Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Showing posts with label NgasiYuk peduli ASI. Show all posts

  Perjalanan menyusui berlangsung panjang, harapannya, setidaknya bisa sempurna selama dua tahun lamanya. Tak terbayang betapa beratnya ibu ...

 


Perjalanan menyusui berlangsung panjang, harapannya, setidaknya bisa sempurna selama dua tahun lamanya. Tak terbayang betapa beratnya ibu jika hanya berjuang sendiri.

Selama empat tahun perjalanan menyusui ini, aku harus mengucapkan terima kasih kepada para pendukung hebat yang ikut bekerja keras demi kelangsungan pemberian ASI untuk Fatha dan Nadin. Dan mereka adalah...

  • Ayah Fatha Nadin
Siapa lagi orangnya yang bersedia memijatku saat butuh suplai oksitosin, memastikan stok cemilan, susu, es krim, dan sari kacang hijau selalu tersedia di lemari pendingin, mencucikan pompa ASI, serta menenangkan hatiku di kala aku merasa ASIku tak cukup. Pak suami-lah jawabannya. Jadi, aku merasa mendapatkan angin segar ketika beliau mendapatkan jatah work from home alias WFH. 
 
Nadin baru berusia tiga hari dan cuti pak suami habis. Tiba-tiba ada kebijakan WFH yang terus-menerus diperpanjang ketika pandemi Covid baru saja melanda Indonesia. Blessing in disguise, kurasa. Yang jelas, pak suami bisa selama tiga bulan penuh berada di rumah. Sebagai pejuang long distance married a.k.a LDM, aku tentu sangat bahagia.
  • Uti

Kalau dipikir-pikir, uti adalah orang yang hampir sama usahanya denganku dalam urusan "menyusui" cucu-cucunya. Ketika Fatha harus mendapatkan suplementasi ASI perah, beliaulah orang yang sangat bisa diandalkan memberikan ASIP menggunakan cupfeeder. Bahkan hingga cucu kedua, beliau masih berkomitmen memberikan ASIP tanpa dot. Mungkin berkaca dari pengalaman Fatha mengalami bingung puting, pasca dirawat di perinatologi.

Beliau orang yang sangat terbuka dengan informasi baru. Sejak awal mengikuti kelas persiapan kelahiran dan menyusui, beliau ikut menerima update ilmu dan bersedia menerapkannya.

Yang membuatku bangga, beberapa kali uti berbagi pengalaman memberikan ASIP menggunakan cupfeeder kepada orang tua dan pengasuh teman-temanku. Uti juga mendemonstrasikan secara langsung bagaimana teknik memberikan ASIP denganmedia selain dot.

  • Lingkungan kantor

 Dengan segala keterbatasannya, kantorku memberikan kesempatan para busui untuk memberikan ASI eksklusif dan ASI hingga dua tahun bagi anak-anak pegawainya. Kesempatan memerah ASI setiap tiga jam sekali dapat dengan mudah kulakukan tanpa cibiran atau komentar dari rekan-rekan kerja lain. Bahkan ada satu ruangan, yang sebelumnya berfungsi sebagai klinik, dialihfungsikan sebagai ruang laktasi. 

Oh ya, para bidan yang membantu persalinanku tak kalah keren. Mereka mendampingiku sejak sebelum melahirkan, hingga memastikan proses menyusui berjalan lancar tanpa kendala. Bahkan sebelum persalinan anak kedua, bu bidanku menanyai kekhawatiranku di trimester keempat. Mereka juga memastikan kejadian Fatha masuk perina tak lagi terulang.

Mbak Intan, bidan homecare yang kukenal sejak hamil Fatha pun jadi tempat curhat yang asyik. Pernah memberikan pijat laktasi saat aku mengalami bendungan ASI di bulan pertama Fatha lahir, hingga memberiku semangat bahwa aku bisa melakukan jauh lebih baik saat anak kedua. 

Menyusui memang tak bisa dilakukan seorang diri. Ada banyak orang dan pihak yang turut terlibat. Untuk itu, kuucapkan terima kasih untuk semuanya :)

 #pekanmenyusuisedunia 

#NgasiYuk 

#ngasiyukpeduliASI 

#WABA2021

  Lingkungan punya peran yang sangat penting bagi keberhasilan menyusui. Bayangkan jika ada seorang ibu yang baru saja melahirkan, dengan ko...


 

Lingkungan punya peran yang sangat penting bagi keberhasilan menyusui. Bayangkan jika ada seorang ibu yang baru saja melahirkan, dengan kondisi yang masih belum fit benar karena begadang dan pemulihan pasca melahirkan, tidak bisa mendapatkan cukup istirahat karena larangan,

 

 "Jangan tidur pagi hari, nanti darah putih naik ke mata,"

 

"Jangan makan ikan, nanti ASI-mu amis."

 

Atau larangan-larangan lain yang sejatinya adalah mitos. Terlebih, jika pelaku pelarangan itu adalah orang terdekat seperti ibu atau ibu mertua.

 

Terkadang, para busui ini sudah paham benar mengenai teori menyusui. Bagaimana prinsip ASI on-demand, hati harus bahagia agar ASI lancar, hingga ke fakta-fakta menyusui versus mitos-mitosnya.

 

Akan tetapi keberadaan lingkungan terdekat yang tidak mendukung, bisa membuat ibu terpojokkan, dan bahkan mengalami baby blues syndrome. Pengalaman pribadi sih ini.

 

 Beruntungnya para busui jika mereka seperti suami atau orang tua sebagai lingkungan terdekat mendukung. Namun apa jadinya jika keluarga tidak benar-benar terlibat?

 

Saat itulah, ibu butuh teman curhat yang bisa saling menguatkan. Aku merasakan sendiri manfaat bergabung dalam komunitas sesama ibu menyusui. Terlebih yang orang-orangnya bukan tipe judgemental. Bukankah memang seperti itu seharusnya sebuah supporting group?

 

Berbagai kegalauan bisa ditumpahkan di tengah grup tersebut. Sesama ibu yang merasa senasib sepenanggungan akan saling menimpali dan menguatkan. Kadang tanggapan dari ibu lain merupakan solusi dari masalah yang kita hadapi. Namun tak jarang, curhat sudah sangat melegakan meski tak menemukan solusi. Berada di circle pertemanan yang menggaungkan ASI eksklusif juga akan memberikan pengaruh positif buat si busui. Semangatnya bisa menular ke ibu lain. Ini yang kurasakan semenjak bergabung di dua grup busui.

 

Jadi, jika lingkungan tidak benar-benar mendukungmu, temukan teman-teman yang bisa membuat kita berjuang lebih keras lagi. Bukankah menyusui itu harus keras kepala? :)


 #pekanmenyusuisedunia 

#NgasiYuk 

#ngasiyukpeduliASI 

#WABA2021

 Bulan Maret, 2020 menjadi salah satu bulan yang tak terlupakan dalam hidupku. Untuk kedua kalinya, aku merasakan kembali proses kelahiran...

 Bulan Maret, 2020 menjadi salah satu bulan yang tak terlupakan dalam hidupku. Untuk kedua kalinya, aku merasakan kembali proses kelahiran menjadi seorang Ibu.


Sejak dinyatakan hamil pada Bulan Juli 2019, tak henti-hentinya kuucap syukur. Allah mengabulkan doa kami, aku dan suami, untuk memenuhi hak ASI selama dua tahun penuh bagi Kakak Fatha. Teringat saat di rumah bersalin, salah seorang bidan melontarkan celetukan,


“Wah, setelah ini, hamil anak kedua ya, Bu.”
 

Baik aku maupun suami terperangah. Nyeri bekas jahitan perineum masih terasa, tapi dengan ringannya Bu Bidan mengucapkannya. Aku hanya meringis bingung. Beruntung Bu Dokter Spesialis Anak yang menangani Fatha menyahut,
 

“Wah, jangan dulu dong. Berikan jarak. Setidaknya sampai Adek lulus ASI 2 tahun. Penuhi dulu haknya ya, Bu,” ucap beliau seraya tersenyum. Kujawab senyumannya dengan sunggingan tipis di bibir sambil mengaminkan doa beliau.
 

Ternyata doa itu diijabah oleh Allah. Hitunganku, tepat saat Fatha berusia 2 tahun, aku hamil lagi. Saat mengetahui garis dua pada testpack yang kugunakan, masih belum terpikirkan dalam benakku untuk menyapih Si Kakak.
 

Pada akhirnya, Fatha menyapih dirinya sendiri. Ia tak mau lagi menyusu padaku. Entah karena rasa ASI yang berubah, atau ia sendiri yang merasa tak lama lagi akan menjadi seorang Kakak.
 

Kehamilan kedua kurasakan lebih tenang, santai, dan tidak banyak drama. Kalaupun ada keluhan, hanya tubuh yang lebih mudah merasa lelah. Maklum, usiaku sudah kepala tiga. Hehehe..
Berbagai program persiapan persalinan kuikuti meski tak seintens saat kehamilan Fatha. Kelas prenatal hanya kuikuti sekali untuk menyegarkan ingatan mengenai ikhtiar persalinan secara nyaman dan aman. 

Kelas senam dan yoga juga kuikuti. Saat itu belum ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19. Kak Fatha masih selalu mengantarkanku saat mengikuti setiap kelas persiapan tersebut. Sampai saat ini ia masih mengingat setiap detail gerakan dan peralatan yang digunakan saat yoga. Bahkan ia bisa bercerita dengan lancar bagaimana ia bermain perosotan, ayunan, hingga ikut mencicipi susu hamil ketika mengantar ibu ke RSIA.
 

Aku makan dan minum dengan lebih lahap saat itu. Berbeda dari kehamilan pertama yang benar-benar memikirkan gizi dan kalori yang masuk, serta kualitas makanan yang harus benar-benar prima. Kali itu, apapun yang bisa membangkitkan nafsu makan, ku lahap habis. Termasuk berbagai macam junk food.
Sampai akhirnya saat beberapa minggu menjelang HPL, hasil pemeriksaan USG menunjukkan bobot bayi sudah cukup besar, 3,4 kilogram.
 

"Ketika nanti anakmu divonis besar, cukup kurangi asupan gula. Tak perlu membatasi makan besar: nasi, lauk, sayur, dan buah-buahan. Lebih baik berat bayi besar daripada kurang," beberapa orang sahabat meyakinkanku untuk tidak melakukan diet.
 

Keputusan yang tepat, karena saat lahir, BB bayi justru tidak sampai 3,4 kilogram seperti prediksi awal :)
 

Aku sudah cuti dari kantor saat usia kehamilan 38 pekan. Rasa hati ingin mengundur waktu cuti menjelang usia 40 minggu karena belajar dari pengalaman Fatha yang lahir saat lewat 40 minggu. Bu Bidan yang aku temui ketika kontrol mingguan pun menyarankan untuk mengajukan cuti mepet hari. Sebaliknya, dokter spesialis kandungan berpendapat bahwa persalinanku akan maju dari hari perkiraan lahir (HPL). Pasalnya bayi sudah cukup matang dan posisinya sudah siap untuk “meluncur”.
 

Apa daya, badan dan pikiran rasanya sudah cukup letih dengan pekerjaan kantor. Apalagi saat itu aku masih mengemudikan kendaraan sendiri pulang-pergi setiap hari. Akhirnya kuputuskan untuk mulai cuti tepat di usia kandungan 38 minggu. Keputusan yang sangat tepat menurutku karena Si Kakak Fatha ternyata butuh didampingi dan dipersiapkan perasaannya dengan kehadiran adik baru.
 

Sempat khawatir karena hanya berdua Fatha. Suami bekerja di luar kota dan ibuku yang memiliki tanggung jawab lainnya, merawat nenek (Yangyut Fatha) yang sedang sakit. Kekhawatiran yang kucurhatkan pada Bu Bidan.
 

“Jangan khawatir, Mbak. Sekiranya nanti cuma berdua, Kakak dibawa saja ke klinik untuk menemani,” saran Bu Bidan menenangkan. Saat itu aku membayangkan ketika merasakan gelombang kontraksi, harus pergi ke klinik sambil menggandeng Fatha. Tak terbayang kerepotannya.
 

Allah memang yang paling tahu mana yang terbaik untukku dan kami sekeluarga. Beberapa hari menjelang HPL, adikku, Om Kak Fatha, pulang karena kampusnya menerapkan kuliah daring. Seketika, beban pikiranku mengenai bagaimana Fatha nanti sudah mulai pupus.
 

Tiga hari menjelang HPL, aku merasakan kontraksi palsu yang lembut, santai, namun mulai sering. Siangnya aku memang sempat mencicipi buah durian yang kuidam-idamkan selama kehamilan. Hehehe
Sempat berpikir bahwa persalinan masih akan berlangsung beberapa hari lagi. Pasalnya rasa sakit dan nyeri yang kualami tidak seberapa sakit bila dibandingkan persalinan pertama.
 

Senja hari, setelah menunaikan Salat Maghrib, aku merasakan kantuk yang teramat sangat. Kuputuskan untuk memejamkan mata sesaat sambil merasakan nikmatnya kontraksi tiap lima menit sekali.
 

Tiba-tiba aku dibangunkan oleh sensasi basah dan rasa hangat yang mengaliri bagian bawah tubuhku. Rupanya ketuban pecah di pukul 18.45.  
 

Bergegas Adikku, Irwan, menstarter mobil dan membawaku ke klinik. Saat itu aku masih merasa tenang dan percaya jika bayi belum akan terlahir dalam waktu dekat. Aku masih bisa menghubungi suami dan memintanya pulang tanpa terburu-buru
 

“Paling lahir besok pagi, Yah,” ujarku mantap, berkaca dari kelahiran Fatha yang terjadi enam jam setelah pecahnya ketuban.


Benar saja. Pemeriksaan dalam VT (vaginal touche) oleh Bu Bidan menunjukkan bukaan masih satu sentimeter. Masih santai. Meskipun demikian Bu Bidan sudah berulang kali menjelaskan,

Pembukaan itu tidak harus dalam kecepatan stabil, Mbak. Bisa saja bukaan satu lalu loncat ke tiga, lima, tujuh, lalu sempurna.

Intensitas kontraksi makin terasa kuat dan rapat. Suamiku tiba di klinik satu setengah jam kemudian. Dan tak berapa lama, dorongan mengejan sudah kurasakan. Dalam dua kali tarikan nafas, Nadinda terlahir ke dunia. Tepat pada pukul 21.30.
 

Bayi cantik berkulit merah berambut tipis dan berbadan montok sudah berpindah dari kandungan menuju dekapan. Inisiasi menyusu dini segera dilaksanakan. Menciuminya sambil bertukar kata dengan suami, mengucap syukur tak terhingga pada-Nya. Betapa prosesnya sangat lancar dan mudah.

Malam itu kami tak langsung dapat memejamkan mata. Berulang kali kutatap mata bulat dan pipi gembul Nadin. Sambil membayangkan, betapa Kak Fatha pasti sangat senang dan tertarik bermain dengan adik barunya. Tiba-tiba rasa rinduku padanya membuncah.
 

Pertama kalinya setelah sekian lama aku menghabiskan malam tanpa memeluk Kak Fatha. Selama ini Kak Fatha selalu menemaniku ke mana-mana berdua, apalagi sejak cuti bersalinku disetujui. Rupanya beberapa kilometer di tempat yang berbeda, Kak Fatha sedang memikirkan hal yang sama. Uti dan Om Irwan menyampaikan padaku keesokan malamnya saat berkunjung ke klinik.
 

“Ibu sedang apa ya, Uti? Tadi ketuban ibu pecah ya Uti?” Matanya menerawang menahan rindu.
 

***
 

Sejak ada di dalam perut, Nadin selalu merespon baik segala pancingan yang diberikan oleh Kak Fatha. Suara kakaknya yang memanggil-manggil sering dijawab dengan tendangan-tendangan lucu di perutku. Atau elusan Kak Fatha yang disambut dengan geliat-geliat ringan Nadin.


Kini, setelah melihat mereka berdua tidur berdampingan dengan berbataskan guling dan tangan yang terpaut, doaku yang kupanjatkan bertambah..


“Semoga Allah menjadikan kalian berdua anak-anak shalih-shalihah, yang saling menguatkan satu sama lain. Yang ketika tiba saatnya mandiri, kalian bisa menjadi hamba Allah yang memberikan banyak manfaat baik untuk masyarakat dan umat. Semoga Allah mengumpulkan kami sekeluarga kembali ke surga-Nya..Semoga Allah meridhoi..”
 
 #pekanmenyusuisedunia
#NgasiYuk
#ngasiyukpeduliASI
#WABA2021
 


 Menyusui selama empat tahun terakhir rupanya jadi salah satu hal yang kusyukuri. Meskipun demikian, menyusui yang katanya natural tidak se...


 Menyusui selama empat tahun terakhir rupanya jadi salah satu hal yang kusyukuri. Meskipun demikian, menyusui yang katanya natural tidak semudah itu dilalui. Tak segampang menempelkan payudara ke mulut bayi, lalu dia otomatis mengisap. Banyak perjuangan untuk belajar dan mencari cara agar seluruh rangkaian prosesnya berjalan lancar, dan berimbas pada peningkatan berat badan bayi sesuai kurva tumbuh. 

Kembali teringat motivasi Bu Titik, konselor laktasi kesayanganku, pada saat aku belajar posisi dan pelekatan,

Menyusui itu proses yang panjang, sampai dua tahun lamanya. Jadi mesti benar tekniknya, supaya nyaman buat keduanya

Terlebih, dalam agamaku, menyusui adalah bagian dari kewajiban orang tua dan bernilai ibadah. Rasanya sangat sayang untuk dilewatkan.

Seiring berjalannya waktu, ketika Fatha dan Nadin melewati sebulan pertamanya, aku makin menikmati setiap aktivitas menyusui. Bahkan saat Fatha, aku begitu bersemangat memerah ASI untuk meningkatkan produksi ASI dan menyiapkan stok ketika harus meninggalkan Fatha bekerja. 

Nah, bekal berikut ini selalu kusiapkan supaya lebih menikmati proses menyusui:

  • Hati yang bahagia
Hati yang bahagia akan menyababkan hormon oksitosin diproduksi secara optimal. Akibatnya, aliran ASI lancar. ASI booster sejatinya adalah mood booster. Segala sesuatu yang membuat gembira ibu, akan berpengaruh baik terhadap lancarnya aliran ASI. Bagiku, makan makanan favorit, nonton film yang menarik, bahkan sesimpel dipijat suami, bisa membuat ASI lancarrr.. Hihihi
  • Hilangkan distraksi
Saat menyusui, sebisa mungkin fokus dengan Si Kecil. Rasanya, bayi bisa merasakan jika perhatian kita tidak seutuhnya untuknya. Saat menyusui dilakukan bersamaan dengan scrolling lini masa di ponsel, misalnya. Nadin sering protes dengan menggigit PD atau bahkan merebut si ponsel ini. Hihihi..
Bahkan pernah sekali waktu, ponsel yang sedang kupegang jatuh tepat mengenai kepala Nadin. Duh, rasanya bersalah sekali. Apalagi kemudian Kakak Fatha berujar,
"Ibu sih. Kasihan adek dong, Bu."
Sejak saat itu, sebisa mungkin aku hanya fokus pada Nadin saat bonding time berdua.
  • Ajak Si Kecil berkomunikasi 
Saat hanya berdua dengan Si Kecil merupakan priceless moment. Menatap matanya yang bulat, atau menikmati setiap isapannya, hingga tersengar suara cleguk-cleguk, pasti jadi momen yang akan dirindukan kelak. Apalagi ketika Si Kecil sudah bisa merespon ucapan kita, meski baru sekadar gumaman, atau tawa-tawa kecil.
  • Posisi yang nyaman
Ini hal wajib juga saat kegiatan menyusui dilakukan. Jangan sampai tangan ibu cedera karena salah menopang tubuh, seperti yang pernah kualami. Rasa nyerinya membuat tak nyaman dan membuat aktivitas sehari-hari sulit dilakukan. Paling nyaman bagiku adalah posisi tidur menyamping, atau ketika harus menyusui dalam posisi duduk, bisa dipertimbangkan menggunakan bantal menyusui.
  • Konsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat
Karena menyusui bak sebuah rally atau maraton, di mana perjalanannya panjang, hingga dua tahun lamanya, maka menjaga asupan makanan dan minuman wajib hukumnya. Makanan bergizi akan menjaga ibu tetap fit, sehingga tak gampang sakit meskipun harus begadang setiap malam.

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kelancaran menyusui hingga dua tahun ya buibu..

 #pekanmenyusuisedunia 

#NgasiYuk 

#ngasiyukpeduliASI 

#WABA2021

Disclaimer: Ibu Fatha-Nadin bukan seorang konselor laktasi. Kisah tentang perjuangan menyusui yang muncul di sini hanya berdasarkan pengalam...



Disclaimer: Ibu Fatha-Nadin bukan seorang konselor laktasi. Kisah tentang perjuangan menyusui yang muncul di sini hanya berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi dengan beberapa orang yang lebih ahli. Cerita versi sebelumnya sudah pernah ditulis di sini.


Jauh sebelum Fatha-Nadin lahir ke dunia, bahkan sebelum bertemu ayah mereka, aku sudah mulai mencari-cari informasi tentang menyusui. Bergabung dengan grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook adalah salah satunya. Melalui grup itu, aku merasa sangat percaya diri bahwa masalah anatomi payudara yang kumiliki, yaitu inverted nipple, alias puting terbalik, bukanlah halangan untuk memberikan ASI pada buah hati nanti. Meskipun masalah itu terjadi pada kedua payudara, kanan dan kiri, aku merasa optimis luar biasa saat itu.

 

Namun sayangnya, lagi-lagi praktek tak semudah teorinya.

 

Saat Fatha lahir, proses belajar menyusu dan menyusui teramat sulit. Aku merasakan perih dan nyeri di puting, tanda bahwa pelekatan belum sempurna. Nenekku yang tinggal bersebelahan denganku memberikan wejangannya,

 

"Yang namanya menyusui itu pasti sakit, tahan saja," ujarnya setiap aku meringis atau merintih kesakitan. Ego dalam diriku tidak mau terima. Merasa yakin benar bahwa rasa sakit saat menyusui pertanda ada yang salah dengan pelekatan, aku selalu membalas setiap ucapan beliau. Perasaan tidak mendapat dukungan yang memadai ini salah satunya menjadi pemicu baby blues yang kualami.

 

Bulan pertama Fatha lahir adalah saat-saat terberat bagiku. Aku merasa berjuang seorang diri. Beruntung masih ada teman-teman di grup yang memberikan support meski kadang kurasa tidak banyak membantu. Aku membutuhkan solusi yang nyata, pikirku saat itu.

 

Saat usia Fatha seminggu, aku menemui konselor laktasi yang praktek di sebuah rumah bersalin di kotaku. Beliau memberikan solusi yang menenangkan. Trik bagaimana memegang dan menopang payudara dengan teknik C-hold dan memipihkan bagian areola ia berikan, membuatku lebih percaya diri saat mempraktekannya langsung.

 

Sudah berakhirkah deritaku?

 

Sayangnya belum. Setelah kembali ke rumah, aku masih merasa kesulitan melekatkan mulut Fatha ke posisi menyusu yang pas. Aku sampai memvideokan bagaimana Fatha menyusu dan mengirimkan lagi kepada Bu Titik, konselor laktasi yang kutemui sebelumnya.

 

Belum berhasil juga, aku meminta bantuan konselor laktasi di grup Pejuang ASI, Mbak Elya, untuk bisa home visit. Bahkan Mbak Widy, bidan merangkap konselor laktasi di klinik tempatku melahirkan juga akhirnya datang untuk membantu.

 

Rupanya tantangan yang kuhadapi bukan hanya itu. Engorgement alias bendungan ASI mulai muncul. Nyeri dan demam menggigil mulai kurasakan. Belajar memerah dengan tangan untuk mengurangi nyeri sudah kulakukan, tapi nyeri tak kunjung hilang. Pompa ASI yang sudah kusiapkan saat hamil empat bulan tak juga bisa diandalkan. Belakangan aku tahu, ukuran corong pompa tersebut tak sesuai dengan ukuran putingku. Perih yang kualami makin menjadi-jadi. 

 

(Perjalanan menemukan pompa ASI paling cocok versi Ibu Fatha-Nadin sudah pernah dikisahkan di sini)

 

Mbak Intan, bidan yang melakukan perawatan pasca persalinan padaku, sangat-sangat membantu dengan memberikan pijat laktasi. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Setiap selesai dipijat, aku langsung berusaha memerah ASI dengan menahan sakit dan ngilu.

 

Oh ya, saat itu aku masih memegang teguh idealisme bahwa di minggu-minggu pertama bayi lahir, aku harus memperbanyak skin-to-skin contact dan belajar posisi serta pelekatan menyusui. Posisi bayi harus menempel erat pada perut ibu, kepala hingga badan bayi lurus menghadap payudara sehingga bayi pun nyaman mengisap ASI. Mulut bayi mesti membuka lebar dan mengangkup seluruh bagian areola payudara ibu, sehingga isapan berlangsung optimal.

 

Aku belum tertarik memerah ASI, sebenarnya. Fokus perhatianku masih tertuju pada memperbaiki posisi dan pelekatan tadi.

 

Akibatnya, lama-kelamaan produksi ASIku tidak mencukupi kebutuhan bayi. Di kala pelekatan belum juga benar, Fatha tidak mendapat cukup ASI. Aku masih egois tidak mulai meningkatkan produksi ASI dengan memerah ASI. Puncaknya, saat usianya tiga minggu, Fatha harus dirawat di perinatologi karena berat badannya turun drastis hingga 20% dari berat lahir. 

 

Dokter spesialis anak (DSA) yang merawat menyatakan, Fatha nyaris mengalami gagal tumbuh. Saat itu aku diberi tiga pilihan:

 

1. Memberikan Fatha ASI perah dengan volume yang sudah ditentukan oleh DSA melalui perhitungan berat badan bayi saat itu

2. Mencarikan ASI donor untuk memenuhi kebutuhan tersebut, atau

3. Memberikan susu formula berkalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan berat badan Fatha

 

Produksi ASI bisa ditingkatkan dengan menambah demand, misalnya dengan mempersering frekuensi menyusui, atau dengan memerah ASI. Sayangnya karena aku belum melakukannya secara rutin, hasil perahanku tidak mencukupi kebutuhan Fatha. Mencari ASI donor juga tidak semudah itu. Banyak pertimbangan juga untuk mencari ASI donor yang proper, terlebih di kota kecil seperti tempat tinggal kami. Pada akhirnya, aku harus menurunkan egoku dan memilih alternatif terakhir. Tentunya setelah kutumpahkan segala kekecewaanku pada suami karena tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk Fatha. Terlebih, susu formula diberikan dengan menggunakan media dot, media yang sama sekali tidak ideal karena memiliki kemungkinan menimbulkan bingung puting. Apalagi jika sang ibu memiliki anomali bentuk puting.

 

Salah satu kata-kata Bu Titik, konselor laktasi yang mendampingiku saat Fatha dirawat mampu membuat hatiku lebih tertata.

Sekarang saatnya fokus pada memperbaiki berat badan Fatha. Urusan bingung puting, ada yang namanya relaktasi. Yang penting nanti sepulang ke rumah, persering skin-to-skin contact. InsyaAllah Fatha bisa kembali menyusu.

 

Alhamdulillah, empat hari dirawat di perinatologi, berat badan Fatha bisa naik empat ons. Aku yang sudah merasa lebih tenang pun sudah bisa meningkatkan hasil perahan hingga 100 ml setiap kali sesi memerah, setiap dua jam sekali. Fatha masih harus dicukupi kebutuhan ASI-nya dengan ASI perah. Namun perlahan tapi pasti, Fatha kembali bisa menyusu dengan baik. Butuh waktu seminggu untuk relaktasi.

 

Melalui pelajaran berharga dari anak pertama, ada satu hal penting yang kemudian kuterapkan untuk anak kedua, Nadin.

 

  • Belajar pelekatan memang menjadi prioritas, tapi tak ada salahnya mulai belajar memerah ASI.
 
Memerah ASI dengan pompa bisa menjadi salah satu alternatif yang tepat, karena sistem vakum pada pompa bisa merangsang munculnya puting. Meski bayi menyusu pada areola, tak dapat dipungkiri bahwa puting dapat menjadi "pegangan" buat si bayi saat mulai belajar menyusu. Menggunakan spuit yang dibalik atau nipple puller juga bisa menjadi alternatif. Karena aku sadar diri tidak setelaten itu, menggunakan pompa ASI adalah shortcut terbaik untukku.
 
Bonusnya, produksi ASI bisa digunakan sebagai cadangan kebutuhan bayi saat menyusu langsung (direct breastfeeding) belum mencukupi. Bahkan saat anak kedua, alhamdulillah aku tidak merasakan nyerinya bendungan ASI di bulan-bulan pertama, karena ASI bisa diperah sebelum sempat menyumbat saluran payudara.

 Tips lain yang kemudian menjadi bahan perbaikan saat menyusui Nadin, kuceritakan di postingan ini.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa menyusui dengan kondisi flat nipple atau bahkan inverted, sangat mungkin untuk dilakukan. Memang benar, prosesnya luar biasa melelahkan. Namun melihat hasil yang dicapai, semuanya itu layak untuk diperjuangkan.

Terus semangat, wahai Pejuang ASI!


#pekanmenyusuisedunia
#NgasiYuk
#ngasiyukpeduliASI 
#WABA2021

 


  Hai!   Sudah lama rasanya blog ini tidak disambangi. Menjaga konsistensi menulis memang tidak mudah. Sebagai seseorang dengan motivasi eks...


 
Hai!
 
Sudah lama rasanya blog ini tidak disambangi. Menjaga konsistensi menulis memang tidak mudah. Sebagai seseorang dengan motivasi eksternal, tantangan dari luar justru membuatku lebih bersemangat menulis. Pas banget dengan momen Pekan Menyusui Sedunia tanggal 1-7 Agustus 2021 ini, komunitas Ngasi Yuk menyelenggarakan challenge menulis. Hitung-hitung mengabadikan perjalanan menyusui selama ini, bolehlah kita ramaikan acaranya. Hohoho..
 
 
Challenge NgasiYuk dalam rangka meramaikan Pekan ASI Sedunia 2021
Buat yang baru pertama kali berkunjung ke blog ini, kenalkan. Namaku Nita, ibu dari dua anak balita, Elfatha (4 tahun) dan Nadinda (1 tahun). Selain menjadi teman bermain mereka berdua, sehari-hari aku bertugas di sebuah institusi penelitian di sebuah kota kecil di Pulau Jawa. Dengan suami yang harus bekerja di luar kota dan hanya berjumpa sepekan sekali, aku merasa sangat beruntung tinggal di tengah-tengah keluarga besar, yang bisa ikut membantu peran pengasuhan.  
 
It takes a village to raise a child, bukan? Jadi aku merasa, selama komunikasi dengan ibu dan keluarga besar bisa dikondisikan, semuanya akan baik-baik saja. Kondisi ideal adalah kondisi yang bisa kita tolerir. So, aku merasa saat ini adalah kondisi terbaik yang mampu ku-handle.

Oh ya, aku adalah seorang yang ekstrovert dan salah satu bakat alamiku adalah learner. Bisa dibayangkan, seseorang dengan kombinasi keduanya akan sangat bersemangat mengikuti berbagai komunitas dan acara kumpul-kumpul berfaedah yang bisa menambah wawasan. Komunitas Ngasi Yuk yang sudah kuceritakan di atas tadi adalah salah satunya. Pada masa awal menyusui Fatha, Si Sulung, aku merasa sangat terbantu dengan adanya komunitas ini. Di sana kami punya para pakar dan praktisi seperti dokter, ahli gizi, bidan, dan tak lupa konselor laktasi. Tentu saja isi grupnya adalah para ibu (dan calon ibu - yang kini sudah jadi ibu). Tipe pertemanan di sana adalah model-model yang santai dan suportif. Menjaga kewarasan ibu adalah yang utama. Hal itu pulalah yang membuatku betah di sana karena curhatan-curhatan kami akan ditanggapi teman lain tanpa menghakimi :)
 
Ada jeda waktu yang cukup lama dari sejak menikah - aku menikah di akhir usia 20-an - hingga lahirnya anak pertama. Fatha hadir ketika aku dan suami sudah sempat belajar berbagai hal mengenai pengasuhan dan pendidikan keluarga. Sebagai seorang learner, belajar adalah hobiku, kan. Beruntung suami sangat mendukung (Terima kasih, Ayah). Sejak saat itu pun aku berkenalan dengan Ibu Profesional dan Keluarga Kita. Hingga kini masih banyak belajar dari sana dan menjadi salah satu relawannya.

Tapiiiii...

Benar kata orang-orang. Teori sangat berbeda dari prakteknya. Meski aku merasa sudah banyak hal yang kupersiapkan dan kupelajari, ketika harus menjalaninya secara langsung, duh. Macam ujian praktek saja. Deg-degan takut tidak lulus.

Menyusui adalah salah satu ujian kehidupan yang harus kuhadapi. Berbagai macam persiapan sudah kulakukan bahkan sejak belum hamil Fatha. Teman seruanganku di kantor kala itu, Mbak Ayu, punya andil cukup besar dalam persiapan itu. Dia menghadiahiku buku Catatan Ayah ASI sebagai kado pernikahan. Buku yang tetap relevan sampai sekarang, yang membuatku cukup lega, karena tak perlu bingung menimbang-nimbang akan memilih susu formula yang mana. Hehehe
 
Bergabung dengan komunitas pejuang ASI di kotaku, konsultasi dengan konselor laktasi saat hamil juga sudah kulakukan. Namun rupanya, harapan tak selalu seindah kenyataan. Cerita selengkapnya mengenai kisah menyusuiku insyaAllah tayang besok. Tetap simak blog ini yaa..

Salam dari kami bertiga <3

#pekanmenyusuisedunia
#NgasiYuk
#ngasiyukpeduliASI 
#WABA2021