Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Pertengahan minggu, biasanya Fatha meminta saya untuk menghubungi Ayah. Saat ini Fatha memiliki panggilan sayang baru kepada ayahnya. Jika...


Pertengahan minggu, biasanya Fatha meminta saya untuk menghubungi Ayah. Saat ini Fatha memiliki panggilan sayang baru kepada ayahnya. Jika sebelumnya ia memanggil atau menyebut kata "ayah" dengan manis, beberapa hari terakhir ini ia selalu memanggil ayahnya dengan sebutan "Pak Andi" :)

Seperti semalam, ia meraih tablet saya dan menyebut-nyebut nama ayahnya, tanda ia sudah ingin melakukan panggilan video dengan Sang Ayah. Kesempatan untuk mencoba mengajaknya belajar menggunakan gawai dalam batasan yang diperbolehkan untuk anak di bawah usia 2 tahun. Sesuai aturan dalam keluarga kami, gawai hanya diijinkan untuk digunakan Si Kecil saat melakukan panggilan video atau swafoto. Alasannya karena kedua aktivitas tersebut masih memerlukan komunikasi dengan orang lain atau menggunakan ekspresi wajah sehingga Fatha tidak hanya terpaku pada layar semata.

Saya membuka kunci layar, membuka aplikasi facetime dan menunjukkan padanya cara melakukan panggilan yaitu dengan menekan tombol "call". Fatha memperhatikan baik-baik gerakan tangan saya dan segera mampu menirukannya. Saat panggilan berlangsung, saya amati Fatha memandang wajah ayahnya dengan fokus dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh ayah.

"Sudah makan, Nak?", tanya ayah.

"Sudah", jawab Fatha.

"Makan apa tadi?", ayah melanjutkan.

"Ikan," kembali Fatha menjawab.
Panggilan video sedang berlangsung




Percakapan Fatha dengan ayahnya banyak diwarnai dengan wajah ekspresih dan gerakan-gerakan tubuh seperti meletakkan kedua tangan di pipi tanda manja atau mencium ayah di layar tablet tanda sayang.

Cara Fatha memperhatikan langkah tutorial melakukan panggilan video membuat saya berkesimpulan bahwa ia memang tipe pembelajar visual. Sedangkan caranya mengekspresikan bahasa cintanya, termasuk melalui ciuman jarak jauh terhadap ayahnya, dan bagaimana ia berbicara dengan bahasa tubuh menunjukkan ia juga memiliki gaya belajar kinestetik.






#harike4
#Tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel4

Beberapa bulan terakhir ini saya sering meninggalkan Fatha di rumah karena tuntutan tugas di ranah publik. Semakin bertambah usia Fatha, ...


Beberapa bulan terakhir ini saya sering meninggalkan Fatha di rumah karena tuntutan tugas di ranah publik. Semakin bertambah usia Fatha, ia semakin bisa diajak bekerja sama. Berdasarkan pengamatan, ia akan tenang selama saya berada jauh darinya apabila:
  1. Saya sudah berpamitan baik-baik dengannya. Sounding harus dilakukan beberapa saat sebelumnya. Saya menyampaikan dengan jelas alasan pergi dan menyebutkan batas waktu dengan tepat. Misalnya, "Ibu harus berangkat kerja selama 3 hari di Batam ya Nak. Jadi Kakak tidur dengan Uti dulu. Nanti malam dan besok malamnya lagi. InsyaAllah setelah dua malam tidur dengan Uti, malam berikutnya kita bersama lagi."
  2. Fatha melihat dan mengamati detail proses keberangkatan saya. Misalnya saya meninggalkan rumah saat hujan dengan membawa payung, kemudian dijemput mobil di tepi jalan. Saat Fatha mencari saya keesokan harinya, Uti dengan mudah menjawab, "Ibu kan kerja Dek. Ingat kemarin Ibu berangkat dengan payung?" Alhamdulillah ia lebih dapat memahami absennya saya di sisinya selama beberapa hari.
  3. Tidak sekali-kali melakukan video call kepada orang rumah. Pernah sekali karena rindu saya melakukan panggilan video melalui HP Uti. Fatha yang saat itu akan tidur jadi tak bisa terlelap. Berkali-kali meminta ponsel dan mencari-cari saya di kamar. Sejak saat itu, saya berusaha tidak menelepon Fatha. Setidaknya sampai nanti ia cukup paham bahwa wajah yang terlihat dan suara yang terdengar dari telepon tidak berarti orang tersebut ada di dekat kita.
  4. Stok ASI perah dalam jumlah cukup. Setidaknya setiap akan tidur, Fatha membutuhkan ASIP untuk merasa dekat dengan ibunya.
Sepulang dari tugas kantor, saya menyempatkan mampir ke toko buku untuk membeli buku yang menjadi incaran saya sejak lama. Buku suara. Ada beberapa pilihan, saya memilih buku yang berisi 7 lagu dengan notasi yang dilengkapi dengan xylophone, salah satu jenis alat musik pukul.

Saatnya bermain dengan Fatha, saya mengeluarkan buku tersebut dan saya sandingkan dengan majalah yang sudah pernah ia baca sebelumnya.




Awalnya Fatha mengamati kedua jenis bacaan tersebut. Tiada berapa lama ia meraih buku yang baru saja saya belikan. Kemungkinan besar karena baru sekali ini ia melihat xylophone, apalagi dalam kemasan yang menarik: berwarna-warni dan dilengkapi dengan buku bergambar.



Fatha sempat mengamati dan mengeksplorasi buku tersebut. Begitu menyentuh plat-plat logam pada xylophone, ia takjub karena muncul suara dengan nada-nada yang berbeda. Fatha pun langsung asyik memukul-mukul lempengan-lempengan berwarna-warni.






Berdasarkan pengamatan aktivitas hari ini, Fatha menunjukkan tipe visual dari ketertarikannya terhadap bentuk, gambar, dan warna. Tampaknya tipe auditori juga terlihat dari semangatnya memunculkan suara lewat pukulan-pukulan pada xylophone.





#harike3
#Tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel4





Tantangan hari pertama level 4 disponsori oleh majalah gratisan yang Ibu Fatha peroleh sepulang dari luar kota. Fatha sangat tertarik d...





Tantangan hari pertama level 4 disponsori oleh majalah gratisan yang Ibu Fatha peroleh sepulang dari luar kota. Fatha sangat tertarik dengan tampilan majalah tersebut. Dengan ukuran yang lebih besar daripada buku-buku yang ia miliki dan foto-foto yang sangat menarik, Fatha langsung memintanya dan mengajak Ibu duduk di sampingnya.

Ibu mulai mengajak Fatha membuka lembar demi lembar halaman majalah dan mendongengkannya cerita di balik gambar-gambar tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, Fatha segera meminta akses untuk membolak-balik halaman majalah sendiri. Pada halaman yang dianggapnya menarik, ia akan menunjuk objek gambar serta mengucapkan beberapa kata, seperti "sapi", "air", dan "byur". 

Ibu Fatha juga makin asyik mengajaknya berdiskusi tentang kisah yang diceritakan oleh gambar-gambar tersebut. Pada salah satu gambar yang menunjukkan anak-anak kecil berselancar, ia bertanya pada Ibu, "apa?".

Ibu mengarang cerita mengenai anak-anak tepi laut yang gemar bermain air dengan menggunakan papan seluncur. Tak diduga, Fatha mempraktekkan gaya berselancar anak-anak dalam foto tersebut.



Berdasarkan pengamatan dari aktivitas membaca ini, Ibu menyimpulkan bahwa gaya belajar Fatha didominasi dengan gaya visual. Terlihat dari minatnya pada gambar dan keinginannya untuk "membaca" sendiri. Apabila dijelaskan mengenai suatu kegiatan, Fatha mencoba menirukan dengan gerakan, menunjukkan bahwa ia pun memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik.




InsyaAllah hari-hari berikutnya kami akan mencoba beberapa aktivitas lain untuk makin memahami gaya belajar Fatha.

#harike2
#Tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel4

Tantangan bulan ini masih ada sangkut-pautnya dengan tantangan bulan lalu . Meningkatkan kecerdasan, salah satunya dengan memberikan stimu...


Tantangan bulan ini masih ada sangkut-pautnya dengan tantangan bulan lalu. Meningkatkan kecerdasan, salah satunya dengan memberikan stimulus pada anak agar terlatih aspek kecerdasan emosi, intelegensi, spiritual, atau bahkan kemampuan mengatasi tantangan. Bulan ini kami ditantang untuk mampu memahami gaya belajar Si Kecil lewat aktivitas sehari-hari.

Berbicara mengenai gaya belajar, diskusi antara saya dan suami sudah beberapa kali menyentuh topik ini. Jauh sebelum Fatha lahir, kami melakukan pengamatan terhadap diri masing-masing: tipe pembelajar seperti apakah kami ini?

Berdasarkan pengalaman saat sekolah, saya adalah tipe yang bisa sangat fokus terhadap tulisan guru di papan tulis, skema, atau melalui buku pelajaran. Bahkan di rumah, saya gemar mengulang pelajaran atau mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sambil mendengarkan musik atau radio.

Berbeda jauh dengan suami. Ia adalah tipe yang mudah terganggu konsentrasinya oleh keributan atau suara sekecil apapun. Cara belajarnya adalah dengan mendengarkan penjelasan guru, atau membaca dengan suara keras.

Sudah jelas terlihat bahwa saya adalah tipe pembelajar visual sedangkan suami memiliki gaya belajar auditori.

Selain kedua gaya belajar dominan tersebut, kami berdua sama-sama memiliki gaya belajar sekunder berupa kinestetik. Praktek, demonstrasi, atau gerakan tubuh akan mempermudah kami dalam mempelajari sesuatu. Setelah kami coba ingat lagi, pengalaman belajar menari saat kecil secara tidak langsung membentuk kami seperti itu. Menghafal gerakan demi gerakan tari membuat gaya belajar kinestetik kami terasah.

Jika diaplikasikan pada Si Kecil Fatha, masih menjadi sebuah tantangan besar bagi kami. Di usianya yang masih 1,5 tahun, pengamatan gaya belajar dapat dilakukan dengan memperkaya aktivitas dan kegiatannya sehari-hari.

Jadi hari pertama tantangan, kami bertiga melakukan family forum yang bertujuan untuk menyamakan persepsi kami masing-masing mengenai tantangan ini.


Diskusi sambil menyantap pempek dan cukonya



Kesepakatannya adalah beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada hari tersebut menjadi sarana kami mengenali gaya belajar Fatha. Pemahaman mengenai gaya belajarnya diharapkan akan mempermudah setiap proses pembelajaran dalam hidupnya nanti. Meski gaya belajar sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan, yang artinya sangat mungkin berubah, semoga Fatha selalu bisa menikmati esensi belajar sampai esok nanti..

#harike1
#Tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel4

Dunia anak-anak identik dengan bermain. Melihat tingkah laku dan keceriaan anak-anak saat sedang menjalankan "tugas hidupnya", ...



Dunia anak-anak identik dengan bermain. Melihat tingkah laku dan keceriaan anak-anak saat sedang menjalankan "tugas hidupnya", bermain, memang sangat menyenangkan. Lepas, tanpa beban. Begitu pula saat sedang bersama Fatha, sebagian besar waktu kebersamaan kami dihabiskan dengan bermain. Pun saat menjalankan rutinitas dan "kewajiban" pribadi seperti mandi, makan, dan saat menjelang tidur, dirasakannya semua sebagai rangkaian permainan.

Playground di EastParc Jogja, gambar diambil saat Ibu Fatha harus bertugas di sana




Oleh sebab itulah, setiap kali saya melihat playground atau arena bermain, pikiran saya selalu tertuju kepada Fatha. Membayangkan bagaimana bahagianya ia saat "dilepas" dengan pengawasan di dalam arena bermain tersebut. Termasuk hari ini ketika saya harus berada jauh darinya.

Jadi postingan kali ini akan saya isi dengan sedikit flashback perjalanan tantangan yang sudah kami bertiga lalui. Setiap mengawali game tantangan, seperti halnya mengawali segala sesuatu, ada beban yang lebih besar. Pertanyaan-pertanyaan macam, "jenis tantangan apa yang akan kami tentukan? Mampukah Fatha bekerja sama dengan baik? Atau, bisakah kami menyelesaikan tantangan dengan baik?" menjadi rintangan yang harus ditaklukkan.

Namun setelah satu atau dua hari berjalan, alhamdulillah kami mulai menemukan feel tantangan ini. Fatha sudah mampu mengekspresikan keinginan saat ia menginginkan sesuatu. Fatha juga sudah bisa diajak mengikuti family forum, "menyumbangkan" suaranya melalui bahasa tubuh atau kata-kata singkatnya.

Sebagian besar waktu pada tantangan kali ini kami habiskan dengan menjalankan Proyek Rumah Rapi. Meski awalnya ide dicetuskan oleh Ibu, Fatha ikut menjalankannya dengan baik. Bahkan setelah berjalan beberapa hari, ia menunjukkan inisiatif untuk membereskan mainannya seusai digunakan.

Kegiatan beberes Fatha seusai menggambar dan mewarnai bersama Ibu




Fatha menyingkirkan keledai dan baby playgym dari tengah ruangan agar dapat digunakan untuk aktivitas lain




Perjalanan tantangan kali ini membuat Ibu dan Ayah menyadari potensi tersembunyi Fatha. Sesuai misi utama tantangan level 3, kami pun belajar bersama-sama melatih berbagai aspek kecerdasan baik Ibu maupun Nanda. Beberapa jenis latihan kecerdasan yang secara tidak sengaja kami asah melalui proyek keluarga ini di antaranya adalah kecerdasan emosi, kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan menghadapi tantangan.

Saya paling merasakan kecerdasan emosi terasah pada proyek kali ini. Berusaha untuk menahan mulut melarang Fatha memanjat dan "mengganggu" kesepakatan kami untuk merapikan tumpukan pakaian. Berusaha menahan tangan saya untuk segera mengangkat Fatha dari tempatnya duduk saat ia mulai "mengacak-acak" pakaian, mainan, ataupun buku yang sudah kami rapikan bersama.

Fatha pun mulai mengasah kecerdasannya menghadapi tantangan. Saat Ibu tidak menuruti keinginannya untuk membukakan pintu kulkas, misalnya, ia mencari cara agar dapat mengakses isi lemari pendingin tersebut.

Kecerdasan emosinya pun sedikit demi terlihat meningkat, seperti saat ia menghibur dirinya sendiri, memberikan apresiasi melalui tepuk tangan yang ditujukan atas pencapaian yang telah ia lakukan.

Kecerdasan intelektual Fatha pun terlatih saat mencoba "membaca" dan mengamati buku cerita. Ah iya, bukan hanya buku cerita, bahkan buku KIA ia cermati gambar yang termuat di dalamnya.

Berhubungan dengan kecerdasan spiritual, kami berusaha menanamkan dalam pikirannya bahwa di balik segala sesuatu maupun kejadian, ada Allah yang mengatur. Misalnya saat melakukan role play menjadi dokter, kami tetap menyampaikan padanya bahwa Allah-lah yang menyembuhkan, dokter hanya membantu. 

Alhamdulillah Allah mudahkan kami menyelesaikan tiap tantangan yang ada. Proyek keluarga pun menjadi salah satu kegiatan berkualitas kami sekeluarga. Saya berharap, proyek keluarga dapat terus kami laksanakan secara istiqomah. 

Ketika dulunya saya sering merasa bingung akan mengajak Fatha bermain apa, sampai-sampai meluangkan waktu untuk berselancar di dunia maya mencari ide permainan, setelah mengenal family forum dan family project, saya lebih santai bermain bersamanya. Selalu saja ada ide yang muncul ketika kami mulai berinteraksi.

Komunikasi pun makin terasa padat dan berkualitas semenjak sering menerapkan family forum secara berkala. InsyaAllah hal-hal baik ini dapat terus kami lakukan dan kreasikan menjadi lebih seru dan bermanfaat.

Tetaplah bermain. Karena ada jiwa anak-anak dalam diri setiap manusia, termasuk kami para orang tua :)

#AliranRasa
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Hari Senin ini saya dan Pak Suami menjadwalkan akan memperpanjang paspor di Kantor Imigrasi (Kanim). Kami sengaja mengurus perpanjangan ini...

Hari Senin ini saya dan Pak Suami menjadwalkan akan memperpanjang paspor di Kantor Imigrasi (Kanim). Kami sengaja mengurus perpanjangan ini di kala kami sempat karena berdasarkan pengalaman, ketika tiba saatnya harus menggunakan si paspor ini, pemberitahuan cukup mendadak. Jadi daripada tergesa-gesa mengurus di saat butuh, lebih baik direalisasikan saat senggang.

Sekalian saja kami mengajukan permohonan baru untuk Fatha. Toh sekali antri ini, pikir kami.

Berikut kronologis yang kami siapkan dan lakukan:

Persiapan

1. Mengunduh aplikasi "antrian online" di play store. Setelahnya saya membuat akun untuk login dan membuat permohonan. Satu akun dapat mendaftarkan hingga 5 orang pemohon sehingga saya mengajak serta Pak Suami untuk bersama memperpanjang paspor sekaligus membuatkan Fatha paspor baru. Siapa tahu ada rejeki bisa bepergian sekeluarga ke manaaa gitu :)

Oh iya, selain menggunakan aplikasi terinstall pada ponsel, pendaftaran pengajuan permohonan paspor bisa juga dilakukan dengan mengakses situs  https://antrian.imigrasi.go.id.

Setelah membuat akun, permohonan dapat diajukan dengan menyertakan nama pemohon, nomor induk kependudukan (NIK) alias nomor KTP, dan tempat tanggal lahir. Oh iya, sebelumnya kita diminta memilih Kanim mana yang dituju dan memasukkan tanggal rencana kedatangan kita ke Kanim.

Saat ini Kantor Imigrasi tidak lagi melayani pemohon umum yang belum melakukan antrian secara daring. Jadi, jangan lupa memastikan bukti layanan antrian paspor online yang menampilkan barcode dengan kode unik sudah ada di tangan sebelum berangkat ke Kanim.

2. Memastikan semua dokumen yang diperlukan sudah lengkap. Untuk pemohon baru, yang dibutuhkan adalah KTP asli, akta lahir atau ijazah yang memuat nama orang tua, kartu keluarga (KK), surat nikah jika sudah menikah. Pemohon lama yang akan mengajukan permohonan penggantian paspor di Kanim yang sama dengan pengajuan sebelumnya cukup membawa e-KTP asli dan paspor lama. Jika pengajuan akan dilakukan di Kanim yang berbeda dari Kanim sebelumnya, seperti kasus saya, lebih baik membawa semua dokumen langkap seperti saat pengajuan pertama kali. Info dari petugas Kanim, proses menarik data memang bisa dilakukan secara online namun membutuhkan waktu cukup lama.

Untuk Fatha, berkas yang dipersiapkan adalah KTP kedua orang tua, buku nikah kedua orang tua, serta akta kelahiran. Dan karena Fatha sudaha memiliki kartu identitas anak (KIA), tak ada salahnya saya bawa sekalian :)

Jangan lupa semua dokumen difotokopi pada kertas HVS ukuran A4.

3. Sebelum hari H datang ke Kanim, mengingat Fatha sering memberikan banyak "kejutan", kami mempersiapkan beberapa hal agar Fatha merasa nyaman di sana. Kami memperkenalkannya dengan kamera, membiarkan ia menyentuh dan memainkan kamera saya agar familiar dengan kamera selain kamera ponsel. Kami juga menunjukkan padanya bagaimana proses pemotretan dilakukan. Mirip dengan prinsip role play dengan peran dokter kemarin. Harapannya Fatha sudah tidak takut lagi menghadapi hal baru.

20181119_061406-01


Hari H

Kami sudah tiba di Kanim satu jam lebih awal daripada jadwal untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga. Setelah menunjukkan barcode, mendapatkan form pengajuan permohonan dan nomor antrian, kami pun melengkapi formulir dengan data-data pribadi kami. Sekitar 1 jam kemudian barulah kami dipanggil untuk verifikasi data dan kembali mendapatkan nomor antrian untuk pengambilan foto serta data biometrik.

Fatha mendapatkan urutan prioritas namun sayangnya kedua orang tuanya tetap harus menunggu sesuai antrian reguler. Tapi tak mengapa. Karena setelah melakukan pengambilan foto Fatha, ia pun terlelap hingga kami pulang :)

Alhamdulillah, Fatha sangat kooperatif. Saat proses wawancara, ia bermain-main di sekeliling counter atas ijin petugas. Saat pemotretan pun ia tampak penasaran dengan kamera yang digunakan olah petugas. Positifnya, Fatha dengan mudah diarahkan melihat ke arah kamera :)

Saya dan Pak Suami menunggu selama kurang lebih satu jam hingga dipanggil masuk ke counter pemotretan dan pengambilan sidik jari. Qodarullah kami bertiga mendapatkan petugas yang sama meskipun dalam waktu yang berbeda. Artinya kami tak perlu mengulang lagi penjelasan yang tadi sudah dijawab pada pertanyaan sebelumnya ("Rencana akan pergi ke mana?").

Setelah proses terakhir ini, kami diminta untuk membayar biaya pembuatan paspor sesuai tarif PNBP sebesar Rp. 355.000 per orang. Pembayaran dapat dilakukan di ATM. Selanjutnya 3 hari yang akan datang insya Allah paspor sudah bisa diambil. Hore..

Tips Penting

1. Siapkan semua dokumen dalam satu map sehingga mudah ditemukan saat ditanyakan. Pastikan pula sudah memfotokopi semuanya dalam ukuran A4. Petugas tidak menerima selain ukuran tersebut.

2. Jika anda seorang bumil/busui atau membawa anak kecil atau memang mudah lapar, sediakan bekal selama proses menunggu antrian. Apalagi jika seperti kasus saya, menunggu lebih dari 3 jam. Meskipun Kanim menyediakan minuman dan teh di sana, alangkah baiknya tetap bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk

3. Playground tersedia untuk anak usia balita. Lumayan membantu mengalihkan kebosanan Si Kecil selama menunggu. Pastikan mereka tak kelelahan bermain. Alhamdulillah, ruang laktasi juga tersedia meskipun tak terlalu luas dan bergabung dengan ruang periksa dokter.

20181119_134626-01


Secara umum, proyek kami hari ini berjalan lancar. Alhamdulillah..

Special thanks untuk Ayah Fatha yang sudah meluangkan waktu mengajukan cuti khusus untuk hari ini. Terima kasih juga untuk Fatha yang sudah sangat kooperatif..

#Hari16
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Bertepatan dengan libur akhir pekan, rencana bermain peran a.k.a. dokter-dokteran dijalankan. Ibu membuatkan stetoskop untuk Fatha dari ba...


Bertepatan dengan libur akhir pekan, rencana bermain peran a.k.a. dokter-dokteran dijalankan. Ibu membuatkan stetoskop untuk Fatha dari bando, pita, tutup botol, dan karet gelang.

20181118_135733-01.jpeg

Siang hari setelah Fatha bangun dari tidur siang, kami mulai permainannya. Diawali oleh Ibu yang memerankan Bu Dokter dan Ayah sebagai pasiennya.

"Keluhannya apa, Pak?" tanya Ibu sambil memasang "stetoskop" di telinga.

"Batuk-batuk dan demam, Dok," jawab Ayah singkat.

"Mari saya periksa," Ibu menunjuk dada dan punggung Ayah.

Fatha sepertinya sudah sangat berminat menjadi dokter, ia meminta "stetoskop" yang sedang dipakai Ibu dan menggantikan Ibu memeriksa Ayah.

Ia menempelkan bagian diafragma stetoskop pada hidung, dahi, dada, dan perut ayah. Fatha tertawa kegirangan saat kami bertepuk tangan setiap kali "stetoskop" menyentuh anggota tubuh Ayah.

20181118_135932-01

Di akhir permainan, kami menyampaikan misi utama permainan ini bahwa tugas utama dokter sangatlah mulia. Mereka membantu mencari tahu penyebab penyakit dan berikhtiar mengobati pasiennya agar sehat kembali atas ijin Allah.

Alhamdulillah kami bertiga menikmati tantangan kali ini :)

#Hari15
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Dua pekan yang lalu, Fatha bersama Ayah Ibu berkunjung ke Bu Dokter. Bukan, alhamdulillah bukan karena sakit. Hasil penimbangan berat badan...

Dua pekan yang lalu, Fatha bersama Ayah Ibu berkunjung ke Bu Dokter. Bukan, alhamdulillah bukan karena sakit. Hasil penimbangan berat badan (BB) selama dua bulan berturut-turut stagnan di satu angka. Tentu saja hal ini harus ditindaklanjuti dengan periksa ke dokter anak untuk konsultasi mengenai pertumbuhan Fatha.

Saat itu Bu Dokter menanyakan riwayat Fatha berkontak dengan anggota keluarga atau orang terdekat dengan gejala tuberkulosis a.k.a TB. Negatif. Hasil pemeriksaan darah rutin Fatha beberapa saat yang lalu juga tidak menunjukkan gejala anemia defisiensi besi.

Setelah anamnesa dilakukan, dokter mengambil kesimpulan ada kemungkinan ketidaknaikan kurva BB karena kurangnya porsi makan Fatha. Memang, beberapa minggu terakhir ia kurang nafsu makan karena sedang tumbuh gigi.

Dokter meresepkan asam folat berdasarkan penelitian yang menunjukkan peningkatan nafsu makan pada anak-anak dengan gangguan nafsu makan, bahkan pada kondisi anoreksia. Alhamdulillah saat kontrol hari ini, berat badan Fatha sudah mengalami peningkatan berarti.

Cerita diawali dari proses pemeriksaan di ruang praktek Bu Dokter. Fatha merasa kurang nyaman dengan steroskop yang menempel di dada dan punggungnya. Ia menangis keras. Celetukan Ibu saat itu,

"Pura-puranya kita main dokter-dokteran ya Kak Fatha. Besok kita cari stetoskop yang mirip seperti punya Bu Dokter."
PicsArt_11-17-07.24.06

Bu Dokter Fatha yang komunikatif ini justru bercerita tentang pasien beliau yang takut terhadap dokter. Usianya menjelang 4 tahun. Menurut Bu Dokter, Ibu Mas Pasien ini membelikannya stetoskop mainan dan sering mengajaknya bermain dokter-dokteran, memutarkan film tentang dokter di Youtube, dan membacakan buku-buku cerita tentang dokter. Intinya membangun image dokter yang baik dan suka menolong.

Akhir-akhir ini saat Mas Pasien ini datang ke Bu Dokter, ia sudah tak lagi menjerit-jerit ketakutan. Ia sudah bisa bekerja sama dengan Bu Dokter saat pemeriksaan.

Sepertinya patut dicoba.

Sepulang dari tempat praktek dokter, kami membicarakan rencana role play esok pagi. Tema besarnya adalah melawan rasa takut. Topik spesifiknya bermain peran sebagai dokter. Kami bertiga akan bergantian menjadi dokter dan pasiennya. Fatha memang belum kami perkenalkan dengan gadget. Satu-satunya aktivitas screen time Fatha adalah saat melakukan video call dengan kedua orang tuanya saat berjauhan. Sesekali saat kami berswafoto sekeluarga. Hehehe. Jadi pilihan bermain peran dokter-pasien sepertinya menarik untuk dilakukan.

Semoga berhasil :)

#Hari14
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Hari terakhir bekerja dalam pekan ini, saya justru harus pulang malam. Saat azan Isya berkumandang, saya masih berada di kantor untuk menye...

Hari terakhir bekerja dalam pekan ini, saya justru harus pulang malam. Saat azan Isya berkumandang, saya masih berada di kantor untuk menyelesaikan unggahan beberapa dokumen yang diberikan batas waktu hingga Hari Senin esok. Daripada liburan akhir pekan dihantui pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini, diputuskanlah menuntaskan semuanya agar quality time bersama Fatha (dan ayahnya, ehem) berlangsung damai aman dan sejahtera.

Lembur hingga malam artinya ketika tiba di rumah, kemungkinan besar saya akan menemui Fatha saat ia dalam kondisi sudah terlelap. Itu juga berarti saya tidak bisa menerapkan proyek bersamanya.

Jadi saya akan melaporkan kejadian semalam pasca Proyek Posyandu Ala-Ala bersama Fatha.

Tiada berapa lama setelah bermain, Fatha saya ajak mencuci tangan, kaki dan wajah, kemudian tidur. Sebenarnya jika dituruti, ia masih sangat ingin melanjutkan permainan. Namun tugas saya adalah mendisiplinkan waktu tidurnya agar keesokan pagi Fatha bisa bangun di jam biasa dan beraktivitas dengan maksimal.

Tidak butuh waktu lama setelah nenen, Fatha terlelap. Sayangnya tidurnya tampak tak nyenyak. Ia berguling-guling mengeliling tempat tidur sambil merintih. Saya menduga, ia kecapekan karena berdasarkan info dari Uti, seharian Fatha tidak berhenti berlarian dan melakukan aktivitas fisik lainnya. Saya membayangkan berada di posisi Fatha. Segera saja saya ambil sebotol baby oil dan membalurkannya pada tangan, kaki, punggung, pundak, serta bokong Fatha. Dilanjutkan dengan memijatnya perlahan sambil meninabobokkannya kembali.

PicsArt_11-16-07.56.30

Cara ini cukup menenangkannya beberapa saat. Tapi tak berapa lama ia tampak tak nyaman lagi.

Saya mencoba menggunakan minyak kayu putih oleh-oleh dari Tante dan Om Fatha saat mudik ke Ambon. Gerakan memijat saya ulangi dengan menggunakan minyak kayu putih tersebut. Terasa cukup hangat di tangan saya tanpa sensasi dingin. Tentunya Fatha merasakan hal yang sama.

Alhamdulillah setelahnya Fatha kembali tidur dengan nyenyak.

Semalam saya belajar tentang melatih kecerdasan emosional saya sendiri agar bisa menemukan solusi dengan tepat tanpa bersungut-sungut. Paginya, Fatha terbangun sedikit lebih siang dari biasanya. Ia sempat bercerita tentang "sakit" di kakinya sehingga tak dapat tidur dengan tenang.

20181116_055035-01

Saya menanggapi dengan mencoba mengevaluasi kegiatannya kemarin seharian serta mengajaknya untuk beristirahat apabila sudah cukup lama beraktivitas fisik. Saya tidak yakin Fatha langsung memahami percakapan kami pagi itu. Meskipun demikian saya percaya jika dibiasakan, Fatha akan mudah menyampaikan perasaan atau masalahnya pada kami orang tuanya.

#Hari13
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Sementara Proyek Rumah Rapi hari terakhir belum dilaksanakan, saya mengajak Fatha bermain peran. Proyek-proyek sisipan beberapa hari terak...

Sementara Proyek Rumah Rapi hari terakhir belum dilaksanakan, saya mengajak Fatha bermain peran. Proyek-proyek sisipan beberapa hari terakhir ini dibuat karena Ibu Fatha sedang ingin refreshing dan benar-benar mengikuti kemauan Sang Anak.

Jadi proyek kali ini merupakan proyek sekali jalan, dimulai dengan acara "ngobrol" saya dan Fatha selepas mandi sore. Fatha berulang kali menarik saya ke kamar dan menginstruksikan pada saya untuk duduk. Saya mengikuti perintahnya. Rupanya ia sedang asyik bermain dengan building blocks favoritnya. Saya menungguinya bermain sambil membuka-buka buku KIA Fatha, iseng melihat growth chart-nya untuk memunculkan ide proyek keluarga.

Fatha yang melihat saya asyik sendiri kemudian mendekat dan menarik buku KIA yang saya pegang.

Aha!

Ide membuat permainan pun dimulai.

Biasanya di tanggal 17 tiap bulannya, RW kami menyelenggarakan kegiatan posyandu. Kegiatan rutin yang menyasar balita dan lansia terbagi menjadi dua, yaitu penimbangan berat dan pemberian makanan tambahan alias PMT. Beberapa bulan sekali, petugas puskesmas hadir untuk melakukan pemeriksaan kesehatan untuk lansia atau saat ada program pemerintah seperti bulan vitamin A.

Khusus untuk penimbangan berat badan, semenjak sudah bisa berjalan, Fatha sudah diarahkan menggunakan timbangan dacin atau timbangan berdiri alih-alih timbangan bayi. Dan Fatha selalu menangis jika ditimbang menggunakan kedua alat tersebut. Mungkin dirasanya kurang nyaman.

Sayang memang, pengukuran tinggi/panjang badan dan lingkar kepala balita belum bisa dilakukan di posyandu kami. Padahal kedua indikator tersebut termasuk yang perlu dilakukan untuk mengetahui status gizi balita jangka panjang. Selama ini saya dan Pak Suami rutin mengukur panjang badan dan lingkar kepalanya dengan menggunakan meteran baju.

Kali ini, saya membuat proyek dadakan bersama Fatha dengan bermain peran menjadi petugas posyandu. Saya katakan padanya,

"Nak, kita ukur tinggi badan dan lingkar kepalamu, lalu timbang berat badan yuk. Setelah itu kita isi buku KIA-nya.."

Fatha kemudian saya biarkan beberapa saat asyik dengan buku KIA. Ia tertarik dengan beberapa gambar yang menunjukkan aktivitas balita yang sedang makan, minum, bermain bola, bahkan bersepeda. Fatha menunjuk gambar-gambar tersebut sambil menyebutkan nama kegiatannya,

"Duduk, (main) bola, mimik, makan.."

20181115_175122-01

Ada salah satu kegiatan yang dianggapnya sebagai "makan" yang setelah saya perhatikan merupakan acara menggosok gigi. Saya sampaikan pada Fatha,

"Itu yang dipegang mbaknya sikat gigi nak. Seperti Kak Fatha jika sedang mandi, lalu dibantu ibu menggosok gigi supaya gigi dan mulutnya bersih," saya menjelaskan. Fatha pun menirukan,

"(Si)kat gigi," sambil memandang mata saya, memastikan. Saya mengangguk mengiyakan.

Setelah puas membolak-balik 
buku cerita 
buku KIA, kami beranjak dengan kegiatan berikutnya.

"Ayo sekarang kita ukur lingkar kepala Kak Fatha dulu," ujar saya sambil mengulur pita meteran.

20181115_174308-01

Alhamdulillah untuk pertama kalinya dalam sejarah pengukuran lingkar kepala, ia tidak menolak. Padahal biasanya, bahkan ketika bersama ayahnya pun, ia akan menarik lepas pita meteran dan melarikan diri ^^; Sepertinya Fatha mulai mampu menghadapi tantangannya dan mulai merasa nyaman melalui permainan ini.

Selanjutnya saya mengajaknya mengukur tinggi badan di dinding. Agak sulit memang mengukur panjang badannya dalam posisi berbaring jika hanya sendiri. Jadi saya memilih posisi berdiri.

Ada cerita lucu dari Uti Fatha mengenai istilah "ukur" ini. Ketika siang tadi Uti berkata pada Fatha kakinya gatal dan Uti butuh "ngukur" (Bahasa Jawa untuk "menggaruk"), spontan Fatha meraih pita meteran kain dan menarik Uti ke dinding kamar tempat ia biasa diukur tinggi badannya *lol*.

20181115_180522-01

Nb: luka di jidat Fatha merupakan hasil kegiatan menyapu teras dan jatuh terjerembab.

Setelah Fatha berdiri tegak dengan tumit, belakang lutut, bokong, punggung, pundak, serta kepala menempel dinding, Ibu memberi garis batas pada dinding tempat puncak kepalanya berada. Fatha pun membantu Ibu mengukur panjang dari garis batas hingga ke lantai. Tentu saja sesuai kemampuannya :) Rupanya ia sudah mulai mengembangkan kecerdasan intelektual dengan rasa ingin tahunya yang ingin melakukan pengukuran sendiri.

Terakhir, kami berdua menimbang berat badan masing-masing dengan timbangan digital.

PicsArt_11-15-06.49.57

Selesai memplotkan berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala pada aplikasi PrimaKu yang dapat diunduh di sini (karena kartu menuju sehat/KMS akan diisi saat posyandu sebenarnya dua hari lagi), saya menyampaikan pada Fatha bahwa "kegiatan posyandu" telah berakhir. Hasilnya bagus meski penambahan berat badannya belum optimal. Saya menyarankannya untuk lebih lahap makan dan menyantap cemilan yang sudah disiapkan untuknya. Saya mengucapkan terima kasih padanya karena telah mengikuti alur permainan dengan kooperatif. Saya juga mengajaknya untuk mengulang lagi permainan ini bulan depan, insya Allah :)

#Hari12
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Malam kemarin sepulang kantor saya merasa energi terkuras habis. Alhamdulillah tidak sampai harus membawa pekerjaan kantor ke rumah. Meski...


Malam kemarin sepulang kantor saya merasa energi terkuras habis. Alhamdulillah tidak sampai harus membawa pekerjaan kantor ke rumah. Meskipun demikian, saya tidak dapat menjalankan proyek bersama Si Kecil Fatha.

Akhirnya saya putuskan untuk hanya menemani Fatha bermain, membiarkannya mengambil alih kendali tanpa menuntunnya harus melakukan apa-apa. Jadi situasinya mengalir sesuai keinginan Fatha.

Dan inilah yang terjadi.

PicsArt_11-14-03.57.23-01

Fatha sudah asyik bermain-main dengan tempat sampahnya. Yang membuat saya takjub, ia sudah cukup mengerti bagaimana strategi memanjat, yaitu dengan membalik tempat sampah dan menaikinya secara hati-hati dengan berpegangan pada pintu kulkas. Masya Allah. Ia penasaran dengan pintu kulkas bagian atas a.k.a freezer yang dia rasa sejuknya maksimal. Tiap saya membuka pintunya dan Fatha sedang berada persis di bawah, ia akan berkomentar,

"Dingin," sambil merentangkan tangan ke atas, minta digendong dan menyentuh ice gel, es batu, botol ASIP, atau bahan makanan lain.

Kali ini sepertinya ia ingin mencoba membuka sendiri pintu freezer. Saya menanyakan apa maksudnya memanjat tempat sampah dan Fatha menjawab dengan senyuman dan cengiran. Saya menjelaskan bahwa aktivitasnya ini cukup berbahaya karena plastik tempat sampah cukup licin dan tidak cukup kokoh untuk dinaiki. Saya mengalihkannya dengan mengajaknya ke ruang tamu.

Selanjutnya Fatha mulai mengeluarkan building blocks kesayangannya. Sepertinya saat ini mainan tersebut sedang menjadi mainan favoritnya.

20181112_201029-01

Fatha asyik memadukan beberapa potong mainan selama beberapa saat hingga akhirnya meminta saya untuk duduk di belakangnya. Ia tampak seru menggabungkan 2-3 potong building blocks, membongkarnya, memasangnya kembali, mengeluarkan seluruh kepingan dari wadahnya ke lantai, hingga akhirnya mengembalikannya ke dalam kotaknya lagi.

20181112_201433-01

Yang membuat saya bahagia, semua ini ia lakukan tanpa instruksi, alhamdulillah :)

Saya mengucapkan terima kasih pada Fatha karena pencapaian yang ia lakukan hari itu. Plus kecupan sayang di dahi dan pelukan untuknya.

Terima kasih Nak :)

#Hari11
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Beberapa saat ini Fatha sering minta cemilan di luar waktu makan. Dia akan berceloteh, "Maem..maem," meskipun waktu makan m...

20181113_064859-01-01

Beberapa saat ini Fatha sering minta cemilan di luar waktu makan. Dia akan berceloteh,

"Maem..maem," meskipun waktu makan masih lama.

Melihat daftar cemilannya selama ini, sepertinya memang kurang "berat". Dokter spesialis anak Fatha juga pernah menyarankan cemilan dan makanan yang tinggi kalori untuk anak seusia Fatha yang sedang aktif-aktifnya bergerak.

Saat menjelang pulang kantor, saya mengingat-ingat bahan makanan apa yang tersedia di rumah. Sempat terpikir membuatkan Fatha donat, namun belum-belum sudah membayangkan repotnya. Akhirnya browsing resep di blog Just Try n Taste, ketemulah resep pizza tanpa ulen. Pilihan jatuh pada si pizza karena saya nilai proses membuatnya praktis dan bisa ditinggal mengerjakan hal lain. Apalagi dari judulnya sudah cocok menggambarkan saya "..untuk Si Malas". ^^ Dan karena tidak digoreng, saya merasa resep ini bisa dimasak bersama Fatha.

Jadi sore itu sepulang dari kantor saya sekalian mampir membeli mixed herbs sebagai salah satu bumbu untuk memperkaya cita rasa si Pizza nantinya.

Tadinya saya berencana akan mengeksekusi resep di malam hari setelah Fatha tidur. Ternyata di resep yang saya baca, adonan mesti diistirahatkan maksimal 7 jam dalam lemari pendingin. Jika dihitung mundur dengan rencana harus jadi pagi hari, maka paling cepat saya harus mulai mempersiapkan adonan kulit pada tengah malam.

Baiklah.

Saya mulai mencampur adonan kulit pada pukul 00.30. Terigu protein tinggi, garam, ragi instan, minyak sayur, dan air hangat yang sudah tercampur rata kemudian saya istirahatkan dalam baskom bertutup kain bersih pada suhu ruang selama satu jam. Setelahnya, saya pindahkan ke dalam lemari pendingin a.k.a. chiller dan saya pun melanjutkan tidur.

Pagi harinya saya mulai membuat topping pizza. Berhubung berencana tidak menggunakan saos botolan, saya memilih memanfaatkan tomat merah yang dipotong dadu dan daging giling sebagai isian pizza. Kedua bahan utama tersebut ditumis bersama dengan tambahan beberapa macam bumbu.

Saya memasak sambil sesekali menengok Fatha yang sedang tidur, khawatir ia terjaga dan tidak menemui orang lain di dekatnya.

Benar saja, saat saya intip untuk yang kesekian kalinya, Fatha sudah terbangun dan mulai tersenyum pada saya. Saya menyapanya dan mengajaknya memasak bersama.

Fatha pun saya gendong di punggung dengan backcarry SSC.

PicsArt_11-13-04.18.23

Saya memilih meletakkan Fatha di gendongan agar ia bisa mengamati kegiatan yang saya lakukan dan saya tetap tenang bersamanya.

Aktivitas memasak bersama Fatha pun dimulai~

Adonan kulit yang sudah saya inapkan semalam di kulkas kami keluarkan dan letakkan pada panci teflon dua sisi bermerk h*ppyc*ll. Sebelumnya si panci teflon sudah dilumuri dengan mentega. Adonan topping saya lumurkan di atas adonan kulit dengan menggunakan spatula. Setelah tomat dan bawang bombay iris serta keju cheddar parut dan mozarella saya tata di atasnya. Pizza pun siap dipanggang :)

20181113_063501-01

Tentunya saat memasak, si panci teflon saya tutup dengan rapat. Namun tiap 5 menit saya cek kematangannya supaya tidak overcooked.

Saya memilih memanggang menggunakan api kecil selama 20 menit. Ternyata hasilnya sedikit keras di pinggiran pizzanya. Mungkin kali lain, waktu pemanggangan bisa dikurangi menjadi 15 menit saja.

Pizza segera saya potong setelah dikeluarkan dari cetakan. Inilah hasilnya..

20181113_065428_003-01

Rasanya cukup otentik pizza. Adonan rotinya empuk tapi renyah, sedangkan rasa isiannya saya rasa sudah pas. Yang terpenting, Fatha suka dan makan dengan lahapnya :)

PicsArt_11-13-04.24.31

Alhamdulillah cooking project kali ini sukses. Fatha menikmati karena ia pun merasa terlibat saat proses penyiapannya ^^

Oh ya, resep selengkapnya bisa ditengok di cookpad ini.

#Hari10
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam