Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan N...





Sejak kelahiran anak kedua hampir delapan bulan lalu, pikiran dan energiku serta suami tersita sepenuhnya untuk kedua anak kami, Fatha dan Nadin. Fatha masih menunjukkan tanda-tanda cemburu jika Nadin sedang bersama denganku. Praktis, ayahnya akan membersamainya selalu.


Sebelumnya, akhir pekan menjadi waktu kami bertiga bersenang-senang bersama, piknik ala kadarnya di alun-alun atau hutan kota. Sejak pandemi terjadi, hari libur difokuskan menjadi waktu beberes rumah. Segala “kekacauan” yang terjadi di hari kerja harus dibenahi saat aku dan suami full berada di rumah. Akibatnya, waktu berkualitas antara kami berdua nyaris tidak ada lagi. Pesan-pesan singkat di WA yang sebelumnya “berwarna-warni”, sekarang menjadi monoton seperti,


“Kalau pulang, nitip sabun dan sampo sekalian ya, Yah,” atau


“Besok pulang awal ya, Yah. Jadwal Nadin imunisasi. Fatha tidak ada temannya.”


Jarang sekali aku menemukan kalimat-kalimat gombal a.k.a. mesra atau humor-humor yang terselip di antara percakapan kami berdua.


Sampai pada akhirnya, pelatihan Relawan Keluarga Kita alias RANGKUL membahas mengenai hubungan reflektif. Ada salah satu peserta yang berbagi pengalaman tentang hubungannya dengan anaknya. Ketika sang ibu masih belum tuntas dengan dirinya sendiri, ada saja emosi negatif yang berimbas pada anak. Aku jadi merefleksikan pengalaman itu pada diriku sendiri. Saat ini aku sudah bisa mengendalikan emosi ketika menghadapi si kecil. Nada tinggi sudah mulai jarang terdengar. Kuncinya aku sudah cukup makan, istirahat, atau tidur, saat menghadapi mereka.


Namun hubungan dengan suami masih jadi tugas besar yang harus segera diselesaikan.


Berbekal ilmu yang aku dapatkan dari pelatihan kemarin, berikut langkah yang coba aku lakukan:


1. Menyusun strategi dan menentukan waktu untuk bisa berbicara berdua saja dengan suami. Berhubung saat ini kami sedang terpisah jarak, aku membuat semacam undangan dengan bantuan Canva untuk private session yang kuberi judul “Sesi Ngobrol Asyik The Saputros”. Saputro adalah nama belakang suami. Harapannya, aku dan suami bisa menyampaikan hal-hal yang mengganjal serta menemukan solusi bersama. Tentunya dikemas dengan lebih seru supaya tidak kami jadikan sebagai beban.


Konsep sesi curhat ini mengadaptasi dari podcast atau siniar milik beberapa orang selebgram yang aku ikuti, seperti Fitri Tropica (Fitrop) dan Nycta Gina. Seru sekali mendengar obrolan mereka bersama suami. Ngobrol dengan bahan diskusi yang ringan, namun bisa menarik untuk terus disimak.


Nah, jika cerita keluarga lain saja menarik untuk disimak, apalagi kisah keluarga sendiri, bukan?


2. Menyampaikan maksud baik tersebut pada suami dengan menggunakan teknik I-message. 


Apa itu teknik I-message?

Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara.


Formatnya adalah “Aku merasa… saat…. Aku ingin… karena…”.


Contoh I-message yang kusampaikan pada suami seperti berikut,


“Yah, sepertinya akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua, ya. Nanti sore ayah ada waktu pukul berapa? Yuk, kita ngobrol bareng. Aku seneng banget kalau bisa ngobrol sama ayah, soalnya sering dapat pencerahan, atau setidaknya bikin perasaan lebih lega.”


Tak lupa kukirimkan gambar undangan private session yang sudah kubuat sebelumnya. 


Persiapan Sesi Curhat dengan Lima Teknik Komunikasi 

Keesokan malamnya, Sesi Curhat atau Private Session atau Sesi Ngobrol Asyik The Saputros akan dilangsungkan. Nah, supaya lebih greget dan berkesan, aku mempelajari kembali lima teknik komunikasi yang sudah kubaca sebelumnya.


1.    Menggunakan I-message. Teknik I-message adalah cara menyampaikan informasi atau komunikasi dengan orang lain dengan “aku” sebagai fokusnya. Jadi tidak terkesan menyalahkan pihak lain, justru akan membangkitkan empati bagi lawan bicara. Contohnya sudah dibahas pada postingan sebelumnya.


2.    Mengungkapkan kebutuhan diri. Misalkan dengan menyampaikan bahwa aku butuh dukungan suami untuk mencari solusi bersama.


3.    Mengungkapkan maaf. Jika ada kesalahan yang sudah diperbuat, tentu saja tak perlu gengsi menyampaikan permohonan maaf.


4.    Mengajak bersepakat. Di akhir sesi curhat, aku berencana mengajak suami untuk mencapai kesepakatan bersama. Apa rencana aksi yang akan kami lakukan.


5.    Menunjukkan apresiasi. Seperti apapun acara berjalan, berhasil atau tidak berhasil, menemukan solusi atau tidak, aku tetap harus menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih pada suami karena telah mendengarkan dan aktif berdiskusi.


Rencananya diskusi akan berlangsung melalui aplikasi Whatsapp Call. Aku sudah meminta izin pada suami untuk merekam diskusi kami. Rasanya sudah tak sabar menunggu malam itu.


Saat eksekusi, awalnya sempat ada sabotase dari Kakak,


"Ibu, aku mau ngobrol dengan ayah," dan sesi ngobrol tertunda hingga dua jam berikutnya. Hehehe..


Semoga saja acara ini bisa berlanjut dalam beberapa episode. Entah tiap minggu, dua minggu, atau sebulan sekali, akan sangat berkesan dan bermanfaat bila konsisten dijalankan.





 



  Aku bersyukur Allah memberiku masa kecil yang menyenangkan. Orang tua hadir tak hanya secara fisik, tetapi mereka tak pernah habis melimpa...

 


Aku bersyukur Allah memberiku masa kecil yang menyenangkan. Orang tua hadir tak hanya secara fisik, tetapi mereka tak pernah habis melimpahkan kasih sayang dan perhatian yang kubutuhkan. Mereka mendidikku dengan demokratis dan tanpa kekerasan. Mereka tak pernah membebaniku target berat, meski wajah bahagia mereka tak dapat disembunyikan ketika aku berhasil mencapai targetku sendiri. Ibu tegas namun penyayang. Ayah bertanggung jawab dan tak pernah merokok demi kesehatannya dan anak-anaknya. Adik-adik jahil tapi diam-diam penuh perhatian.

 Aku bersyukur Allah memberiku suami yang penyayang. Meski tak dapat mendampingi secara fisik 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dia selalu ada untukku dan putra-putri kami. Suami bersedia dimintai pendapat di kala aku butuh nasehat serta menyempatkan waktu untuk kami menuntut ilmu.

 Aku bersyukur Allah menganugerahkan putra dan putri yang sehat dan pembelajar giat. Mereka selalu membuat kami terpana dengan tingkah laku lucu dan pintarnya. Yang mau memahami saat kami memberikan penjelasan. Yang mengajarkan kami untuk menjadi orang tua terbaik baginya.

 Aku bersyukur Allah memberiku kerabat dan teman-teman yang sangat baik, bersedia mengingatkan di kala aku lupa, mendoakan kebaikan di saat kami membutuhkan.

 Aku bersyukur Allah memercayakanku dengan amanah pekerjaan saat ini. Mendewasakanku dengan berbagai ujian dan tempaan. Membuatku bersyukur dengan apa yang aku miliki dan apa yang tidak aku dapatkan. Membuatku makin meyakini bahwa semua yang kuperoleh adalah yang terbaik menurut versi-Nya.

 Aku bersyukur Allah menjadikanku pribadi yang penuh rasa syukur. Orang yang optimis namun tetap penuh kehati-hatian. Perempuan pekerja keras dan fokus. Manusia yang baik dan tulus. Senang membantu orang lain yang membutuhkan. Menyayangi keluarga dan menjadikannya prioritas utama. 

 Aku bersyukur Allah mengingatkanku untuk tak henti bersyukur. Memberiku perasaan damai dan ikhlas akan semua ketetapan-Nya. Mengingatkanku bahwa semua yang kumiliki adalah titipan yang sifatnya sementara. Memberiku harapan, bahwa saling mencinta dan mengasihi karena-Nya akan mengumpulkan kami kembali di Jannah-Nya. Insya Allah.. 

 Semoga Allah mampukan.

 

 #hari7

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Aku sangat takut pada kematian. Membayangkan bagaimana aku akan meninggalkan dunia tanpa bekal tabungan akhirat membuatku bergidik ngeri.  P...


Aku sangat takut pada kematian. Membayangkan bagaimana aku akan meninggalkan dunia tanpa bekal tabungan akhirat membuatku bergidik ngeri. 


Pikiranku melayang pada salah satu sesi muhasabah yang diadakan Rohis Fakultas saat kuliah. Sedikit ekstrem, kami dibaringkan pada sebuah lubang-lubang galian yang dialasi selembar tikar. Seorang kakak tingkat berjaga dan mengawasi setiap lubang, membacakan puisi seakan mewakili senandika kami. 


"Ya Allah, jika Engkau masih memperkenankan aku hidup, maka ingin rasanya aku menghabiskan waktu dengan baik. Betapa menyesalnya aku dengan setiap detik yang kujalani sebelum ini terjadi," tak terasa air mataku ikut mengalir saat mendengar ratapan kakak tingkat. Bagaimana jika Allah benar-benar memanggilku saat itu? Bagaimana caraku menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur nanti? 


***


Bulan November, enam tahun lalu, Bapak meninggalkan Ibu dan ketiga orang anaknya, menghadap Sang Pencipta. Kehilangan orang tersayang, salah satu panutan sontak membuatku limbung. 


Saat itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kematian itu. Beberapa menit sebelum berpulang, aku masih bercakap-cakap dengan Bapak sambil membuatkannya teh manis hangat. 


Bapak jatuh di kamar mandi pada saat aku sedang bersiap-siap berangkat kerja. Saat itu hanya ada kami berdua di rumah. Ibu sudah lebih dahulu berangkat mengajar. 


Sayup-sayup kudengar suara rintihan dari dalam kamar mandi. Ketika kutemukan, bapak berada dalam posisi tengkurap sedang berusaha membuka pintu. 


Perasaanku tidak enak ketika harus meninggalkannya seperti itu, menitipkannya pada tetangga. Setelah menghubungi Ibu, aku memantapkan hati menuju kantor. 


Dua jam setelahnya, Ibu meneleponku. Dengan suara terbata-bata, beliau mengabarkan bahwa Bapak berpulang. Seperti petir menggelegar tepat di atas kepalaku. Aku baru benar-benar merasakan beratnya kehilangan


Setahun pertama setelah kepergiannya, aku masih merasakan kehilangan itu. Apapun yang kulakukan, tak ada yang bisa membuatku bersemangat. Bayangan  akan kematian selalu menghantuiku. Bagaimana jika aku menemui-Nya dalam keadaan tidak siap? 


***


Saat ini kematian masih menjadi hal yang kutakuti untuk alasan yang lain. Membayangkan bagaimana anak-anak dibesarkan tanpa sosok orang tua - ibu, khususnya - membuatku sangat khawatir. 


Kemudian bayangan tentang tokoh-tokoh anak yang terlunta-lunta saat ditinggalkan oleh orang tuanya dalam sinetron Indonesia sukses membuatku menitikkan air mata. Bagaimana mereka akan tumbuh tanpa arahan yang jelas, bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap? Bagaimana jika mereka tidak dibesarkan oleh orang yang benar-benar menyayangi mereka? 


Teringat akan salah satu "mata kuliah" pranikah yang kupelajari dari tulisan Asma Nadia dan Isa Alamsyah. Sejatinya, visi mendidik anak adalah mempersiapkan anak agar mereka bisa tetap hidup dengan baik saat orang tua tinggalkan. Mengajarkan kemandirian adalah kuncinya. 


Suami selalu mengingatkan bahwa kematian bukanlah perpisahan. Aku selalu berdoa agar keluarga besar kami nanti dapat dipertemukan kembali di Surga-Nya. Aamiin


#hari6

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini ak...


"Kakak, tolong duduk dengan tenang sini," aku mematikan sejenak perangkat audio pada laptop saat menegur anak sulung. Siang ini aku mendapat panggilan mendadak untuk mengikuti pertemuan kantor secara daring. Libur panjang yang jarang-jarang kudapatkan tiba-tiba diinterupsi dengan telepon dari atasan. Oleh karena itu, duduklah aku di hadapan layar komputer sepanjang siang ini. 


Anak lelakiku yang baru berusia tiga tahun tak juga berhenti mengitari meja ruang tamu yang kugunakan. Mulutnya masih terus mendengungkan suara yang kuyakini menirukan suara sirine pemadam kebakaran. Di saat yang sama, bosku meminta laporan kemajuan penelitian yang sedang kami kerjakan sebelum libur.


Nyaris kehabisan kesabaran, aku berteriak pada si sulung,


"Kakak, duduk!"


Setelah meminta ijin mematikan video, aku mendatangi suami yang ada di dapur.


"Yah, mohon bantuannya menjaga kakak. Aku sudah bilang tadi, minta waktu dua jam saja untuk meeting ini," nada suaraku meninggi. Sedikit emosi karena merasa suami tidak memahamiku.


"Tunggu, sebentar lagi tempenya matang," ucap suami dengan nada yang tidak sekalem biasanya.


Siang itu mood-ku memburuk. Mendapati hal tidak berjalan sesuai rencana - libur panjang yang terganggu pekerjaan dan anggota keluarga yang kurang kooperatif - membuatku uring-uringan beberapa jam kemudian.


***

Malam itu aku meluapkan kekesalanku pada suami. Kondisi lapar dan keadaan yang tidak sesuai ekspektasi adalah kelemahanku. Aku bisa merasa sangat jengkel dengan emosi yang sulit dibendung. 


"Kamu tahu, Yang?" Suami mulai menggunakan panggilan sayang. Tandanya ia sedang ingin berbicara lebih serius daripada biasanya. 


"Tadi siang aku sengaja memasakkanmu sesuatu yang bisa kau makan dulu. Kamu terlihat lelah dan lapar tadi," lanjutnya membuatku terperangah. Jadi ketika aku dibutakan emosi tadi siang, suamiku malah memikirkan bagaimana menjaga istrinya tetap waras. 


Tak dapat berkata-kata, aku pun meminta maaf dengan pelukan. Dan saat beberapa hari kemudian liburan kami berakhir, baru kusadari bahwa hal yang paling kubenci bukanlah sesuatu yang berjalan tidak sesuai rencana. Berpisah jarak dengan suami oleh sebab LDM membuatku lebih tersiksa. 


Nb: sebelum sesi ngobrol dengan suami, aku sudah meminta maaf pula pada si kecil :) 



#hari5

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi wa...

Nadin belum genap satu bulan saat aku mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak). Waktu itu aku mempertimbangan energi dan efisiensi waktu mengingat ada Fatha, sang kakak yang masih butuh banyak perhatian. Awalnya penggunaan pospak hanya dibatasi saat malam hari. Lama-kelamaan kami - terutama aku - terlalu nyaman karena dimanjakan oleh fitur tahan air yang dimilikinya. Selama lebih dari enam bulan kami menjadi pemakai setia pospak.

 

Keadaan berubah ketika suatu hari aku menemukan ruam pada selangkangan Nadin. Ruam yang merah dan terlihat basah masih belum membuatku khawatir.

 

"Ah, tinggal oleskan losion ruam popok dan hentikan sementara pemakaian pospak, maka beberapa hari lagi kulit mulus kembali," pikirku kala itu.

 

Namun prediksiku salah. Tiga hari kemudian, ruam tak juga membaik, malah bertambah luas. Tanpa pikir panjang, aku membuat janji dengan dokter anak yang praktek di Senin pagi itu

.

"Nadin tidak boleh dipakaikan pospak sama sekali ya, Bu," jelas Bu Dokter setelah usai memeriksa si kecil. Lanjutnya,

 

"Ini saya resepkan krim untuk mengatasi ruam dan obat anti alergi untuk diminum. Sementara ini, hindari makanan laut dan telur karena dicurigai memicu alergi Nadin." 

 

Aku kaget dan sedikit menyesali keadaan. Padahal Nadin sedang senang-senangnya makan. Segala menu yang disiapkan selalu dilahapnya tandas tak bersisa. Hal yang tidak kutemui saat permulaan MPASI Fatha, kakaknya. Toh ia masih bisa mengkonsumsi protein hewani lain, pikirku. Daging sapi, ayam, hati, dan ikan air tawar termasuk jenis lauk yang masih diizinkan untuk dikonsumsi anak bayi.

 

Beberapa malam berikutnya, kami mulai beradaptasi ulang dengan jadwal tidur di malam hari. Sejak tidur pada pukul sembilan, setidaknya tiga hingga empat kali Nadin terjaga dan merengek karena buang air kecil. Tenaga ekstra harus kukerahkan karena tidurku jadi tak nyenyak lagi. Belum lagi Fatha yang bersungut-sungut karena terganggu dengan suara adiknya. Biasanya, saat memakai pospak, Nadin hanya terlihat gelisah saat meminta nenen. Menyusui dapat dilakukan sambil terkantuk-kantuk. Alhamdulillah perjuangan berbuah manis. Dalam beberapa hari, ruam pada kulit Nadin sudah benar-benar sembuh.


Merasa tidak sanggup dengan pola tidur seperti saat memiliki bayi baru lahir, aku memutuskan untuk mencoba cloth diaper alias clodi. Pilihan jatuh pada merek Klodiz Izzyeco karena harga lumayan terjangkau bila dibandingkan dengan merk lain. Menggunakan perekat berupa kancing alih-alih velcro menjadi salah satu pertimbangan lainnya. Pengalaman beberapa kali dengan velcro, lama kelamaan daya rekatnya tidak sekuat saat pertama kali digunakan. Selain itu, bagian inner bisa dilepas pasang karena menggunakan model pocket, . Satu set popok terdiri dari bagian cover dan dua buah insert panjang (dua lapis) serta pendek (selapis).


Gambar diambil dari https://www.minikinizz.com/istilah

 

Sebagai permulaan, aku membeli tiga set clodi. Rencananya tiap malam kami hanya akan menggunakan sebuah popok saja. Setelah melakukan prewash, musim hujan menghalangi kami untuk dapat langsung menggunakan popok tersebut. Dua hari kemudian Nadin baru dapat menggunakannya setelah clodi kering benar. Sepekan uji coba dengan Klodiz, alhamdulillah dia cocok. Tidak ada ruam baru yang muncul, atau kemerahan sebagai tanda awal ruam. Aku dan suami memutuskan untuk membeli lebih banyak clodi. Dua kantong besar pospak yang sudah telanjur dibeli kami hibahkan pada dua orang kawan.


Hari ini hujan kembali mengguyur kota kami. Selusin popok baru sudah kucuci alias prewash dengan harapan dapat segera dipakai. Tiga popok lama sudah hampir kering dan direncanakan akan dipakai malam ini. Ketika akan kuangkat ketiga clodi dari atas jemuran,


"Ya Allah, Ayah. Atap ruang jemuran kita bocor," pekikku melihat cucian yang seharusnya sudah kering menjadi basah kembali oleh air hujan. Alamat malam nanti kami harus kembali ronda mengganti popok Nadin. Hihihi..

 

 

#hari4

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 

Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalag...



Menonton drama korea alias drakor masih menjadi kegemaranku di waktu senggang. Sebenarnya bukan hanya drakor, sih. Segala macam film, apalagi film lepas, menjadi pelarianku di saat pikiran penat.

 

Dulu, sebelum menikah dan punya anak, aku mampu menamatkan satu drakor yang terdiri dari 16 episode dalam dua-tiga hari. Sekarang setelah ada duo krucil Fatha-Nadin menemani, tentu saja tak bisa kujalankan kebiasaan lama itu. Satu episode diselesaikan dalam sepekan sudah menjadi sebuah prestasi untukku. 


Namun postingan ini bukan hendak membahas tentang hobiku menikmati drakor. Tentu saja karena masih banyak hobi lain yang lebih layak dibanggakan, seperti menghabiskan waktu bermain bersama Fatha dan Nadin. Nb: bukan pencitraan lho ya :) 

 

Salah satu drama yang sedang kuikuti adalah drakor keluaran tahun 2018 berjudul "What's Wrong with Secretary Kim". Serial lama yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan. Pasalnya aku tidak tertarik melanjutkan setelah menonton tiga episode pertama, terlalu monoton buatku. Aku tergerak melanjutkan karena rekomendasi salah satu rekan kerja yang mengatakan drama ini layak tonton.

 

Serial ini berkisah tentang Kim Mi So yang telah menjadi sekretaris selama sembilan tahun untuk vice president sebuah perusahaan besar. Ia memulai karirnya selepas lulus dari sekolah, tanpa sempat mengenyam pendidikan tinggi. Sembilan tahun bekerja, ia dikenal sebagai sekretaris yang cakap dan lihai.

 

Hal yang membuatku sangat terkesan dari kisah Mi So, ia memulai perjuangannya sebagai sekretaris dengan kemampuan di bawah rata-rata. Salah satu episode menjelaskan bagaimana kualifikasi Mi So saat melamar pekerjaan: tanpa pengalaman kerja mumpuni dan baru lulus dari SMA. Padahal saingannya rata-rata adalah lulusan universitas bergengsi di luar negeri dengan sederet pengalaman kerja. Tentunya ada faktor keberuntungan khas drakor di sana, bahwa sang vice president, Lee Young Joon, sudah menaruh rasa sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mirip drama-drama FTV kita :)

 

Kim Mi So terlihat tidak berbakat di awal kerja. Banyak kesalahan yang ia lakukan hingga membuatnya berkali-kali meminta maaf. Namun semangat belajarnya luar biasa. Selain Bahasa Inggris, ia akhirnya tertantang untuk mempelajari Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin dengan mentor Young Joon. Etos kerja yang baik, tekun, dan kemauan belajar yang tinggi membuatnya terampil dengan kemampuan problem solving yang baik. Young Joon pernah mengatakan,

 

"Apa jadinya aku tanpamu." Kalimat yang menunjukkan kompetensi Mi So sebagai sekretaris andalan Young Joon, bukan dalam konteks romansa di sana.

 

Ketika  Mi So galau memutuskan akan berhenti dari bekerja dengan alasan ingin melanjutkan hidup, ia mendapatkan pencerahan. Sejatinya Mi So sangat menikmati pekerjaan sebagai sekretaris. Melayani dan membantu orang lain adalah hasrat terdalamnya. Jika meminjam istilah pemetaan bakat Abah Rama Royani, maka potensi kekuatan Mi So adalah serving atau melayani.

 

Kang Rendy Saputra melalui bukunya, Muda Mulia, pernah berkata,


Untuk dapat memahami peran yang harus kita mainkan di dalam kehidupan, maka kita harus benar-benar mengenali diri kita. Mengenali siapa kita sebenarnya dan seperti apa kita seharusnya.

 

Istilah yang digunakan Kang Rendy dalam buku tersebut adalah "menemukan berlian diri". Ketika dihadirkan ke dunia, maka Allah tidak akan membiarkan manusia hidup begitu saja tanpa bekal apa-apa. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan. Manusia dibekali dengan bakat dan renjana atau inner strength. Semakin cepat  menemukan bakat tersebut, maka semakin cepat pula kita dapat mengasahnya dan mencapai kesuksesan sejak dini.


Namun jika yang terjadi sebaliknya, kita tak jua menemukan berlian diri, maka cara selanjutnya yang bisa ditempuh adalah mencari hasrat terbesar dalam diri sendiri. Caranya bisa dengan membuat daftar aktivitas positif yang mampu membangkitkan semangat dan membuat mata-berbinar bahagia. Atau dengan mengingat prestasi yang pernah kita raih semasa kecil.


Kim Mi So pada akhirnya menyadari bahwa hasrat terbesarnya adalah melayani. Karenanya, ia mampu bertahan dari berbagai macam tantangan selama bertahun-tahun bekerja. 

 

Pelajaran yang dapat kuambil dari kisah Mi So adalah sebisa mungkin mengenalkan Fatha dan Nadin dengan berbagai aktivitas sejak dini. Tujuannya agar mereka lebih mudah mengenali bakat dan hasratnya sejak dini. Semoga Allah mempermudah mereka menemukan dan mengasah berlian diri :)

  

#hari3

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

 



Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah ...



Pandemi Covid-19 memang menyebalkan. Sejak melahirkan pada awal tahun ini, belum pernah sekali pun kami sekeluarga berkunjung ke rumah ayah mertua - kakek dari anak-anak kami. Padahal jarak rumah kami menuju rumah Mbah Kung, alias kakek, hanya terpaut 16 kilometer saja! 


Ketakutan akan menularkan virus pada lansia dengan komorbid adalah salah satu alasan kami. Pasalnya tiap hari aku dan suami berada di dalam lingkungan kerja yang penuh paparan virus. Jadi, setelah meyakinkan diri dengan hasil swab negatif, aku baru berani mengiyakan ajakan suami untuk bersilaturahmi. 


Kami berangkat dengan segala macam perlengkapan bak akan maju perang. Protokol kesehatan sebisa mungkin diterapkan. Setiap personel membawa sebuah masker cadangan. Tentunya selain Baby Nadin karena pemakaian masker untuk usia di bawah dua tahun tidak direkomendasikan. Bekal pun disiapkan, mengantisipasi untuk tidak jajan sembarangan. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke rumah Mbah Kung pun dilaksanakan. 


Sepanjang jalan menuju rumah Mbah Kung, aku dibuat terkejut-kejut karena suasana sudah begitu ramai. Dua tempat wisata yang kami lalui penuh pengunjung. Mobil-mobil berjajar memenuhi tempat parkir. 


Sedih, marah, dan kecewa kurasakan saat itu. Ketika hasil pemeriksaan Covid-19 di laboratorium kami masih terus menunjukkan banyak hasil positif tiap harinya, masih ada yang sengaja menciptakan kerumunan dengan dalih menjaga kesehatan mental. 


Tak ingin kubahas kubu-kubu yang terbentuk karena sebagian menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Bukan ranahku untuk membahas hal itu. Namun melihat bagaimana para nakes bekerja tiada henti mengorbankan diri, rasanya tidak etis masih mengeluhkan kurang piknik. Atau yang paling dekat, teman-temanku sesama pemeriksa di laboratorium. Kami masih harus bekerja di hari libur, mengorbankan libur hari raya untuk tetap bekerja dengan target sampel yang luar biasa banyaknya. 


Rasanya seperti dikhianati teman sendiri.. Huhuhu.. 


Tak lama, kami tiba di rumah Mbah Kung. 


Dan menjumpai para tetangga dan saudara sedang bekerja bakti membangun gapura TANPA MASKER. Hatiku mencelos. Kutatap suami yang membalas dengan pandangan keraguan. Membawa anak dan bayi berusia tujuh bulan jadi kekhawatiran utama. 


Sepanjang berada di sana, kami banyak-banyak berdoa untuk kekebalan tubuh dan perlindungan dari-Nya. Tentu dengan wajah yang tetap tertutup masker hingga kami pulang.


Kami pun sepakat, selama beberapa bulan ke depan, tidak akan bepergian bersama si kecil jika tidak dalam kondisi darurat atau penting. 


#hari2

#ch5kepenulisan

#clustersolutif

#bundaproduktif

#institutibuprofesional

"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja,"    Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. ...


"Ibu jangan kerja. Sudah, di rumah saja," 

 

Beberapa pekan terakhir, Fatha (3 tahun) mengucapkan kata-kata itu hampir tiap pagi. Rontok rasanya hati ini. Terlebih bila ia melanjutkan, 


"Aku sedih kalau ibu kerja."

 

Setiap ibu pasti punya tantangannya masing-masing. Tak terkecuali aku, seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Pagi hari, kutinggalkan anak-anak dengan menguatkan hati, mereka akan baik-baik saja, di bawah pengawasan orang terpercaya. Sore - atau malam hari jika terpaksa lembur - kujumpai mereka dengan sedikit rasa bersalah dan tubuh yang lelah, memastikan masih bisa membersamai mereka tanpa amarah. 

 

Tiap detik yang kami miliki menjadi sangat berharga. Tak jarang, ketika sedang bersiap-siap pergi ke kantor pada pagi hari, Fatha akan merayuku, 

 

"Ibu temani Kakak main, yuk," atau... 

 

"Ibu bobok saja sini sama Kakak."

 

Jika menuruti kata hati, inginnya kuhampiri ia, memeluknya, dan kembali menarik selimut, sembari melakukan pillow talk. Sambil memikirkan win-win solution, biasanya aku akan mengambil woven wrap kesayangan, lalu mengajaknya beraktivitas dengan meletakkannya dalam gendongan.


Adakalanya, Fatha bersikukuh memintaku tidak meninggalkannya pergi. Jika sudah seperti itu, aku harus memutar otak mencari cara membuatnya melepasnya tanpa drama. Di sinilah aku merasa pentingnya kreativitas seorang ibu. Ia harus bisa selalu mencari cara untuk tetap membersamai anak-anaknya dengan cinta. Beberapa langkah yang sering kuterapkan di antaranya:


  • Menerima kenyataan bahwa kondisi tidak ideal ini harus dialami. Menepis rasa bersalah, karena banyak hal yang sudah kulakukan untuk mereka, anak-anakku. Memasakkan mereka makanan kesukaan, menemani bermain, membacakan buku, menanyakan perasaan mereka, dan berusaha untuk tetap berkepala dingin saat menghadapi tantrum mereka. Aku percaya, di balik segala kekurangan dan kelemahanku sebagai ibu, lebih banyak hal baik yang sudah kulakukan untuk mereka. Dengan begitu, rasa bersalah sedikit demi sedikit bisa pudar.
  • Mencari banyak referensi tentang permainan anak-anak. Saat ini menemukan ide permainan anak sudah sangat gampil surampil. Tinggal buka peramban di ponsel, ketikkan kata kunci, lalu voila! beragam alternatif permainan yang dicari langsung tersedia. Jika ingin versi lebih spesifik, bisa dengan mengunduh dan memasang aplikasi Chai's Play di ponsel. Beberapa jenis permainan yang disukai Fatha adalah meniup gelembung sabun, memotong kertas, atau bermain kuda-kudaan. Menjanjikannya satu sesi permainan tersebut sepulangku dari kerja hampir selalu dapat menaklukkan hatinya.
  • Mengikuti intuisi ibu dan kemauan anak. Setelah menemukan berbagai ide dari internet, supaya tak mudah galau, sebaiknya kita tetap berpegang teguh pada visi dan misi keluarga yang sudah ditetapkan. Kita tak mudah galau dengan arus informasi yang didapatkan dari mana-mana karena sudah tahu ke mana keluarga kita akan dibawa: mana prioritas yang akan dipilih dan model pengasuhan seperti apa yang akan diterapkan. Bahwa yang terpenting adalah fokus pada kebutuhan anak dan tidak perlu membandingkannya dengan anak lain. Tugas ibu adalah mengarahkan, mendampingi, dan membersamai anak dalam belajar.
  • Bersikap fleksibel dan meyakini bahwa anak tidak berniat mempersulit urusan kita. Anak-anak hanya ingin mendapat perhatian dari orang tuanya. Selalu ada motif yang mendasari setiap perilaku mereka yang kadang kita anggap annoying. Memahami peristiwa dari sudut pandang anak hampir selalu dapat mengurangi konflik yang terjadi. Contohnya, saat beberapa hari lalu kutemukan Fatha merendam boneka hafiznya di dalam ember, ingin rasanya aku berteriak, "Ibu menabung sekian lama untuk membelikanmu boneka itu, Naaak.. Kenapa usianya hanya sampai tiga tahun?"  Namun setelah menahan diri untuk tidak reaktif, kutemukan jawaban yang mencengangkan. "Kakak mau mengajari Hafiz wudhu, Bu." Surutlah emosiku berganti rasa haru.

 

Menjadi ibu sejatinya adalah terus belajar. Dengan terus mengasah kreativitas dan intuisi sebagai seorang ibu, semoga menjadikan kita ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu yang tidak menggoreskan luka di hati anak-anaknya, yang membekas hingga mereka dewasa. Aamiin..

 

#hari1
#ch5kepenulisan
#clustersolutif
#bundaproduktif
#institutibuprofesional

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan maina...

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa Fatha makin sulit untuk diajak bekerja sama. Ada saja alasannya ketika kuminta ia membereskan mainan, mandi, makan, atau menyikat gigi.

Mengingat kembali prinsip CINTA yang baru saja kupelajari lewat program pelatihan Relawan Keluarga Kita (RANGKUL), aku mencoba merefleksikan keadaan dan mengurai satu persatu masalahnya. Oh ya, sebelumnya mari berkenalan dengan prinsip CINTA.

Setiap orang tua pastilah mencintai anak-anaknya dengan jumlah yang besar. Namun kadang, cara mencintainya masih belum tepat. Mencintai, namun menimbulkan luka di hati sang anak. Cara mencintai yang benar diajarkan lewat prinsip cinta ini:

C: cari cara

Pengasuhan adalah perjalanan jangka panjang yang membutuhkan proses dan pembelajaran yang tidak instan, baik bagi orang tua maupun anak. Untuk mencapai tujuan pengasuhan, dibutuhkan pemahaman orangtua atas kondisi anak secara menyeluruh, yaitu usia, tahap perkembangan dan sifat bawaan anak. Dalam pengasuhan, orangtua perlu bersikap fleksibel dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi pada anak saat kejadian berlangsung.

Ketika muncul masalah, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu menginisiasi pengumpulan informasi dengan cara observasi; menggali informasi dengan diskusi dari hati ke hati; dan mencari beberapa alternatif solusi tindakan atau perlakuan apa yang bisa digunakan dan memilih yang termudah.

I: ingat impian tinggi

Ada perasaan iba dan kasihan ketika melihat anak kesulitan mengerjakan tugas sekolahnya. Jika ingin mengambil jalan pintas, orang tua akan bertanya dan membantunya mengerjakan. Tapi mengingat impian tinggi, tentu saja kami berharap anak akan mandiri ke depannya. Untuk itu yang kami lakukan adalah bertanya dan mencoba berempati dengan kesulitan yang ia hadapi. Langkah selanjutnya adalah meminta izin dan mengajaknya mencari jawaban bersama-sama sambil menyemangati bahwa dia pasti bisa mengerjakan. Tak perlu takut salah.

Fatha, anak pertama kami, berusia tiga tahun. Anak usia tiga tahun senang diperhatikan. Ternyata inilah alasan mengapa Fatha suka sekali memanggil kami orang tuanya untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.

Fatha butuh dibacakan buku, namun sudah mampu memahami isinya dan mampu menceritakan kembali, berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari. Fatha juga suka sekali bercerita. Apalagi jika malam menjelang tidur. Ternyata tidak boleh memotong pembicaraannya karena akan melukai egonya. Untuk itu kami perlu mencari cara bagaimana mengajaknya tidur sesuai rutinitasnya tanpa menyakiti hatinya dengan memotong pembicaraan.

N: (me)nerima tanpa drama

Anak masih terus belajar mengelola emosinya. Untuk itu, sudah seharusnya orang tua yang belajar mengendalikan emosi, dan bukan justru terpancing dengan ulah anak.

Contohnya, saat anak usia sekolah merasa lelah dengan aktivitas belajar. Sehari-hari ia sudah disibukkan dengan les, dan menjelang ujian diminta oleh ibunya mempersiapkan diri dengan membaca bab 1-3 pelajarannya. Ibu tentu ingin anak mendapatkan hasil terbaik bagi anaknya. Namun menurutku, ada baiknya jika ibu mengabulkan sejenak keinginan anaknya untuk bermain dengan batasan waktu, lalu meminta komitmennya untuk kembali ke rumah dalam kondisi siap belajar kembali. Mungkin lain waktu, anak perlu dimintai pendapat, bagaimana model belajar yang ia sukai, termasuk bicara dari hati ke hati mengenai minat belajarnya.

Sebagai orang tua, kami akan mengizinkan anak untuk bermain dengan batasan waktu, misalkan hanya satu jam. Lalu setelahnya, anak harus segera pulang untuk mandi dan bersiap-siap belajar lagi. Di lain waktu, kami akan mengajaknya bicara dari hati ke hati mengenai model belajar yang ia sukai dan ke mana minat belajarnya.

Berpikir bahwa untuk kepentingan anak, orang tua tidak boleh langsung emosi dan menyalahkannya. Kami harus tetap berkepala dingin, melakukan kontak fisik seperti memeluk atau mengelus kepalanya. Jika ia sudah siap, baru kami akan menjalankan strategi bicara dari hati ke hati untuk menemukan akar permasalahannya 

T: tidak takut salah

Berbicara tentang kesalahan, ada tiga hal yang langsung muncul dalam pikiranku: kesalahan sangat mungkin terjadi, bisa diperbaiki, dan berusaha tidak mengulangi. 

Saat menemukan kesalahan, jika menyangkut orang lain, tentu akan ada perasaan bersalah. Sebaliknya, jika menyangkut diri sendiri, tentu akan ada perasaan, "mengapa bisa terjadi? mengapa saya tadi seperti itu?" Namun kembali, aku harus tetap bisa mengelola emosi dan tidak malah makin menyalahkan diri sendiri.

Respon yang kemudian muncul pun berbeda. Jika menyangkut diri sendiri, maka aku akan segera mencari akar penyebab dan mencari cara untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan. Setelahnya, aku akan mencari cara untuk mencegah kesalahan tersebut terulang. Jika menyangkut orang lain, tentu saja ada perasaan bersalah. Untuk itu, yang dilakukan pertama kali adalah meminta maaf. Selanjutnya perlu refleksi seperti yang kutulis sebelumnya.

A: asyik main bersama

Bermain adalah melakukan aktivitas menyenangkan dan bersifat rekreasi. Bermain bersama adalah cara efektif untuk membuat anggota keluarga lain merasa keberaadaannya dihargai dan dianggap penting. Pengalaman ini akan berdampak positif pada kualitas hubungan.

Humor efektif untuk membantu mengurangi ketegangan dan melihat suatu kondisi (misal: krisis keluarga) dengan lebih positif. Humor dan bermain menjadi memori yang berarti dan melekatkan hubungan.

Ada tiga hal yang langsung hinggap dalam pikiranku jika berbicara tentang “bermain”, yaitu: hangat, seru, dan akrab. Tiga aktivitas ini juga jadi andalan untuk melakukan waktu berkualitas bersama keluarga: berkumpul di kamar atau ruang keluarga, asyik bercerita dan saling menimpali , makan bersama, Jalan-jalan bersama

Kembali pada prinsip CINTA dan mencintai secara lebih baik, kemarin aku berusaha untuk tidak menggunakan nada tinggi dan memerintah Fatha untuk membersihkan remah-remah makanan yang ia tumpahkan.

Aku mulai menggunakan prinsip kelima, “asyik main bersama”.

“Kak, mau dengar cerita ibu?” tanyaku memulai strategi. Mata Fatha berbinar dan mulai mendekatiku.

“Ada semut-semut kecil yang sedang menuju kamar kita. Mereka berlarian sambil berkata, ‘lihat, ada makanan di sana. Ayo kita ambil’, ucap semut paling besar. Ih, itu, semutnya sebentar lagi datang. Kita bersihkan dulu remah-remahnya supaya para semut tidak jadi datang, ya,” aku berusaha bercerita sedramatis mungkin.

Sesuai ekspektasiku, Fatha langsung mengambil remah-remah coklat dan meletakkannya ke tanganku.

“Ayo kita buang, Bu”.

Aku tersenyum sembari mengucap syukur. Berkurang satu drama dan konflik hari ini.

 

Sumber bacaan:

Najelaa Shihab. Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik. Cetakan Keempat. 2020. Penerbit Buah Hati: Jakarta.