Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan maina...

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan mainan, mandi, makan, atau menyikat gigi.

Mengingat kembali prinsip CINTA yang baru saja kupelajari lewat program pelatihan Relawan Keluarga Kita (RANGKUL), aku mencoba merefleksikan keadaan dan mengurai satu persatu masalahnya. Oh ya, sebelumnya mari berkenalan dengan prinsip CINTA.

Setiap orang tua pastilah mencintai anak-anaknya dengan jumlah yang besar. Namun kadang, cara mencintainya masih belum tepat. Mencintai, namun menimbulkan luka di hati sang anak. Cara mencintai yang benar diajarkan lewat prinsip cinta ini:

C: cari cara

Pengasuhan adalah perjalanan jangka panjang yang membutuhkan proses dan pembelajaran yang tidak instan, baik bagi orang tua maupun anak. Untuk mencapai tujuan pengasuhan, dibutuhkan pemahaman orangtua atas kondisi anak secara menyeluruh, yaitu usia, tahap perkembangan dan sifat bawaan anak. Dalam pengasuhan, orangtua perlu bersikap fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi pada anak saat kejadian berlangsung.

Ketika muncul masalah, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu menginisiasi pengumpulan informasi dengan cara observasi; menggali informasi dengan diskusi dari hati ke hati; dan mencari beberapa alternatif solusi tindakan atau perlakuan apa yang bisa digunakan dan memilih yang termudah.

I: ingat impian tinggi

Ada perasaan iba dan kasihan ketika melihat anak kesulitan mengerjakan tugas sekolahnya. Jika ingin mengambil jalan pintas, orang tua akan bertanya dan membantunya mengerjakan. Tapi mengingat impian tinggi, tentu saja kami berharap anak akan mandiri ke depannya. Untuk itu yang kami lakukan adalah bertanya dan mencoba berempati dengan kesulitan yang ia hadapi. Langkah selanjutnya adalah meminta izin dan mengajaknya mencari jawaban bersama-sama sambil menyemangati bahwa dia pasti bisa mengerjakan. Tak perlu takut salah.

Fatha, anak pertama kami, berusia tiga tahun. Anak usia tiga tahun senang diperhatikan. Ternyata inilah alasan mengapa Fatha suka sekali memanggil kami orang tuanya untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.

Fatha butuh dibacakan buku, namun sudah mampu memahami isinya dan mampu menceritakan kembali, berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari. Fatha juga suka sekali bercerita. Apalagi jika malam menjelang tidur. Ternyata tidak boleh memotong pembicaraannya karena akan melukai egonya. Untuk itu kami perlu mencari cara bagaimana mengajaknya tidur sesuai rutinitasnya tanpa menyakiti hatinya dengan memotong pembicaraan.

N: (me)nerima tanpa drama

Anak masih terus belajar mengelola emosinya. Untuk itu, sudah seharusnya orang tua yang belajar mengendalikan emosi, dan bukan justru terpancing dengan ulah anak.

Contohnya, saat anak usia sekolah merasa lelah dengan aktivitas belajar. Sehari-hari ia sudah disibukkan dengan les, dan menjelang ujian diminta oleh ibunya mempersiapkan diri dengan membaca bab 1-3 pelajarannya. Ibu tentu ingin anak mendapatkan hasil terbaik bagi anaknya. Namun menurutku, ada baiknya jika ibu mengabulkan sejenak keinginan anaknya untuk bermain dengan batasan waktu, lalu meminta komitmennya untuk kembali ke rumah dalam kondisi siap belajar kembali. Mungkin lain waktu, anak perlu dimintai pendapat, bagaimana model belajar yang ia sukai, termasuk bicara dari hati ke hati mengenai minat belajarnya.

Sebagai orang tua, kami akan mengizinkan anak untuk bermain dengan batasan waktu, misalkan hanya satu jam. Lalu setelahnya, anak harus segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap belajar lagi. Di lain waktu, kami akan mengajaknya bicara dari hati ke hati mengenai model belajar yang ia sukai dan ke mana minat belajarnya.

Berpikir bahwa untuk kepentingan anak, orang tua tidak boleh langsung emosi dan menyalahkannya. Kami harus tetap berkepala dingin, melakukan kontak fisik seperti memeluk atau mengelus kepalanya. Jika ia sudah siap, baru kami akan menjalankan strategi bicara dari hati ke hati untuk menemukan akar permasalahannya 

T: tidak takut salah

Berbicara tentang kesalahan, ada tiga hal yang langsung muncul dalam pikiranku: kesalahan sangat mungkin terjadi, bisa diperbaiki, dan berusaha tidak mengulangi. 

Saat menemukan kesalahan, jika menyangkut orang lain, tentu akan ada perasaan bersalah. Sebaliknya, jika menyangkut diri sendiri, tentu akan ada perasaan, "mengapa bisa terjadi? mengapa saya tadi seperti itu?" Namun kembali, aku harus tetap bisa mengelola emosi dan tidak malah makin menyalahkan diri sendiri.

Respon yang kemudian muncul pun berbeda. Jika menyangkut diri sendiri, maka aku akan segera mencari akar penyebab dan mencari cara untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan. Setelahnya, aku akan mencari cara untuk mencegah kesalahan tersebut terulang. Jika menyangkut orang lain, tentu saja ada perasaan bersalah. Untuk itu, yang dilakukan pertama kali adalah meminta maaf. Selanjutnya perlu refleksi seperti yang kutulis sebelumnya.

A: asyik main bersama

Bermain adalah melakukan aktivitas menyenangkan dan bersifat rekreasi. Bermain bersama adalah cara efektif untuk membuat anggota keluarga lain merasa keberaadaannya dihargai dan dianggap penting. Pengalaman ini akan berdampak positif pada kualitas hubungan.

Humor efektif untuk membantu mengurangi ketegangan dan melihat suatu kondisi (misal: krisis keluarga) dengan lebih positif. Humor dan bermain menjadi memori yang berarti dan melekatkan hubungan.

Ada tiga hal yang langsung hinggap dalam pikiranku jika berbicara tentang “bermain”, yaitu: hangat, seru, dan akrab. Tiga aktivitas ini juga jadi andalan untuk melakukan waktu berkualitas bersama keluarga: berkumpul di kamar atau ruang keluarga, asyik bercerita dan saling menimpali , makan bersama, Jalan-jalan bersama

Kembali pada prinsip CINTA dan mencintai secara lebih baik, kemarin aku berusaha untuk tidak menggunakan nada tinggi dan memerintah Fatha untuk membersihkan remah-remah makanan yang ia tumpahkan.

Aku mulai menggunakan prinsip kelima, “asyik main bersama”.

“Kak, mau dengar cerita ibu?” tanyaku memulai strategi. Mata Fatha berbinar dan mulai mendekatiku.

“Ada semut-semut kecil yang sedang menuju kamar kita. Mereka berlarian sambil berkata, ‘lihat, ada makanan di sana. Ayo kita ambil’, ucap semut paling besar. Ih, itu, semutnya sebentar lagi datang. Kita bersihkan dulu remah-remahnya supaya para semut tidak jadi datang, ya,” aku berusaha bercerita sedramatis mungkin.

Sesuai ekspektasiku, Fatha langsung mengambil remah-remah coklat dan meletakkannya ke tanganku.

“Ayo kita buang, Bu”.

Aku tersenyum sembari mengucap syukur. Berkurang satu drama dan konflik hari ini.

 

Sumber bacaan:

Najelaa Shihab. Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik. Cetakan Keempat. 2020. Penerbit Buah Hati: Jakarta.



  Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar,...

 


Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar, workshop, maupun pelatihan, rasanya ingin segera kusambar saja.

Mengenal Rangkul - Relawan Keluarga Kita sejak tahun 2017, aku merasa nyaman saat mengikuti sesi bicara rangkul alias sesi curhat. Sempat vakum beberapa saat, akhirnya aku mengikuti Sesi Rangkul kembali pada tahun 2020. Nadin, anak keduaku, sudah lahir kala itu. Suamiku memberikan restu sepenuhnya, ketika sempat mencuri dengar sesi curhat yang dilakukan secara daring.

"Aku suka kalau kamu sering ikut acara seperti ini, Yang," ungkapnya beberapa saat kemudian.

"Kenapa?" tanyaku penasaran, meski sudah mengetahui alasannya.

"Karena setelahnya, kamu jadi berkali lipat lebih ceria dan bahagia," lanjutnya.

Bagaimana tidak bahagia jika perempuan dengan kuota 21.000 kata per hari diberi kesempatan menyalurkan uneg-unegnya. Hohoho..

Singkat cerita, aku mengantongi lisensi dari suami untuk mengikuti rangkaian pelatihan menjadi relawan Keluarga Kita alias Rangkul. Alhamdulillah, seleksi pertama lolos, sehingga aku dapat melanjutkan seleksi berikutnya menjadi Rangkul berupa tiga bulan pelatihan secara daring.

Bahagia, bukan? Aku yang biasanya sering terkendala waktu dan lokasi yang jauh di daerah, saat ini bisa mengakses ilmu dan wawasan dengan lebih mudah di tengah kesibukan bekerja dan menjadi ibu.

Tentang Rangkul

Rangkul adalah relawan penggerak pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya, atau disingkat Keluarga Kita. Tujuan utamanya adalah menciptakan keluarga Indonesia yang berdaya dengan meningkatkan kapasitas orang tua.

Ada kurikulum yang diterapkan dalam Keluarga Kita dan tidak akan saya bahas di sini. Pelatihan baru berlangsung dua hari, soalnya. Jadi, saya belum bisa merangkumnya. Hihihi.

Pertemuan kedua ini, kami diajarkan bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. Fasilitator harus memperhatikan hal-hal berikut, di antaranya penampilan baik, rileks, menjaga kontak mata, menyesuaikan intonasi dan pace suara atau tempo, dan mendengarkan sepenuh hati.

Selain sharing materi, beberapa peserta diberi kesempatan praktek. Sayang sekali aku belum mendapatkan kesempatan itu. But it's okay. Yang penting latihan jalan terus.

Teknik Berbagi Pengalaman

Yang menarik, kami juga diajarkan cara berbagi pengalaman alias sharing alias curhat, dengan baik dan benar. Beberapa kali mengikuti Sesi Bicara Rangkul, aku baru ngeh sekarang jika tanggapan kakak-kakak fasilitator memang menggiring kita untuk melengkapi skema curhat tersebut menjadi lengkap dan dapat diambil hikmahnya.

Contohnya begini,

Berbicara pengasuhan, ada ketakutan untuk tidak dapat bersikap adil kepada kedua anak saya. Fatha, 3 tahun, sering meminta saya menemaninya sepulang kerja. Kondisi lelah, lapar, dan mengantuk, kadang membuat saya tidak cukup sabar mengabulkan permintaannya. Apalagi ada Nadin yang baru berusia 6 bulan meminta jatah nenen jika sudah mendengar suara ibunya.

Saya merasa bersalah, mudah terpancing amarah padahal sebenarnya Fatha tidak bersalah. Mungkin energi dan pikiran saya yang terkuras oleh pekerjaan kantor membuat saya berlaku seperti itu.

Akhirnya saya meminta bantuan Uti untuk bisa menghandle Nadin dengan memberikan ASI perah, sementara saya menenangkan Fatha. Tentu tidak langsung berhasil. Kadang Fatha ngambek, atau Nadin menangis kencang mencari ibunya.

Saya berencana untuk membuat kesepakatan dengan Fatha. Saya akan memeluknya sepulang kantor dan membersihkan diri. Setelahnya, saya meminta waktu sesaat untuk mengisi perut dan menyusui adiknya. Setelahnya kami main bersama lagi. Semoga dengan begitu, Fatha akan merasa lebih dihargai perasaannya, dan Nadin tetap mendapatkan haknya.

Berdasarkan contoh di atas, sudah terlihat, bukan, curhat yang terstruktur? Jadi curhat harus memuat:

  1. Cerita yang kita alami
  2. Cerita yang kita rasakan
  3. Analis keduanya
  4. Cerita keberhasilan
  5. Cerita kegagalan, dan
  6. Rencana perbaikan
Tidak sabar rasanya segera praktek sungguhan, saling menimpali, dan menanggapi sharing pengalaman dari kawan-kawan :)

 


Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy , rekan seperjuanga...

Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy, rekan seperjuangan yang akan menyemangati selama nanti kami berpuasa di Kelas Kepompong.

Sempat terpikir satu nama, rekan satu regional yang juga kawan seperjuangan saat di Bunda Sayang, Mbak Rina Mutiarasari.  Sebelum sempat "melamar"-nya menjadi buddy, rupanya Mbak Rina berpikiran sama, malah beliau lebih dulu menjapri saya. Alhamdulillah, betapa senangnya. Meskipun minat belajar kami berbeda (kami bergabung di keluarga yang tidak beririsan), tapi semoga semangat belajar dan kedisiplinan Mbak Rina menular juga. Hehehe..

Mbak Rina adalah seorang Ibu berputra 2 yang masih berusia balita. Tentunya saya akan banyak belajar, terutama bagaimana menyiasati waktu belajar dan bekerja saat masih marus membersamai Si Kecils.

Aliran rasa Mbak Rina selama mengikuti Bunda Cekatan adalah sebagai berikut:

"Banyak sekali ilmu yang bertebaran. Awalnya Ibu ingin mencari satu demi satu ilmu terlebih dahulu. Dan langsung praktek agar tidak lupa. Tapi sesampainya di sini, ternyata cara mungkin kurang pas karena sesampainya di sini, sudah dapat ilmu dan sudah praktek, juga sembari jalan ambil ilmu dari keluarga Ratu Dapur yang saya ikuti."

"Karena sudah praktek, maka Ibu mulai melirik keluarga yang lain (dan baru belajar di keluarga yang lain). Dan ternyata semua saling tumpang tindih dan berkaitan maka keluarga-keluarga yang saling berkaitan tersebut baru mulai Ibu ikuti dan ambil ilmunya. Banyak sekali, ada parenting, portofolio, coaching, dan Keluarga Cemara. Sedang keluarga manajemen belum Ibu ikuti."

"Apa saja yang didapat:
Banyak sekali, ada food prep, resep-resep, bumbu dasar, frozen food, contoh menu 7/10 mingguan, dan lain-lain. Dan dari keluarga yang baru Ibu ikuti juga sangat banyak, antara lain:
  • Portofolio: mengumpulkan bank data (sudah mulai)
  • Cemara: ilmu lain tentang food prep (sama dengan Ratu Dapur)
  • Cocoa: coaching for kids (baru mulai)
  • Gizi: asupan makanan dan feeding rules (on the way)
  • Homeschooling: tujuan dan bagaimana; kurikulum (baru materi saja)
Hasil

  • Portofolio: mengumpulkan bank data
  • Cemara: mulai mengurangi barang
  • Cooking: food prep; memasak lebih cepat
  • Gizi: berusaha memenuhi gizi meski anak masih picky eater"
"Yang akan diperdalam:
Homeschooling: kurikulum dan upload di sosmed
Cocoa: Hadir, dengarkan, encourage" 

Berdasarkan aliran rasa yang sudah Mbak Rina utarakan, saya mencoba mencari beberapa "makanan" yang semoga bisa menjadi bekal beliau selama menjadi kepompong nanti.



Menyusun Kurikulum Pendidikan di Rumah
(catatan hasil mengikuti kulwap yang saya ikuti, belum sempat diposting)

Menyusun Kurikulum Pendidikan Keluarga

Kurikulum Homeschooling

12 Tips for Coaching Kids: Learn How to Coach Children for Life

Mengikuti Sharing "Parent as Coach, Pendekatan Coaching dalam Pengasuhan Anak Remaja", dari Seorang Coach Profesional

Sepertinya Mbak Rina sudah sempat melahap beberapa artikel di atas lewat hasil intipan saya pada postingan blog-nya. Oh ya, postingan yang dimaksud bisa diintip di alamat ini https://mutiarasaririna.blogspot.com/2020/03/8-kelas-ulat-bekal-untuk-buddyku.html?m=1

Sedangkan aliran rasa saya bisa dilihat di bawah ini



#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Setelah mengumpulkan berbagai makanan selama di kelas Ulat, hari ini saya mencoba menilik kembali peta belajar dan mendaftar kembali makana...

Setelah mengumpulkan berbagai makanan selama di kelas Ulat, hari ini saya mencoba menilik kembali peta belajar dan mendaftar kembali makanan apa saja yang sudah saya dapatkan. Cukup takjub karena dengan berbekal peta belajar, alhamdulillah proses belajar dan mengumpulkan makanan sangat on track. Dua topik yang saya prioritaskan untuk dipelajari sudah berhasil menemukan jalan terangnya. Berikut ini adalah gambaran makanan utama yang sudah saya peroleh selama beberapa minggu berkelana.




  1. Makanan yang sudah diperoleh sangat sesuai dengan kebutuhan. Ada 2 cabang peta belajar yang sedang menjadi fokus belajar saya, yaitu: MANAJEMEN KEUANGAN dan MANAJEMEN GADGET.
  2. Makanan utama lebih banyak saya dapatkan karena fokus pada peta belajar. Salah satu makanan yang saya dapatkan, yaitu mengatasi "tsunami" informasi berhasil membuat saya fokus pada target. Selain itu mantra "menarik tapi tidak tertarik" cukup membuat saya menahan diri pada hal yang penting dulu.
  3. Kebahagiaan belajar di hutan belajar saya dapatkan karena kita dapat memilah sendiri mana-mana yang dibutuhkan. Kejutan-kejutan tak terduga seringkali muncul dari teman-teman lain.
  4. Strategi belajar yang saya anggap berhasil adalah dengan tetap fokus pada peta belajar, serta mencari sebanyak mungkin "ulat" sejenis, yang sedang mencari jenis makanan sama.
  5. Semangat belajar dan kemampuan mengatur waktu menjadi 2 hal yang perlu saya tingkatkan. Masih ada 2 topik yang harus saya pelajari berdasarkan peta tersebut.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu7
#materi7
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Makan "makanan bergizi" tiap pekan menjadi salah satu rutinitas bagi kami para Ulat Bunda Cekatan. Berbekal peta belajar, beberap...

Makan "makanan bergizi" tiap pekan menjadi salah satu rutinitas bagi kami para Ulat Bunda Cekatan. Berbekal peta belajar, beberapa hari lalu kami sudah mengikuti Camping Ground dan berkenalan dengan banyak mahasiswi lain. Pekan ini, saya pun berkunjung ke rumah beberapa orang kawan baru sambil mengantarkan makanan kesukaannya.

Berikut adalah keempat kawan baru yang sudah saya kunjungi:



Keempat kawan baru tersebut adalah:

  • Annisa Fauziah (IP Depok)

Sebelum saya menyapa, Mbak Annisa lebih dulu membawa "hadiah" berupa pengalaman beliau dalam mengatasi "tsunami informasi". Mbak Annisa juga membuat coretan mind map tentang manajemen gadget yang diambil dari artikel di internet
Saya pun memberikan "hadiah balasan" berupa resume Kulwap mengenai KonMari Gadget yang pernah diadakan Teh Chika, Rektor Institut.

  • Kidung (IP Yogyakarta)

Mbak Kidung merupakan anggota keluarga Temanda (Teman Main Ananda). Saya memberikannya oleh-oleh berupa kisah saya membuat amplop lebaran yang bisa dilakukan bersama Si Kecil di rumah.

  • Sally Dewi (IP Bekasi)

Mirip dengan Mbak Kidung, Mbak Sally juga bergabung di Keluarga Temanda. Karena berminat juga di homeschooling, maka saya memberikan bingkisan berupa salah satu postingan saya mengenai Workshop "A" Home Team yang pernah saya ikuti akhir tahun 2018 lalu.
  • Syafi'ah (IP Malang)

Untuk Mbak Syafi'ah yang sedang gemar belajar desain, saya memberikan pula ide membuat amplop lebaran.

Harapannya, oleh-oleh yang saya berikan saat berkunjung ke kawan-kawan baru ini bisa bermanfaat. Aamiin..

#janganlupabahagia
#jurnalminggu6
#materi6
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Pekan kelima kami masih diberikan suguhan parade Go Live di grup Facebook. Kami diberi kesempatan untuk mencicipi cemilan dari ulat-ulat di...

Pekan kelima kami masih diberikan suguhan parade Go Live di grup Facebook. Kami diberi kesempatan untuk mencicipi cemilan dari ulat-ulat di keluarga lain. Selain itu kami para ulat juga diberi kesempatan untuk berkumpul dalam sebuah Camping Ground. 

Cara bermainnya sangat seru. Kami bisa mencari kenalan baru di dalam maupun keluarga kami. Kemudian diskusi akan berlangsung secara personal. Masing-masing akan saling berbagi mengenai keluarga favorit masing-masing. Ada juga yang dengan sukarela membagikan resume cemilannya selama belajar di Kelas Ulat.

Saya memutuskan membagikan nomor Whatsapp saya pada postingan grup Facebook. Alhamdulillah dalam kurun waktu 3 hari, ada 25 Bunda Cekatan yang menghubungi. Senang, karena bertambah 25 orang kawan baru dari berbagai regional lain dan topik belajar yang bermacam-ragam. Berikut adalah ringkasan obrolan dengan kawan-kawan baru yang saya temui.


Jika dikelompokkan, ada 3 keluarga dengan jumlah peserta terbanyak yang baru saja saya kenal. Sesuai peringkat, keluarga tersebut adalah:

1. Keluarga Uluwatu (Manajemen Waktu)
2. Keluarga Inside Out (Manajemen Emosi)
3. Keluarga Teman Main Ananda/Temanda (Bermain Bersama Anak)


Saya sendiri masih memfavoritkan keluarga kecil kami, Manajemen Gadget. Alasan utamanya karena jumlah anggota keluarganya yang sedikit (dari 7 orang sudah bertambah menjadi 29 orang, karena beberapa kenalan baru berminat mencicipi cemilan di keluarga kami). Diskusi jadi berlangsung lebih fokus dan tidak banyak menyita waktu. Alhamdulillah saya mulai bisa menerapkan jam online (di luar waktu kerja, terutama saat di rumah). Konmari gadget pun sudah mulai dapat saya lakukan dengan mengelompokkan aplikasi berdasarkan kategori dan mengeliminasi aplikasi yang tidak urgent digunakan.


Jika divisualisasikan dalam grafik, terlihat bahwa Keluarga Uluwatu memegang peringkat tertinggi dalam hal jumlah teman yang baru saya temukan (9 orang), disusul dengan Keluarga Inside Out (7 orang). Percakapan dengan teman-teman baru ini pun membuat saya mendapatkan ilmu baru. Terlebih karena manajemen waktu merupakan salah satu ilmu yang saya butuhkan dalam peta belajar yang sudah disusun beberapa pekan lalu.

Saya merasa kurang bisa fokus belajar di grup diskusi yang besar. Hal ini juga dibenarkan beberapa kawan saya. Mbak Chitra dari IP Malang juga menyatakan bila ia kurang menyimak diskusi pada grup besar Uluwatu - hanya membaca resume-nya saja, dan lebih merasa nyaman mengikuti diskusi pada grup kecil pilihannya, yaitu manajemen waktu dalam Islam.

Bila dilihat dari regional asal Bunda Cekatan, maka teman baru saya sebagian besar berasal dari:
1. Yogyakarta (4 orang)
2. Kalimantan Selatan (4 orang), dan
3. Malang (3 orang)

#janganlupabahagia
#jurnalminggu5 
#materi5 
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Pekan keempat Kelas Ulat Bunda Cekatan, saatnya kami melahap makanan besar berupa buah-buah apel yang kami kumpulkan dari sumber ilmu manap...

Pekan keempat Kelas Ulat Bunda Cekatan, saatnya kami melahap makanan besar berupa buah-buah apel yang kami kumpulkan dari sumber ilmu manapun. Tentunya tetap berpegang pada peta belajar ya, supaya tak tersesat. Kami diperbolehkan ngangsu kawruh berpindah-pindah ke keluarga lain untuk mencari ilmu yang lebih luas.

Saya sendiri memilih tetap tinggal di dalam keluarga kecil "Manajemen Gawai" dan mengambil ilmu dari kulwap yang diselenggarakan di grup HIMA regional mengenai "Manajemen Waktu". Kulwap ini memilih narasumber Teh Euis Kurniawati dari IP Surabaya. Beberapa ilmu mengenai mengelola waktu mengerucut menjadi mengelola aktivitas, waktu, dan stress.

Pembatasan penggunaan gawai ternyata tidak sesaklek yang saya bayangkan sebelumnya.
Prinsipnya adalah menjawab pesan ketika sempat, sesuai dengan jadwal online yang sudah ditetapkan sebelumnya.






#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Belajar tak seru jika tidak berada dalam komunitas yang sama. Di minggu ketiga ini, kami dikumpulkan ke dalam 40 keluarga yang seminat. Jen...

Belajar tak seru jika tidak berada dalam komunitas yang sama. Di minggu ketiga ini, kami dikumpulkan ke dalam 40 keluarga yang seminat. Jenis "makanan" yang sama akan memudahkan kami para ulat mencari bekal dan mengunyah ilmu yang sejenis.

Saya bergabung dengan "Keluarga Manajemen Gadget" atau "Keluarga Manajemen Gawai". Dengan Kepala Keluarga Mbak Linda Kurniawati yang sedang menunggu saat-saat persalinan, kemudian diwakili oleh Mbak Novalia Abd. Rahman, diskusi berjalan lancar meski harus menunggu ketujuh ulat mencari waktu yang tepat. Platform diskusi yang kami gunakan adalah Whatsapp Messenger.

Berikut adalah hasil diskusi yang dirangkum dalam sebuah poster:
Kendala yang kami hadapi dalam manajemen gawai di antaranya adalah ketergantungan pada gawai karena: 
  • 1. Sering jadi tempat curhat
  • 2. Muncul ide tulisan sewaktu-waktu, harus segera ditulis. Atau justru ide muncul dari scrolling timeline
  • 3. Tidak enak mengabaikan chat orang lain
  • 4. Tanggung jawab komunitas online/ranah publik
  • 5. Membaca Quran di ponsel, ponsel berlaku sebagai asisten online (agenda/pengingat)


Makanan yang sudah kami dapatkan dan siap dikunyah bersama-sama adalah sebagai berikut:
  • 1) https://www.ibuprofesional.com/amp/gadget-hours-manajemen-online-ibu-profesional
  • 2) https://muslimahgreentrepreneur.wordpress.com/2015/02/19/manajemen-gadget/amp/
  • 3) https://www.facebook.com/groups/komunitasibuprofesional/permalink/570252723546630/
  • 4) https://catatanamandapw.wordpress.com/2018/08/06/kiat-kiat-melakukan-menejemen-gadget-bagi-seorang-ibu/amp/
  • 5) http://duniaattaya.blogspot.com/2015/04/management-gadget.html?m=1
  • 6) https://catatanshinitchan.wordpress.com/2017/11/24/management-gadget/amp/
  • 7) https://www.alona.co.id/lifestyle/cara-mengatur-waktu/


Rencana yang kemudian kami susun untuk dapat menerapkan manajemen gawai dengan baik adalah:
  • 1. Menyusun peruntukan gawai dalam 4 kuadran dan membuat jadwal penggunaannya
  • 2. Meminimalisir penggunaan gawai dengan: mengalihkan agenda/aktivitas di papan jadwal, bukan di gawai; menulis outline tulisan di buku catatan; menyelesaikan naskah di laptop/PC, bukan ponsel
  • 3. Menyusun daftar kegiatan bersama gawai dalam 4 kategori: ranah publik, ranah kebahagiaan, membersamai anak, dan investasi akhirat
  • 4. Membuat jadwal kegiatan di tempat yang mudah terlihat, rlevaluasi dan revisi jika belum selesai
  • 5. KonMari gawai tiap pekan
  • 6. Membuat jadwal online dengan gawai, terutama jadwal online di rumah, lalu menginformasikan pada rekan kerja. Jika perlu, menerapkan NO GADGET di rumah.
  • 7. Uninstall aplikasi yang tidak menunjang produktivitas (misalnya Facebook)
  • 8. Memindahkan dokumentasi dan file penting ke laptop/hard disk external
  • 9. Reward dan punishment


#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch2
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Dari hari ke hari, perkuliahan di Program Bunda Cekatan Ibu Profesional makin terasa seru. Setelah menyimak ilmu baru dari beberapa fasilit...

Dari hari ke hari, perkuliahan di Program Bunda Cekatan Ibu Profesional makin terasa seru. Setelah menyimak ilmu baru dari beberapa fasilitator terpilih, pekan ini kami ditantang untuk berkisah mengenai ilmu yang sudah kami kuasai berdasarkan pertemuan lalu dalam bentuk video atau audio. Sebuah tantangan bagi Ibu Fatha yang seumur-umur belum pernah membuat vlog. Hehehe...



Tapi karena penasaran juga ingin mencoba, akhirnya jadilah video potluck mengenai bagaimana cara mengatur pos pengeluaran keluarga dengan menggunakan expanding folder.  Bagi yang penasaran, bisa langsung meluncur ke video berikut.


Pada prinsipnya, setelah mengidentifikasi pendapatan keluarga, kita perlu merumuskan pos-pos mana saja yang bulan tersebut harus dipenuhi kebutuhannya dari pendapatan yang sudah didapatkan.
Secara umum, kami membagi menjadi 5 pos pengeluaran utama, yaitu:

  1. Belanja rutin, termasuk belanja kebutuhan lauk-pauk bulanan, bensin dan servis alat transportasi, biaya air, listrik, serta pulsa telepon.
  2. Investasi, berupa tabungan pendidikan, tabungan haji, maupun zakat.
  3. Biaya sosialita. Kami menyebutnya demikian, untuk biaya yang harus dikeluarkan jika ada tetangga sakit, punya hajat, atau kepentingan serupa.
  4. Biaya cicilan, jika ada kredit atau hutang yang harus dilunasi.
  5. Dana darurat, biasanya tidak kami utak-atik, namun dimasukkan ke dalam rekening tabungan.
Ketika menyimak beberapa potluck dari mahasiswi lain bertema serupa, saya juga mendapat pencerahan, bahwa pos pengeluaran dalam folder ini dapat dipisahkan dari rekening tabungan maupun ATM. Mengatur pos pengeluaran keluarga merupakan salah satu ikhtiar agar dicukupkan segala kebutuhan keluarga. Aamiin. InsyaAllah.. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch2
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Perencanaan itu seperti magnet. Hal-hal apa saja yang kita impikan akan lakukan, kadang Allah memudahkan kita untuk mewujudkannya. Contohny...

Perencanaan itu seperti magnet. Hal-hal apa saja yang kita impikan akan lakukan, kadang Allah memudahkan kita untuk mewujudkannya. Contohnya seperti yang saya alami pekan lalu. Tak lama berselang setelah peta belajar selesai dibuat, muncul pesan WA di ponsel saya. Isinya adalah undangan dari admin Kuliah Whatsapp mengenai Pengelolaan Keuangan Keluarga dengan narasumber Annisa Steviani dan Windi Widiastuty. Sebelumnya saya mendapatkan informasi kulwap tersebut melalui akun instagram beliau berdua.

Alhamdulillah, betapa Allah telah mempermudah semuanya..

Jadi inilah potluck yang sudah saya dapatkan melalui kulwap tersebut.




Jika dikaji kembali, tema Manajemen Keuangan Keluarga merupakan salah satu topik yang saya putuskan harus segera dipelajari. Berikut gambarannya




Bagi teman-teman yang berminat mengikuti kulwap Teh @annisast dan Mbak @winditeguh seperti di atas, bisa mendaftar melalui tautan berikut. Biaya investasi tidak terlalu mahal, sangat layak untuk diikuti :)

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Masih melanjutkan tema minggu sebelumnya mengenai merdeka belajar , kali ini gambaran proses pembelajaran mulai terlihat nyata. Melalui pet...

Masih melanjutkan tema minggu sebelumnya mengenai merdeka belajar, kali ini gambaran proses pembelajaran mulai terlihat nyata. Melalui peta pikiran alias MindMap, kami diminta membuat peta belajar berdasarkan hasil identifikasi pada telur oranye lalu.


Dicontohkan oleh Pak Dodik, narasumber kami pada pekan keempat, bahwa MindMap dapat disusun berdasarkan topik-topik besar yang ingin kami pelajari. Dari masing-masing topik besar itu, diidentifikasi lagi subtopik apa saja yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran pada topik besar. Gambarannya kurang lebih seperti pada gambar di bawah ini.


Kali ini saya membuat Proyek Belajar berjudul "Raennita's Personal Productivity 101". Tujuan pembelajaran yang direncanakan akan dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. On track pada jadwal yang sudah dibuat dan disepakati
  2. Menjadi lebih produktif dan efektif dalam beraktivitas
  3. Membuat cashflow keuangan lebih positif
  4. Terampil menggunakan gawai
  5. Saat harus mendelegasikan Si Kecil pada orang lain, delegator dapat memahami dengan baik instruksi yang diberikan
Berikut adalah Peta Belajar yang kemudian saya susun.


Ada 4 topik utama yang saya fokuskan untuk dipelajari, yaitu Manajemen Waktu, Manajemen Gawai, Komunikasi Produktif, serta Manajemen dan Perencanaan Keuangan. Masing-masing topik ini kemudian dijabarkan kembali menjadi subtopik sebagai berikut:
  • Manajemen Waktu:
    • Menyusun daftar kegiatan
    • Analisis waktu
    • Menyusun kandang waktu
    • Refleksi
    • Bullet Journalling
    • Evaluasi
  • Manajemen Gawai:
    • Tujuan penggunaan
    • Time scheduling
    • Gawai untuk produktivitas
    • Manajemen aplikasi
  • Komunikasi Produktif:
    • Kaidah komunikasi produktif
    • Komunikasi efektif
    • Strategi komunikasi produktif
    • Praktek
    • Evaluasi
  • Manajemen dan Perencanaan Keuangan:
    • Evaluasi cashflow
    • Identifikasi pos pengeluaran
    • Tracking
    • Evaluasi



#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Merdeka dalam belajar berarti kita sebagai siswa harus mampu menemukan tujuan belajarnya sendiri secara mandiri. Komitmen pada tujuan haru...

Merdeka dalam belajar berarti kita sebagai siswa harus mampu menemukan tujuan belajarnya sendiri secara mandiri. Komitmen pada tujuan harus selalu dipupuk untuk menjaga semangat belajar tetap menyala. Setelah itu, kita dapat mengidentifikasi ilmu apa yang diperlukan untuk dapat menguasai keterampilan yang sudah ditargetkan pada telur merah yang lalu. Mandiri juga diperlukan dalam menentukan sendiri gaya belajar apa yang paling cocok untuk kita. Setelahnya, refleksi diri diperlukan untuk mengevaluasi apakah perubahan sudah terjadi pada kita sebagai pembelajar.

Tugas kami pada pekan ketiga ini adalah menemukan ilmu apa saja yang diperlukan termasuk bagaimana cara menjemput ilmu yang paling "gue banget". Supaya lebih mudah, kita bisa menggunakan template di bawah ini.



Di bawah ini adalah hasil pencarian saya mengenai cara belajar dan identifikasi ilmu yang dibutuhkan untuk dipelajari:


Tujuan belajar sebelumnya telah saya singgung pada pembahasan tentang telur merah lalu. Dari situ kemudian dapat ditentukan ilmu apa saja yang perlu saya pelajari:
  • Manajemen Waktu
  • Manajemen Gawai
  • Manajemen dan Perencanaan Keuangan
  • Komunikasi Produktif.
Saat ini ada banyak sekali sumber ilmu yang dapat ditemukan, mulai dari buku, artikel ilmiah, seminar, kulwap, bahkan podcast sekalipun. Untuk itu saya akan memilih cara belajar yang memudahkan saya di tengah waktu bekerja. Ketika ada waktu di luar jam kerja, saya dapat mengikuti seminar atau kulwap. Pun ketika sudah menemukan bahan bacaan yang tepat, saya dapat segera mengeksekusi bacaan tersebut. Nah, jika harus mengerjakan tugas rutin, alih-alih mendengarkan musik, saya dapat memilih podcast yang tepat untuk dapat didengarkan secara multitasking.


#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional