelas Bunda Sayang sangat membantu dan menguatkan.

Kali ini saya akan bercerita mengenai beberapa kisah yang belum sempat ditulis saat menyelesaikan tugas tantangan materi level 1.

Persiapan

Beberapa langkah permulaan sudah saya lakukan sebelum mempraktekkan komunikasi produktif hasil perkuliahan lalu. Langkah-langkah tersebut adalah
  1. Sounding kepada Pak Suami dan Ananda.
Selain meminta ijin dan restu kepada suami, saya juga menyampaikan review mengenai materi yang sudah saya dapatkan. Harapan saya, selain mendapatkan dukungan suami, ia pun dapat turut menerapkan praktek tersebut dan memperoleh manfaatnya. Fatha juga saya info dengan cara sederhana, sekaligus meminta doanya, "mohon bantuan dan kerja samanya ya Nak. InsyaAllah ibu sedang belajar berbicara dengan Fatha sengan lebih sabar".
  1. Berdoa meminta kekuatan, kelancaran, serta mampu konsisten menjalankan tantangan.
Bukan hanya tantangan selama 17 hari, namun sepanjang hidup. Saya juga berharap pada Allah agar ilmu yang saya dapatkan ini bermanfaat bagi kami sekeluarga, bahkan mungkin dapat ditularkan pada orang lain.

Praktek Komunikasi Produktif

Komunikasi Produktif dalam keluarga yang paling mendasar tentunya adalah komunikasi kepada diri sendiri. Diumpamakan jika pribadi kita sebagai teko, maka apa yang akan kita tumpahkan ke luar merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Untuk itu diperlukan pikiran yang selalu positif dalam memandang sesuatu. Selain itu pemilihan kata-kata yang positif juga perlu dilakukan untuk dapat memberikan energi dalam berkomunikasi.

Bagi saya pribadi, mengendalikan emosi merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam komunikasi dengan diri sendiri. Begitu emosi dan perasaan negatif muncul, biasanya segala pikiran jernih dan kesadaran untuk menghadapi lawan bicara akan buyar dan bubar jalan. Beberapa kisah tentang ikhtiar saya mengendalikan emosi bisa dibaca di sini dan sini

Selanjutnya komunikasi dengan pasangan perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang benar agar kedua belah pihak merasa saling dihargai. Ada lima (5) kaidah yang perlu dipegang teguh untuk dapat mencapai kualitas komunikasi yang baik. Tentu saja hal ini berlaku untuk komunikasi dengan orang dewasa lainnya. Kaidah-kaidah tersebut adalah:

1. Clear and clarity

Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi haruslah jelas dan lugas. Sebagai perempuan yang menyukai bahasa kode, kita harus benar-benar memastikan bahasa tersebut dipahami oleh pasangan :)

2. Memilih waktu yang tepat

Pemilihan waktu yang tepat menentukan kondisi emosi saat mengirim dan menerima pesan. Waktu yang terbaik untuk masing-masing pasangan bisa jadi berbeda. Di awal pernikahan, saya tipe orang yang harus menyelesaikan masalah sebelum tidur. Berkebalikan dengan Pak Suami yang memilih meredakan emosi dengan tidur, baru keesokan paginya dibahas bersama-sama dan saling meminta maaf. Pada akhirnya, kami sama-sama dapat saling memahami dan sepakat untuk tidak menyelesaikan sesuatu dalam kondisi emosi tidak stabil.

3. 7-38-55 (7% bahasa verbal : 38% intonasi suara : 55% bahasa tubuh)

Bahasa tubuh memegang peran paling penting dalam efektivitas penyampaian pesan, diikuti intonasi suara. Kesungguhan dan kejujuran dalam berkomunikasi dapat terbaca melalui bahasa tubuh ini. Salah satu upaya yang kami lakukan saat ini adalah berbicara dengan orang lain tanpa memandang HP. Fokus perhatian hanya kepada penerima pesan sehingga ia merasa dihargai.

4. Kontak mata yang intens

Kesungguhan dan perhatian juga dapat ditunjukkan dengan kontak mata yang intens. Bukan hanya pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak. Hal ini sudah kami sepakati, termasuk dalam berkomunikasi dengan ananda. Menyejajarkan posisi mata dengan anak dan menatap mata saat berkomunikasi akan membuat anak merasa dihargai.

5. Hasil komunikasi merupakan tanggung jawab pemberi pesan

Bagaimana pun hasil komunikasi, apakah berhasil atau tidak, merupakan tanggung jawab kita sebagai pemberi pesan. Diharapkan kita tidak akan menyalahkan orang lain jika terjadi miss komunikasi karena ikhtiar komunikasi yang baik sudah dilakukan.

Cerita singkat praktek komunikasi saya dengan Pak Suami dapat disimak di sini dan sini.

Komunikasi dengan anak pun perlu mendapat perhatian khusus semuda apapun usia anak. Dalam kasus saya, Fatha yang berusia 15 bulan ternyata sudah sangat tanggap dengan praktek komunikasi yang saya lakukan. Dari sebelas (11) kaidah komunikasi produktif untuk anak, saya baru dapat mempraktekkan 6 poin, yaitu:
  1. Keep Information Short & Simple (K.I.S.S.)
Hampir setiap kali instruksi yang saya gunakan dengan singkat dan sederhana.. Bagi anak dengan rentang konsentrasi yang masih terbatas seperti Fatha, cara ini cukup efektif. Intip cerita tentang K.I.S.S. pada hari ke-3, 8, 10, 12, 14, dan 17
  1. Mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah
Seperti halnya komunikasi dengan orang dewasa, intonasi suara memiliki peranan cukup penting dalam komunikasi. Bahkan untuk anak-anak, ketika saat berkomunikasi kita menyejajarkan posisi mata kita dengan mereka, anak merasa lebih diperhatikan. Praktek mengenai poin ini kami lakukan di hari ke-2, 3, 5, dan 17.
  1. Mengatakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
Poin ini rupanya sudah sering dipraktekkan oleh generasi sebelum kami. Alasannya, karena pamali berkata buruk. "Nanti jatuh lho," misalnya. Qodarullah pada jaman eyang dan orang tua saya, kata-kata tersebut jika diucapkan orang tua, justru dapat terjadi pada anaknya.

Saya sih melihatnya dari sudut pandang yang lain. Memberikan sounding positif pada anak justru menjadikan komunikasi berlangsung efektif. Anak lebih dapat menangkap maksud kita. Kisah tentang ini dapat diintip pada link hari ke-3 dan 5.
  1. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Pujian atau kritikan yang disampaikan kepada ananda perlu diberikan sebagai bentuk penghargaan maupun bahan perbaikan. Untuk itu keduanya perlu disampaikan secara spesifik, menyebutkan hal apa yang baik menurut kita hingga layak diberikan pujian. Atau jika kritikan, bagian apa yang masih harus diperbaiki untuk kritikan. Jadi yang dipuji atau dikritik adalah tindakan atau sikap anak. Bukan pribadinya. Contoh pemberian pujian untuk Fatha kami lakukan di hari ke-5 dan 10
  1. Mengganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
Seperti halnya orang dewasa, anak juga memiliki perasaan. Komunikasi dengannya pun harus memperhatikan perasaannya. untuk itu kita sebagai orang tua perlu menunjukkan empati saat berkomunikasi. Karena yang muncul dari hati, biasanya akan mengena di hati.  Saya mempraktekkan hal ini di hari ke-3, 6, 10, 11, dan 14
  1. Mengganti perintah dengan pilihan
Selain memberikan instruksi, ada kalanya saya ingin meminta pendapat pada Fatha. Mengingat usianya masih cukup muda, pendapatnya saya dapatkan dengan cara memberikan pilihan sempit, hanya 2 pilihan. Cerita lengkapnya dapat dilihat di sini.

Beberapa poin kaidah komunikasi produktif masih belum saya praktekkan,. Direncanakan beberapa saat lagi ketika kemampuan berbahasa Fatha lebih berkembang, insyaAllah akan saya dan Pak Suami lakukan. Poin-poin tersebut adalah:
  1. Fokus ke depan, bukan masa lalu

  2. Mengganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

  3. Fokus pada solusi, bukan masalah

  4. Mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman

  5. Mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
Ringkasan mengenai kaidah komunikasi produktif saya sarikan dari materi perkuliahan Bunda Sayang dalam bentuk skema Mind Map di bawah ini.
PicsArt_10-01-01.56.41

Alhamdulillah. kami sekeluarga menikmati game tantangan level ini. Semoga kami sekeluarga dapat terus menjalin komunikasi yang baik satu sama lain.

#aliranrasa
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Bahan Bacaan

Institut Ibu Profesional,. Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1, 2018

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza
Media, 2014