Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Perjalanan tugas ke luar kota bukanlah salah satu kegiatan favorit saya, apalagi semenjak Fatha lahir. Namun kewajiban tetaplah kewajiban. ...

Perjalanan tugas ke luar kota bukanlah salah satu kegiatan favorit saya, apalagi semenjak Fatha lahir. Namun kewajiban tetaplah kewajiban. Hari Senin kemarin saya harus berangkat ke Jakarta dengan jadwal penerbangan paling pagi. Artinya sebelum azan Subuh berkumandang, saya sudah harus keluar rumah dan meninggalkan Si Kecil yang masih nyenyak tidur bersama ayahnya.

Beruntungnya, acara yang saya hadiri selesai dalam satu hari sehingga malamnya saya bisa segera pulang ke rumah. Tapi itu berarti kemungkinan besar saya tiba di rumah saat Fatha sudah kembali terlelap. Masih lebih baik daripada harus menginap, pikir saya. Terlebih di tengah malam, Fatha masih sering melakukan aktivitas menyusu.

Risikonya, saya tidak bisa menjalankan proyek kecil bersama Fatha, proyek Rumah Rapi.

Akhirnya, sekembalinya ke rumah, malam itu saya cukup puas memeluk Fatha saat ia tertidur pulas.

Pagi tadi, Fatha terbangun sesaat setelah azan Subuh berkumandang. Senyumnya melebar dengan mata berbinar-binar saat mendapati saya sudah ada dalam jangkauan pandangan matanya. Saya menyapa Fatha dengan antusias sambil bertanya kabarnya pagi itu. Ditariknya tangan saya sambil memberikan instruksi, "Duduk."

Begitu saya memposisikan diri di tepi tempat tidur, ia duduk mendekat dan mulai menggelendot manja sambil asyik berceloteh. Inilah bagian paling menyenangkan di pagi hari :)

Proyek Rumah Rapi memang gagal tayang pada hari ketiga. Tapi tunggu dulu.. Saya menyadari satu lagi kegiatan yang potensial untuk dijadikan proyek keluarga selanjutnya.

Jadi saat sudah siap berangkat ke kantor, saya menyadari bahwa Fatha sudah hafal dengan rutinitas pagi saya. Ia mengambilkan kunci motor, mendahului saya menuju teras untuk memasukkan kunci kontak dan menstarter motor dengan bantuan saya. Bahkan sebelumnya, ia sudah menunjuk helm dan membawakannya untuk saya.

Memberikan Fatha tanggung jawab dengan tentunya tetap memberikan pengawasan penuh tampaknya memicu Fatha bukan hanya bertambah mandiri, namun juga mengasahnya lebih tanggap terhadap lingkungan. Terima kasih banyak, Nak. Kau memberi ibu kesempatan untuk belajar bersamamu ^^

#Hari3
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Ahad pagi yang cerah, biasanya kami sekeluarga habiskan dengan jalan-jalan pagi di taman kota atau pasar kaget di jalan lingkar. Kali ini k...

Ahad pagi yang cerah, biasanya kami sekeluarga habiskan dengan jalan-jalan pagi di taman kota atau pasar kaget di jalan lingkar. Kali ini kami sudah menyepakati untuk menikmati liburan di rumah sembari bebenah. Proyek Rumah Rapi sudah menanti untuk dieksekusi :)

Setelah kami selesai mandi dan sarapan (plus nenen, bagi Fatha), kami mulai mengeluarkan keranjang plastik sebagai tempat untuk menata pakaian yang sudah dilipat rapi. Kali ini Fatha berperan sebagai manajernya. Tugasnya adalah memilih keranjang yang ia suka sebagai tempat pakaian yang sudah rapi dilipat. Ibu sebagai pelaksana, bertugas melipat baju dan meletakkan ke dalam keranjang yang sudah dipilihkan Fatha. Sebelumnya kami menyampaikan aturan mainnya pada Si Kecil.

"Kita rapikan kamar ya Kak. Tolong Ibu memilihkan keranjang untuk tempat pakaian ya.."

Pada perjalanan prosesnya, Fatha sangat bersemangat menjalankan tugas. Saking bersemangatnya, ia ikut membantu mengambil satu per satu tumpukan pakaian sambil menggelendot manja pada Ibu dan meletakkannya pada keranjang kecil yang akan dimasukkan ke dalam lemari pakaian.

20181104_095933-01

Lama kelamaan, semangat dan perhatiannya beralih ke hal lain. Sebelumnya saya memintanya meletakkan keranjang pakaian ke dalam lemari, namun ia letakkan begitu saja di depan pintu lemari. Fatha sendiri kemudian merebahkan diri di depan jendela sambil gegoleran di atas selimut ungu kesayangannya.

20181104_094415-01

Karena rentang konsentrasinya masih sangat singkat, Ibu memaklumi perhatianmu terdistraksi, Nak. Terima kasih banyak atas bantuannya by the way :)

#Hari2
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Tak terasa Program Bunda Sayang sudah memasuki level 3. Tema yang diusung pada level ini adalah melatih kecerdasan orang tua dan anak . U...


Tak terasa Program Bunda Sayang sudah memasuki level 3. Tema yang diusung pada level ini adalah melatih kecerdasan orang tua dan anak. Uniknya, pada tantangan kali ini kami harus terlebih dahulu membuat sebuah family project yang nantinya harus dilakukan bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. Selama menjalankan proyek keluarga, kami akan melaporkan jenis kecerdasan apa sajakah yang diasah melalui proyek tersebut.

Strategi yang disusun kurang lebih seperti gambar berikut.

20181104_193847-01

Berdasarkan strategi tersebut, ada beberapa tahapan yang akan kami laksanakan untuk menuntaskan tantangan level ini:

Melakukan diskusi keluarga melalui family forum

Diskusi keluarga telah kami laksanakan hari kemarin, segera setelah mendapatkan materi mengenai kecerdasan anak. Kami ingin segera membicarakan tugas ini selagi materi masih segar dalam ingatan. Salah satu ciri family forum yaitu dilakukan dalam suasana santai misalnya saat snack time. Jadi kami mendiskusikan family project ini setelah kami bertiga selesai mandi dan siap menikmati kudapan sore.

Menetapkan family project

Saat diskusi tersebut, baik saya dan suami langsung sepakat mengenai tema proyek yang akan dikerjakan. Dalam kondisi tanpa asisten rumah tangga dan saya pun bekerja di ranah publik, maka saat ini kegiatan merapikan rumah berada di baris terakhir prioritas kami. Pikir kami, proyek ini bisa menjadi kesempatan bagi saya belajar lebih memperhatikan keteraturan isi rumah.

Berikut adalah contekan mengenai proyek keluarga yang akan segera kami eksekusi.

20181104_193637-01

Tema besar proyek kali ini adalah Rumah Rapi. Tujuan kegiatannya adalah melakukan aktivitas membersihkan dan merapikan rumah dengan bahagia. Personel yang terlibat dalam aktivitas ini utamanya adalah saya dan Fatha. Bisa jadi saat Ayah Fatha mudik, beliau akan ikut terlibat.

Proyek Rumah Rapi tahap I ini rencananya akan kami lakukan selama 7 hari. Sasaran pembersihan pada tahap awal ini adalah kamar tidur. Beberapa target yang ingin kami capai adalah:

1. Pakaian tertata rapi di dalam lemari.

2. Buku-buku yang sedang tidak dibaca masuk ke dalam kontainer plastik untuk mencegah serangan jamur sedangkan buku yang sedang dibaca ditata pada rak buku. Khusus buku bacaan milik Fatha, tetap diletakkan dalm rak agar memudahkan ia mengambil dan mengembalikan.

3. Mainan Fatha tersimpan rapi di dalam kotak mainan jika sedang tidak digunakan. Selesai dimainkan, Fatha berkewajiban mengembalikan mainan ke dalam kotaknya.

Tidak menutup kemungkinan sasaran dan target akan ditambah jika ketiga poin di atas sudah terlaksana dengan baik.

Eksekusi


Dalam menjalankan tantangan proyek keluarga ini, ada 3 hal yang perlu dilakukan yaitu amati, terlibat, dan tulis.

Sebelum mengamati, kami sudah menentukan aspek perkembangan yang akan diamati melalui proyek keluarga ini, yaitu aspek kecerdasan. Jadi hal-hal yang akan kami amati meliputi bagaimana ia membangkitkan logika dasar dan nalar, mengasah rasa ingin tahu, memahami ekspresi bahasa ibu, belajar bersama alam, memiliki imaji positif tentang alam dan kehidupan serta proses belajar (kecerdasan intelektual), mengenal perasaannya sendiri saat emosi (bahagia, sedih, marah, kecewa, takut, benci) muncul (kecerdasan emosional), menumbuhkan rasa cinta pada Allah, mengenal ciptaan Allah, membangkitkan kesadaran Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, pengasih, dan penyayang (kecerdasan spiritual), mengendalikan dirinya, serta bisa menerima jika tidak semua permintaannya dikabulkan (kecerdasan menghadapi tantangan).

Keterlibatan orang tua juga diperlukan agar kami pun turut aktif dan bersama-sama belajar. Setiap pengalaman yang didapatkan saat menjalankan proyek keluarga ditulis dan diabadikan baik berhasil maupun gagal. Saya memutuskan menuangkan cerita tersebut melalui blog ini sekaligus untuk menyusun portofolio perkembangan Fatha.

Terakhir, seperti pesan Pak Dodik dan Bu Septi mengenai proyek keluarga ini,
Lakukan apresiasi, bukan evaluasi.

Anak-anak belum memerlukan evaluasi. Cukup berikan penghargaan karena akan membuatnya lebih bersemangat menjalankan proyek keluarga. Catatan mengenai evaluasi cukup kita simpan dan menjadi bahan pembelajaran jika akan menjalankan proyek baru.

Semoga tantangan level ini berjalan lancar dan banyak ilmu baru yang kami pelajari bersama..

Bismillah..

#Hari1
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Sumber Bacaan

Materi Program Bunda Sayang Level 3 Batch 4. 2018.
Catatan Perak 2017 #1: FAMILY PROJECT. 2017. https://padepokanmargosari.com/2017/04/02/catatan-perak-2017-1-family-project/amp/

Mengapa perlu melatih kemandirian? Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menja...

Mengapa perlu melatih kemandirian?


Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menjaganya, dan mendampinginya. Pada suatu titik, orang tua harus melepas anak menghadapi dunianya sendiri. Semakin dini anak diperkenalkan pada kemandirian, maka anak akan lebih cepat mandiri.

Fitrah anak adalah ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Ia akan dengan mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kita sebagai orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini, dengan memanipulasi keadaan sehingga anak dipaksa untuk mandiri. Tidak ada salahnya memberikan tantangan pada anak-anak dan meminimalisir bantuan. Seperti halnya orang dewasa, tantangan ini dibuat sekiranya pada batas maksimal kemampuan anak. Di batas maksimal yang dapat dicapai ini, anak akan berusaha dengan sekuat tenaga, sehingga kemampuannya berkembang dengan baik.
"What doesn't kill you makes you stronger"

Apakah tolak ukur kemampuan ini? Menurut Pak Dodik yang kata-katanya sudah pernah saya tulis pada postingan ini, takarannya adalah tega. Orang tua haruslah tega untuk menahan diri tidak segera memberikan bantuan. Orang tua mesti tega melihat anaknya bersusah payah terlebih dahulu untuk dapat meraih keinginan.

Bagaimana caranya?


Tentunya semua dilakukan secara bertahap, dimulai dari level tantangan paling mudah yang sekiranya anak bisa melakukan. Sedikit demi sedikit tingkat kesulitan bisa ditambah. Orang tua bisa merasakan seberapa ambang batas toleransi anak.

Berdasarkan pengalaman dengan Fatha, langkah yang saya lakukan adalah:

Membuat target latihan untuk Si Kecil


Saat mendapatkan materi melatih kemandirian untuk anak, saya menyambut antusias tantangan yang diberikan. Saat itu saya optimis Fatha akan menikmati setiap game tantangan yang kami siapkan.

Jadi di hari pertama setelah kuliah Bunsay mengenai kemandirian, saya sudah membuat daftar jenis-jenis latihan apa saja yang sekiranya cocok diterapkan untuk Fatha. Dari sekian banyak aktivitas yang berhasil kami identifikasi, secara umum ada 2 kegiatan besar yang kami pilih yaitu:
  1. Berpakaian, meliputi aktivitas memilih pakaian yang akan digunakan, melepas, serta mengenakan baju

  2. Aktivitas merapikan, termasuk merapikan mainan dan meletakkan kembali barang pada tempatnya
Kedua aktivitas besar itu kemudian saya susun dalam wujud habit tracker dan dijadikan checklist untuk pencapaian Fatha. Setiap selesai melaksanakan tantangan, saya memberikan tanda di kolom hari pada baris jenis tantangan yang sudah dikerjakan. Tanda lingkaran jika hasilnya masih belum sesuai harapan, atau tanda bintang jika dirasa Fatha sudah mampu bekerja sama dengan baik.

PicsArt_10-23-03.07.49

Untuk jangka panjang, saya bercita-cita habit tracker ini ditulis dalam lembaran kertas yang lebih besar sehingga dapat ditempel di dinding. Setiap satu tugas ditunaikan dengan baik, Fatha mendapatkan sebuah stiker bintang untuk ditempelkan. Tentunya hal ini akan lebih menarik buat Fatha.


Sounding kepada Si Kecil, termasuk menyampaikan maksud dan tujuan

Segala sesuatu yang melibatkan Fatha, sebisa mungkin kami sampaikan padanya. Apa saja harapan kami terhadapnya juga kami komunikasikan. Misalnya ketika kemarin saya dan Ayah Fatha sepakat untuk mengajarkan Fatha mandiri dalam hal berpakaian. Saat informasi tersebut belum disampaikan, Fatha masih menganggapnya sambil lalu. Ternyata begitu hari berikutnya kami coba ajak bicara, Fatha menyambut baik aktivitas lepas-lepas baju :)

Konsisten menjalankan latihan

Lagi-lagi sedikit oleh-oleh dari Workshop "A" Home Team kemarin. Keluarga Padepokan Margosari memberikan pernyataan yang membuat saya dan suami merenung,
Pembiasaan adalah untuk binatang. Melatih binatang untuk bisa melakukan sesuatu adalah dengan dibiasakan. Manusia dapat dibedakan dari binatang karena kemampuannya berpikir.

Oleh sebab itu, mendidik anak memerlukan aktivitas berpikir. Artinya kita sebagai orang tua tidak hanya memberikan instruksi dan berharap anak serta-merta menuruti. Melibatkan anak untuk memperhatikan sebab dan akibat atau konsekuensi atas tindakan yang tidak atau yang justru dilakukan bisa menjadi salah satu solusi.

Contoh kasusnya begini. Saat itu Fatha masih asyik bermain dengan kabel dan pengisi daya ponsel saya walau sudah saatnya ia mandi pagi. Padahal saya juga sudah harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Saya menyampaikan pada Fatha,

"Nak, sudah saatnya mandi. Semakin lama Fatha main, waktu  cibung-cibungnya berkurang lho. Mari mandi sekarang".

Harapan saya, Fatha sudah terbiasa memahami sebab-akibat segala sesuatu sehingga ia dapat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih. Bukan hanya sekedar terbiasa melakukan sesuatu.

Mengucapkan terima kasih

Salah satu bentuk reward yang sepakat untuk kami berikan pada Fatha setiap kali ia berhasil adalah ucapan terima kasih yang tulus. Kadang bentuk penghargaan yang spontan berupa tepuk tangan juga kami lakukan. Bentuk apresiasi yang sederhana ini diharapkan lebih mengena buat Fatha. Ada saatnya Fatha lebih dulu bertepuk tangan untuk dirinya sendiri jika ia berhasil melakukan pencapaian.

Semoga Fatha selalu jadi anak yang bahagia dan berakhlak mulia ya Nak :)

#AliranRasa
#GameLevel2
#Level2
#KuliahBundaSayang
#Bunsay4
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Sumber Bacaan

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Materi #2 Program Bunda Sayang Batch #4. 2018

Hari ini merupakan hari terakhir kesempatan mengumpulkan tantangan 10 hari melatih kemandirian. Kegiatan mandi Fatha sedikit tertunda kare...


Hari ini merupakan hari terakhir kesempatan mengumpulkan tantangan 10 hari melatih kemandirian. Kegiatan mandi Fatha sedikit tertunda karena keasyikannya bermain-main.

Jadi Fatha sedang senang-senangnya dengan segala macam kabel dan colokan. Setiap saya lengah, tiba-tiba ia sudah asyik bermain dengan kabel charger dan kepalanya, atau headphone dengan kabel yang sudah terurai.

PicsArt_10-22-10.09.43

Pernah sekali saya kecolongan, headphone kesayangan saya sudah "dicolokkan" di teralis jendela entah sejak kapan. Ketika saya coba gunakan, tiada suara terdengar. Hiks..

Karena waktu mandi sempat tertunda oleh acara bermain, saya cukup terburu-buru mengajaknya mandi. Alhamdulillah Fatha cukup mengerti keterbatasan waktu saya, dan ia menurut saat saya minta segera melepas pakaian.

Acara mandi pagi berlangsung cepat dan tepat karena minus berendam a.k.a. cibung-cibung. Setelahnya, dengan badan dibalut handuk, ia menggelendot manja sambil berujar, "nin"..

Kesempatan bagi saya untuk membujuknya, "Segera pakai baju yuk Nak, supaya badannya tidak dingin lagi.."

Dan Fatha menurut.

Terima kasih Nak :)

#Harike16
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Fatha. Setelah ia mau melepas sendiri celananya saat akan mandi (tentunya dengan diiringi berla...

Hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Fatha. Setelah ia mau melepas sendiri celananya saat akan mandi (tentunya dengan diiringi berlari-larian dan memanjat-manjat), acara cibung-cibung berlangsung damai. Ia bersedia mandi dengan tenang sambil berendam di dalam ember kesayangannya sementara saya sempat mencuci beberapa potong pakaian.

Setelah beranjak dari kamar mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Fatha bersedia ganti baju sendiri dengan bantuan Sang Ibu. Saya cukup takjub dengan kerja samanya.

Ternyata cerita belum berhenti di situ. Saat saya lengah membalikkan badan untuk mengambil body lotion, tadaaaaa

PicsArt_10-22-10.15.33

Pakaian bersih yang sudah dilipat dan siap masuk lemari sedang dalam kondisi aporak poranda. Fatha sudah menemukan permainan baru: memanjat tumpukan baju dalam keranjang pakaian ^^;

Perasaan saya campur aduk antara geli Fatha kreatif menemukan permainan baru dan sedih karena hasil kerja tadi sepagian roboh karena aksi Fatha.

Mari syukuri saja. Toh kamar berantakan bak kapal pecah masih bisa dirapikan saat Fatha tidur :)

#Harike15
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga be...

Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga berkualitas “A”. Acara yang diberi judul “A” Home Team itu mengundang Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto dari Padepokan Margosari yang sudah banyak dikenal sebagai penggagas Ibu Profesional, School of Life Lebah Putih, Jaritmatika, dan banyak komunitas lainnya.

Saya dan Suami sebenarnya sudah sejak beberapa minggu sebelumnya tertarik mengikuti acara ini. Duluuu sekali saat Fatha belum lahir, kami pernah mengikuti acara tadabur alam yang diselenggarakan oleh CBE dan berkesempatan mendengarkan kisah-kisah beliau. Rasanya ingin mengisi kembali semangat kami dalam membangun cita-cita keluarga.

Sayangnya, acara tersebut dijadwalkan hampir berbarengan dengan acara kantor Suami yang mana beliau terlibat sebagai panitia. Suami berjanji akan memberikan kepastian mengenai bisa tidaknya hadir saat H-1.

Alhamdulillah di hari yang dijanjikan, beliau menyampaikan kabar gembira. Atasan Suami memberikan lampu hijau atas izin yang disampaikan suami, dengan catatan pada Hari Sabtu sebelum pukul 18.00, Suami sudah tiba di venue acara.

Secepat kilat kami mendaftar untuk acara tersebut dan kami bersyukur masih ada seat :)


Sebelum Acara

Meskipun panitia menyediakan Kids Corner bagi keluarga yang membawa anak, kami sepakat untuk menitipkan Fatha bersama Uti. Alasannya, usia minimal untuk anak dititipkan di Kids Corner adalah 24 bulan. Fatha belum memenuhi syarat. Sebenarnya bisa saja kami mengajak Fatha masuk ke dalam ruang kelas sepanjang acara. Namun mengingat betapa aktifnya Fatha saat ini, kami tidak berani mengambil risiko acara belajar jadi terganggu dengan keasyikan bermain bersama Si Kecil.

Akhirnya saya berangkat hanya berdua saja bersama Suami.

Sesampainya di venue, Hotel Laras Asri Salatiga, kami sempat takjub dengan background panggung. Penggunaan MMT sudah telalu mainstream sehingga panitia memilih memanfaatkan glass board sebagai media membuat background. Menurut cerita Mbak Ade (Rumah Jelajah) sebagai Bu Lurah CBE Kampung Juara, ide menggunakan glass board ini muncul tiba-tiba. Berkat tangan dingin Mas Kliwon, dalam waktu 1 jam, jadilah hasil karya berikut ini.

PicsArt_10-21-09.19.23

Tentunya penggunaan media ini lebih less waste karena meminimalisir MMT yang hanya dapat digunakan sekali. Cocok dengan konsep yang diusung oleh CBE Kampung juara, zero waste. Konsep zero waste ini sudah terasa saat mendaftar ulang. Kami disambut oleh ceria dan ramahnya anak-anak Kampung Juara yang memberikan name tag serta satu buah cangkir untuk masing-masing peserta yang hadir. Panitia menyediakan air mineral dalam dispenser di belakang ruangan sehingga peserta bisa sewaktu-waktu mengisi ulang botol minum atau cangkirnya.


Berlangsungnya Acara

Acara tepat dimulai pukul 08.30 sesuai rencana. Kami disambut oleh penampilan anak-anak Kampung Juara: Young Wish Band dan sambutan dalam 3 bahasa, Bahasa Inggris, Korea, Dan Jawa, yang dibawakan dengan sangat fasih oleh Mbak Devi.

"A" Home Team merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian  workshop mengenai keluarga. Selain materi dasar ini, diagendakan dalam 2 bulan ke depan akan diselenggarakan workshop serupa dengan tema family strategic planning.

Bu Septi mengawali materinya dengan menyampaikan oleh-oleh dari Silicon Valley, USA, markas Facebook. Bu Septi berkisah mengenai kronologis bagaimana akhirnya dapat bergabung dengan Facebook Community Leadership Program dengan berbekal kemantapan hati, kepercayaan diri, dan niat yang tulus mendedikasikan diri untuk anak-anaknya. Di tengah keterbatasan bahasa, Bu Septi dengan percaya dirinya menulis proposal dalam Bahasa Indonesia meski seleksi diadakan oleh perusahaan multinasional, meyakini bahwa tim penyeleksi akan menemukan cara menerjemahkan proposal tersebut.

Beliau juga menceritakan tentang negosiasi yang dilakukan dengan pihak panitia hingga akhirnya Mbak Ara, putri keduanya, dapat ikut mendampingi beliau di Amerika. Dengan bangga beliau berkisah bahwa pada acara yang diselenggarakan oleh Facebook itu, Mbak Ara yang menjadi bintangnya. Bu Septi justru dikenal sebagai “Ibunya Ara”.
Satu hal yang berkesan bagi saya, Bu Septi selalu menekankan bahwa kemuliaan ibu ada pada anaknya. Ketika segala daya upaya orang tua diniatkan untuk anaknya, maka hasil yang diperoleh pun lebih spektakuler apabila dibandingkan dengan pekerjakan atau kegiatan yang diniatkan untuk kepentingan atau nama baiknya sendiri.

Selain itu Bu Septi kembali mengingatkan saya bahwa kita sebagai orang tua harus menyelesaikan tugas mendidik anak sesuai fitrahnya saat pre akil baligh. Maka ketika anak-anak sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan akil baligh, mereka sudah tahu ke mana harus melangkah dan apa tujuan hidup mereka. Anak kemudian menjadi pengambil keputusan atas hidup mereka sendiri.

Kembali pada tema membentuk keluarga berkualitas “A”, Bu Septi dan Pak Dodik memberikan kami latihan untuk dipraktekkan. Masing-masing keluarga diminta membuat diagram venn pada kertas flip chart yang sudah disediakan. Masing-masing lingkaran merepresentasikan satu individu dalam keluarga, dalam hal ini suami dan istri. Selanjutnya masing-masing lingkaran tersebut diisi dengan aktivitas yang sering dilakukan oleh masing-masing pasangan. Diidentifikasi pula aktivitas mana yang sering dipermasalahkan oleh pasangannya. Tak lupa pada bagian irisan kedua lingkaran dituliskan aktivitas yang sering dan dapat dilakukan bersama-sama.

Setelah aktivitas-aktivitas tersebut teridentifikasi, kami diminta untuk mencari solusi bagi aktivitas yang menjadi masalah bagi pasangannya.

Dalam kasus saya dan suami, misalnya, main games adalah salah satu kegiatan suami yang saya kurang suka. Pasalnya waktu bersama yang kami miliki sebagai pasangan cukup terbatas. Di saat kami dapat bertemu di akhir pekan, saya berharap suami dapat mencurahkan waktunya untuk saya dan putra kami. Ternyata, suami juga kurang menyukai sifat saya yang kurang disiplin. Ketika berencana akan keluar bersama, saya biasanya menghabiskan waktu lebih lama dari yang sudah disepakati.

Akhirnya muncul sebuah solusi, waktu untuk persiapan pergi harus dibuat lebih awal. Selama suami menunggu saya, ia diperbolehkan untuk memainkan game favoritnya.

Sesimpel itu :)

PicsArt_10-21-08.57.20.jpg

Diagram venn yang sudah kami buat itu kemudian dapat ditambahkan sesuai jumlah anggota keluarga yang ada. Nantinya di rumah, kami perlu memasang kertas tersebut di tempat yang mudah diakses oleh seluruh anggota keluarga sehingga dapat diisi oleh siapa saja. Dengan begitu kami dengan mudah dapat mengidentifikasi aktivitas menyenangkan apa yang dapat kami lakukan bersama-sama. Kami juga bisa memberikan kritikan atau masukan mengenai kegiatan atau aktivitas anggota keluarga lain yang dirasa membuat diri sendiri kurang nyaman.

Oh iya, kami juga diminta menuliskan indikator sebuah keluarga dapat dikategorikan berkualitas “A”. Indikator ini sifatnya customized, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing keluarga. Artinya, kebahagiaan keluarga kami hanya ditentukan oleh keluarga kami sendiri dan bukan oleh keluarga lain. Kami tidak perlu membandingkan atau melirik keluarga lain untuk bisa bahagia dan mencapai impian kami.

Indikator ini haruslah sesuatu yang dapat diukur. Misalnya, kami bahagia jika komunikasi berjalan dengan baik. Indikatornya adalah minimal sekali dalam seminggu, kami dapat berdiskusi mengenai evaluasi kegiatan seminggu yang lalu serta rencana kegiatan seminggu ke depan.

Tahapan yang diperlukan untuk membentuk “A” Home Team adalah:

  1. Membentuk tim: Ciri-ciri sebuah tim adalah memiliki tujuan dan tata nilai bersama. Selain itu tim harus memiliki cara berkomunikasi koordinasi yang baik.
  1. Menentukan target dan indikator keberhasilan

  2. Menentukan peran masing-masing
Dalam kasus keluarga kami dengan usia anak masih 1 tahun, menentukan peran anak memang cukup tricky. Berdasarkan pengalaman Bu Septi, pada usia 0-5 tahun, orang tua perlu memposisikan diri sebagai teman bermain Si Kecil. Untuk mengajarkan tanggung jawab, anak perlu diberi kesempatan menjadi manajer dengan pilihan peran yang ia tentukan. Contohnya saat anak memlih menjadi manajer toilet, orang tua menjelaskan tugas apa yang harus ia lakukan. Anak juga perlu ditanyai indikator sukses menurut versinya. Pengalaman Mbak Enes, putri pertama Bu Septi dan Pak Dodik, ia diberi kesempatan menjadi manajer toilet selama 2 jam, dan anggota keluarga lain dipersilakan makan di toilet.. Anak diberikan atribut sebagai manajer, misalnya topi atau emblem.

PicsArt_10-21-08.54.58.jpg

Mendengarkan kisah keluarga Padepokan Margosari yang inspiratif membuat saya dan suami makin bersemangat untuk menentukan mimpi yang tinggi, namun dapat dijangkau. Beberapa ide di kepala kami perlu untuk dikeluarkan dengan brainstorming dan dipetakan strategi untuk merealisasikannya.

Terlebih ketika kami bertemu dengan keluarga lain yang terlihat lebih “matang” dalam hal konsep dan tujuan hidupnya. Contohnya “Doyan Dolan” milik Keluarga Pak Lukmanul Hakim dan Bunda Noor Widyaningsih. Mereka memantapkan hati berbagi ilmu mengenai parenting dan jahit-menjahit melalui kegiatan “jalan-jalan”.

Beruntungnya kami, di akhir sesi acara, saat door prize dibagikan, kami sempat mendapatkan tote bag lucu dari Pol.Ja milik Bunda Noor. Alhamdulillah :)

PicsArt_10-21-09.15.06.png

Nb: door prize yang kami dapatkan berdasarkan penilaian panitia untuk kategori pasangan paling mesra. Saya dan suami tertawa geli sepulangnya dari acara. Tidak menyangka anggapan "mesra" dinobatkan pada kami. Usut punya usut, salah satu panitia menyatakan bahwa pada saat sesi awal melihat saya dan suami bertangisan. Hehehe.

Bagaimana bisa?

Jadi ketika di awal materi Bu Septi meminta masing-masing pasangan berhadap-hadapan, saling memegang paha, dan menyatakan pada pasangan betapa hebatnya dulu saat pertama kali berjumpa, saya dan suami yang sama-sama melankolis tiba-tiba flashback ke masa 5 tahun lalu. Saya jadi teringat betapa banyak kesalahan saya pada suami dan betapa ia dengan sabar memaafkan kesalahan, keegoisan, bahkan tak segan membimbing saya menjadi istri dan ibu yang lebih baik.

Apalagi saat panitia memberi kesempatan untuk saling memeluk pasangan, spontan kami berpelukan.

Di akhir acara barulah kami tersadar, kami adalah pasangan paling "lebay" (dalam arti yang baik tentu saja :D

Perjalanan melatih kemandirian bagi Fatha memang seru-seru menggemaskan. Ada saja ulahnya untuk menghindar dari latihan ini. Seperti berala...

Perjalanan melatih kemandirian bagi Fatha memang seru-seru menggemaskan. Ada saja ulahnya untuk menghindar dari latihan ini. Seperti beralasan meminta "nenen" di tengah acara ganti baju pasca mandi. Atau melarikan diri dari kamar tidur ketika saya sedang merayunya untuk memakai celana sendiri.

Oya, salah satu alasan mengapa melepas baju dan mengenakan celana sendiri menjadi target latihan kemandirian Fatha adalah karena kami menargetkan untuk mulai membiasakannya toilet training pada usia 18 bulan. Dalam waktu 2 bulan ini kami berharap Fatha sudah mampu melepas dan memakai celana sendiri sehingga latihan toilet training dapat berjalan lancar, Insya Allah.

Mengenai latihan kemandirian ini, ada oleh-oleh menarik dari acara Workshop "A" Home Team di Salatiga kemarin.
Pak Dodik Mariyanto menjelaskan bahwa membentuk keluarga itu haruslah berlandaskan pada kasih sayang. Untuk mendidik anak, takarannya adalah tega.

Tega yang membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh, menempa kemandiriannya, dan tentu saja tetap berlandaskan kasih sayang tadi.

Penjelasan Pak Dodik itu membuat saya dan suami berpandangan. Semakin memantapkan hati bahwa melatih Fatha mandiri memang butuh proses terus menerus dengan konsisten dan memerlukan kesabaran orang tuanya. Tidak masalah progressnya naik turun, yang penting kami membiarkan fitrahnya melakukan aktivitas secara mandiri dapat berkembang.

#Harike14
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Referensi

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop "A" Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas "A") di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Hari ketiga belas mengajarkan Fatha mengenai kemandirian, terutama dalam hal berpakaian, sudah terasa cukup konsisten. Ia mulai jarang mere...

Hari ketiga belas mengajarkan Fatha mengenai kemandirian, terutama dalam hal berpakaian, sudah terasa cukup konsisten. Ia mulai jarang merespon negatif instruksi melepas pakaian saat akan mandi. Ia juga senang diberi tugas meletakkan pakaian kotor pada tempatnya. Apalagi jika sudah diberi iming-iming "bermain air".

Jadi kami mulai menambahkan tantangan level ini dengan memakai pakaian sendiri. Supaya tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, kami mengajak Fatha ngobrol mengenai kesepakatan ini.

"Fatha sudah makin pintar melepas pakaian sendiri. Ibu bangga deh sama Fatha," dan ia menjawab dengan tawa menggemaskan.

"Mulai hari ini, Fatha belajar pakai celana sendiri ya. Ibu bantu seperlunya," sambung saya.

Pada prakteknya, belum bisa berjalan seperti harapan. Fatha masih asyik melarikan diri dari saya. Kita coba ulang besok pagi :)

#Harike13
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Beberapa minggu terakhir ini Fatha semakin bersemangat menyusu. Setiap melihat wajah ibunya, kata-kata pertama yang langsung muncul dari m...


Beberapa minggu terakhir ini Fatha semakin bersemangat menyusu. Setiap melihat wajah ibunya, kata-kata pertama yang langsung muncul dari mulutnya adalah "nenen". Dia akan langsung menggandeng saya, meskipun dalam kondisi baru pulang dari kerja yang notabene SOP rutin adalah mandi terlebih dahulu. Selanjutnya, ia menunjuk tempat tidur dan menginstruksikan, "bobok".

Tak lupa Fatha menarik selimut ungu favoritnya dan memposisikan diri untuk menyusu. Saat-saat seperti inilah yang kadang masih membuat saya dilema. DI satu sisi saya belum membersihkan diri, di sisi lain ingin segera menunaikan hak menyusu buat anak.

Jalan tengah yang saya ambil adalah merayunya untuk rela bersabar menunggu saya mandi kilat. Kadang berhasil, seringnya gagal :(

Hari kemarin, saya hitung selama 30 menit waktu istirahat kerja (30 menit sisanya untuk perjalanan pulang pergi), total Fatha meminta nenen 4 kali. Wow..

Sepertinya dalam waktu beberapa hari ke depan saya akan membuat kesepakatan dengan Fatha mengenai kewajiban saya minimal cuci tangan, kaki, dan wajah sebelum bermain dengannya.

Kembali pada topik melatih kemandirian, hari kemarin Fatha sudah makin bisa diandalkan untuk diberikan instruksi melepas pakaian dan meletakkannya ke dalam keranjang cucian. Kuncinya adalah memberikan pakaian yang cukup longgar serta mudah dilepas.

Ia juga sudah sering meminta sendok sendiri saat makan. Kadang jika sudah bosan, Fatha akan mulai gantian menyuapi saya atau Uti. Anak kecil memang paling jago menirukan.

#Harike12
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Setelah harus  go-show  ke Jakarta selama 1 hari, saya kemudian tepar. Beberapa pekerjaan di rumah terpaksa harus dipending dulu untuk dik...


Setelah harus go-show ke Jakarta selama 1 hari, saya kemudian tepar. Beberapa pekerjaan di rumah terpaksa harus dipending dulu untuk dikerjakan, termasuk melipat baju dan merapikan lemari. Oh iya, saya tidak terlalu rajin menyeterika. Hanya pakaian-pakaian yang tertentu saja yang perlu diseterika, misalnya pakaian kerja dan pakaian untuk bepergian. Lainnya cukup dilipat dengan rapi dan masuk lemari. Cukup menghemat tenaga dan energi, baik energi listrik maupun energi Ibu Fatha :)

Saking teparnya, saya sampai lupa belum berkisah mengenai progress latihan kemandirian Fatha. Huhuhu..

Jadi hari kemarin Fatha bersemangat untuk segera mandi dan bermain air. Sepertinya karena hari sebelumnya diberikan akses untuk menyiram tanaman dan bermain selang, ia ingin mengulang keriaan itu..

Nah, kesempatan untuk menyisipkan lagi latihan kemandirian buat Fatha.

Saya meminta Fatha melepas pakaiannya sendiri, seperti biasa, ia sibuk bermain dan memilih untuk tetap berlarian ke teras depan. Saya rayu dengan kata kunci, "Mari Nak, kita bermain air, cibung-cibung, cipik-cipik."

Dan benar saja, ia mendekat dan meminta saya untuk segera melepaskan pakaiannya. Saya pancing dengan membantu membuka kancing bajunya, dan Fatha bergegas melepas piyama serta kaos dalamnya. Saya masih ikut turun tangan membantu melepas celana panjangnya, namun kali ini tanpa drama.

Setelahnya, Fatha masih semangat meletakkan pakaiannya ke dalam keranjang. Lebih tepatnya "melempar".

PicsArt_10-18-08.09.12

Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama Fatha hari itu..

#Harike11
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Perjalanan sepuluh hari berlatih kemandirian memang benar-benar menantang, bahkan untuk anak seusia Fatha. "Mendidik tidak bisa mendad...

Perjalanan sepuluh hari berlatih kemandirian memang benar-benar menantang, bahkan untuk anak seusia Fatha. "Mendidik tidak bisa mendadak". Jadi segala bentuk pembelajaran ini memang proses panjang yang tidak bisa instan. Kadang dijalani anak dengan suka cita dan terlihat lancar-lancar saja. Tak jarang anak memilih untuk melakukan tidak sesuai aturan main.
Fasilitator kami, Mbak Sindu, menguatkan, "Tidak cukup 17 hari melatih kemandirian. Butuh waktu sampai bertahun-tahun untuk membuat mereka mandiri. Pada dasarnya anak adalah pembelajar sejati, pasti ada rasa ingin bisa melakukan sendiri. Tinggal bagaimana respon kita, apakah akan memupuk fitrah atau justru tanpa sadar kita pupuskan. Jika yang kedua terjadi, maka kita sendiri yang akan kerepotan saat anak sulit untuk mandiri.

Menarik memang terlibat langsung dalam memilihkan dan membuatkan aturan untuk Fatha. Yang awalnya masih ragu-ragu dengan kemampuannya, makin hari makin penasaran dengan uji coba kemampuannya yang lain.,

Seperti hari ini, mendadak saya harus pergi ke luar kota di saat Fatha belum bangun. Saya kehilangan satu kesempatan untuk mengajarkannya konsisten melepas pakaian sendiri. Namun saya sudah berpesan pada Uti Fatha untuk tetap dapat melatih Fatha melepas pakaian sendiri, semampunya.

Sore tadi Uti melaporkan bahwa sebelum mandi, Fatha sudah bermain air dengan gayung dan ember. Dia sedang belajar menyiram tanaman, Uti berkisah. Fatha juga meminta selang air Uti dan mencoba menyemprotkan ke tanaman, realisasinya semprotan dilakukan ke segala arah, termasuk badan Fatha sendiri.

Fatha berteriak, "Nin, nin, pas, pas.." (dingin, dingin, lepas, lepas). Ternyata ia meminta dilepaskan bajunya. Uti membantu membuka kancing dan dilanjutkan oleh Fatha.

Setelahnya Fatha mandi sore dengan air hangat dan tidak mau berhenti bermain air..

Alhamdulillah, makin banyak aktivitas yang dijajal oleh Fatha dan terlihat pula keinginannya melakukan sendiri sampai bisa..

#Harike10
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional