Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Disclaimer: Ibu Fatha-Nadin bukan seorang konselor laktasi. Kisah tentang perjuangan menyusui yang muncul di sini hanya berdasarkan pengalam...



Disclaimer: Ibu Fatha-Nadin bukan seorang konselor laktasi. Kisah tentang perjuangan menyusui yang muncul di sini hanya berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi dengan beberapa orang yang lebih ahli. Cerita versi sebelumnya sudah pernah ditulis di sini.


Jauh sebelum Fatha-Nadin lahir ke dunia, bahkan sebelum bertemu ayah mereka, aku sudah mulai mencari-cari informasi tentang menyusui. Bergabung dengan grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Facebook adalah salah satunya. Melalui grup itu, aku merasa sangat percaya diri bahwa masalah anatomi payudara yang kumiliki, yaitu inverted nipple, alias puting terbalik, bukanlah halangan untuk memberikan ASI pada buah hati nanti. Meskipun masalah itu terjadi pada kedua payudara, kanan dan kiri, aku merasa optimis luar biasa saat itu.

 

Namun sayangnya, lagi-lagi praktek tak semudah teorinya.

 

Saat Fatha lahir, proses belajar menyusu dan menyusui teramat sulit. Aku merasakan perih dan nyeri di puting, tanda bahwa pelekatan belum sempurna. Nenekku yang tinggal bersebelahan denganku memberikan wejangannya,

 

"Yang namanya menyusui itu pasti sakit, tahan saja," ujarnya setiap aku meringis atau merintih kesakitan. Ego dalam diriku tidak mau terima. Merasa yakin benar bahwa rasa sakit saat menyusui pertanda ada yang salah dengan pelekatan, aku selalu membalas setiap ucapan beliau. Perasaan tidak mendapat dukungan yang memadai ini salah satunya menjadi pemicu baby blues yang kualami.

 

Bulan pertama Fatha lahir adalah saat-saat terberat bagiku. Aku merasa berjuang seorang diri. Beruntung masih ada teman-teman di grup yang memberikan support meski kadang kurasa tidak banyak membantu. Aku membutuhkan solusi yang nyata, pikirku saat itu.

 

Saat usia Fatha seminggu, aku menemui konselor laktasi yang praktek di sebuah rumah bersalin di kotaku. Beliau memberikan solusi yang menenangkan. Trik bagaimana memegang dan menopang payudara dengan teknik C-hold dan memipihkan bagian areola ia berikan, membuatku lebih percaya diri saat mempraktekannya langsung.

 

Sudah berakhirkah deritaku?

 

Sayangnya belum. Setelah kembali ke rumah, aku masih merasa kesulitan melekatkan mulut Fatha ke posisi menyusu yang pas. Aku sampai memvideokan bagaimana Fatha menyusu dan mengirimkan lagi kepada Bu Titik, konselor laktasi yang kutemui sebelumnya.

 

Belum berhasil juga, aku meminta bantuan konselor laktasi di grup Pejuang ASI, Mbak Elya, untuk bisa home visit. Bahkan Mbak Widy, bidan merangkap konselor laktasi di klinik tempatku melahirkan juga akhirnya datang untuk membantu.

 

Rupanya tantangan yang kuhadapi bukan hanya itu. Engorgement alias bendungan ASI mulai muncul. Nyeri dan demam menggigil mulai kurasakan. Belajar memerah dengan tangan untuk mengurangi nyeri sudah kulakukan, tapi nyeri tak kunjung hilang. Pompa ASI yang sudah kusiapkan saat hamil empat bulan tak juga bisa diandalkan. Belakangan aku tahu, ukuran corong pompa tersebut tak sesuai dengan ukuran putingku. Perih yang kualami makin menjadi-jadi. 

 

(Perjalanan menemukan pompa ASI paling cocok versi Ibu Fatha-Nadin sudah pernah dikisahkan di sini)

 

Mbak Intan, bidan yang melakukan perawatan pasca persalinan padaku, sangat-sangat membantu dengan memberikan pijat laktasi. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Setiap selesai dipijat, aku langsung berusaha memerah ASI dengan menahan sakit dan ngilu.

 

Oh ya, saat itu aku masih memegang teguh idealisme bahwa di minggu-minggu pertama bayi lahir, aku harus memperbanyak skin-to-skin contact dan belajar posisi serta pelekatan menyusui. Posisi bayi harus menempel erat pada perut ibu, kepala hingga badan bayi lurus menghadap payudara sehingga bayi pun nyaman mengisap ASI. Mulut bayi mesti membuka lebar dan mengangkup seluruh bagian areola payudara ibu, sehingga isapan berlangsung optimal.

 

Aku belum tertarik memerah ASI, sebenarnya. Fokus perhatianku masih tertuju pada memperbaiki posisi dan pelekatan tadi.

 

Akibatnya, lama-kelamaan produksi ASIku tidak mencukupi kebutuhan bayi. Di kala pelekatan belum juga benar, Fatha tidak mendapat cukup ASI. Aku masih egois tidak mulai meningkatkan produksi ASI dengan memerah ASI. Puncaknya, saat usianya tiga minggu, Fatha harus dirawat di perinatologi karena berat badannya turun drastis hingga 20% dari berat lahir. 

 

Dokter spesialis anak (DSA) yang merawat menyatakan, Fatha nyaris mengalami gagal tumbuh. Saat itu aku diberi tiga pilihan:

 

1. Memberikan Fatha ASI perah dengan volume yang sudah ditentukan oleh DSA melalui perhitungan berat badan bayi saat itu

2. Mencarikan ASI donor untuk memenuhi kebutuhan tersebut, atau

3. Memberikan susu formula berkalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan berat badan Fatha

 

Produksi ASI bisa ditingkatkan dengan menambah demand, misalnya dengan mempersering frekuensi menyusui, atau dengan memerah ASI. Sayangnya karena aku belum melakukannya secara rutin, hasil perahanku tidak mencukupi kebutuhan Fatha. Mencari ASI donor juga tidak semudah itu. Banyak pertimbangan juga untuk mencari ASI donor yang proper, terlebih di kota kecil seperti tempat tinggal kami. Pada akhirnya, aku harus menurunkan egoku dan memilih alternatif terakhir. Tentunya setelah kutumpahkan segala kekecewaanku pada suami karena tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk Fatha. Terlebih, susu formula diberikan dengan menggunakan media dot, media yang sama sekali tidak ideal karena memiliki kemungkinan menimbulkan bingung puting. Apalagi jika sang ibu memiliki anomali bentuk puting.

 

Salah satu kata-kata Bu Titik, konselor laktasi yang mendampingiku saat Fatha dirawat mampu membuat hatiku lebih tertata.

Sekarang saatnya fokus pada memperbaiki berat badan Fatha. Urusan bingung puting, ada yang namanya relaktasi. Yang penting nanti sepulang ke rumah, persering skin-to-skin contact. InsyaAllah Fatha bisa kembali menyusu.

 

Alhamdulillah, empat hari dirawat di perinatologi, berat badan Fatha bisa naik empat ons. Aku yang sudah merasa lebih tenang pun sudah bisa meningkatkan hasil perahan hingga 100 ml setiap kali sesi memerah, setiap dua jam sekali. Fatha masih harus dicukupi kebutuhan ASI-nya dengan ASI perah. Namun perlahan tapi pasti, Fatha kembali bisa menyusu dengan baik. Butuh waktu seminggu untuk relaktasi.

 

Melalui pelajaran berharga dari anak pertama, ada satu hal penting yang kemudian kuterapkan untuk anak kedua, Nadin.

 

  • Belajar pelekatan memang menjadi prioritas, tapi tak ada salahnya mulai belajar memerah ASI.
 
Memerah ASI dengan pompa bisa menjadi salah satu alternatif yang tepat, karena sistem vakum pada pompa bisa merangsang munculnya puting. Meski bayi menyusu pada areola, tak dapat dipungkiri bahwa puting dapat menjadi "pegangan" buat si bayi saat mulai belajar menyusu. Menggunakan spuit yang dibalik atau nipple puller juga bisa menjadi alternatif. Karena aku sadar diri tidak setelaten itu, menggunakan pompa ASI adalah shortcut terbaik untukku.
 
Bonusnya, produksi ASI bisa digunakan sebagai cadangan kebutuhan bayi saat menyusu langsung (direct breastfeeding) belum mencukupi. Bahkan saat anak kedua, alhamdulillah aku tidak merasakan nyerinya bendungan ASI di bulan-bulan pertama, karena ASI bisa diperah sebelum sempat menyumbat saluran payudara.

 Tips lain yang kemudian menjadi bahan perbaikan saat menyusui Nadin, kuceritakan di postingan ini.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa menyusui dengan kondisi flat nipple atau bahkan inverted, sangat mungkin untuk dilakukan. Memang benar, prosesnya luar biasa melelahkan. Namun melihat hasil yang dicapai, semuanya itu layak untuk diperjuangkan.

Terus semangat, wahai Pejuang ASI!


#pekanmenyusuisedunia
#NgasiYuk
#ngasiyukpeduliASI 
#WABA2021

 


  Hai!   Sudah lama rasanya blog ini tidak disambangi. Menjaga konsistensi menulis memang tidak mudah. Sebagai seseorang dengan motivasi eks...


 
Hai!
 
Sudah lama rasanya blog ini tidak disambangi. Menjaga konsistensi menulis memang tidak mudah. Sebagai seseorang dengan motivasi eksternal, tantangan dari luar justru membuatku lebih bersemangat menulis. Pas banget dengan momen Pekan Menyusui Sedunia tanggal 1-7 Agustus 2021 ini, komunitas Ngasi Yuk menyelenggarakan challenge menulis. Hitung-hitung mengabadikan perjalanan menyusui selama ini, bolehlah kita ramaikan acaranya. Hohoho..
 
 
Challenge NgasiYuk dalam rangka meramaikan Pekan ASI Sedunia 2021
Buat yang baru pertama kali berkunjung ke blog ini, kenalkan. Namaku Nita, ibu dari dua anak balita, Elfatha (4 tahun) dan Nadinda (1 tahun). Selain menjadi teman bermain mereka berdua, sehari-hari aku bertugas di sebuah institusi penelitian di sebuah kota kecil di Pulau Jawa. Dengan suami yang harus bekerja di luar kota dan hanya berjumpa sepekan sekali, aku merasa sangat beruntung tinggal di tengah-tengah keluarga besar, yang bisa ikut membantu peran pengasuhan.  
 
It takes a village to raise a child, bukan? Jadi aku merasa, selama komunikasi dengan ibu dan keluarga besar bisa dikondisikan, semuanya akan baik-baik saja. Kondisi ideal adalah kondisi yang bisa kita tolerir. So, aku merasa saat ini adalah kondisi terbaik yang mampu ku-handle.

Oh ya, aku adalah seorang yang ekstrovert dan salah satu bakat alamiku adalah learner. Bisa dibayangkan, seseorang dengan kombinasi keduanya akan sangat bersemangat mengikuti berbagai komunitas dan acara kumpul-kumpul berfaedah yang bisa menambah wawasan. Komunitas Ngasi Yuk yang sudah kuceritakan di atas tadi adalah salah satunya. Pada masa awal menyusui Fatha, Si Sulung, aku merasa sangat terbantu dengan adanya komunitas ini. Di sana kami punya para pakar dan praktisi seperti dokter, ahli gizi, bidan, dan tak lupa konselor laktasi. Tentu saja isi grupnya adalah para ibu (dan calon ibu - yang kini sudah jadi ibu). Tipe pertemanan di sana adalah model-model yang santai dan suportif. Menjaga kewarasan ibu adalah yang utama. Hal itu pulalah yang membuatku betah di sana karena curhatan-curhatan kami akan ditanggapi teman lain tanpa menghakimi :)
 
Ada jeda waktu yang cukup lama dari sejak menikah - aku menikah di akhir usia 20-an - hingga lahirnya anak pertama. Fatha hadir ketika aku dan suami sudah sempat belajar berbagai hal mengenai pengasuhan dan pendidikan keluarga. Sebagai seorang learner, belajar adalah hobiku, kan. Beruntung suami sangat mendukung (Terima kasih, Ayah). Sejak saat itu pun aku berkenalan dengan Ibu Profesional dan Keluarga Kita. Hingga kini masih banyak belajar dari sana dan menjadi salah satu relawannya.

Tapiiiii...

Benar kata orang-orang. Teori sangat berbeda dari prakteknya. Meski aku merasa sudah banyak hal yang kupersiapkan dan kupelajari, ketika harus menjalaninya secara langsung, duh. Macam ujian praktek saja. Deg-degan takut tidak lulus.

Menyusui adalah salah satu ujian kehidupan yang harus kuhadapi. Berbagai macam persiapan sudah kulakukan bahkan sejak belum hamil Fatha. Teman seruanganku di kantor kala itu, Mbak Ayu, punya andil cukup besar dalam persiapan itu. Dia menghadiahiku buku Catatan Ayah ASI sebagai kado pernikahan. Buku yang tetap relevan sampai sekarang, yang membuatku cukup lega, karena tak perlu bingung menimbang-nimbang akan memilih susu formula yang mana. Hehehe
 
Bergabung dengan komunitas pejuang ASI di kotaku, konsultasi dengan konselor laktasi saat hamil juga sudah kulakukan. Namun rupanya, harapan tak selalu seindah kenyataan. Cerita selengkapnya mengenai kisah menyusuiku insyaAllah tayang besok. Tetap simak blog ini yaa..

Salam dari kami bertiga <3

#pekanmenyusuisedunia
#NgasiYuk
#ngasiyukpeduliASI 
#WABA2021
 

Setiap ibu jelas memiliki cerita perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang diberikan mudah mendapatkan keturunan, namun kehamilannya harus be...


Setiap ibu jelas memiliki cerita perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang diberikan mudah mendapatkan keturunan, namun kehamilannya harus benar-benar dijaga karena diharuskan tirah baring. Ada yang kehamilannya lancar jaya, tetapi perjalanan menyusuinya terjal berliku. Seperti kisahku. 

Ya, aku jadi seperti melakukan napak tilas kembali perjalanan menyusui Kak Fatha, sembari menikmati momen menyusui Nadin. Melahirkan di sebuah klinik yang mengusung konsep persalinan alami, kupikir semuanya akan lebih mindful dan mudah. 

Fatha lahir dengan berat 3,1 kg dan tanpa kelainan tali lidah atau mulut. Hari-hari pertama belajar menyusu, aku merasakan sakit yang teramat sangat. Puting perih dan nyeri seakan digigit piranha atau diparut dengan parutan kelapa. 

“Wajar saja, setiap ibu yang baru menyusui pasti merasakan itu,” komentar beberapa orang yang kumintai pendapat.

“Tahan saja, memang itu risikonya jadi ibu,” jawab beberapa perempuan lainnya.

Sebal? Iya. Jengkel? Tentu saja. Sejak sebelum hamil, aku sudah sering mencari informasi mengenai persiapan menyusui anak. Bergabung di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan berdiskusi dengan konselor menyusui bahkan sudah kulakukan di awal pernikahan.

Aku tahu, sakit saat menyusui pertanda ada yang salah. Tapi bagaimana solusinya? Bagaimana cara memperbaikinya yang aku belum tahu caranya.

Kuakui, sejak Fatha lahir, aku ingin semuanya serba idealis. Inginnya belajar memerah ASI dilakukan nanti saja jika pelekatan menyusui Fatha sudah baik dan benar. Kenyataannya, produksi ASI tetap berjalan, padahal Fatha belum bisa melekat dengan benar. Payudara sudah bengkak dan tidak karuan rasanya. Usut punya usut, bentuk kedua puting yang inverted dan besar menyulitkan pelekatan Fatha. 

Awalnya aku optimis dengan bentuk puting payudara. Sepanjang mempelajari persiapan menyusui saat hamil dulu, bayi menyusu di areola. Tak masalah puting akan berbentuk seperti apa. Prakteknya, Masya Allah luar biasa rasanya. Tentu saja bengkak sudah terjadi akibat belum lihai memerah ASI.

Sampai pada akhirnya berat badan Fatha drop menjadi 2,4 kg di hari ke-21. Ikhtiar sudah mengundang dan mendatangi banyak konselor laktasi sempat terasa sia-sia. 

Akhirnya saya membuat janji temu dengan dokter spesialis anak (DSA). 

“Bayi ibu terancam gagal tumbuh,” vonis DSA saat pertama kali memeriksa. Meski beliau mengatakan dengan hati-hati, aku tetap merasa seperti gelegar petir menyambar di siang bolong. Perjuangan pagi siang dan malam-malam tanpa tidur terasa sia-sia.

“Siang ini juga, bayi ibu dibawa ke IGD RSIA supaya bisa diobservasi segera, ya,” instruksi beliau selanjutnya.

Sepanjang perjalanan ke RSIA, perasaanku campur-aduk tak karuan. Aku merasa gagal menjalankan peran sebagai seorang ibu. Beruntung suami selalu menguatkanku. Bahkan ibuku pun turut menuju RS untuk menyemangati kami.

Cek darah dan observasi yang dilakukan tidak menunjukkan indikasi ke arah penyakit tertentu. Artinya turunnya berat badan Fatha murni karena kekurangan asupan gizi. Fatha kurang ASI. Setelahnya, aku diminta memerah ASI untuk diberikan pada Fatha dengan perhitungan kebutuhan berdasarkan berat badan.

Masuk ke perinatologi, aku masih bersikukuh agar perawat memberikan ASI perah (ASIP) melalui sendok atau gelas sloki. Tak rela rasanya anakku dijejali dot yang meningkatkan risiko bingung puting. Apalagi hasil perahanku yang tak seberapa membuat Fatha harus mencicipi susu formula tinggi kalori selama di perina.

Hancur sudah hatiku. Rencana memberikan ASI secara eksklusif hanya tinggal rencana.

Beruntung, konselor laktasi yang mendampingiku saat belajar pelekatan pun praktek di RS tersebut. Bu Titik, sang konselor laktasi memberikan kata-kata menenangkan.

“Yang penting sekarang, BB adik terkejar dulu, Mbak. Nanti saatnya sudah normal, Mbak bisa menyusui langsung lagi. Optimis dan berpikir positif bahwa adik tidak akan bingung puting,” jelasnya.

Long story short, akhirnya BB Fatha bisa kembali ke BB lahir di bulan pertama dan BB terkejar sesuai KMS di bulan ketiga. 

Belajar dari pengalaman menyusui anak pertama, saya sudah mempersiapkan dengan matang saat melahirkan anak kedua. Seperti misalnya memerah ASI sejak awal melahirkan. Khawatir jika BB Nadin drop, dapat dengan mudah disuplementasi ASIP.

Qodarullah, manusia cuma bisa berencana, Allah yang menentukan hasilnya. 

Nadin ternyata terlahir dengan lip tie. Hal ini mempersulit proses pelekatannya di payudara. Dan baru diketahui saat kontrol 1 bulan di DSA karena BB tidak naik signifikan. 

Tidak separah Fatha memang. Nadin terlahir dengan BB lahir 3,25 kg. Minggu pertama BB turun jadi 3 kg dan belum juga naik di minggu ketiga. Setelah satu bulan, BB hanya naik 4,5 ons menjadi 3,7 kg. Masih kurang dari kenaikan berat minimal. Tapi setidaknya, kenaikannya sudah jauh lebih OK karena pelekatan sudah bisa lebih baik. 

Alhamdulillah kali ini aku lebih percaya diri karena sudah punya tabungan ASIP. Dengan suplementasi ASIP, BB Nadin perlahan mulai terkejar. Saat tepat di usia tiga bulan, beratnya sudah kembali sesuai tren pada KMS. Berita baiknya, aku berhasil menghindari susu formula untuk Nadin. Hal yang tak bisa kulakukan untuk Fatha.

Meski kutahu benar, susu formula bukan racun. Pada satu saat, ketika ada secara medis atau kondisi tertentu ASI dan ASIP tidak dapat diberikan, susu formula merupakan alternatif yang aman untuk diberikan.

InsyaAllah ujian-ujian seperti itu membuatku jadi lebih menghargai proses perjuangan Ibu. Salut juga buat anak-anak yang InsyaAllah tumbuh jadi anak tangguh karena sudah dihadapkan pada masalah sedari dini. Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kalian, anak-anakku.

Masa kecilku tak lepas dari buku. Rasanya, sepanjang ingatanku, buku identik dengan prestasi. Pasalnya, Mama akan memberikan kami - aku dan ...




Masa kecilku tak lepas dari buku. Rasanya, sepanjang ingatanku, buku identik dengan prestasi. Pasalnya, Mama akan memberikan kami - aku dan adik laki-lakiku - hadiah berupa buku jika kami berhasil menjadi juara kelas. Apabila meraih peringkat satu di kelas, maka kami berhak mendapatkan tiga buah buku. Jumlah itu akan berkurang seiring turunnya peringkat. 

 

Aku masih ingat, hanya ada satu buah toko buku kecil di kota kami. Toko Buku Gramedia yang tidak bertahan lama berdiri. Setiap usai penerimaan rapor, Mama dan Papa akan membawa kami ke sana, meminta kami memilih buku kesukaan masing-masing.

 

Aku tahu persis, budget membeli buku Mama Papa sangat terbatas. Tetapi jika menyangkut pelajaran, bagaimana pun caranya mereka akan berusaha membelikan. 

 

Menyadari bahwa koleksi buku di rumah terbatas, sedangkan keinginan membaca sangat besar, aku sering berkunjung ke perpustakaan sekolah atau bermain ke rumah kawan-kawan sekolahku. Ada dua sahabat masa kecilku yang kuingat memiliki rak buku penuh dengan set Widya Wiyata atau novel karangan Enid Blyton. Setiap hari sepulang sekolah, selalu kusempatkan jalan kaki menuju rumah mereka, hanya untuk memenuhi hasrat membaca.


Oh ya, kami juga berlangganan Majalah Bobo kala itu. Majalah Bobo yang terbit tiap minggu, hanya dapat terbeli sebulan sekali, Bisa dibayangkan, bukan, kami kesulitan mengikuti cerita bersambungnya karena tidak rutin membaca tiap terbitan.

 

Hingga di bangku SMA, aku masih membaca Majalah Bobo ini. Kali ini giliran adik bungsuku - yang usianya selisih sepuluh tahun dariku - yang berlangganan. Aku masih dapat menikmati beberapa rubrik di dalamnya. Ya, walapun aku merasa sudah banyak perubahan terjadi. Makin banyak isi tentang idola anak-anak pada masa itu. Macam poster Coboy Junior, atau artis-artis anak yang tidak kuikuti perkembangannya.

 

Memasuki masa kuliah, bacaanku beralih ke Majalah Annida. Mbak Helvy Tiana Rosa dan adiknya, Asma Nadia, serta beberapa penulis lain seperti Ifa Avianty yang menjadi penulis favoritku kala itu. Mengalami beberapa kali pergantian genre favorit, sampai akhirnya sekarang aku kembali menggemari buku anak-anak. Apalagi jika bukan karena ingin membahagiakan anak-anak :)

 

Kisah-kisah anak-anak perempuan di Asrama Malory Towers atau Petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, Petualangan para detektif STOP karya Stefan Wolf, Kisah Hardy Boys tulisan Franklin W. Dixon, hingga karya-karya dalam negeri seperti buku karangan Arswendo Atmowiloto. Apalagi kalau bukan Serial Noni, Imung, dan Keluarga Cemara. Aku bahkan sempat berbuku ke toko buku loak untuk mendapatkan koleksi-koleksi lama itu. Beberapa hari yang lalu, aku bahkan sudah melengkapi koleksi Laura Ingals Wilder yang terkenal dengan Serial Little House on The Prairie. Duh, bahagia rasanya bisa melalap habis buku-buku penuh kenangan itu.

 

Saat ini, Fatha dan Nadin sudah memiliki satu buah rak buku yang diisi dengan koleksi buku Halo Balita dan Confidence in Science. Membaca seri CIS mengingatkanku pada Widya Wiyata di masa kecilku dulu. Belum termasuk buku-buku hasil buruan Big Bad Wolf, tentunya. Aku berharap, mereka bisa mencintai buku sebagai sumber ilmu. Belajar karena suka dan butuh, bukan karena keterpaksaan.

 

Oleh sebab itu, aku merasa luar biasa bahagia ketika beberapa hari yang lalu, Fatha berujar,

 

"Bu, aku kok belum bisa baca ya," saat ia membuka-buka halaman surat kabar.

 

Mengenalkan huruf dan kata menjadi lebih menyenangkan karena keinginan langsung dari dalam dirinya. Semoga kalian menjadi anak-anak pintar nan bijaksana yang sayang-sayangku..

Jalan-jalan menjadi salah satu cara rekreasi yang menyenangkan bagiku dan suami. Sejak awal menikah, kami sering meluangkan waktu sekadar be...



Jalan-jalan menjadi salah satu cara rekreasi yang menyenangkan bagiku dan suami. Sejak awal menikah, kami sering meluangkan waktu sekadar berjalan-jalan keliling kota, atau staycation di kota sebelah. Terlebih saat aku masih menyelesaikan kuliah di Yogyakarta, rasanya hampir tiap bulan suami mendatangiku untuk liburan. Sunday morning di lingkungan kampus menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Sunday morning adalah semacam pacar tiban yang Kami membeli beraneka macam jajanan mulai dari yang lazim dijual, seperti sosis bakar, es potong, es goreng, zuppa soup, otak-otak, hingga yang unik macam es krim pot atau cappuccino cincau.

 

Setelah Fatha lahir, agenda rutin kami setiap akhir pekan adalah keluar rumah. Berjalan kaki di alun-alun kota, mengikuti car free day sambil (lagi-lagi) mencicipi beraneka ragam kudapan. Terakhir kami melakukan quality time seperti ini adalah sesaat sebelum pandemi. Saat perutku masih besar, kami berolahraga sembari cuci mata dan memanjakan lidah. Beberapa kali festival kuliner pun tidak kami lewatkan. 

 

Sayang, pandemi Covid-19 kemudian melanda. Kami terpaksa harus menghabiskan seluruh waktu di rumah saja. Sejak cuti dan melahirkan pada Bulan Maret 2020, jalan-jalan kami hanya pada saat kontrol atau vaksinasi Nadin. Bulan Juni aku mulai work from office alias WFO, rasanya keluar rumah menjadi sangat tidak aman.

 

Waktu berlalu, hingga kemudian new normal alias adaptasi kebiasaan baru diberlakukan. Tetap saja, rasanya masih menakutkan membawa anak keluar rumah tanpa tujuan yang benar-benar penting. Beberapa kali kami membawa Fatha berkeliling kota, namun hanya untuk memberinya kesempatan melihat pemandangan berbeda. Kami pun tetap berada di dalam mobil. Kadang belanja bulanan di supermarket kami lakukan tidak di awal bulan untuk mencegah kerumunan dan antrian panjang. Tak lupa kami mengajak Fatha sehingga ia bisa ikut merasakan suasana berbeda.

 

Memang benar, saat ini tempat yang paling ingin kami tuju tidak spesifik menunjuk lokasi tertentu. kami hanya ingin bisa keluar rumah dengan tenang dan merasa aman. Tanpa perlu mengkhawatirkan kuman-kuman penyakit yang siap mengintai dan menginfeksi. Kami sangat berharap pandemi segera berakhir...

   "Aduh, aku lupa pake sunscreen ," ceplosku pagi ini setiba di ruangan. Padahal sepagian ini aku sudah berkeliling kantor. Beber...

 


 "Aduh, aku lupa pake sunscreen," ceplosku pagi ini setiba di ruangan. Padahal sepagian ini aku sudah berkeliling kantor. Beberapa rekan kerjaku tertawa geli. Mungkin karena dianggapnya, kok lebay, mempermasalahkan hal sepele. Hehehe..

Bagiku, menggunakan skincare adalah bagian dari mencintai diri sendiri. Merawat tubuh yang sudah diamanahkan Allah adalah sebuah kewajiban, seperti halnya makan makanan yang bergizi, cukup tidur, dan berolahraga secara rutin.

Jika diingat-ingat lagi, sejak kecil orang tuaku sudah sering mengajarkan bagaimana cara merawat dan mencintai diri sendiri. Bukan hanya secara fisik, Mama juga mengingatkanku untuk tetap memperhatikan kebutuhan sendiri, sebelum memikirkan orang lain.

Awalnya pesan Mama kuanggap egois. Hidup di dua rumah, bersama Yangti di pagi hingga siang hari, dilanjutkan sore dan malam bersama kedua orang tua, membuatku terbiasa hidup dengan standar ganda. Yangti terlihat sebagai sosok ideal yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Beliau terlihat sangat sempurna di mataku dan para tetangga.

Mama menganut prinsip yang berbeda. Membantu orang lain boleh, namun setelah memenuhi kebutuhan diri sendiri. Misalnya, kami memasak sepanci penuh gulai daging. Jika ingin memberikan pada tetangga, pastikan keluarga sudah mendapatkan dahulu bagiannya.

Bertahun-tahun aku mengidolakan Yangti karena terlihat begitu baik seperti malaikat. Semua berubah ketika pada akhirnya aku berkeluarga dan memiliki anak. Suatu ketika aku membawa pulang nasi kotak dari kantor berisi ayam bakar. Pikirku, bisa dimakan oleh Fatha.

Rupanya Yangti menemukannya lebih dahulu dan memberikannya pada tetangga dengan alasan,

"Anak kecil jangan dibiasakan makan ayam ras. Lebih baik masakkan untuknya ayam kampung."

Aku hanya tertegun dan sempat ada perasaan dongkol kala itu. Maksud hati ingin memberikan menu spesial buat si kakak, apa daya sudah disabotase terlebih dahulu. Hehehe

Akhirnya aku menelaah kembali cerita-cerita Mama sebelumnya. Sepertinya aku lebih cocok dengan pemikiran beliau. Kita memang harus sudah selesai memikirkan diri sendiri sebelum memikirkan orang lain. Selesai mencintai diri sendiri, baru kemudian mencintai orang lain...

 Judul di atas merupakan filosofi yang sering diucapkan teman-teman seperjuangan saat menemui kendala dalam pengasuhan anak, terlebih saat o...



 Judul di atas merupakan filosofi yang sering diucapkan teman-teman seperjuangan saat menemui kendala dalam pengasuhan anak, terlebih saat orang lain dirasa mulai mencampuri ranah tersebut. Sampai saat ini saya mempercayai filosofi itu. Akan tetapi dalam perjalanannya, saya sering mendapati beberapa kesulitan menemukan sejauh mana batasan parenting yang akan diterapkan untuk putra-putri kami, Fatha (3 tahun) dan Nadin (7 bulan).

***


Peran ganda sebagai seorang ibu dan pekerja, kadang membuat saya minder, dan merasa tidak seberuntung ibu-ibu dengan kesibukan di ranah domestik. Ada kekhawatiran putra-putri kami tidak terpenuhi hak-haknya dengan baik. Terlebih kondisi long-distance marriage membuat frekuensi pertemuan dengan suami hanya bisa dilakukan sepekan sekali.

Beruntung, suami adalah tipe orang yang kooperatif, terutama dalam membangun visi dan misi keluarga. Bersama suami, kami berdua sama-sama senang belajar terutama untuk kebutuhan pengasuhan Fatha dan Nadin.

Awalnya saya tipe orang yang mudah galau ketika ada seminar menarik, atau melihat tinjauan mengenai buku-buku yang dianggap bagus untuk anak. Keinginan untuk mengikuti, membeli, dan melahap habis semua materi tersebut sering tak dapat dibendung. Ingin rasanya menerapkan semua ilmu tentang pengasuhan anak yang tersebar di jagad maya.

Alhamdulillah semenjak memperbaiki metode komunikasi bersama suami, saya makin mampu menetapkan hati pada model pengasuhan anak. Tetap berpegang teguh pada visi dan misi keluarga yang sudah ditetapkan sehingga makin mudah menentukan model pengasuhan yang sesuai. Saya sudah tidak mudah galau dengan arus informasi yang saya dapatkan dari mana-mana karena sudah tahu ke mana keluarga kami akan dibawa. Kami sudah menentukan mana prioritas yang akan dipilih dan model pengasuhan seperti  apa yang akan diterapkan. Hal yang terpenting adalah fokus pada kebutuhan anak dan tidak perlu membandingkan dengan anak lain. Tugas ibu adalah mengarahkan dan mendampingi anak belajar.

Bahkan saya merasa suami makin mendukung langkah mengikuti berbagai kelas pengembangan diri. Beliau selalu menyempatkan waktu mendiskusikan tugas-tugas yang harus dikerjakan bersama. Mungkin suami pun merasakan perubahan: saya tak lagi mudah uring-uringan dan makin santai ketika mendapati hal-hal berjalan tidak sesuai rencana.

Saya merasakan kehidupan makin tertata rapi, apalagi semenjak belajar mengenai bullet journal.  Agenda kegiatan saya pastikan tercatat rapi, bukan hanya untuk kegiatan kantor, namun juga untuk aktivitas utama di rumah.


Ada tugas utama yang saat ini harus bisa saya kuasai. Ilmu mengenai manajemen waktu dan emosi merupakan pekerjaan rumah agar saya bisa menyeimbangkan kedua “dunia” yang saat ini saya tekuni, yaitu sebagai ibu dan pekerja. Semoga Allah meridhoi tiap langkah ikhtiar untuk kebaikan keluarga kami. Aamiin.

Ada perkataan yang menyatakan, “Jadi ibu itu harus kuat, tidak boleh sakit. Kalau sakit, siapa yang akan mengurus anak, suami, rumah, da...


Ada perkataan yang menyatakan,

“Jadi ibu itu harus kuat, tidak boleh sakit. Kalau sakit, siapa yang akan mengurus anak, suami, rumah, dan bebenah?”

Ada benarnya, namun aku tak sepakat seutuhnya. Sebagai ibu yang sehari-hari bekerja di luar rumah, pulang dan menemani anak-anak adalah saatnya melepas penat. Melihat segala macam ulah dan tingkah mereka dari yang lucu-menggemaskan hingga membuatku menarik napas menyabarkan diri harusnya bisa membuatku lebih bersyukur.

Tiga bulan cuti pasca melahirkan saat pandemi melanda dunia, membuatku cukup merasakan lelahnya menjadi ibu yang bekerja di ranah domestik. Setiap hari selama 24 jam selalu berhadapan dengan suami dan anak, tentu menemui saat-saat blunder, komunikasi tidak berjalan baik, salah paham, lelah, dan saat-saat kritis hingga konflik tak dapat dihindarkan.

Tentu, aku tetap bersyukur dapat merasakan hal-hal seperti itu. Bertemu setiap hari dan setiap waktu adalah sebuah keistimewaan mengingat selama tujuh tahun sebelumnya aku hanya dapat berjumpa sepekan sekali dengan suami. Mendampingi anak bermain dan belajar juga hanya dapat kulakukan setiap sore-malam-hingga sebagian pagi saja. Kecuali saat akhir pekan.

Saat-saat seperti itu membuatku makin mengagumi para ibu rumah tangga, ibu-ibu yang bekerja di ranah domestik, ibu-ibu yang selalu bisa mendampingi anak-anak setiap saat. Bisa kubayangkan bahwa dalam keadaan lelah, lapar, atau mengantuk, sedangkan si anak masih ingin bermain, tentu perjuangan berat untuk tetap menjaga mood stabil.

Padahal menurut pengalamanku, lelah, lapar, dan mengantuk adalah tiga kondisi yang amat sangat bisa memancing amarah dan emosi negatif. Sulit berpikir jernih, hingga kadang bisa mengeluarkan perkataan atau tindakan yang disesali kemudian.

Jadi, jika emosi sudah mulai sulit dikendalikan, waktunya bagiku untuk mengalokasikan me-time. Bisa dengan menitipkan si kecil pada ayah atau uti, lalu aku akan pergi mandi. 

Yang tiap hari kulakukan, pulang kantor sambil melewati jalanan berbeda juga menjadi salah satu me-time buatku. Tidak perlu terlalu muluk seperti pergi ke salon atau belanja, hehehe..

Yang pasti, sampai di rumah, kondisiku sudah harus dalam keadaan kenyang sehingga siap menghadapi anak-anak dan berbagai tugas domestik dengan bahagia.

Jadi, bolehkah ibu sakit, atau jeda sejenak dari rutinitasnya sebagai seorang ibu? Tentu saja boleh. Sejenak, ibu perlu waktu. Apalagi jika setelahnya, ibu hadir dengan energi dan semangat berlipat.

Semangat, wahai para ibu..

 

Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan N...





Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan Nadin. Fatha masih menunjukkan tanda-tanda cemburu jika Nadin sedang bersama denganku. Praktis, ayahnya akan membersamainya selalu.


Sebelumnya, akhir pekan menjadi waktu kami bertiga bersenang-senang bersama, piknik ala kadarnya di alun-alun atau hutan kota. Sejak pandemi terjadi, hari libur difokuskan menjadi waktu beberes rumah. Segala “kekacauan” yang terjadi di hari kerja harus dibenahi saat aku dan suami full berada di rumah. Akibatnya, waktu berkualitas antara kami berdua nyaris tidak ada lagi. Pesan-pesan singkat di WA yang sebelumnya “berwarna-warni”, sekarang menjadi monoton seperti,


“Kalau pulang, nitip sabun dan sampo sekalian ya, Yah,” atau


“Besok pulang awal ya, Yah. Jadwal Nadin imunisasi. Fatha tidak ada temannya.”


Jarang sekali aku menemukan kalimat-kalimat gombal a.k.a. mesra atau humor-humor yang terselip di antara percakapan kami berdua.


Sampai pada akhirnya, pelatihan Relawan Keluarga Kita alias RANGKUL membahas mengenai hubungan reflektif. Ada salah satu peserta yang berbagi pengalaman tentang hubungannya dengan anaknya. Ketika sang ibu masih belum tuntas dengan dirinya sendiri, ada saja emosi negatif yang berimbas pada anak. Aku jadi merefleksikan pengalaman itu pada diriku sendiri. Saat ini aku sudah bisa mengendalikan emosi ketika menghadapi si kecil. Nada tinggi sudah mulai jarang terdengar. Kuncinya aku sudah cukup makan, istirahat, atau tidur, saat menghadapi mereka.


Namun hubungan dengan suami masih jadi tugas besar yang harus segera diselesaikan.


Berbekal ilmu yang aku dapatkan dari pelatihan kemarin, berikut langkah yang coba aku lakukan:


1. Menyusun strategi dan menentukan waktu untuk bisa berbicara berdua saja dengan suami. Berhubung saat ini kami sedang terpisah jarak, aku membuat semacam undangan dengan bantuan Canva untuk private session yang kuberi judul “Sesi Ngobrol Asyik The Saputros”. Saputro adalah nama belakang suami. Harapannya, aku dan suami bisa menyampaikan hal-hal yang mengganjal serta menemukan solusi bersama. Tentunya dikemas dengan lebih seru supaya tidak kami jadikan sebagai beban.


Konsep sesi curhat ini mengadaptasi dari podcast atau siniar milik beberapa orang selebgram yang aku ikuti, seperti Fitri Tropica (Fitrop) dan Nycta Gina. Seru sekali mendengar obrolan mereka bersama suami. Ngobrol dengan bahan diskusi yang ringan, namun bisa menarik untuk terus disimak.


Nah, jika cerita keluarga lain saja menarik untuk disimak, apalagi kisah keluarga sendiri, bukan?


2. Menyampaikan maksud baik tersebut pada suami dengan menggunakan teknik I-message. 


Apa itu teknik I-message?

Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara.


Formatnya adalah “Aku merasa… saat…. Aku ingin… karena…”.


Contoh I-message yang kusampaikan pada suami seperti berikut,


“Yah, sepertinya akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua, ya. Nanti sore ayah ada waktu pukul berapa? Yuk, kita ngobrol bareng. Aku seneng banget kalau bisa ngobrol sama ayah, soalnya sering dapat pencerahan, atau setidaknya bikin perasaan lebih lega.”


Tak lupa kukirimkan gambar undangan private session yang sudah kubuat sebelumnya. 


Persiapan Sesi Curhat dengan Lima Teknik Komunikasi 

Keesokan malamnya, Sesi Curhat atau Private Session atau Sesi Ngobrol Asyik The Saputros akan dilangsungkan. Nah, supaya lebih greget dan berkesan, aku mempelajari kembali lima teknik komunikasi yang sudah kubaca sebelumnya.


1.    Menggunakan I-message. Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara. Contohnya sudah dibahas pada postingan sebelumnya.


2.    Mengungkapkan kebutuhan diri. Misalkan dengan menyampaikan bahwa aku butuh dukungan suami untuk mencari solusi bersama.


3.    Mengungkapkan maaf. Jika ada kesalahan yang sudah diperbuat, tentu saja tak perlu gengsi menyampaikan permohonan maaf.


4.    Mengajak bersepakat. Di akhir sesi curhat, aku berencana mengajak suami untuk mencapai kesepakatan bersama. Apa rencana aksi yang akan kami lakukan.


5.    Menunjukkan apresiasi. Seperti apapun acara berjalan, berhasil atau tidak berhasil, menemukan solusi atau tidak, aku tetap harus menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih pada suami karena telah mendengarkan dan aktif berdiskusi.


Rencananya diskusi akan berlangsung melalui aplikasi Whatsapp Call. Aku sudah meminta izin pada suami untuk merekam diskusi kami. Rasanya sudah tak sabar menunggu malam itu.


Saat eksekusi, awalnya sempat ada sabotase dari Kakak,


"Ibu, aku mau ngobrol dengan ayah," dan sesi ngobrol tertunda hingga dua jam berikutnya. Hehehe..


Semoga saja acara ini bisa berlanjut dalam beberapa episode. Entah tiap minggu, dua minggu, atau sebulan sekali, akan sangat berkesan dan bermanfaat bila konsisten dijalankan.