Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Semenyenangkan apa pun perjalanan, bagian yang paling ditunggu-ditunggu adalah pulang. Kembali berkumpul bersama keluarga. Nah, kemarin ...

Semenyenangkan apa pun perjalanan, bagian yang paling ditunggu-ditunggu adalah pulang. Kembali berkumpul bersama keluarga. Nah, kemarin setelah selama tiga hari bertugas di luar kota, Ibu cepat-cepat pulang ke rumah untuk bertemu Fatha.

Ternyata Fatha sedang bermain di tempat YangYut. Kesempatan buat Ibu bebersih badan, kemudian menjemput Fatha untuk diajak jalan-jalan :)

Fatha menyambut Ibu dengan pelukan dan langsung minta digendong. Duh, kangennya ya Nak. Hehehe

Kami berdua pun segera bersiap-siap berangkat jalan-jalan. Ibu membawa gendongan SSC, berjaga-jaga jika nanti di tengah jalan Fatha minta digendong.

Rute jalan-jalan kami tidak terlalu jauh. Menyusuri trotoar untuk makan siang dengan menu kesukaan Fatha: creamy sauce fetuccini di lokasi yang berjarak kurang dari 1 km. Kami tiba di resto tersebut bertepatan dengan acara anak-anak belajar membuat pizza. Jadi bisa dibayangkan betapa heboh dan bahagianya Fatha melihat banyak "teman".

Perjalanan pulang menuju rumah, kami menyempatkan mampir ke toko mainan. Tujuan utamanya adalah membeli sekantong bola-bola kecil untuk Fatha belajar mengenal konsep angka dan bilangan. Tapi, mata Fatha sempat teralihkan oleh boneka Tayo. Sebenarnya bukan tokoh Tayo sih, melainkan kawan-kawan Tayo yang sayangnya Ibu pun tak hafal namanya. Kami menyebutnya "Tayo Merah" dan "Tayo Hijau".
Mohon dimaafkan^^



Ibu mengajak Fatha menyebutkan warna boneka-boneka tersebut. Masih terbalik-balik memang, mana yang merah dan mana yang hijau. Pada akhirnya Fatha berhasil menebak warna dengan tepat. Yeaaaay!

Kami juga menghitung satu per satu boneka Tayo. "Satu, dua, tiga".

Perjalanan pulang, di tepi trotoar kami menemukan deretan panjang tempat sampah berwarna-warni. Satu kesempatan lagi untuk belajar menghitung jumlah. "Satu, dua, tiga"
Sekaligus mengenal tiga dari tujuh warna pelangi "merah kuning hijau".




Alhamdulillah hujan turun hanya berselang beberapa menit setelah kami tiba di rumah. Kami berdua menikmati jalan-jalan hari ini, terlebih setelah mendapatkan sekantong penuh bola-bola kecil :)



#Harike6
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic red


Akhir-akhir ini, tidak setiap malam Fatha bisa tidur bersama Ibu. Di saat-saat Ibu harus ke luar kota, Uti akan mengambil alih. Seperti kem...


Akhir-akhir ini, tidak setiap malam Fatha bisa tidur bersama Ibu. Di saat-saat Ibu harus ke luar kota, Uti akan mengambil alih. Seperti kemarin, saat berpamitan pada Fatha, Ibu menjelaskan padanya bahwa selama 2 malam ia akan tidur bersama Uti.

Paginya Uti berkisah bahwa setelah bangun tidur, Fatha masih malu-malu berpose. Uti berencana mengirim foto Fatha kepada Ibu.



Ibu juga bercerita bahwa Fatha masih senang bermain dengan penjepit kertasnya. Update terakhir, sudah ada 6 dari 18 buah penjepit yang hilang dan patah. Fatha memainkannya sambil belajar berhitung. Ia juga belajar menyebutkan warna-warnanya. Sampai saat ini, warna hijau yang sudah dikenal Fatha dengan baik.

Sayangnya Uti tak sempat mengambil foto Fatha saat bermain warna dan angka.


#Harike5
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic red

Hari keempat tantangan, Ibu Fatha berpamitan untuk berangkat kerja ke luar kota. Beberapa hari sebelumnya Ibu sudah sounding  akan meningga...

Hari keempat tantangan, Ibu Fatha berpamitan untuk berangkat kerja ke luar kota. Beberapa hari sebelumnya Ibu sudah sounding akan meninggalkan Fatha selama beberapa saat.

"Ibu berangkat kerja di luar kota ya Nak. InsyaAllah 2 malam kakak bobok dengan Uti. Malam nanti dan besoknya," saya menjelaskan.

Fatha merespon dengan wajah jenakanya,

"Kakak nangis, Bu Ita. Nangis."

"Oh, maksudnya Kakak sedih? Nanti kalau kangen Ibu, bilang sama Uti ya Nak, kita video call," Ibu membujuk.

Senangnya, Fatha sudah bisa mengekspresikan perasaannya, alhamdulillah :)

Nah, sebelum bersiap-siap berangkat, Ibu dan Fatha masih sempat bermain dengan penjepit kertas berwarna yang malam sebelumnya dibuat.
Aturan main dijelaskan Ibu, Fatha akan memasang kembali penjepit warna pada bagian kertas berwarna sama. Rupanya Fatha masih belajar cara merenggangkan penjepit hingga bisa dikaitkan pada bidang berwarna.

Akhirnya Fatha memodifikasi sendiri permainannya, yaitu melepas penjepit sembari berhitung bersama Ibu.



Setelah dua kali putaran, perhatian Fatha kemudian beralih pada spidol warna. Ia sudah berhasil membuka kotaknya, kemudian mengambil salah satu spidol dan berencana mencorat-coret buku gambar alias "menulis" (kata Fatha).




Ibu mengajaknya berhitung dengan dua belas batang spidol berwarna-warni. Selanjutnya, Fatha bebas menggambar dan mewarnai :)

#Harike4
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Stimulasi kecerdasan logis-matematika ada beragam bentuknya. Setelah mencoba permainan mencocokkan bentuk, hari ketiga Ibu mengajak Fatha m...

Stimulasi kecerdasan logis-matematika ada beragam bentuknya. Setelah mencoba permainan mencocokkan bentuk, hari ketiga Ibu mengajak Fatha membuat permainan dari penjepit kertas. Permainan ini diharapkan menjadi media belajar warna bagi Fatha. Kemampuan lain yang diharapkan bisa distimulasi adalah motorik halusnya untuk menggenggam dan menjepit kertas dengan menggunakan penjepit.

Penjepit kertas yang kami miliki terbuat dari kayu dan berwarna seragam, warna khas dasar kayu. Langkah pertama yang kami kerjakan adalah memulas warna pada penjepit dengan spidol.



Fatha sangat bersemangat mewarnai. Sepertinya saat ini Fatha sedang menyukai berbagai aktivitas "menulis" baik dengan pensil, bolpoin, maupun spidol. Cukup lama Fatha berkonsentrasi pada spidol dan penjepit kertasnya, sampai akhirnya ia mengantuk dan mengajak tidur.

Paginya, ibu membantu menyelesaikan menempel kertas warna pada karton bekas kalender sebagai media untuk meletakkan penjepit kertas dengan warna yang sama.


Rencananya permainan ini akan dieksekusi oleh Fatha dibantu Uti karena Ibu akan bekerja di luar kota selama 3 hari.

Catatan tambahan:

Fatha sudah tertarik membongkar puzzlenya, namun belum mau menyusunnya kembali. Hari-hari berikutnya kita coba lagi ya Nak :)



#Harike3
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Melanjutkan proyek hari pertama , pagi ini Fatha mengerjakan "PR" matematika dari Bu Guru. Ia terlihat menikmati permainan mencoc...

Melanjutkan proyek hari pertama, pagi ini Fatha mengerjakan "PR" matematika dari Bu Guru. Ia terlihat menikmati permainan mencocokkan bentuk yang sudah dibuat hari kemarin. Sesuai perkiraan, Fatha bisa benar-benar fokus menjalankan arahan aturan mainnya selama kurang lebih dua menit. Ia sudah berhasil mencocokkan 3 dari 4 bentuk yang tersedia, yaitu bangun lingkaran, setengah lingkaran, dan segitiga. Yeay!


Lepas dua menit, Fatha sudah menemukan permainan yang lebih mengasyikkan menurutnya, yaitu mencorat-coret buku gambar.


Aktivitas mencocokkan bentuk dengan empat buah bangun geometri, done!

Malam harinya sepulang kantor, Ibu mengajak Fatha untuk membuat dan menjalankan family project bersama. Kali ini temanya adalah membuat permainan logika. 

Beberapa minggu terakhir, Ibu tertarik untuk mengajak Fatha merangkai puzzle bersama. Sayangnya puzzle yang sering ditemukan Ibu di pasaran adalah puzzle dengan jumlah keping yang banyak. Padahal untuk pemula seperti Fatha, ia akan membutuhkan jenis puzzle sederhana, sekitar 6-9 keping saja. Memesan secara online membutuhkan waktu pengiriman selama beberapa hari, jadi hari ini Ibu putuskan membuat sendiri puzzlenya.

Nah, akhir-akhir ini Fatha sedang sedang sekali diputarkan lagu "Hey Tayo". Ia bahkan sudah mampu menirukan beberapa lirik lagunya. Ibu kemudian memilih gambar Tayo, Bis Kecil Ramah, sebagai objek puzzle yang akan kami kerjakan.

Ibu bertugas mencari gambar Tayo di internet dengan bentuk yang paling sederhana. Ibu juga sekalian mencetak gambarnya di atas kertas HVS 100 gram. Sebagai alas puzzle, kami menggunakan kardus bekas air mineral. Ibu menghitung dan mengukur pola kepingan puzzle. Saat mulai merancang garis pola pada kardus dan kertas gambar, Fatha turut membantu. Ia bahkan berinisiatif membuat sendiri garis pola sesuai keinginannya. Hehehe..

Setelah keping-keping puzzle mulai dipotong, Fatha makin bersemangat membantu. Ia menggunakan sendiri gunting plastik miliknya. Tak lama setelah kertas gambar Tayo ditempelkan pada dasar kertas kardus, puzzle sudah siap dimainkan.

Oh iya, Fatha mengajak Ibu bercerita tentang Tayo selama kami merancang dan mengeksekusi pembuatan puzzle ini. Ia juga menyanyikan lagu "Hey Tayo" sepanjang kegiatan kami tadi malam.



Horeee...!

Puzzle sudah siap dimainkan. Mohon diabaikan bentuknya yang kurang rapi. Cukup fokus pada keping-kepingannya yang sudah berhasil dibongkar pasang :)



Tugas Fatha berikutnya adalah menguji coba permainan puzzle yang sudah berhasil kami buat ini. Permainan sebenarnya akan dilakukan esok hari. Semoga kembali menyenangkan seperti hari ini ya, Nak..

Catatan hari kedua:

Fatha terlihat sangat menikmati permainan hari ini. Termasuk proyek membuat puzzle. Ibu mengamati saat menjelang tidur, ia masih asyik bercerita dan bernyanyi. Ia masih menyebut-nyebut Tayo hingga di atas tempat tidur. Fatha bahkan akhirnya terlelap tanpa mencari nenen-nya. Ibu terharu ^^


#Harike2
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Tantangan bulan keenam Bunda Sayang adalah melakukan stimulasi kecerdasan logis-matematis pada anak. Tentunya disesuaikan dengan usia si...


Tantangan bulan keenam Bunda Sayang adalah melakukan stimulasi kecerdasan logis-matematis pada anak. Tentunya disesuaikan dengan usia si anak. Awalnya saya merasa skeptis saat membaca judul materi dan tantangan Bunda Sayang level ini. Usia Fatha belum genap dua tahun. Berhitung satu sampai sepuluh saja ia belum cukup lancar. Saya juga belum sepenuhnya yakin apakah ia sudah memahami konsep angka satu hingga sepuluh yang sering kami ucapkan bersama-sama saat bermain atau melakukan urutan gerakan.

Namun ketika membaca dan menyimak lebih dalam mengenai pembahasan materi ini, aaah, rupanya saya salah paham. Kecerdasan matematika logis, atau logis-matematika, tidaklah seberat itu. Batasan definisinya sangat luas. Kecerdasan logis-matematika tidak melulu mengenai berhitung. Eksplorasi yang dilakukan anak untuk memenuhi rasa ingin tahu, mengamati benda-benda yang dianggap unik, mengutak-atik benda dan melakukan uji coba, bertanya “apa” dan “mengapa” saat mengamati fenomena tertentu, atau mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, ukuran, maupun jenis pun merupakan beberapa ciri anak dengan kecerdasan jenis ini.

Saya teringat akan video yang sempat beredar di grup WA. Video ini mengisahkan mengenai seorang bapak yang tengah berjuang memasukkan tasnya ke dalam bagasi kabin pesawat. Sekilas tak ada yang salah dengan video tersebut. Namun setelah mengamati beberapa saat, barulah saya menyadari bahwa ada kesalahan yang tampak sepele yang dilakukan si bapak hingga ia tak juga berhasil menyimpan tasnya.




Gambar diambil dari artikel ini

Dari peristiwa itu, saya makin yakin bahwa kecerdasan mengenai nalar dan logika perlu untuk distimulus sejak dini. Melalui permainan mencocokkan bentuk dan ukuran, misalnya.

Itulah sebabnya, pada hari pertama tantangan 10++ hari, kami akan mencoba permainan mencocokkan bentuk. Alat dan bahan yang dibutuhkan cukup sederhana, yaitu buku gambar, spidol, serta gunting.


Ibu membuat berbagai bentuk bangun, yaitu segitiga, persegi, lingkaran, dan setengah lingkaran. Agar lebih menarik, keempat bangun tersebut diberi warna yang berbeda. Setelah digunting mengikuti garis tepi, Ibu menjadikan keempat potongan tadi sebagai cetakan untuk digambar pada lembaran kosong buku gambar. Tugas Fatha adalah mencocokkan potongan-potongan tadi dengan bentuk yang serupa.


Awalnya Fatha tertarik memegang potongan gambarnya, mencoba menempelkan pada bangun yang sesuai, namun tak berapa lama perhatiannya sudah teralihkan. Ia lebih memilih mencorat-coret buku gambar dengan pensil dan bolpoin. Tak mengapa ya, Nak. Setidaknya Ibu sudah mulai mencoba melakukan stimulasi padamu. Mengenai hasilnya, anggap saja sebagai bonus. Hehehe.

Baiklah, kita simpan dahulu permainan hari ini, siapa tahu esok atau lusa Fatha sudah lebih berminat memainkannya :)

#Harike1
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic


Sumber Bacaan

Tim Fasil Bunda Sayang Batch #3. 2018. Stimulasi Matematika Logis Anak. 

Menjadi ibu menyusui biasanya tidak terlepas dari kegiatan memerah ASI. Terlebih jika kita adalah ibu yang bekerja di ranah publik. Berp...


Menjadi ibu menyusui biasanya tidak terlepas dari kegiatan memerah ASI. Terlebih jika kita adalah ibu yang bekerja di ranah publik. Berpisah sementara waktu dari Si Kecil menimbulkan konsekuensi berupa pemberian ASI perah dengan menggunakan media tertentu.

Bagi sebagian ibu, memerah dengan tangan secara langsung, atau yang lebih dikenal dengan teknik marmet, bisa dengan mudah dilakukan. Beruntung sekali jika buibu menguasai teknik ini. Memerah dapat dilakukan secara efektif karena pengosongan payudara dilakukan dengan lebih baik. Ibu juga bisa meminimalisasi penggunaan alat, sehingga menghemat waktu untuk membersihkan pompa.
Tentang memerah dengan teknik marmet bisa diintip di sini dan sini.

Nah, sayangnya tidak semua ibu mahir memerah tanpa alat, termasuk saya. Makanya bisa dimaklumi jika pompa ASI menjadi salah satu senjata andalan yang menunjang pemberian ASI eksklusif.

Lalu pompa ASI seperti yang sebaiknya kita pilih?

Saat hamil Fatha, dengan penuh percaya diri saya sudah browsing dan mencari review dari banyak busui lainnya tentang pompa ASI terbaik yang pernah mereka coba. Sambil melihat kapasitas dompet, saya pun menjatuhkan pilihan pada Phillips Avent manual. Review menyatakan bahwa menggunakan pompa ini menjanjikan kenyamanan bagi busui. Posisi memompa dapat dilakukan dengan duduk bersandar atau tegak, tidak harus condong ke depan seperti saat menggunakan pompa merk lain. Corong dilengkapi dengan silikon yang empuk sehingga serasa memijat sendiri. Kebetulan toko perlengkapan bayi langganan saya sedang memberikan diskon hingga 150 ribu rupiah untuk pembelian pompa merk ini. Cukup menggiurkan, bukan?


Phillips Avent, gambar diambil dari situs Phillips di sini

Dengan semangat menggelora, saya minta ijin suami dan segera saja pompa tersebut menjadi barang pertama yang saya peroleh untuk Baby Fatha, saat saya masih hamil 4 bulan!

Masalah mulai muncul ketika saya menggunakan pompa ini pertama kali, beberapa saat setelah Fatha lahir. Alih-alih nyaman seperti klaim iklan atau review banyak orang, justru rasa sakit dan perih pada puting yang saya rasakan. Awalnya saya pikir hal ini wajar karena sebagai pemula, saya masih belajar memerah dengan pompa. Ternyata rasa sakit ini tidak juga membaik setelah beberapa hari pemakaian. Hasil perahan pun hanya bisa setetes-dua saja.

Padahal genggaman si Phillips ini enaaak luar biasa. Empuk dan tidak perlu mengerahkan banyak tenaga. Sayang sekali kami tak berjodoh. 

Selanjutnya perjalanan menemukan pompa terbaik mengarah pada Pigeon Manual. Bersyukur sepupu yang sama-sama baru saja menjadi busui mendapat kado pompa berlebih. Saya mendapatkan satu set Pigeon Manual incaran saya darinya. Segera saja, acara memerah pun menjadi lancar dan menyenangkan. Payudara tidak lagi terasa “penuh” setelah diperah.

Terima kasih, Ummi Mbak Bulan :D

Saya jadi berpikir. Apa kira-kira penyebab  ketidakcocokan dengan Si mungil Avent ini?

Usut punya usut, Si Avent tidak cocok di payudara saya karena ukuran corongnya yang terlalu sempit. Sebelum menyusui Fatha, puting payudara saya bertipe “inverted” alias mendelep. Boro-boro terlihat putingnya, ketika dicoba timbulkan dengan spuit supaya keluar, yang ada malah makin perih. Ternyata setelah tekun menyusui Fatha dan si puting mulai terlihat, barulah ketahuan bahwa ukuran si puting ini cukup besar. Saat memerah dengan Si Avent, bagian dinding corong pompa menggesek permukaan puting hingga perih dan lecet.

Terbayang kan sakitnya. Menyusui anak saja masih dalam tahap belajar, ditambah lecet karena pompa pula.

Ketika akhirnya beralih ke pompa kedua, corong pompa sudah disediakan oleh pabrikannya dalam dua ukuran. Apabila tidak cocok dengan ukuran standar, maka bisa beralih pada ukuran yang lebih besar. Itulah mengapa akhirnya saya lebih merasa nyaman dengan Si Pigeon ini.

Pun ketika akhirnya harus kejar tayang memenuhi kebutuhan ASI perah saat Fatha diinapkan di RS, saya memutuskan membeli Spectra 9+ dengan corong ganda yang bisa dipakai memompa sembari memejamkan mata. Ukuran corong Spectra ini bisa di-upgrade ke ukuran yang lebih besar. Pompa ini sangat membantu ketika saya butuh istirahat namun dikejar target memerah.



Gambar diambil dari web Spectra Baby Indonesia di alamat ini

Apalagi jika kedua corongnya digunakan bersamaan dengan menggunakan handsfree bra, kita bisa melakukan aktivitas lain (mengetik, membaca, atau bahkan tidur-tiduran dalam posisi duduk). Biarkan Sang Pompa yang bekerja.

Memang benar, memilih pompa ASI memang sangat tricky. Salah-salah, hasil perahan tidak bisa maksimal dikeluarkan atau lebih parah lagi, puting jadi lecet.

Berdasarkan pengalaman saya menemukan kecocokan hingga klik dengan pompa ASI yang sekarang ini saya pakai, ada beberapa poin yang bisa ibu-ibu jadikan bahan pertimbangan saat akan berburu pompa, yaitu:

  • Kisaran harga tidak melebihi budget yang dimiliki

Kita sendiri yang paling tahu kondisi keuangan kita. Saat ini pompa ASI memiliki kisaran harga yang sangat luas. Dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Umumnya harga pompa manual lebih murah daripada pompa elektrik. Harga pompa elektrik dengan corong tunggal biasanya juga lebih ekonomis daripada corong ganda.

  • Menentukan jenis pompa, manual atau elektrik

Selain karena pertimbangan harga, memilih pompa manual atau elektrik tentunya didasarkan karena kebutuhan. Berdasarkan info di sini, bagi ibu-ibu yang memiliki frekuensi memerah lebih sering, katakanlah 2-3 jam sekali memang direkomendasikan menggunakan jenis pompa elektrik karena lebih praktis. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan volume hasil perahan yang sama cenderung lebih singkat.

Bagi saya pribadi, ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan sebelum menentukan jenis pompa. Ringkasnya bisa dilihat pada gambar berikut ini.
      

Dari segi kenyamanan, saya lebih memilih pompa manual. Saat harus bepergian ke luar kota, si pompa manual bisa disimpan dalam satu kotak plastik yang tidak terlalu besar.




Saat digunakan pun, saya merasa proses “pengosongan” (dalam tanda kutip, karena kenyataaannya, payudara tidak benar-benar kosong setelah disusukan atau diperah) lebih optimal bila dibandingkan dengan pompa elektrik. FYI, saya memerah dengan teknik hands-on pumping. Penjelasan lebih lengkap ada di sini. Prinsipnya adalah mengoptimalkan kerja pompa ASI dengan pijatan menggunakan tangan.

  • Pastikan ukuran corong pompa pas dengan ukuran puting

Sebelum memutuskan membeli pompa, tidak ada salahnya kita lakukan test drive, mencoba dahulu beberapa jenis pompa incaran. Memang, tidak disarankan bergantian menggunakan pompa karena seperti halnya cairan tubuh lain, ASI pun bisa mengandung kuman penyakit. Menyewa bisa menjadi pilihan jika tujuannya hanya ingin mencoba kecocokan. Lebih disarankan, kita tetap mengganti bagian yang langsung berkontak dengan cairan ASI seperti botol, corong, dan valve dengan yang baru.

Beberapa merk bahkan memberikan fasilitas trial produknya, dengan catatan kita membeli sendiri botol, corong, dan valve-nya.

Bagi ibu-ibu yang tidak memiliki masalah dengan morfologi puting, alias dari sononya sudah terlihat jelas ukurannya, menentukan ukuran corong cukup mudah dilakukan. Cukup dengan memperkirakan apakah puting kita ada di size standar, atau ekstra.

Bila ingin memastikan lebih akurat, siapkan saja penggaris dan ukur diameter puting. Meski proses menyusui bisa memperbesar diameter puting, perubahannya tidak terlalu signifikan.

Diameter puting ini nantinya bisa digunakan sebagai dasar menentukan ukuran corong. Langkah lebih jelasnya bisa disimak di web Medela berikut ini.

Singkatnya menurut Medela, pengukuran puting dilakukan tanpa memperhitungkan bagian areola.


Kemudian pilih ukuran corong sedikit di atas ukuran puting. Medela sudah punya patokannya sendiri sebagai berikut. Merk lain menyesuaikan.



Secara umum berikut ilustrasi yang diberikan Medela mengenai pas tidaknya ukuran puting terhadap corong.



Beruntunglah buibu dengan size standar. Ada beragam pilihan merk pompa. Namun jika kita memiliki size yang tidak pasaran, jangan khawatir. Merk pompa seperti Spectra atau Medela sudah punya banyak variasi ukuran corong, dari XS hingga XL :)

Jika buibu tidak ingin repot mengukur dan menghitung, saran saya, pilihlah pompa yang sudah menyediakan beberapa ukuran corong dalam satu paket pembelian. Pigeon, contohnya.


  • Pilih merk dengan kemudahan mendapatkan suku cadang 

Pemakaian pompa yang terus-menerus memang berisiko beberapa komponennya aus dan harus diganti. Misalkan saja, valve atau katup karet yang bertanggung jawab terhadap kekuatan hisapan pompa. Bagian ini rentan robek terutama jika kita kurang berhati-hati saat mencuci.

Beberapa merk yang saya sebutkan di atas dapat dengan mudah ditemukan di beberapa toko baik online maupun offline. Sayangnya beberapa merk lain bukan hanya susah didapatkan suku cadangnya. Ketika ada toko yang menjual, harganya ternyata hampir sama dengan harga beli satu unit pompa dalam kondisi baru.

Kan sebel :(

  • Memerah sama prinsipnya dengan menyusui 

Poin terakhir, prinsip memerah sama dengan menyusui secara langsung. Supply on demand. Jika ingin hasil perahan banyak, maka frekuensi memerah pun harus teratur. Idealnya, seperti halnya menyusui langsung, memerah ASI bisa dilakukan setiap 3 jam selama ibu berpisah dari bayinya.
Sebagus dan seoke apapun pompanya, jika kita tidak rajin memerah, maka produksi ASI bisa turun drastis.

Jadi, sudah bisa mantap menentukan pilihan ya Bu? Jangan lupa meniatkan ikhtiar kita memerah dan menyusui sebagai bagian dari ibadah, memenuhi hak anak. Semoga dilancarkan dan dimudahkan setiap prosesnya dan sukses menyusui hingga 2 tahun penuh. Aamiin..


Sumber Bacaan

Raisa Angelin. 2018. Tips Memilih Pompa ASI yang Baik dan Sesuai Kebutuhan. Jangan Asal Beli Biar Nggak Merugi. https://www.hipwee.com/wedding/tips-memilih-pompa-asi-yang-baik-dan-sesuai-kebutuhan-jangan-asal-beli-biar-nggak-merugi/ Diakses pada 8 Februari 2019.

Kevin Adrian. 2018. Cara Memilih Pompa ASI. https://www.alodokter.com/pilah-pilih-pompa-asi. Diakses pada 8 Februari 2019.

Robin Elise Weiss. 2018. How to Tell if Your Breast Pump Flanges Fit. https://www.verywellfamily.com/ways-to-tell-if-your-breast-pump-flanges-fit-2758354. Diakses pada 8 Februari 2019.

Medela. 2018. Breast Shield Sizing: How to Get the Best Fit. https://www.medelabreastfeedingus.com/article/143/breast-shield-sizing:-how-to-get-the-best-fit. Diakses pada 8 Februari 2019.

Mengenalkan anak usia dini untuk "melek literasi" sebenarnya tidak rumit. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang m...


Mengenalkan anak usia dini untuk "melek literasi" sebenarnya tidak rumit. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan dan dikemas dalam bentuk permainan, seperti proyek keluarga kami bulan ini.


Proyek diawali dengan merencanakan buku apa yang akan kami tamatkan selama tantangan 10++ hari. Pada perjalanannya, ada  buku yang bisa kami selesaikan sesuai target, ada pula yang sama sekali belum tersentuh. Bahkan ada buku yang justru tiba-tiba lebih menarik perhatian kami.

Apresiasi dalam wujud Pohon Literasi ternyata membangkitkan semangat kami bertiga. Ada rasa puas dan bahagia saat dalam satu hari ada satu helai daun yang berhasil ditambahkan.

Di akhir kegiatan, kami menghitung jumlah total daun yang berhasil "tumbuh". Fatha pun sudah bisa membandingkan mana daun yang mewakili buku bacaan Ayah, Ibu, maupun ia sendiri :)



Sepanjang perjalanan tantangan level ini, sebetulnya kami bertiga sama-sama menikmatinya. Sayangnya Ayah dan Ibu Fatha masih belum mahir manajemen waktu. Kadang kami terlewat tidak dapat mencontohkan konsistensi membaca buku. Dalam hal ketepatan jadwal membaca, Fatha memang juaranya. 

Atau ada juga saat-saat ketika Ibu sudah berhasil menambah bab atau jumlah buku, namun terlewat melaporkan atau sekadar menempelkan helaian daun.

Setelah dikroscek bersama kawan-kawan sekelas-senasib-seperjuangan, sebagian besar merasakan tantangan berat di level ini adalah manajemen waktu. Kapan harus meluangkan waktu membaca dan yang tak kalah penting: menulis laporan :)

Semoga kami berhasil menaklukkan tantangan bulan depan dan seterusnya dengan lebih baik lagi. Tetap semangat membaca semuanya..

Ps: bonus beberapa bloopers dan kejadian di balik kamera saat menjalankan game tantangan level 5



Rentang konsentrasi Fatha yang masih sangat singkat tak jarang memunculkan cerita lucu. Di saat ibu sudah semangat mengajaknya membaca buku, Fatha ingin segera mengakhirinya. Hehehe..



Atau saat perhatiannya teralihkan dengan objek lain ^^


#AliranRasa

#Tantangan10hari 

#GameLevel5  
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst