Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi wa...

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi waktu mengingat ada Fatha, sang kakak yang masih butuh banyak perhatian. Awalnya penggunaan pospak hanya dibatasi saat malam hari. Lama-kelamaan kami - terutama aku - terlalu nyaman karena dimanjakan oleh fitur tahan air yang dimilikinya. Selama lebih dari enam bulan kami menjadi pemakai setia pospak.

 

Keadaan berubah ketika suatu hari aku menemukan ruam pada selangkangan Nadin. Ruam yang merah dan terlihat basah masih belum membuatku khawatir.

 

"Ah, tinggal oleskan losion ruam popok dan hentikan sementara pemakaian pospak, maka beberapa hari lagi kulit mulus kembali," pikirku kala itu.

 

Namun prediksiku salah. Tiga hari kemudian, ruam tak juga membaik, malah bertambah luas. Tanpa pikir panjang, aku membuat janji dengan dokter anak yang praktek di Senin pagi itu

.

"Nadin tidak boleh dipakaikan pospak sama sekali ya, Bu," jelas Bu Dokter setelah usai memeriksa si kecil. Lanjutnya,

 

"Ini saya resepkan krim untuk mengatasi ruam dan obat anti alergi untuk diminum. Sementara ini, hindari makanan laut dan telur karena dicurigai memicu alergi Nadin." 

 

Aku kaget dan sedikit menyesali keadaan. Padahal Nadin sedang senang-senangnya makan. Segala menu yang disiapkan selalu dilahapnya tandas tak bersisa. Hal yang tidak kutemui saat permulaan MPASI Fatha, kakaknya. Toh ia masih bisa mengkonsumsi protein hewani lain, pikirku. Daging sapi, ayam, hati, dan ikan air tawar termasuk jenis lauk yang masih diizinkan untuk dikonsumsi anak bayi.

 

Beberapa malam berikutnya, kami mulai beradaptasi ulang dengan jadwal tidur di malam hari. Sejak tidur pada pukul sembilan, setidaknya tiga hingga empat kali Nadin terjaga dan merengek karena buang air kecil. Tenaga ekstra harus kukerahkan karena tidurku jadi tak nyenyak lagi. Belum lagi Fatha yang bersungut-sungut karena terganggu dengan suara adiknya. Biasanya, saat memakai pospak, Nadin hanya terlihat gelisah saat meminta nenen. Menyusui dapat dilakukan sambil terkantuk-kantuk. Alhamdulillah perjuangan berbuah manis. Dalam beberapa hari, ruam pada kulit Nadin sudah benar-benar sembuh.


Merasa tidak sanggup dengan pola tidur seperti saat memiliki bayi baru lahir, aku memutuskan untuk mencoba cloth diaper alias clodi. Pilihan jatuh pada merek Klodiz Izzyeco karena harga lumayan terjangkau bila dibandingkan dengan merk lain. Menggunakan perekat berupa kancing alih-alih velcro menjadi salah satu pertimbangan lainnya. Pengalaman beberapa kali dengan velcro, lama kelamaan daya rekatnya tidak sekuat saat pertama kali digunakan. Selain itu, bagian inner bisa dilepas pasang karena menggunakan model pocket, . Satu set popok terdiri dari bagian cover dan dua buah insert panjang (dua lapis) serta pendek (selapis).


Gambar diambil dari https://www.minikinizz.com/istilah

 

Sebagai permulaan, aku membeli tiga set clodi. Rencananya tiap malam kami hanya akan menggunakan sebuah popok saja. Setelah melakukan prewash, musim hujan menghalangi kami untuk dapat langsung menggunakan popok tersebut. Dua hari kemudian Nadin baru dapat menggunakannya setelah clodi kering benar. Sepekan uji coba dengan Klodiz, alhamdulillah dia cocok. Tidak ada ruam baru yang muncul, atau kemerahan sebagai tanda awal ruam. Aku dan suami memutuskan untuk membeli lebih banyak clodi. Dua kantong besar pospak yang sudah telanjur dibeli kami hibahkan pada dua orang kawan.


Hari ini hujan kembali mengguyur kota kami. Selusin popok baru sudah kucuci alias prewash dengan harapan dapat segera dipakai. Tiga popok lama sudah hampir kering dan direncanakan akan dipakai malam ini. Ketika akan kuangkat ketiga clodi dari atas jemuran,


"Ya Allah, Ayah. Atap ruang jemuran kita bocor," pekikku melihat cucian yang seharusnya sudah kering menjadi basah kembali oleh air hujan. Alamat malam nanti kami harus kembali ronda mengganti popok Nadin. Hihihi..

 

 

#hari4

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalag...



Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalagi film lepas, menjadi pelarianku di saat pikiran penat.

 

Dulu, sebelum menikah dan punya anak, aku mampu menamatkan satu drakor yang terdiri dari 16 episode dalam dua-tiga hari. Sekarang setelah ada duo krucil Fatha-Nadin menemani, tentu saja tak bisa kujalankan kebiasaan lama itu. Satu episode diselesaikan dalam sepekan sudah menjadi sebuah prestasi untukku. 


Namun postingan ini bukan hendak membahas tentang hobiku menikmati drakor. Tentu saja karena masih banyak hobi lain yang lebih layak dibanggakan, seperti menghabiskan waktu bermain bersama Fatha dan Nadin. Nb: bukan pencitraan lho ya :) 

 

Salah satu drama yang sedang kuikuti adalah drakor keluaran tahun 2018 berjudul "What's Wrong with Secretary Kim". Serial lama yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan. Pasalnya aku tidak tertarik melanjutkan setelah menonton tiga episode pertama, terlalu monoton buatku. Aku tergerak melanjutkan karena rekomendasi salah satu rekan kerja yang mengatakan drama ini layak tonton.

 

Serial ini berkisah tentang Kim Mi So yang telah menjadi sekretaris selama sembilan tahun untuk vice president sebuah perusahaan besar. Ia memulai karirnya selepas lulus dari sekolah, tanpa sempat mengenyam pendidikan tinggi. Sembilan tahun bekerja, ia dikenal sebagai sekretaris yang cakap dan lihai.

 

Hal yang membuatku sangat terkesan dari kisah Mi So, ia memulai perjuangannya sebagai sekretaris dengan kemampuan di bawah rata-rata. Salah satu episode menjelaskan bagaimana kualifikasi Mi So saat melamar pekerjaan: tanpa pengalaman kerja mumpuni dan baru lulus dari SMA. Padahal saingannya rata-rata adalah lulusan universitas bergengsi di luar negeri dengan sederet pengalaman kerja. Tentunya ada faktor keberuntungan khas drakor di sana, bahwa sang vice president, Lee Young Joon, sudah menaruh rasa sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mirip drama-drama FTV kita :)

 

Kim Mi So terlihat tidak berbakat di awal kerja. Banyak kesalahan yang ia lakukan hingga membuatnya berkali-kali meminta maaf. Namun semangat belajarnya luar biasa. Selain Bahasa Inggris, ia akhirnya tertantang untuk mempelajari Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin dengan mentor Young Joon. Etos kerja yang baik, tekun, dan kemauan belajar yang tinggi membuatnya terampil dengan kemampuan problem solving yang baik. Young Joon pernah mengatakan,

 

"Apa jadinya aku tanpamu." Kalimat yang menunjukkan kompetensi Mi So sebagai sekretaris andalan Young Joon, bukan dalam konteks romansa di sana.

 

Ketika  Mi So galau memutuskan akan berhenti dari bekerja dengan alasan ingin melanjutkan hidup, ia mendapatkan pencerahan. Sejatinya Mi So sangat menikmati pekerjaan sebagai sekretaris. Melayani dan membantu orang lain adalah hasrat terdalamnya. Jika meminjam istilah pemetaan bakat Abah Rama Royani, maka potensi kekuatan Mi So adalah serving atau melayani.

 

Kang Rendy Saputra melalui bukunya, Muda Mulia, pernah berkata,


Untuk dapat memahami peran yang harus kita mainkan di dalam kehidupan, maka kita harus benar-benar mengenali diri kita. Mengenali siapa kita sebenarnya dan seperti apa kita seharusnya.

 

Istilah yang digunakan Kang Rendy dalam buku tersebut adalah "menemukan berlian diri". Ketika dihadirkan ke dunia, maka Allah tidak akan membiarkan manusia hidup begitu saja tanpa bekal apa-apa. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan. Manusia dibekali dengan bakat dan renjana atau inner strength. Semakin cepat  menemukan bakat tersebut, maka semakin cepat pula kita dapat mengasahnya dan mencapai kesuksesan sejak dini.


Namun jika yang terjadi sebaliknya, kita tak jua menemukan berlian diri, maka cara selanjutnya yang bisa ditempuh adalah mencari hasrat terbesar dalam diri sendiri. Caranya bisa dengan membuat daftar aktivitas positif yang mampu membangkitkan semangat dan membuat mata-berbinar bahagia. Atau dengan mengingat prestasi yang pernah kita raih semasa kecil.


Kim Mi So pada akhirnya menyadari bahwa hasrat terbesarnya adalah melayani. Karenanya, ia mampu bertahan dari berbagai macam tantangan selama bertahun-tahun bekerja. 

 

Pelajaran yang dapat kuambil dari kisah Mi So adalah sebisa mungkin mengenalkan Fatha dan Nadin dengan berbagai aktivitas sejak dini. Tujuannya agar mereka lebih mudah mengenali bakat dan hasratnya sejak dini. Semoga Allah mempermudah mereka menemukan dan mengasah berlian diri :)

  

#hari3

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 



Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah ...



Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah mertua - kakek dari anak-anak kami. Padahal jarak rumah kami menuju rumah Mbah Kung, alias kakek, hanya terpaut 16 kilometer saja! 


Ketakutan akan menularkan virus pada lansia dengan komorbid adalah salah satu alasan kami. Pasalnya tiap hari aku dan suami berada di dalam lingkungan kerja yang penuh paparan virus. Jadi, setelah meyakinkan diri dengan hasil swab negatif, aku baru berani mengiyakan ajakan suami untuk bersilaturahmi. 


Kami berangkat dengan segala macam perlengkapan bak akan maju perang. Protokol kesehatan sebisa mungkin diterapkan. Setiap personel membawa sebuah masker cadangan. Tentunya selain Baby Nadin karena pemakaian masker untuk usia di bawah dua tahun tidak direkomendasikan. Bekal pun disiapkan, mengantisipasi untuk tidak jajan sembarangan. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke rumah Mbah Kung pun dilaksanakan. 


Sepanjang jalan menuju rumah Mbah Kung, aku dibuat terkejut-kejut karena suasana sudah begitu ramai. Dua tempat wisata yang kami lalui penuh pengunjung. Mobil-mobil berjajar memenuhi tempat parkir. 


Sedih, marah, dan kecewa kurasakan saat itu. Ketika hasil pemeriksaan Covid-19 di laboratorium kami masih terus menunjukkan banyak hasil positif tiap harinya, masih ada yang sengaja menciptakan kerumunan dengan dalih menjaga kesehatan mental. 


Tak ingin kubahas kubu-kubu yang terbentuk karena sebagian menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Bukan ranahku untuk membahas hal itu. Namun melihat bagaimana para nakes bekerja tiada henti mengorbankan diri, rasanya tidak etis masih mengeluhkan kurang piknik. Atau yang paling dekat, teman-temanku sesama pemeriksa di laboratorium. Kami masih harus bekerja di hari libur, mengorbankan libur hari raya untuk tetap bekerja dengan target sampel yang luar biasa banyaknya. 


Rasanya seperti dikhianati teman sendiri.. Huhuhu.. 


Tak lama, kami tiba di rumah Mbah Kung. 


Dan menjumpai para tetangga dan saudara sedang bekerja bakti membangun gapura TANPA MASKER. Hatiku mencelos. Kutatap suami yang membalas dengan pandangan keraguan. Membawa anak dan bayi berusia tujuh bulan jadi kekhawatiran utama. 


Sepanjang berada di sana, kami banyak-banyak berdoa untuk kekebalan tubuh dan perlindungan dari-Nya. Tentu dengan wajah yang tetap tertutup masker hingga kami pulang.


Kami pun sepakat, selama beberapa bulan ke depan, tidak akan bepergian bersama si kecil jika tidak dalam kondisi darurat atau penting. 


#hari2

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja,"    Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. ...


"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja," 

 

Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. Rontok rasanya hati ini. Terlebih bila ia melanjutkan, 


"Aku sedih kalau ibu kerja."

 

Setiap ibu pasti punya tantangannya masing-masing. Tak terkecuali aku, seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Pagi hari, kutinggalkan anak-anak dengan menguatkan hati, mereka akan baik-baik saja, di bawah pengawasan orang terpercaya. Sore - atau malam hari jika terpaksa lembur - kujumpai mereka dengan sedikit rasa bersalah dan tubuh yang lelah, memastikan masih bisa membersamai mereka tanpa amarah. 

 

Tiap detik yang kami miliki menjadi sangat berharga. Tak jarang, ketika sedang bersiap-siap pergi ke kantor pada pagi hari, Fatha akan merayuku, 

 

"Ibu temani Kakak main, yuk," atau... 

 

"Ibu bobok saja sini sama Kakak."

 

Jika menuruti kata hati, inginnya kuhampiri ia, memeluknya, dan kembali menarik selimut, sembari melakukan pillow talk. Sambil memikirkan win-win solution, biasanya aku akan mengambil woven wrap kesayangan, lalu mengajaknya beraktivitas dengan meletakkannya dalam gendongan.


Adakalanya, Fatha bersikukuh memintaku tidak meninggalkannya pergi. Jika sudah seperti itu, aku harus memutar otak mencari cara membuatnya melepasnya tanpa drama. Di sinilah aku merasa pentingnya kreativitas seorang ibu. Ia harus bisa selalu mencari cara untuk tetap membersamai anak-anaknya dengan cinta. Beberapa langkah yang sering kuterapkan di antaranya:


  • Menerima kenyataan bahwa kondisi tidak ideal ini harus dialami. Menepis rasa bersalah, karena banyak hal yang sudah kulakukan untuk mereka, anak-anakku. Memasakkan mereka makanan kesukaan, menemani bermain, membacakan buku, menanyakan perasaan mereka, dan berusaha untuk tetap berkepala dingin saat menghadapi tantrum mereka. Aku percaya, di balik segala kekurangan dan kelemahanku sebagai ibu, lebih banyak hal baik yang sudah kulakukan untuk mereka. Dengan begitu, rasa bersalah sedikit demi sedikit bisa pudar.
  • Mencari banyak referensi tentang permainan anak-anak. Saat ini menemukan ide permainan anak sudah sangat gampil surampil. Tinggal buka peramban di ponsel, ketikkan kata kunci, lalu voila! beragam alternatif permainan yang dicari langsung tersedia. Jika ingin versi lebih spesifik, bisa dengan mengunduh dan memasang aplikasi Chai's Play di ponsel. Beberapa jenis permainan yang disukai Fatha adalah meniup gelembung sabun, memotong kertas, atau bermain kuda-kudaan. Menjanjikannya satu sesi permainan tersebut sepulangku dari kerja hampir selalu dapat menaklukkan hatinya.
  • Mengikuti intuisi ibu dan kemauan anak. Setelah menemukan berbagai ide dari internet, supaya tak mudah galau, sebaiknya kita tetap berpegang teguh pada visi dan misi keluarga yang sudah ditetapkan. Kita tak mudah galau dengan arus informasi yang didapatkan dari mana-mana karena sudah tahu ke mana keluarga kita akan dibawa: mana prioritas yang akan dipilih dan model pengasuhan seperti apa yang akan diterapkan. Bahwa yang terpenting adalah fokus pada kebutuhan anak dan tidak perlu membandingkannya dengan anak lain. Tugas ibu adalah mengarahkan, mendampingi, dan membersamai anak dalam belajar.
  • Bersikap fleksibel dan meyakini bahwa anak tidak berniat mempersulit urusan kita. Anak-anak hanya ingin mendapat perhatian dari orang tuanya. Selalu ada motif yang mendasari setiap perilaku mereka yang kadang kita anggap annoying. Memahami peristiwa dari sudut pandang anak hampir selalu dapat mengurangi konflik yang terjadi. Contohnya, saat beberapa hari lalu kutemukan Fatha merendam boneka hafiznya di dalam ember, ingin rasanya aku berteriak, "Ibu menabung sekian lama untuk membelikanmu boneka itu, Naaak.. Kenapa usianya hanya sampai tiga tahun?"  Namun setelah menahan diri untuk tidak reaktif, kutemukan jawaban yang mencengangkan. "Kakak mau mengajari Hafiz wudhu, Bu." Surutlah emosiku berganti rasa haru.

 

Menjadi ibu sejatinya adalah terus belajar. Dengan terus mengasah kreativitas dan intuisi sebagai seorang ibu, semoga menjadikan kita ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu yang tidak menggoreskan luka di hati anak-anaknya, yang membekas hingga mereka dewasa. Aamiin..

 

#hari1
#ch5kepenulisan
#clustersolutif
#bundaproduktif
#institutibuprofesional

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan maina...

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan mainan, mandi, makan, atau menyikat gigi.

Mengingat kembali prinsip CINTA yang baru saja kupelajari lewat program pelatihan Relawan Keluarga Kita (RANGKUL), aku mencoba merefleksikan keadaan dan mengurai satu persatu masalahnya. Oh ya, sebelumnya mari berkenalan dengan prinsip CINTA.

Setiap orang tua pastilah mencintai anak-anaknya dengan jumlah yang besar. Namun kadang, cara mencintainya masih belum tepat. Mencintai, namun menimbulkan luka di hati sang anak. Cara mencintai yang benar diajarkan lewat prinsip cinta ini:

C: cari cara

Pengasuhan adalah perjalanan jangka panjang yang membutuhkan proses dan pembelajaran yang tidak instan, baik bagi orang tua maupun anak. Untuk mencapai tujuan pengasuhan, dibutuhkan pemahaman orangtua atas kondisi anak secara menyeluruh, yaitu usia, tahap perkembangan dan sifat bawaan anak. Dalam pengasuhan, orangtua perlu bersikap fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi pada anak saat kejadian berlangsung.

Ketika muncul masalah, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu menginisiasi pengumpulan informasi dengan cara observasi; menggali informasi dengan diskusi dari hati ke hati; dan mencari beberapa alternatif solusi tindakan atau perlakuan apa yang bisa digunakan dan memilih yang termudah.

I: ingat impian tinggi

Ada perasaan iba dan kasihan ketika melihat anak kesulitan mengerjakan tugas sekolahnya. Jika ingin mengambil jalan pintas, orang tua akan bertanya dan membantunya mengerjakan. Tapi mengingat impian tinggi, tentu saja kami berharap anak akan mandiri ke depannya. Untuk itu yang kami lakukan adalah bertanya dan mencoba berempati dengan kesulitan yang ia hadapi. Langkah selanjutnya adalah meminta izin dan mengajaknya mencari jawaban bersama-sama sambil menyemangati bahwa dia pasti bisa mengerjakan. Tak perlu takut salah.

Fatha, anak pertama kami, berusia tiga tahun. Anak usia tiga tahun senang diperhatikan. Ternyata inilah alasan mengapa Fatha suka sekali memanggil kami orang tuanya untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.

Fatha butuh dibacakan buku, namun sudah mampu memahami isinya dan mampu menceritakan kembali, berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari. Fatha juga suka sekali bercerita. Apalagi jika malam menjelang tidur. Ternyata tidak boleh memotong pembicaraannya karena akan melukai egonya. Untuk itu kami perlu mencari cara bagaimana mengajaknya tidur sesuai rutinitasnya tanpa menyakiti hatinya dengan memotong pembicaraan.

N: (me)nerima tanpa drama

Anak masih terus belajar mengelola emosinya. Untuk itu, sudah seharusnya orang tua yang belajar mengendalikan emosi, dan bukan justru terpancing dengan ulah anak.

Contohnya, saat anak usia sekolah merasa lelah dengan aktivitas belajar. Sehari-hari ia sudah disibukkan dengan les, dan menjelang ujian diminta oleh ibunya mempersiapkan diri dengan membaca bab 1-3 pelajarannya. Ibu tentu ingin anak mendapatkan hasil terbaik bagi anaknya. Namun menurutku, ada baiknya jika ibu mengabulkan sejenak keinginan anaknya untuk bermain dengan batasan waktu, lalu meminta komitmennya untuk kembali ke rumah dalam kondisi siap belajar kembali. Mungkin lain waktu, anak perlu dimintai pendapat, bagaimana model belajar yang ia sukai, termasuk bicara dari hati ke hati mengenai minat belajarnya.

Sebagai orang tua, kami akan mengizinkan anak untuk bermain dengan batasan waktu, misalkan hanya satu jam. Lalu setelahnya, anak harus segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap belajar lagi. Di lain waktu, kami akan mengajaknya bicara dari hati ke hati mengenai model belajar yang ia sukai dan ke mana minat belajarnya.

Berpikir bahwa untuk kepentingan anak, orang tua tidak boleh langsung emosi dan menyalahkannya. Kami harus tetap berkepala dingin, melakukan kontak fisik seperti memeluk atau mengelus kepalanya. Jika ia sudah siap, baru kami akan menjalankan strategi bicara dari hati ke hati untuk menemukan akar permasalahannya 

T: tidak takut salah

Berbicara tentang kesalahan, ada tiga hal yang langsung muncul dalam pikiranku: kesalahan sangat mungkin terjadi, bisa diperbaiki, dan berusaha tidak mengulangi. 

Saat menemukan kesalahan, jika menyangkut orang lain, tentu akan ada perasaan bersalah. Sebaliknya, jika menyangkut diri sendiri, tentu akan ada perasaan, "mengapa bisa terjadi? mengapa saya tadi seperti itu?" Namun kembali, aku harus tetap bisa mengelola emosi dan tidak malah makin menyalahkan diri sendiri.

Respon yang kemudian muncul pun berbeda. Jika menyangkut diri sendiri, maka aku akan segera mencari akar penyebab dan mencari cara untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan. Setelahnya, aku akan mencari cara untuk mencegah kesalahan tersebut terulang. Jika menyangkut orang lain, tentu saja ada perasaan bersalah. Untuk itu, yang dilakukan pertama kali adalah meminta maaf. Selanjutnya perlu refleksi seperti yang kutulis sebelumnya.

A: asyik main bersama

Bermain adalah melakukan aktivitas menyenangkan dan bersifat rekreasi. Bermain bersama adalah cara efektif untuk membuat anggota keluarga lain merasa keberaadaannya dihargai dan dianggap penting. Pengalaman ini akan berdampak positif pada kualitas hubungan.

Humor efektif untuk membantu mengurangi ketegangan dan melihat suatu kondisi (misal: krisis keluarga) dengan lebih positif. Humor dan bermain menjadi memori yang berarti dan melekatkan hubungan.

Ada tiga hal yang langsung hinggap dalam pikiranku jika berbicara tentang “bermain”, yaitu: hangat, seru, dan akrab. Tiga aktivitas ini juga jadi andalan untuk melakukan waktu berkualitas bersama keluarga: berkumpul di kamar atau ruang keluarga, asyik bercerita dan saling menimpali , makan bersama, Jalan-jalan bersama

Kembali pada prinsip CINTA dan mencintai secara lebih baik, kemarin aku berusaha untuk tidak menggunakan nada tinggi dan memerintah Fatha untuk membersihkan remah-remah makanan yang ia tumpahkan.

Aku mulai menggunakan prinsip kelima, “asyik main bersama”.

“Kak, mau dengar cerita ibu?” tanyaku memulai strategi. Mata Fatha berbinar dan mulai mendekatiku.

“Ada semut-semut kecil yang sedang menuju kamar kita. Mereka berlarian sambil berkata, ‘lihat, ada makanan di sana. Ayo kita ambil’, ucap semut paling besar. Ih, itu, semutnya sebentar lagi datang. Kita bersihkan dulu remah-remahnya supaya para semut tidak jadi datang, ya,” aku berusaha bercerita sedramatis mungkin.

Sesuai ekspektasiku, Fatha langsung mengambil remah-remah coklat dan meletakkannya ke tanganku.

“Ayo kita buang, Bu”.

Aku tersenyum sembari mengucap syukur. Berkurang satu drama dan konflik hari ini.

 

Sumber bacaan:

Najelaa Shihab. Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik. Cetakan Keempat. 2020. Penerbit Buah Hati: Jakarta.



  Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar,...

 


Belajar adalah salah satu passion hidupku. Itulah mengapa, setiap ada kesempatan untuk menambahkan pengetahuan atau skill melalui seminar, workshop, maupun pelatihan, rasanya ingin segera kusambar saja.

Mengenal Rangkul - Relawan Keluarga Kita sejak tahun 2017, aku merasa nyaman saat mengikuti sesi bicara rangkul alias sesi curhat. Sempat vakum beberapa saat, akhirnya aku mengikuti Sesi Rangkul kembali pada tahun 2020. Nadin, anak keduaku, sudah lahir kala itu. Suamiku memberikan restu sepenuhnya, ketika sempat mencuri dengar sesi curhat yang dilakukan secara daring.

"Aku suka kalau kamu sering ikut acara seperti ini, Yang," ungkapnya beberapa saat kemudian.

"Kenapa?" tanyaku penasaran, meski sudah mengetahui alasannya.

"Karena setelahnya, kamu jadi berkali lipat lebih ceria dan bahagia," lanjutnya.

Bagaimana tidak bahagia jika perempuan dengan kuota 21.000 kata per hari diberi kesempatan menyalurkan uneg-unegnya. Hohoho..

Singkat cerita, aku mengantongi lisensi dari suami untuk mengikuti rangkaian pelatihan menjadi relawan Keluarga Kita alias Rangkul. Alhamdulillah, seleksi pertama lolos, sehingga aku dapat melanjutkan seleksi berikutnya menjadi Rangkul berupa tiga bulan pelatihan secara daring.

Bahagia, bukan? Aku yang biasanya sering terkendala waktu dan lokasi yang jauh di daerah, saat ini bisa mengakses ilmu dan wawasan dengan lebih mudah di tengah kesibukan bekerja dan menjadi ibu.

Tentang Rangkul

Rangkul adalah relawan penggerak pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya, atau disingkat Keluarga Kita. Tujuan utamanya adalah menciptakan keluarga Indonesia yang berdaya dengan meningkatkan kapasitas orang tua.

Ada kurikulum yang diterapkan dalam Keluarga Kita dan tidak akan saya bahas di sini. Pelatihan baru berlangsung dua hari, soalnya. Jadi, saya belum bisa merangkumnya. Hihihi.

Pertemuan kedua ini, kami diajarkan bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. Fasilitator harus memperhatikan hal-hal berikut, di antaranya penampilan baik, rileks, menjaga kontak mata, menyesuaikan intonasi dan pace suara atau tempo, dan mendengarkan sepenuh hati.

Selain sharing materi, beberapa peserta diberi kesempatan praktek. Sayang sekali aku belum mendapatkan kesempatan itu. But it's okay. Yang penting latihan jalan terus.

Teknik Berbagi Pengalaman

Yang menarik, kami juga diajarkan cara berbagi pengalaman alias sharing alias curhat, dengan baik dan benar. Beberapa kali mengikuti Sesi Bicara Rangkul, aku baru ngeh sekarang jika tanggapan kakak-kakak fasilitator memang menggiring kita untuk melengkapi skema curhat tersebut menjadi lengkap dan dapat diambil hikmahnya.

Contohnya begini,

Berbicara pengasuhan, ada ketakutan untuk tidak dapat bersikap adil kepada kedua anak saya. Fatha, 3 tahun, sering meminta saya menemaninya sepulang kerja. Kondisi lelah, lapar, dan mengantuk, kadang membuat saya tidak cukup sabar mengabulkan permintaannya. Apalagi ada Nadin yang baru berusia 6 bulan meminta jatah nenen jika sudah mendengar suara ibunya.

Saya merasa bersalah, mudah terpancing amarah padahal sebenarnya Fatha tidak bersalah. Mungkin energi dan pikiran saya yang terkuras oleh pekerjaan kantor membuat saya berlaku seperti itu.

Akhirnya saya meminta bantuan Uti untuk bisa menghandle Nadin dengan memberikan ASI perah, sementara saya menenangkan Fatha. Tentu tidak langsung berhasil. Kadang Fatha ngambek, atau Nadin menangis kencang mencari ibunya.

Saya berencana untuk membuat kesepakatan dengan Fatha. Saya akan memeluknya sepulang kantor dan membersihkan diri. Setelahnya, saya meminta waktu sesaat untuk mengisi perut dan menyusui adiknya. Setelahnya kami main bersama lagi. Semoga dengan begitu, Fatha akan merasa lebih dihargai perasaannya, dan Nadin tetap mendapatkan haknya.

Berdasarkan contoh di atas, sudah terlihat, bukan, curhat yang terstruktur? Jadi curhat harus memuat:

  1. Cerita yang kita alami
  2. Cerita yang kita rasakan
  3. Analis keduanya
  4. Cerita keberhasilan
  5. Cerita kegagalan, dan
  6. Rencana perbaikan
Tidak sabar rasanya segera praktek sungguhan, saling menimpali, dan menanggapi sharing pengalaman dari kawan-kawan :)

 


Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy , rekan seperjuanga...

Setelah 8 minggu berjuang, pekan ini adalah penghujung pertemuan di Kelas Ulat. Kami mendapat tugas untuk mencari buddy, rekan seperjuangan yang akan menyemangati selama nanti kami berpuasa di Kelas Kepompong.

Sempat terpikir satu nama, rekan satu regional yang juga kawan seperjuangan saat di Bunda Sayang, Mbak Rina Mutiarasari.  Sebelum sempat "melamar"-nya menjadi buddy, rupanya Mbak Rina berpikiran sama, malah beliau lebih dulu menjapri saya. Alhamdulillah, betapa senangnya. Meskipun minat belajar kami berbeda (kami bergabung di keluarga yang tidak beririsan), tapi semoga semangat belajar dan kedisiplinan Mbak Rina menular juga. Hehehe..

Mbak Rina adalah seorang Ibu berputra 2 yang masih berusia balita. Tentunya saya akan banyak belajar, terutama bagaimana menyiasati waktu belajar dan bekerja saat masih marus membersamai Si Kecils.

Aliran rasa Mbak Rina selama mengikuti Bunda Cekatan adalah sebagai berikut:

"Banyak sekali ilmu yang bertebaran. Awalnya Ibu ingin mencari satu demi satu ilmu terlebih dahulu. Dan langsung praktek agar tidak lupa. Tapi sesampainya di sini, ternyata cara mungkin kurang pas karena sesampainya di sini, sudah dapat ilmu dan sudah praktek, juga sembari jalan ambil ilmu dari keluarga Ratu Dapur yang saya ikuti."

"Karena sudah praktek, maka Ibu mulai melirik keluarga yang lain (dan baru belajar di keluarga yang lain). Dan ternyata semua saling tumpang tindih dan berkaitan maka keluarga-keluarga yang saling berkaitan tersebut baru mulai Ibu ikuti dan ambil ilmunya. Banyak sekali, ada parenting, portofolio, coaching, dan Keluarga Cemara. Sedang keluarga manajemen belum Ibu ikuti."

"Apa saja yang didapat:
Banyak sekali, ada food prep, resep-resep, bumbu dasar, frozen food, contoh menu 7/10 mingguan, dan lain-lain. Dan dari keluarga yang baru Ibu ikuti juga sangat banyak, antara lain:
  • Portofolio: mengumpulkan bank data (sudah mulai)
  • Cemara: ilmu lain tentang food prep (sama dengan Ratu Dapur)
  • Cocoa: coaching for kids (baru mulai)
  • Gizi: asupan makanan dan feeding rules (on the way)
  • Homeschooling: tujuan dan bagaimana; kurikulum (baru materi saja)
Hasil

  • Portofolio: mengumpulkan bank data
  • Cemara: mulai mengurangi barang
  • Cooking: food prep; memasak lebih cepat
  • Gizi: berusaha memenuhi gizi meski anak masih picky eater"
"Yang akan diperdalam:
Homeschooling: kurikulum dan upload di sosmed
Cocoa: Hadir, dengarkan, encourage" 

Berdasarkan aliran rasa yang sudah Mbak Rina utarakan, saya mencoba mencari beberapa "makanan" yang semoga bisa menjadi bekal beliau selama menjadi kepompong nanti.



Menyusun Kurikulum Pendidikan di Rumah
(catatan hasil mengikuti kulwap yang saya ikuti, belum sempat diposting)

Menyusun Kurikulum Pendidikan Keluarga

Kurikulum Homeschooling

12 Tips for Coaching Kids: Learn How to Coach Children for Life

Mengikuti Sharing "Parent as Coach, Pendekatan Coaching dalam Pengasuhan Anak Remaja", dari Seorang Coach Profesional

Sepertinya Mbak Rina sudah sempat melahap beberapa artikel di atas lewat hasil intipan saya pada postingan blog-nya. Oh ya, postingan yang dimaksud bisa diintip di alamat ini https://mutiarasaririna.blogspot.com/2020/03/8-kelas-ulat-bekal-untuk-buddyku.html?m=1

Sedangkan aliran rasa saya bisa dilihat di bawah ini



#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Setelah mengumpulkan berbagai makanan selama di kelas Ulat, hari ini saya mencoba menilik kembali peta belajar dan mendaftar kembali makana...

Setelah mengumpulkan berbagai makanan selama di kelas Ulat, hari ini saya mencoba menilik kembali peta belajar dan mendaftar kembali makanan apa saja yang sudah saya dapatkan. Cukup takjub karena dengan berbekal peta belajar, alhamdulillah proses belajar dan mengumpulkan makanan sangat on track. Dua topik yang saya prioritaskan untuk dipelajari sudah berhasil menemukan jalan terangnya. Berikut ini adalah gambaran makanan utama yang sudah saya peroleh selama beberapa minggu berkelana.




  1. Makanan yang sudah diperoleh sangat sesuai dengan kebutuhan. Ada 2 cabang peta belajar yang sedang menjadi fokus belajar saya, yaitu: MANAJEMEN KEUANGAN dan MANAJEMEN GADGET.
  2. Makanan utama lebih banyak saya dapatkan karena fokus pada peta belajar. Salah satu makanan yang saya dapatkan, yaitu mengatasi "tsunami" informasi berhasil membuat saya fokus pada target. Selain itu mantra "menarik tapi tidak tertarik" cukup membuat saya menahan diri pada hal yang penting dulu.
  3. Kebahagiaan belajar di hutan belajar saya dapatkan karena kita dapat memilah sendiri mana-mana yang dibutuhkan. Kejutan-kejutan tak terduga seringkali muncul dari teman-teman lain.
  4. Strategi belajar yang saya anggap berhasil adalah dengan tetap fokus pada peta belajar, serta mencari sebanyak mungkin "ulat" sejenis, yang sedang mencari jenis makanan sama.
  5. Semangat belajar dan kemampuan mengatur waktu menjadi 2 hal yang perlu saya tingkatkan. Masih ada 2 topik yang harus saya pelajari berdasarkan peta tersebut.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu7
#materi7
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Makan "makanan bergizi" tiap pekan menjadi salah satu rutinitas bagi kami para Ulat Bunda Cekatan. Berbekal peta belajar, beberap...

Makan "makanan bergizi" tiap pekan menjadi salah satu rutinitas bagi kami para Ulat Bunda Cekatan. Berbekal peta belajar, beberapa hari lalu kami sudah mengikuti Camping Ground dan berkenalan dengan banyak mahasiswi lain. Pekan ini, saya pun berkunjung ke rumah beberapa orang kawan baru sambil mengantarkan makanan kesukaannya.

Berikut adalah keempat kawan baru yang sudah saya kunjungi:



Keempat kawan baru tersebut adalah:

  • Annisa Fauziah (IP Depok)

Sebelum saya menyapa, Mbak Annisa lebih dulu membawa "hadiah" berupa pengalaman beliau dalam mengatasi "tsunami informasi". Mbak Annisa juga membuat coretan mind map tentang manajemen gadget yang diambil dari artikel di internet
Saya pun memberikan "hadiah balasan" berupa resume Kulwap mengenai KonMari Gadget yang pernah diadakan Teh Chika, Rektor Institut.

  • Kidung (IP Yogyakarta)

Mbak Kidung merupakan anggota keluarga Temanda (Teman Main Ananda). Saya memberikannya oleh-oleh berupa kisah saya membuat amplop lebaran yang bisa dilakukan bersama Si Kecil di rumah.

  • Sally Dewi (IP Bekasi)

Mirip dengan Mbak Kidung, Mbak Sally juga bergabung di Keluarga Temanda. Karena berminat juga di homeschooling, maka saya memberikan bingkisan berupa salah satu postingan saya mengenai Workshop "A" Home Team yang pernah saya ikuti akhir tahun 2018 lalu.
  • Syafi'ah (IP Malang)

Untuk Mbak Syafi'ah yang sedang gemar belajar desain, saya memberikan pula ide membuat amplop lebaran.

Harapannya, oleh-oleh yang saya berikan saat berkunjung ke kawan-kawan baru ini bisa bermanfaat. Aamiin..

#janganlupabahagia
#jurnalminggu6
#materi6
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Pekan kelima kami masih diberikan suguhan parade Go Live di grup Facebook. Kami diberi kesempatan untuk mencicipi cemilan dari ulat-ulat di...

Pekan kelima kami masih diberikan suguhan parade Go Live di grup Facebook. Kami diberi kesempatan untuk mencicipi cemilan dari ulat-ulat di keluarga lain. Selain itu kami para ulat juga diberi kesempatan untuk berkumpul dalam sebuah Camping Ground. 

Cara bermainnya sangat seru. Kami bisa mencari kenalan baru di dalam maupun keluarga kami. Kemudian diskusi akan berlangsung secara personal. Masing-masing akan saling berbagi mengenai keluarga favorit masing-masing. Ada juga yang dengan sukarela membagikan resume cemilannya selama belajar di Kelas Ulat.

Saya memutuskan membagikan nomor Whatsapp saya pada postingan grup Facebook. Alhamdulillah dalam kurun waktu 3 hari, ada 25 Bunda Cekatan yang menghubungi. Senang, karena bertambah 25 orang kawan baru dari berbagai regional lain dan topik belajar yang bermacam-ragam. Berikut adalah ringkasan obrolan dengan kawan-kawan baru yang saya temui.


Jika dikelompokkan, ada 3 keluarga dengan jumlah peserta terbanyak yang baru saja saya kenal. Sesuai peringkat, keluarga tersebut adalah:

1. Keluarga Uluwatu (Manajemen Waktu)
2. Keluarga Inside Out (Manajemen Emosi)
3. Keluarga Teman Main Ananda/Temanda (Bermain Bersama Anak)


Saya sendiri masih memfavoritkan keluarga kecil kami, Manajemen Gadget. Alasan utamanya karena jumlah anggota keluarganya yang sedikit (dari 7 orang sudah bertambah menjadi 29 orang, karena beberapa kenalan baru berminat mencicipi cemilan di keluarga kami). Diskusi jadi berlangsung lebih fokus dan tidak banyak menyita waktu. Alhamdulillah saya mulai bisa menerapkan jam online (di luar waktu kerja, terutama saat di rumah). Konmari gadget pun sudah mulai dapat saya lakukan dengan mengelompokkan aplikasi berdasarkan kategori dan mengeliminasi aplikasi yang tidak urgent digunakan.


Jika divisualisasikan dalam grafik, terlihat bahwa Keluarga Uluwatu memegang peringkat tertinggi dalam hal jumlah teman yang baru saya temukan (9 orang), disusul dengan Keluarga Inside Out (7 orang). Percakapan dengan teman-teman baru ini pun membuat saya mendapatkan ilmu baru. Terlebih karena manajemen waktu merupakan salah satu ilmu yang saya butuhkan dalam peta belajar yang sudah disusun beberapa pekan lalu.

Saya merasa kurang bisa fokus belajar di grup diskusi yang besar. Hal ini juga dibenarkan beberapa kawan saya. Mbak Chitra dari IP Malang juga menyatakan bila ia kurang menyimak diskusi pada grup besar Uluwatu - hanya membaca resume-nya saja, dan lebih merasa nyaman mengikuti diskusi pada grup kecil pilihannya, yaitu manajemen waktu dalam Islam.

Bila dilihat dari regional asal Bunda Cekatan, maka teman baru saya sebagian besar berasal dari:
1. Yogyakarta (4 orang)
2. Kalimantan Selatan (4 orang), dan
3. Malang (3 orang)

#janganlupabahagia
#jurnalminggu5 
#materi5 
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Pekan keempat Kelas Ulat Bunda Cekatan, saatnya kami melahap makanan besar berupa buah-buah apel yang kami kumpulkan dari sumber ilmu manap...

Pekan keempat Kelas Ulat Bunda Cekatan, saatnya kami melahap makanan besar berupa buah-buah apel yang kami kumpulkan dari sumber ilmu manapun. Tentunya tetap berpegang pada peta belajar ya, supaya tak tersesat. Kami diperbolehkan ngangsu kawruh berpindah-pindah ke keluarga lain untuk mencari ilmu yang lebih luas.

Saya sendiri memilih tetap tinggal di dalam keluarga kecil "Manajemen Gawai" dan mengambil ilmu dari kulwap yang diselenggarakan di grup HIMA regional mengenai "Manajemen Waktu". Kulwap ini memilih narasumber Teh Euis Kurniawati dari IP Surabaya. Beberapa ilmu mengenai mengelola waktu mengerucut menjadi mengelola aktivitas, waktu, dan stress.

Pembatasan penggunaan gawai ternyata tidak sesaklek yang saya bayangkan sebelumnya.
Prinsipnya adalah menjawab pesan ketika sempat, sesuai dengan jadwal online yang sudah ditetapkan sebelumnya.






#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Belajar tak seru jika tidak berada dalam komunitas yang sama. Di minggu ketiga ini, kami dikumpulkan ke dalam 40 keluarga yang seminat. Jen...

Belajar tak seru jika tidak berada dalam komunitas yang sama. Di minggu ketiga ini, kami dikumpulkan ke dalam 40 keluarga yang seminat. Jenis "makanan" yang sama akan memudahkan kami para ulat mencari bekal dan mengunyah ilmu yang sejenis.

Saya bergabung dengan "Keluarga Manajemen Gadget" atau "Keluarga Manajemen Gawai". Dengan Kepala Keluarga Mbak Linda Kurniawati yang sedang menunggu saat-saat persalinan, kemudian diwakili oleh Mbak Novalia Abd. Rahman, diskusi berjalan lancar meski harus menunggu ketujuh ulat mencari waktu yang tepat. Platform diskusi yang kami gunakan adalah Whatsapp Messenger.

Berikut adalah hasil diskusi yang dirangkum dalam sebuah poster:
Kendala yang kami hadapi dalam manajemen gawai di antaranya adalah ketergantungan pada gawai karena: 
  • 1. Sering jadi tempat curhat
  • 2. Muncul ide tulisan sewaktu-waktu, harus segera ditulis. Atau justru ide muncul dari scrolling timeline
  • 3. Tidak enak mengabaikan chat orang lain
  • 4. Tanggung jawab komunitas online/ranah publik
  • 5. Membaca Quran di ponsel, ponsel berlaku sebagai asisten online (agenda/pengingat)


Makanan yang sudah kami dapatkan dan siap dikunyah bersama-sama adalah sebagai berikut:
  • 1) https://www.ibuprofesional.com/amp/gadget-hours-manajemen-online-ibu-profesional
  • 2) https://muslimahgreentrepreneur.wordpress.com/2015/02/19/manajemen-gadget/amp/
  • 3) https://www.facebook.com/groups/komunitasibuprofesional/permalink/570252723546630/
  • 4) https://catatanamandapw.wordpress.com/2018/08/06/kiat-kiat-melakukan-menejemen-gadget-bagi-seorang-ibu/amp/
  • 5) http://duniaattaya.blogspot.com/2015/04/management-gadget.html?m=1
  • 6) https://catatanshinitchan.wordpress.com/2017/11/24/management-gadget/amp/
  • 7) https://www.alona.co.id/lifestyle/cara-mengatur-waktu/


Rencana yang kemudian kami susun untuk dapat menerapkan manajemen gawai dengan baik adalah:
  • 1. Menyusun peruntukan gawai dalam 4 kuadran dan membuat jadwal penggunaannya
  • 2. Meminimalisir penggunaan gawai dengan: mengalihkan agenda/aktivitas di papan jadwal, bukan di gawai; menulis outline tulisan di buku catatan; menyelesaikan naskah di laptop/PC, bukan ponsel
  • 3. Menyusun daftar kegiatan bersama gawai dalam 4 kategori: ranah publik, ranah kebahagiaan, membersamai anak, dan investasi akhirat
  • 4. Membuat jadwal kegiatan di tempat yang mudah terlihat, rlevaluasi dan revisi jika belum selesai
  • 5. KonMari gawai tiap pekan
  • 6. Membuat jadwal online dengan gawai, terutama jadwal online di rumah, lalu menginformasikan pada rekan kerja. Jika perlu, menerapkan NO GADGET di rumah.
  • 7. Uninstall aplikasi yang tidak menunjang produktivitas (misalnya Facebook)
  • 8. Memindahkan dokumentasi dan file penting ke laptop/hard disk external
  • 9. Reward dan punishment


#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch2
#buncekIIP
#institutibuprofesional