Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak ...

(Masih tentang) Komunikasi Produktif

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak bisa dianggap gagal  karena banyak sekali manfaat yang kami sekeluarga dapatkan.

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti perkuliahan Bunda Sayang (Bunsay) Ibu Profesional Batch 4 ini. Materi yang disampaikan pada level pertama ini benar-benar hal mendasar yang sangat saya butuhkan, terutama untuk keluarga tersayang. Jika mengenang kembali masa awal saya menikah dengan Pak Suami, betapa banyak cerita-cerita lucu, sedih, mengesankan akibat miss komunikasi.

Semakin matang usia pernikahan, semakin kami menyadari bahwa banyak hal yang harus disinkronkan agar kedamaian keluarga tercapai. Persis seperti materi Komukasi Produktif yang saya dapatkan pada pertemuan pertama Bunda Sayang, bahwa setiap pasangan suami istri berasal dari dua individu yang berbeda dengan latar belakang yang juga berbeda. Perbedaan latar belakang ini meliputi cara pandang (Frame of Reference/FoR) maupun pengalaman masa lalu (Frame of Experience/FoE).

Kami berdua mengakui, tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang berat karena merupakan masa penyesuaian bagi kami. Walaupun begitu, kami beruntung karena Allah memberikan kesempatan bagi kami untuk dapat mengenal individu masing-masing di tiga tahun pertama pernikahan. Kami memiliki cukup waktu untuk dapat melebur ego masing masing menjadi kepentingan bersama.

Saat itu kami menyusun cita-cita dan rencana mengenai seperti apa model pengasuhan yang akan kami terapkan untuk putra-putri kami nantinya. Berkaca dari kondisi pengasuhan yang kurang ideal di masa lalu, kami pun menyusun strategi untuk menjadi orang tua idaman versi kami.

Alhamdulillah tidak lama setelah konsep tersebut terbentuk, Allah memercayakan Fatha dalam kehidupan kami. Berbagai idealisme yang dulu pernah kami cita-citakan tentunya tidak selalu dapat tercapai. Terlebih kondisi pernikahan saya dan Pak Suami harus dijalani dengan jarak jauh dan hanya dapat bertemu sepekan sekali rentan mengalami miss komunikasi.

Di saat-saat seperti ini, prinsip-prinsip mengenai komunikasi produktif yang saya dapatkan dari kelas Bunda Sayang sangat membantu dan menguatkan.

Kali ini saya akan bercerita mengenai beberapa kisah yang belum sempat ditulis saat menyelesaikan tugas tantangan materi level 1.

Persiapan

Beberapa langkah permulaan sudah saya lakukan sebelum mempraktekkan komunikasi produktif hasil perkuliahan lalu. Langkah-langkah tersebut adalah
  1. Sounding kepada Pak Suami dan Ananda.
Selain meminta ijin dan restu kepada suami, saya juga menyampaikan review mengenai materi yang sudah saya dapatkan. Harapan saya, selain mendapatkan dukungan suami, ia pun dapat turut menerapkan praktek tersebut dan memperoleh manfaatnya. Fatha juga saya info dengan cara sederhana, sekaligus meminta doanya, "mohon bantuan dan kerja samanya ya Nak. InsyaAllah ibu sedang belajar berbicara dengan Fatha sengan lebih sabar".
  1. Berdoa meminta kekuatan, kelancaran, serta mampu konsisten menjalankan tantangan.
Bukan hanya tantangan selama 17 hari, namun sepanjang hidup. Saya juga berharap pada Allah agar ilmu yang saya dapatkan ini bermanfaat bagi kami sekeluarga, bahkan mungkin dapat ditularkan pada orang lain.

Praktek Komunikasi Produktif

Komunikasi Produktif dalam keluarga yang paling mendasar tentunya adalah komunikasi kepada diri sendiri. Diumpamakan jika pribadi kita sebagai teko, maka apa yang akan kita tumpahkan ke luar merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Untuk itu diperlukan pikiran yang selalu positif dalam memandang sesuatu. Selain itu pemilihan kata-kata yang positif juga perlu dilakukan untuk dapat memberikan energi dalam berkomunikasi.

Bagi saya pribadi, mengendalikan emosi merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam komunikasi dengan diri sendiri. Begitu emosi dan perasaan negatif muncul, biasanya segala pikiran jernih dan kesadaran untuk menghadapi lawan bicara akan buyar dan bubar jalan. Beberapa kisah tentang ikhtiar saya mengendalikan emosi bisa dibaca di sini dan sini

Selanjutnya komunikasi dengan pasangan perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang benar agar kedua belah pihak merasa saling dihargai. Ada lima (5) kaidah yang perlu dipegang teguh untuk dapat mencapai kualitas komunikasi yang baik. Tentu saja hal ini berlaku untuk komunikasi dengan orang dewasa lainnya. Kaidah-kaidah tersebut adalah:

1. Clear and clarity

Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi haruslah jelas dan lugas. Sebagai perempuan yang menyukai bahasa kode, kita harus benar-benar memastikan bahasa tersebut dipahami oleh pasangan :)

2. Memilih waktu yang tepat

Pemilihan waktu yang tepat menentukan kondisi emosi saat mengirim dan menerima pesan. Waktu yang terbaik untuk masing-masing pasangan bisa jadi berbeda. Di awal pernikahan, saya tipe orang yang harus menyelesaikan masalah sebelum tidur. Berkebalikan dengan Pak Suami yang memilih meredakan emosi dengan tidur, baru keesokan paginya dibahas bersama-sama dan saling meminta maaf. Pada akhirnya, kami sama-sama dapat saling memahami dan sepakat untuk tidak menyelesaikan sesuatu dalam kondisi emosi tidak stabil.

3. 7-38-55 (7% bahasa verbal : 38% intonasi suara : 55% bahasa tubuh)

Bahasa tubuh memegang peran paling penting dalam efektivitas penyampaian pesan, diikuti intonasi suara. Kesungguhan dan kejujuran dalam berkomunikasi dapat terbaca melalui bahasa tubuh ini. Salah satu upaya yang kami lakukan saat ini adalah berbicara dengan orang lain tanpa memandang HP. Fokus perhatian hanya kepada penerima pesan sehingga ia merasa dihargai.

4. Kontak mata yang intens

Kesungguhan dan perhatian juga dapat ditunjukkan dengan kontak mata yang intens. Bukan hanya pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak. Hal ini sudah kami sepakati, termasuk dalam berkomunikasi dengan ananda. Menyejajarkan posisi mata dengan anak dan menatap mata saat berkomunikasi akan membuat anak merasa dihargai.

5. Hasil komunikasi merupakan tanggung jawab pemberi pesan

Bagaimana pun hasil komunikasi, apakah berhasil atau tidak, merupakan tanggung jawab kita sebagai pemberi pesan. Diharapkan kita tidak akan menyalahkan orang lain jika terjadi miss komunikasi karena ikhtiar komunikasi yang baik sudah dilakukan.

Cerita singkat praktek komunikasi saya dengan Pak Suami dapat disimak di sini dan sini.

Komunikasi dengan anak pun perlu mendapat perhatian khusus semuda apapun usia anak. Dalam kasus saya, Fatha yang berusia 15 bulan ternyata sudah sangat tanggap dengan praktek komunikasi yang saya lakukan. Dari sebelas (11) kaidah komunikasi produktif untuk anak, saya baru dapat mempraktekkan 6 poin, yaitu:
  1. Keep Information Short & Simple (K.I.S.S.)
Hampir setiap kali instruksi yang saya gunakan dengan singkat dan sederhana.. Bagi anak dengan rentang konsentrasi yang masih terbatas seperti Fatha, cara ini cukup efektif. Intip cerita tentang K.I.S.S. pada hari ke-38101214, dan 17
  1. Mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah
Seperti halnya komunikasi dengan orang dewasa, intonasi suara memiliki peranan cukup penting dalam komunikasi. Bahkan untuk anak-anak, ketika saat berkomunikasi kita menyejajarkan posisi mata kita dengan mereka, anak merasa lebih diperhatikan. Praktek mengenai poin ini kami lakukan di hari ke-235, dan 17.
  1. Mengatakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
Poin ini rupanya sudah sering dipraktekkan oleh generasi sebelum kami. Alasannya, karena pamali berkata buruk. "Nanti jatuh lho," misalnya. Qodarullah pada jaman eyang dan orang tua saya, kata-kata tersebut jika diucapkan orang tua, justru dapat terjadi pada anaknya.

Saya sih melihatnya dari sudut pandang yang lain. Memberikan sounding positif pada anak justru menjadikan komunikasi berlangsung efektif. Anak lebih dapat menangkap maksud kita. Kisah tentang ini dapat diintip pada link hari ke-3 dan 5.
  1. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Pujian atau kritikan yang disampaikan kepada ananda perlu diberikan sebagai bentuk penghargaan maupun bahan perbaikan. Untuk itu keduanya perlu disampaikan secara spesifik, menyebutkan hal apa yang baik menurut kita hingga layak diberikan pujian. Atau jika kritikan, bagian apa yang masih harus diperbaiki untuk kritikan. Jadi yang dipuji atau dikritik adalah tindakan atau sikap anak. Bukan pribadinya. Contoh pemberian pujian untuk Fatha kami lakukan di hari ke-5 dan 10
  1. Mengganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
Seperti halnya orang dewasa, anak juga memiliki perasaan. Komunikasi dengannya pun harus memperhatikan perasaannya. untuk itu kita sebagai orang tua perlu menunjukkan empati saat berkomunikasi. Karena yang muncul dari hati, biasanya akan mengena di hati.  Saya mempraktekkan hal ini di hari ke-361011, dan 14
  1. Mengganti perintah dengan pilihan
Selain memberikan instruksi, ada kalanya saya ingin meminta pendapat pada Fatha. Mengingat usianya masih cukup muda, pendapatnya saya dapatkan dengan cara memberikan pilihan sempit, hanya 2 pilihan. Cerita lengkapnya dapat dilihat di sini.

Beberapa poin kaidah komunikasi produktif masih belum saya praktekkan,. Direncanakan beberapa saat lagi ketika kemampuan berbahasa Fatha lebih berkembang, insyaAllah akan saya dan Pak Suami lakukan. Poin-poin tersebut adalah:
  1. Fokus ke depan, bukan masa lalu

  2. Mengganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

  3. Fokus pada solusi, bukan masalah

  4. Mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman

  5. Mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
Ringkasan mengenai kaidah komunikasi produktif saya sarikan dari materi perkuliahan Bunda Sayang dalam bentuk skema Mind Map di bawah ini.
PicsArt_10-01-01.56.41

Alhamdulillah. kami sekeluarga menikmati game tantangan level ini. Semoga kami sekeluarga dapat terus menjalin komunikasi yang baik satu sama lain.

#aliranrasa
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Bahan Bacaan

Institut Ibu Profesional,. Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1, 2018

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza
Media, 2014

1 comment:

  1. […] Allah dengan mengikuti kaidah choose the right time, malam ini saat quality time, Ibu akan berkisah pada Fatha mengenai rencana latihan kemandirian […]

    ReplyDelete