Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Bagaimana kabar membaca selepas 10 hari? Alhamdulillah Fatha masih tetap bersemangat membaca meskipun Ibu belum berhasil men...









Bagaimana kabar membaca selepas 10 hari?

Alhamdulillah Fatha masih tetap bersemangat membaca meskipun Ibu belum berhasil mencontohkan tamat satu buku lagi. Buku yang Fatha baca adalah "Aku Bisa Merapikan Mainan Sendiri" dari Seri "Halo Balita".

Fatha begitu menjiwai kegiatan ini karena sudah sering ia lakukan. Cerita tentang merapikan mainan sebagai salah satu proyek keluarga kami bisa disimak di sini dan sini.

Ayah belum memberikan kabar mengenai progress buku bacaannya, "Ayah Edy Punya Cerita". Kami memaklumi karena pasca cuti selama dua hari, tentu tugas Ayah di kantor tidak sedikit.

Ibu mulai membaca Buku " Berteman dengan Demam" tulisan Dokter Apin namun belum menamatkan satu bab pun. InsyaAllah akan dilanjutkan esok hari :)

Berikut wujud Pohon Literasi kami hari ini.


#HariKe11
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Hari ini Ibu menyempatkan cuti 1 hari, mumpung Ayah juga cuti dan sedang ada di rumah. Kami bertiga bersama Uti sepakat untuk berjal...





Hari ini Ibu menyempatkan cuti 1 hari, mumpung Ayah juga cuti dan sedang ada di rumah. Kami bertiga bersama Uti sepakat untuk berjalan-jalan ke kota sebelah sekaligus mencari beberapa perabotan untuk memaksimalkan penataan rumah. Ceritanya sih supaya barang-barang bisa tertata dengan rapi, kami mencari tempat penyimpanan yang praktis.

Nah, karena keasyikan bepergian ini, Ayah dan Ibu lagi-lagi belum bisa menyelesaikan tantangan membaca. Fathalah satu-satunya yang berhasil on track dan istiqomah membaca. Hari ini ia memilih buku "Aku Bisa Membuang Sampah" dari seri "Halo Balita.


Semoga esok pagi aktivitas membaca bisa pulih seperti biasa..

#HariKe10
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Hari ini hanya Fatha yang berhasil menjalankan dengan konsisten aktivitas membacanya. Ayah dan Ibu sama-sama KO akibat radang tenggor...






Hari ini hanya Fatha yang berhasil menjalankan dengan konsisten aktivitas membacanya. Ayah dan Ibu sama-sama KO akibat radang tenggorokan.

Fatha mengulang kembali Buku "Aku Bisa Mandi Sendiri". Kali ini ia minta dibacakan Ayah. Ia bahkan sempat membawa alat peraga berupa sabun mandi.


Selain buku, Fatha juga menunjukkan ketertarikan pada poster aneka binatang. Ia menunjukkan pada Ibu beberapa jenis hewan yang sering kami lihat wujud dan dengar suaranya seperti katak atau kodok ("kwok-kwok" atau "kong kong"), anjing ("awk awk"), dan kucing ("miaw").







Acara menempel daun pun belum dapat dilakukan malam ini. InsyaAllah pemasangan daun Fatha dirapel esok hari. Maaf ya, Nak ^^

#HariKe9
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Tantangan Bunsay level 5 telah memasuki hari kedelapan. Alhamdulillah kami sekeluarga masih menikmati reading time meski sulit menyamakan...


Tantangan Bunsay level 5 telah memasuki hari kedelapan. Alhamdulillah kami sekeluarga masih menikmati reading time meski sulit menyamakan waktu membaca bersama.

Ayah Fatha masih bertugas di luar kota dan hanya menyetorkan laporan kholas membaca melalui pesan bergambar di gawai. Sayangnya saya lupa menanyakan sinopsis bab kesembilan buku yang sedang Ayah baca.



Judul bab sembilan yang sudah Ayah tuntaskan




Bagaimana dengan tugas membaca Fatha?

Hari ini ia memilih sendiri Buku "Mencintai Rasulullah: 365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW.". Fatha mengambil buku dari rak, meletakkan di atas karpet, dan mengajak saya membaca bersama-sama. Ternyata Fatha belum terlalu tertarik dengan isinya karena lebih banyak tulisan daripada gambarnya.
Buku yang rencananya akan menjadi bekal saya bercerita kepada Fatha selama 1 tahun penuh ^^




Tak masalah, Fatha sudah berinisiatif memilih sendiri buku yang belum pernah ia baca sebelumnya. Setidaknya ini memicu rasa ingin tahunya.

Saya hanya mampu membacakan dua paragraf cerita pertama, setelah itu Fatha lebih asyik membolak-balik halaman sendiri, mencari gambar ilustrasi yang dianggapnya menarik. Fatha bertanya sesekali mengenai ilustrasi yang ia temukan dan saya jawab berdasarkan lirikan sepintas pada cerita yang ada di sebelahnya :)

Fatha mengamati ilustrasi Jabir bin Abdullah yang sedang mengangkut hasil bumi di kebunnya untuk melunasi hutang ayahnya. Ayahnya telah gugur sebagai syuhada pada Perang Uhud. Rasulullah meminta Jabir untuk memanggil para penagih hutang. Atas kehendak A Allah dan doa Rasulullah, Jabir dapat membayar semua hutang ayahnya.




Salah satu kejadian menarik sore ini adalah saat Fatha meminta ponsel saya. Ia berkali-kali menyebut, "hape, hape, Ayah."

Rupanya Fatha sedang merindukan Ayahnya. Situasi kurang memungkinkan bagi kami untuk melakukan panggilan video. Akhirnya saya merayu Fatha untuk mengobati rasa kangen dengan membuka-buka album foto di mana ada gambar Sang Ayah.


Ketika menatap wajah Ayah dalam gambar dirasa cukup untuk melipur lara




Saya menganggap kegiatan mengamati album foto ini sebagai salah satu aktivitas membaca karena kami berdua bisa bercerita berdasarkan gambar-gambar yang ada :)

Tugas membaca saya baru bertambah tiga artikel dari Buku "Faces & Places".

Bagian ketujuh bercerita mengenai pertemuan Desi Anwar dengan Tony Buzan. Saya sontak bersorak dalam hati karena merasa sudah sangat "mengenal" Tony Buzan melalui karyanya "Mind Map". Pertama kali saya mengenal konsep "Mind Map" Pak Buzan melalui bukunya yang diam-diam saya baca dari koleksi Mama. Seingat saya, konsep ini menginspirasi saya saat harus melakukan presentasi Bahasa Inggris saat kuliah dulu.

Sedihnya, naskah tugas saya tersebut musnah bersama tutupnya blog saya di Multiply karena belum sempat saya cadangkan. Huhuhu..

Nah, Desi Anwar dengan kocaknya berkisah, andai ia sudah mengenal Pak Buzan saat masih bersekolah, tentulah ia bisa menjadi seperti Einstein atau Leonardo da Vinci. Bukan "sekadar" pembaca berita atau penulis yang dikejar tenggat. Beliau yang belum mengenal saja sudah sehebat itu, sedangkan saya yang sudah terpapar "Mind Map" pada usia sekolah masih seperti ini saja :))

Pada bagian yang berbeda, Desi Anwar berkisah mengenai seni bepergian. Bahwa bepergian saat ini tak lagi semenarik atau seromantis dahulu.

Orang dapat dengan mudah mengakses pesawat dan mendapati bandara maupun tempat tujuan terlihat seragam. Bepergian tak lagi berbeda dan dinanti. Orang cenderung pasif dan statis saat harus menunggu kehadiran pesawat maupun saat berada di dalam kabin. Berbeda saat melalui perjalanan darat atau laut, kita bergerak. Perpindahan menuju tujuan sangat bisa dirasakan.

Benar juga, sih ;)

Bagian terakhir yang saya baca hari ini adalah kisah mengenai Almarhum Ayah Desi Anwar. Desi Anwar mengenang beliau sebagai orang yang unik, selalu mempertanyakan segala hal, terutama alasan di balik segala kejadian maupun perbuatan, dengan kata "mengapa?". Pertanyaan ini membuat kita mampu menahan emosi saat menghadapi sesuatu yang di luar perkiraan.

Karya Desi Anwar ini terasa ringan saat dibaca, namun memuat makna yang dalam. Inilah yang membuat saya membacanya pelan-pelan, agar dapat mencerna dan menyerap hikmahnya.

Dan berikut ini tampilan Pohon Literasi kami di penghujung pekan pertama.






#HariKe8
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Agenda membaca Fatha dan saya siang tadi diwarnai dengan "berebut" buku bacaan. Separuh bagian terakhir Buku " Saya Pengen ...


Agenda membaca Fatha dan saya siang tadi diwarnai dengan "berebut" buku bacaan. Separuh bagian terakhir Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang rencananya saya tamatkan hari ini rupanya menjadi incaran Fatha. Ia melirik pada halaman berilustrasi mobil. Ia langsung menunjuk gambar tersebut dan meminta buku yang sedang saya pegang.

Halaman bergambar mobil yang menarik perhatian Fatha




Selain buku yang saya baca, Fatha juga membaca Buku "Cilukba!" dan belajar mengenai konsep posisi "di atas" dan "di bawah". Selama ini ia lebih mengenal istilah "naik" dan "turun".


Buku "Cilukba!" dengan halaman pop-up




Malam tadi, beberapa saat Fatha tak terdengar suaranya. Saya sudah sempat waswas jika ia sedang asyik bermain sesuatu yang membahayakan. Ketika saya intip ia di ruang tamu, ternyata Fatha sedang asyik membaca surat kabar. Salah satu halaman yang ia minati adalah segmen olah raga dengan foto seorang pemain sepakbola sedang menggiring bola.


Fatha asyik membaca koran




Ayah belum selesai menamatkan bab sembilan Buku "Ayah Edy Punya Cerita" sedangkan Ibu baru saya melalap habis Buku "Saya Pengen Jago Presentasi" yang kemarin sempat tertunda.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Gaya bertuturnya yang mengalir mengingatkan saya pada Buku "Catatan Indah untuk Tuhan" karya Mas Saptuari Sugiharto. Banyak ilmu dan tips penting seputar presentasi yang saya dapatkan dari pengalaman Budiman Hakim yang disampaikan seakan-akan beliau mendongeng langsung untuk saya.

Pelajaran yang saya ambil adalah bahwa setiap orang, apapun profesinya, mempraktekkan presentasi dalam kesehariannya tanpa disadari. Bukan hanya creative director atau copywriter, bartender maupun khatib Sholat Jumat pun secara sadar maupun tidak, telah melakukan presentasi.

Nah, strategi presentasi yang baik dan menarik saya dapatkan dalam buku ini. Termasuk memperbanyak latihan sebelum "pentas" dan mempersiapkan materi sebaik mungkin, serta mengurangi kata-kata "eee..eee" jika kita kehilangan ide.

Penghujung hari keenam, inilah kenampakan Pohon Literasi kami. Hanya Fatha yang berhasil menambah dua helai daun :)

Pohon Literasi pada hari kelima




Cerita di balik Pohon Literasi


Fatha senang sekali dengan Pohon Literasi yang kami buat. Beberapa kali ia tergoda memetik daunnya




#HariKe7
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Salah satu proyek keluarga yang cukup konsisten kami kerjakan hingga sepekan berturut-turut adalah proyek merimbunkan Pohon Literasi. Ada ...


Salah satu proyek keluarga yang cukup konsisten kami kerjakan hingga sepekan berturut-turut adalah proyek merimbunkan Pohon Literasi. Ada banyak hikmah yang kami dapatkan.

Saya merasa waktu kontak dengan gawai, terutama saat di rumah, makin berkurang. Waktu lebih baik dihabiskan dengan membaca buku. Fatha juga makin jarang protes dengan gawai saya. Ayah Fatha pun tak disangka-sangka berhasil menaklukkan tantangan membaca ini.

Pohon Literasi makin terlihat berwujud "pohon"





Hari ini Fatha memilih sendiri Buku bacaannya. Ia menurunkan salah satu buku saya dari rak dengan berucap, "berat". Saya terkejut melihatnya menggotong "Visual Dictionary" setebal 600 halaman lebih seorang diri.

Visual Dictionary, saya dapatkan dari sebuah toko buku saat bertugas sekitar tujuh tahun lalu



Fatha meminta saya membuka halaman yang memperlihatkan gambar sepeda. Ia mengamati baik-baik dan saya menunjukkan satu persatu bagian-bagian kendaraan tersebut. Mulai dari roda dan ban sepeda, sadel, pedal, hingga setang.

Fatha sedang membandingkan bentuk sepeda di gambar dengan sepeda milik Om Adit dalam ingatannya



Tak berapa lama Fatha sudah membolak-balik halaman dan saya ajak ia memperhatikan bentuk kendaraan lainnya, yaitu mobil. Fatha membandingkan gambar mobil pada buku dengan mainan mobil-mobilannya.

Mobil balap vs. SUV



Horee.. hari ini Fatha berhasil mendapat dua helai daun karena berhasil memperhatikan dua tema pada buku tebal Ibu.

Ayah hari ini sukses menyelesaikan satu bab lagi Buku "Ayah Edy Punya Cerita". Bab kedelapan ini bercerita mengenai gejala on dan off pada anak.

Apakah itu?

Gejala on off merupakan sikap anak-anak yang berbeda saat di rumah dan di lingkungan luar rumah. Bisa jadi ia aktif di rumah dan pasif saat di luar, atau sebaliknya.

Munculnya gejala ini bisa jadi dipengaruhi oleh perbedaan sikap orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya. Misalkan ayah cenderung keras sedangkan ibu lembut. Termasuk perbedaan kesepakatan ayah dan ibu saat menghadapi Si Kecil. Sangat penting bagi ayah dan ibu untuk sepakat tidak ada yang membela anak ketika ia berbuat salah.


Oleh-oleh Ayah untuk Ibu pada trip kali ini adalah resensi buku





Ibu berhasil menamatkan Buku "Asyiknya Mendongeng: dari Nol sampai Mahir" karya Kak Adin. Berbeda dari buku tentang presentasi kemarin, buku ini lebih banyak menuturkan teori. Jadi membaca buku ini seperti membaca pelajaran Bahasa Indonesia mengenai Dongeng. Kabar baiknya, saya jadi lebih percaya diri mendongeng untuk Fatha dengan ide yang random karena menurut buku ini, mendongeng itu mudah. Jadi semangat ingin mengasah kemampuan berkisah dan mendongeng untuk Si Kecil.



Salah satu "text book" favorit Ibu


Oh ya, mengenai dongeng dan kisah ini, saya pernah membaca dari sumber yang saya sudah lupa, bahwa dongeng bisa "menyesatkan" karena bisa jadi nilai yang ditanamkan kurang sesuai. Misalkan dongeng "kancil mencuri mentimun". Lebih baik berkisah mengenai sejarah atau sirah nabi.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat di atas. Dongeng jika dikemas dengan baik, mengajarkan pada anak value yang diharapkan dimiliki keluarga justru akan lebih mudah dicerna daripada sekadar memerintah.

Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing, bukan?

Ps: bloopers from today's challenge

Fatha menirukan ekspresi Kak Adin di sampul buku. Ibu sempat bingung beberapa saat. "ngapain kamu, Nang?" :p



#HariKe6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalam...




Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalamnya karena merasa sudah sering mempraktekkan dalam aktivitas sehari-hari.





Buku "Aku Bisa Makan Sendiri" menjadi salah satu favorit Fatha. Ia menunjukkan pada saya bagian Tokoh Utama Sali sedang makan bersama Kumi kucingnya. Fatha bahkan turut mempraktekkan doa sebelum makan ("bismillah") dan selesai makan ("alhamdulillah").




Saya hari ini sedang mencoba memulai buku baru berjudul "Saya Pengen Jago Presentasi" karya Budiman Hakim. Beberapa halaman pertama buku ini sudah sangat menggoda saya untuk segera menamatkan bukunya. Sayang sekali tugas lain menunggu sehingga baru selesai hingga separuh jalan.





Ayah Fatha tak disangka-sangka di tengah kesibukannya masih konsisten melahap dua bab Buku "Ayah Edy Punya Cerita".






Bab keenam menekankan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membentuk Pola asuh anak. Namun saat ini jaman sudah berbeda. Lingkungan bisa menjadi ancaman berbahaya yang dapat menggantikan posisi orang tua dalam membentuk pola perilaku anak kita. Bahaya lingkungan buruk bisa merusak perilaku anak. Dan jika orang tua tidak bisa menggantisipasi ini sejak dini maka lingkunganlah yang akan merusak perilaku anak.





Menentukan pola asuh untuk anak pun harus disesuaikan dengan tipologi dan karakter anak serta kita sendiri sebagau orang tua, seperti dicontohkan dalam kisah di bab enam.



Ringkasnya, hari keempat ini, beginilah kenampakan Pohon Literasi kami. Makin rimbun, alhamdulillah :)







#HariKe5 
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkas...


Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkaskan sebuah buku, bisa menghabiskan satu-dua bab dalam sehari. Terlepas dari berapa pun jumlah halamannya.

Saya pun ikut termotivasi untuk ikut membaca di luar "tema serius" yang sehari-hari harus diselesaikan. Meski hanya satu-dua artikel singkat namun cukup menghibur dan memunculkan ide baru buat mendongengkan Fatha.

Hari ketiga ini ada lima helai daun yang berhasil tumbuh pada Pohon Literasi kami.




Fatha sukses menyelesaikan "Halo Balita: Aku Bisa Mandi Sendiri" yang ia pilih. Buku ini memang di luar reading tracker yang pernah kami susun sebelumnya. Fatha sudah sangat familiar dengan beberapa judul "Halo Balita", termasuk tema mandi ini.





Fatha menunjuk "ciduk" alias gayung yang digunakan Sali, sang tokoh utama, mengambil air untuk mandi. Ia pun memeragakan bagaimana biasanya ia mandi. Termasuk adegan menggigil kedinginan ketika keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.

Bagian saya membaca bertambah dua artikel lagi mengenai perjalanan Desi Anwar ke Turki dan Laut Bali. Ayah pun berhasil menamatkan dua bab lagi.





Bab keempat dalam buku "Ayah Edy Punya Cerita" sudah diselesaikan oleh Ayah. Intisarinya, proses mendidik anak perlu disesuaikan dengan zamannya. Kita sebagai orang tua tak perlu memberikan intervensi berlebihan karena justru akan melukai anak dan berakibat fatal pada perkembangannya.






Bab kelima cukup mengena di hati Ayah karena menceritakan bagaimana kalimat positif memiliki efek yang dahsyat bagi masa depan anak. Dengan pengalaman yang kurang ideal di masa lalu, Ayah dan Ibu jadi bertekad untuk dapat menyuntikkan kalimat-kalimat positif untuk Fatha setiap hari.

Kami berharap pengalaman membaca hari-hari selanjutnya bisa semenyenangkan ini meskipun bukan lagi dalam rangka menjalankan tantangan :)

#HariKe4
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru a...


Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru aktivitas membaca. Bukan hanya buku ceritanya sendiri, ia mulai suka melirik buku yang sedang saya baca.

Fatha membolak-balik halaman buku




Ia juga menunjuk gambar-gambar yang menarik pada sampul buku tersebut. Dengan mudahnya Fatha menemukan gambar becak dan mengingat jelas namanya.




Di kesempatan berbeda, Fatha memilih buku "Hmmm..." dan belajar mengenai emosi. Marah, sedih, takut, jijik, dan senang ditunjukkan melalui beberapa ekspresi dan perumpamaan pada buku tersebut. Fatha juga senang menyentuh bagian-bagian bertekstur pada buku tersebut.

Fatha mengenal emosi dan berbagai macam tekstur pada sensory play Buku "Hmmm..."




Sesi membaca hari kedua, saya menghabiskan dua artikel Buku "Faces & Places" lanjutan hari kemarin. "Bertemu Sinterklas" adalah judul artikel yang pertama, menceritakan kisah Desi Anwar saat berhasil menemui "Sinterklas" di kantor pusatnya di Finlandia. Ia menceritakan dengan bahasa yang lugas namun menarik dan plot twist yang menghibur.

Cerita kedua mengenai kunjungan Desi Anwar ke Tibet untuk menemui Dalai Lama di suatu pergantian tahun. Beliau selalu mampu menceritakan sisi positif seorang tokoh dengan sangat baik. Dalai Lama yang rendah hati dan sederhana tergambarkan dalam artikel ini.

Bagaimana dengan Ayah?

Alhamdulillah, Ayah ngebut dan berhasil menyelesaikan tiga bab pertama Buku "Ayah Edy Punya Cerita".

Bab pertama Ayah tamatkan saat di dalam perjalanan. Intisari yang didapat oleh Ayah setelah membaca bagian ini adalah jika kita ingin mengubah perilaku negatif anak maka mulailah dengan memperbaiki perilaku kita sebagai orang tuanya.






Bab kedua menekankan bahwa setiap anak membutuhkan waktu untuk dapat bermetamorfosis menjadi manusia yang luar biasa di masa depan. Ayah Edy menggambarkannya dengan kisah ulat bulu yang akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.





Bab ketiga menjelaskan bahwa anak kita merupakan makhluk paling canggih yang pernah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Tidak ada ciptaan Allah yang menjadi produk gagal. Menjadi orang tualah yang harus dipersiapkan dengan baik.






Alhamdulillah perjalanan membaca hari kedua selesai dengan baik. Masing-masing anggota keluarga mampu menikmati tiap prosesnya. Rangkuman kegiatan dalam bentuk Pohon Literasi bisa dilihat di bawah ini.

Pohon Literasi Hari Kedua. Sebagian permukaan kertas gambar sudah menjadi korban coretan Fatha. Termasuk beberapa helai daun yang harus diganti karena dicopot paksa :)




Bonus enam helai daun untuk kami hari ini :)

#HariKe3
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi m...


Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi memenuhi tantangan kali ini sekaligus menumbuhkan kecintaan kami pada membaca, malam hari kami pilih sebagai waktu membaca bersama.

Ah iya, sayang sekali minggu ini Ayah Fatha harus kembali ke rantau lebih awal karena akan bertugas ke luar kota selama sepekan. Beliau harus mempersiapkan segala sesuatunya sehingga terpaksa skip acara membaca bersama di hari pertama.

Hari pertama membaca bersama, saya memilih buku karya Desi Anwar, salah seorang jurnalis ternama dari Indonesia. Bukunya yang berjudul "Faces & Places" ini merupakan kumpulan sembilan puluh artikel lepasnya mengenai tempat dan orang yang pernah ia jumpai selama perjalanan hidupnya.




Buku pertama yang saya pilih


Membaca buku ini membuat saya takjub dan tertular semangat menjelajahi belahan dunia lain dan mencari serpihan ilmu dan hikmah dari tokoh maupun kejadian yang kita temui.

Saya berhasil menamatkan dua bab berjudul "Menonton paus di Sydney" dan "Merauke -- Pertemuan di Perbatasan". Kisah yang pertama menceritakan pengalaman Desi Anwar menyaksikan pertunjukan kawanan paus di lautan terbuka. Di saat semua orang siap dengan kamera masing-masing, para paus tidak menampakkan diri. Mereka justru muncul ketika para penonton justru sedang tidak siap dengan alat rekam masing-masing. Kisah ini mengajarkan pada saya bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kadang memang cukup untuk dinikmati, bukan untuk dipamerkan.

Cerita kedua adalah tentang Pak Ma'ruf, polisi di daerah perbatasan Merauke yang menikmati tugasnya dengan bercocok tanam dan membiarkan pengunjung menikmati hasilnya. Ia mengandalkan gado-gado jualan sang istri untuk merawal dan memelihara taman dan kebun yang ia kelola. Saya terkesan dengan dedikasi Pak Ma'ruf memanfaatkan lahan yang ada menjadi tempat yang indah dan berbuah.




Bab kedua yang sudah berhasil saya selesaikan


Membaca bersama Fatha ternyata tak kalah serunya. Selama ini kami membaca satu buku yang sama, Fatha mengamati gambar dan saya bercerita. Kali ini saya mencoba membuka buku pilihan saya dan Fatha saya minta memilih sendiri buku bacaannya. Ia mengambil buku berjudul "Suara Apa Itu?" yang sudah ia tempatkan pada rak bukunya.

Fatha asyik bercerita tentang Ayah yang mengendarai sepeda bersama Ibu dan anak-anaknya.




Fatha juga sudah mampu menebak nama-nama alat transportasi yang ada pada halaman terakhir buku tersebut.

Rangkuman bacaan hari kemarin kami kemas dalam Pohon Literasi di bawah ini. Ayah belum berhasil menamatkan bab pada buku yang ia baca. Semoga esok kami bertiga sama-sama bisa menambah satu helai daun pada ranting pohon kami.





#HariKe2
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Tantangan level lima Bunsay dimulai. Kali ini permainan yang akan kami lakukan sangat menarik. Setiap anggota keluarga mendapatkan tan...


Tantangan level lima Bunsay dimulai.

Kali ini permainan yang akan kami lakukan sangat menarik. Setiap anggota keluarga mendapatkan tantangan yang sama, yaitu membaca. Menarik, karena sebelum mulai, kami diminta untuk menuliskan reading tracker alias daftar buku yang akan dibaca. Jadi semacam menentukan rencana dan target bacaan yang akan dituntaskan selama 10 hari nanti.

Mumpung Ayah Fatha sedang ada di rumah, selepas kelas Bunsay berakhir, kami diskusikan judul-judul buku yang akan kami pilih. Supaya membaca terasa menyenangkan, ada dua kriteria yang kami telah tetapkan di awal, yaitu:
  1. Topik bacaan adalah hal yang kami sukai. Jadi semangat membaca bisa muncul.
  2. Dimulai dari buku yang tipis. Atau setidaknya buku yang jumlah halaman dalam satu babnya sedikit.
Kriteria di atas sebenarnya diperuntukkan bagi Ibu dan Ayah saja. Tentu saja karena Fatha masih belum bisa membaca sendiri. Jadi kami memberikannya pilihan beberapa buah buku, lalu Fatha memilih beberapa di antara banyak pilihan. Kita lihat saja bagaimana nanti Fatha akan menjalankan tantangan membaca ini.

Berikut ini daftar buku yang kami rencanakan akan dibaca selama 10 hari.




Sebelum benar-benar memulai perjalanan tantangan level 5, ada alasan yang harus saya sampaikan pada Ayah dan Fatha agar kami semua sepemikiran.

Mengapa perlu melakukan stimulasi membaca?

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar anak menguasai keterampilan berbahasa dan mengembangkan kecerdasan literasinya.






  1. Keterampilan mendengarkan. Anak sudah diperkenalkan dengan suara sejak masih dalam kandungan. Kata-kata dan suara yang sering ia dengar merupakan dasar kemampuan berbahasa yang pertama.
  2. Kemampuan berbicara. Sebaiknya anak diperkenalkan dengan suara dan percakapan langsung dari mata ke mata, bukan melalui gawai. Mengapa? Sebab kemampuan berekspresi dan emosi tidak dapat ditransfer melalui layar.
  3. Membaca. Aktivitas membaca merupakan bekal anak dapat menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Membaca juga merupakan sarana utama mendapatkan ilmu.
  4. Menulis. Kemampuan menulis tidak serta merta diperoleh begitu saja. Ada tiga tahapan panjang yang harus dilalui sebelumnya. Ketika anak sudah menyukai aktivitas mendengarkan, berbicara, dan membaca, maka ia sudah selangkah lebih dekat dengan kemampuan menulis.
Yang paling penting dari semua tahapan tersebut adalah anak menyukai dan menikmati prosesnya. Alasan inilah yang membuat saya dan Ayah Fatha berniat untuk menjalankan tantangan dengan sebaik-baiknya meskipun selama sepekan ini Ayah harus mengikuti rangkaian pertemuan kantor dengan jadwal padat merayap. Doakan saja kami dapat konsisten mengatur waktu dan menjalankan tantangan dengan bahagia.

Oh ya, setiap hari kami akan saling melaporkan seberapa pencapaian target yang sudah kami lakukan. Saya dan Fatha bertugas merekap kemajuan tersebut dalam Pohon Literasi yang sudah kami persiapkan batang dan dahannya. Tiap satu bab yang khatam, kami tulis dalam sepotong kertas dan kami tempelkan sebagai daun pada pohon tersebut.




InsyaAllah besok kami akan mulai melaporkan perkembangan tantangan yang sudah kami jalani. Semoga berhasil..

#HariKe1
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari 
#KuliahBunsayIIP 
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Bahan Bacaan

Materi Level 5 Program Bunda Sayang Batch #5 "menstimulasi Anak Suka Membaca". Institut Ibu Profesional. 2018.

Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti Anonim Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya sa...




Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti
Anonim


Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya saya jalani dengan keterpaksaan. Saat masih menjadi siswa SD, ujian Bahasa Indonesia dengan topik mengarang indah selalu menjadi mimpi buruk. Saya merasa kosakata terbatas pada itu-itu saja. Beranjak dewasa, qodarullah profesi saya mengharuskan menulis sebagai kegiatan utamanya. Berat memang. Sampai sekarang saya masih merasa kemampuan menulis saya berada di bawah rata-rata.

Kesadaran untuk tetap menulis dengan segala keterbatasan tersebut kembali muncul setelah #elfathamirza lahir. Teringat saat masih kanak-kanak, ibu sering mendongeng untuk saya bukan dengan buku cerita, melainkan dengan kisah hidupnya. Saya selalu tertarik dengan dongeng ibu karena selalu berkisah tentang tempat, keadaan, dan tokoh-tokoh yang baru (meskipun kemudian saya menyadari, dongeng impromptu ini adalah strategi cerdik ibu mengatasi kekurangan buku bacaan anak-anaknya 🙈)

Saya kemudian berpikir, betapa seorang anak sangat mengagumi orang tuanya. Bahwa sepenggal kisah yang menurut kita biasa, bisa jadi segalanya di mata mereka.

Sejak saat itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Melalui #projectofgratitude yang sempat mati suri selama dua tahun, saya kembali menemukan semangat bercerita. Saat ini saya sudah mulai mencicipi manfaatnya, meskipun masih berupa remah-remah saja.

Menulis buat saya adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan saya fokus pada apa yang sedang saya lakukan.

Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu (belanja, ehm) online.

Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.

Mengapa online?

Beberapa kali saya kehilangan cerita, foto, dan dokumen lama di gawai. Menyimpan secara online merupakan ikhtiar untuk mengabadikan cerita yang semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Si Kecil.

Sejak proses kehilangan itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Tentang kisah keseharian dalam bentuk blog, artikel populer, maupun ilmiah. (Dua poin terakhir menjadi PR besar saya tahun 2019 ini, mohon doanya). Saya berharap tulisan saya bisa memberikan manfaat bukan hanya untuk saya, namun juga orang lain yang membacanya. Semoga ada sesuatu yang masih bisa dikenang dan bermanfaat untuk sekitar meskipun saya sudah tiada.

Bismillah..