Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Setiap ibu jelas memiliki cerita perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang diberikan mudah mendapatkan keturunan, namun kehamilannya harus be...

Perjuangan Menyusui Sang Buah Hati


Setiap ibu jelas memiliki cerita perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang diberikan mudah mendapatkan keturunan, namun kehamilannya harus benar-benar dijaga karena diharuskan tirah baring. Ada yang kehamilannya lancar jaya, tetapi perjalanan menyusuinya terjal berliku. Seperti kisahku. 

Ya, aku jadi seperti melakukan napak tilas kembali perjalanan menyusui Kak Fatha, sembari menikmati momen menyusui Nadin. Melahirkan di sebuah klinik yang mengusung konsep persalinan alami, kupikir semuanya akan lebih mindful dan mudah. 

Fatha lahir dengan berat 3,1 kg dan tanpa kelainan tali lidah atau mulut. Hari-hari pertama belajar menyusu, aku merasakan sakit yang teramat sangat. Puting perih dan nyeri seakan digigit piranha atau diparut dengan parutan kelapa. 

“Wajar saja, setiap ibu yang baru menyusui pasti merasakan itu,” komentar beberapa orang yang kumintai pendapat.

“Tahan saja, memang itu risikonya jadi ibu,” jawab beberapa perempuan lainnya.

Sebal? Iya. Jengkel? Tentu saja. Sejak sebelum hamil, aku sudah sering mencari informasi mengenai persiapan menyusui anak. Bergabung di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan berdiskusi dengan konselor menyusui bahkan sudah kulakukan di awal pernikahan.

Aku tahu, sakit saat menyusui pertanda ada yang salah. Tapi bagaimana solusinya? Bagaimana cara memperbaikinya yang aku belum tahu caranya.

Kuakui, sejak Fatha lahir, aku ingin semuanya serba idealis. Inginnya belajar memerah ASI dilakukan nanti saja jika pelekatan menyusui Fatha sudah baik dan benar. Kenyataannya, produksi ASI tetap berjalan, padahal Fatha belum bisa melekat dengan benar. Payudara sudah bengkak dan tidak karuan rasanya. Usut punya usut, bentuk kedua puting yang inverted dan besar menyulitkan pelekatan Fatha. 

Awalnya aku optimis dengan bentuk puting payudara. Sepanjang mempelajari persiapan menyusui saat hamil dulu, bayi menyusu di areola. Tak masalah puting akan berbentuk seperti apa. Prakteknya, Masya Allah luar biasa rasanya. Tentu saja bengkak sudah terjadi akibat belum lihai memerah ASI.

Sampai pada akhirnya berat badan Fatha drop menjadi 2,4 kg di hari ke-21. Ikhtiar sudah mengundang dan mendatangi banyak konselor laktasi sempat terasa sia-sia. 

Akhirnya saya membuat janji temu dengan dokter spesialis anak (DSA). 

“Bayi ibu terancam gagal tumbuh,” vonis DSA saat pertama kali memeriksa. Meski beliau mengatakan dengan hati-hati, aku tetap merasa seperti gelegar petir menyambar di siang bolong. Perjuangan pagi siang dan malam-malam tanpa tidur terasa sia-sia.

“Siang ini juga, bayi ibu dibawa ke IGD RSIA supaya bisa diobservasi segera, ya,” instruksi beliau selanjutnya.

Sepanjang perjalanan ke RSIA, perasaanku campur-aduk tak karuan. Aku merasa gagal menjalankan peran sebagai seorang ibu. Beruntung suami selalu menguatkanku. Bahkan ibuku pun turut menuju RS untuk menyemangati kami.

Cek darah dan observasi yang dilakukan tidak menunjukkan indikasi ke arah penyakit tertentu. Artinya turunnya berat badan Fatha murni karena kekurangan asupan gizi. Fatha kurang ASI. Setelahnya, aku diminta memerah ASI untuk diberikan pada Fatha dengan perhitungan kebutuhan berdasarkan berat badan.

Masuk ke perinatologi, aku masih bersikukuh agar perawat memberikan ASI perah (ASIP) melalui sendok atau gelas sloki. Tak rela rasanya anakku dijejali dot yang meningkatkan risiko bingung puting. Apalagi hasil perahanku yang tak seberapa membuat Fatha harus mencicipi susu formula tinggi kalori selama di perina.

Hancur sudah hatiku. Rencana memberikan ASI secara eksklusif hanya tinggal rencana.

Beruntung, konselor laktasi yang mendampingiku saat belajar pelekatan pun praktek di RS tersebut. Bu Titik, sang konselor laktasi memberikan kata-kata menenangkan.

“Yang penting sekarang, BB adik terkejar dulu, Mbak. Nanti saatnya sudah normal, Mbak bisa menyusui langsung lagi. Optimis dan berpikir positif bahwa adik tidak akan bingung puting,” jelasnya.

Long story short, akhirnya BB Fatha bisa kembali ke BB lahir di bulan pertama dan BB terkejar sesuai KMS di bulan ketiga. 

Belajar dari pengalaman menyusui anak pertama, saya sudah mempersiapkan dengan matang saat melahirkan anak kedua. Seperti misalnya memerah ASI sejak awal melahirkan. Khawatir jika BB Nadin drop, dapat dengan mudah disuplementasi ASIP.

Qodarullah, manusia cuma bisa berencana, Allah yang menentukan hasilnya. 

Nadin ternyata terlahir dengan lip tie. Hal ini mempersulit proses pelekatannya di payudara. Dan baru diketahui saat kontrol 1 bulan di DSA karena BB tidak naik signifikan. 

Tidak separah Fatha memang. Nadin terlahir dengan BB lahir 3,25 kg. Minggu pertama BB turun jadi 3 kg dan belum juga naik di minggu ketiga. Setelah satu bulan, BB hanya naik 4,5 ons menjadi 3,7 kg. Masih kurang dari kenaikan berat minimal. Tapi setidaknya, kenaikannya sudah jauh lebih OK karena pelekatan sudah bisa lebih baik. 

Alhamdulillah kali ini aku lebih percaya diri karena sudah punya tabungan ASIP. Dengan suplementasi ASIP, BB Nadin perlahan mulai terkejar. Saat tepat di usia tiga bulan, beratnya sudah kembali sesuai tren pada KMS. Berita baiknya, aku berhasil menghindari susu formula untuk Nadin. Hal yang tak bisa kulakukan untuk Fatha.

Meski kutahu benar, susu formula bukan racun. Pada satu saat, ketika ada secara medis atau kondisi tertentu ASI dan ASIP tidak dapat diberikan, susu formula merupakan alternatif yang aman untuk diberikan.

InsyaAllah ujian-ujian seperti itu membuatku jadi lebih menghargai proses perjuangan Ibu. Salut juga buat anak-anak yang InsyaAllah tumbuh jadi anak tangguh karena sudah dihadapkan pada masalah sedari dini. Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kalian, anak-anakku.

0 comment(s):