Kali ini permainan yang akan kami lakukan sangat menarik. Setiap anggota keluarga mendapatkan tantangan yang sama, yaitu membaca. Menarik, karena sebelum mulai, kami diminta untuk menuliskan reading tracker alias daftar buku yang akan dibaca. Jadi semacam menentukan rencana dan target bacaan yang akan dituntaskan selama 10 hari nanti.
Mumpung Ayah Fatha sedang ada di rumah, selepas kelas Bunsay berakhir, kami diskusikan judul-judul buku yang akan kami pilih. Supaya membaca terasa menyenangkan, ada dua kriteria yang kami telah tetapkan di awal, yaitu:
Topik bacaan adalah hal yang kami sukai. Jadi semangat membaca bisa muncul.
Dimulai dari buku yang tipis. Atau setidaknya buku yang jumlah halaman dalam satu babnya sedikit.
Kriteria di atas sebenarnya diperuntukkan bagi Ibu dan Ayah saja. Tentu saja karena Fatha masih belum bisa membaca sendiri. Jadi kami memberikannya pilihan beberapa buah buku, lalu Fatha memilih beberapa di antara banyak pilihan. Kita lihat saja bagaimana nanti Fatha akan menjalankan tantangan membaca ini.
Berikut ini daftar buku yang kami rencanakan akan dibaca selama 10 hari.
Sebelum benar-benar memulai perjalanan tantangan level 5, ada alasan yang harus saya sampaikan pada Ayah dan Fatha agar kami semua sepemikiran.
Mengapa perlu melakukan stimulasi membaca?
Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar anak menguasai keterampilan berbahasa dan mengembangkan kecerdasan literasinya.
Keterampilan mendengarkan. Anak sudah diperkenalkan dengan suara sejak masih dalam kandungan. Kata-kata dan suara yang sering ia dengar merupakan dasar kemampuan berbahasa yang pertama.
Kemampuan berbicara. Sebaiknya anak diperkenalkan dengan suara dan percakapan langsung dari mata ke mata, bukan melalui gawai. Mengapa? Sebab kemampuan berekspresi dan emosi tidak dapat ditransfer melalui layar.
Membaca. Aktivitas membaca merupakan bekal anak dapat menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Membaca juga merupakan sarana utama mendapatkan ilmu.
Menulis. Kemampuan menulis tidak serta merta diperoleh begitu saja. Ada tiga tahapan panjang yang harus dilalui sebelumnya. Ketika anak sudah menyukai aktivitas mendengarkan, berbicara, dan membaca, maka ia sudah selangkah lebih dekat dengan kemampuan menulis.
Yang paling penting dari semua tahapan tersebut adalah anak menyukai dan menikmati prosesnya. Alasan inilah yang membuat saya dan Ayah Fatha berniat untuk menjalankan tantangan dengan sebaik-baiknya meskipun selama sepekan ini Ayah harus mengikuti rangkaian pertemuan kantor dengan jadwal padat merayap. Doakan saja kami dapat konsisten mengatur waktu dan menjalankan tantangan dengan bahagia.
Oh ya, setiap hari kami akan saling melaporkan seberapa pencapaian target yang sudah kami lakukan. Saya dan Fatha bertugas merekap kemajuan tersebut dalam Pohon Literasi yang sudah kami persiapkan batang dan dahannya. Tiap satu bab yang khatam, kami tulis dalam sepotong kertas dan kami tempelkan sebagai daun pada pohon tersebut.
InsyaAllah besok kami akan mulai melaporkan perkembangan tantangan yang sudah kami jalani. Semoga berhasil..
#HariKe1
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
Bahan Bacaan
Materi Level 5 Program Bunda Sayang Batch #5 "menstimulasi Anak Suka Membaca". Institut Ibu Profesional. 2018.
Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti Anonim Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya sa...
Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti
Anonim
Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya saya jalani dengan keterpaksaan. Saat masih menjadi siswa SD, ujian Bahasa Indonesia dengan topik mengarang indah selalu menjadi mimpi buruk. Saya merasa kosakata terbatas pada itu-itu saja. Beranjak dewasa, qodarullah profesi saya mengharuskan menulis sebagai kegiatan utamanya. Berat memang. Sampai sekarang saya masih merasa kemampuan menulis saya berada di bawah rata-rata.
Kesadaran untuk tetap menulis dengan segala keterbatasan tersebut kembali muncul setelah #elfathamirza lahir. Teringat saat masih kanak-kanak, ibu sering mendongeng untuk saya bukan dengan buku cerita, melainkan dengan kisah hidupnya. Saya selalu tertarik dengan dongeng ibu karena selalu berkisah tentang tempat, keadaan, dan tokoh-tokoh yang baru (meskipun kemudian saya menyadari, dongeng impromptu ini adalah strategi cerdik ibu mengatasi kekurangan buku bacaan anak-anaknya 🙈)
Saya kemudian berpikir, betapa seorang anak sangat mengagumi orang tuanya. Bahwa sepenggal kisah yang menurut kita biasa, bisa jadi segalanya di mata mereka.
Sejak saat itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Melalui #projectofgratitude yang sempat mati suri selama dua tahun, saya kembali menemukan semangat bercerita. Saat ini saya sudah mulai mencicipi manfaatnya, meskipun masih berupa remah-remah saja.
Menulis buat saya adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan saya fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu (belanja, ehm) online.
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Mengapa online?
Beberapa kali saya kehilangan cerita, foto, dan dokumen lama di gawai. Menyimpan secara online merupakan ikhtiar untuk mengabadikan cerita yang semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Si Kecil.
Sejak proses kehilangan itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Tentang kisah keseharian dalam bentuk blog, artikel populer, maupun ilmiah. (Dua poin terakhir menjadi PR besar saya tahun 2019 ini, mohon doanya). Saya berharap tulisan saya bisa memberikan manfaat bukan hanya untuk saya, namun juga orang lain yang membacanya. Semoga ada sesuatu yang masih bisa dikenang dan bermanfaat untuk sekitar meskipun saya sudah tiada.
Bismillah..
Tugas demi tugas program Bunda Sayang (Bunsay) dari empat level sudah dilalui. Makin hari, kami makin menikmati tantangan ini. Saya sudah ...
Tugas demi tugas program Bunda Sayang (Bunsay) dari empat level sudah dilalui. Makin hari, kami makin menikmati tantangan ini. Saya sudah mulai menemukan pola yang nyaman untuk mengerjakan tugas: malam hari setelah Fatha terlelap.
Observasi pun bisa dilakukan dengan nyaman meski kadang sulit mengambil dokumentasi berupa foto. Baik saya maupun Fatha sama-sama menikmati setiap tantangan. Bagaimana tidak, tantangan yang diberikan mengharuskan kami untuk bermain bersama. Waktu yang berkualitas kami rasakan, walau durasinya tidak terlalu lama.
Seperti level-level sebelumnya, tantangan level keempat ini membuat saya makin menikmati momen kebersamaan dengan Fatha. Ide-ide permainan paling sering muncul darinya. Jadi seakan-akan semua kegiatan mengalir begitu saja tanpa direncana.
Namun di situlah asyiknya. Fatha merasa melakukan sesuatu tanpa paksaan dan sesuai inisiatifnya sedangkan saya bisa menghemat energi karena cukup mengikuti keinginannya.
Hasil pengamatan saya melalui kegiatan-kegiatan harian Fatha selama dua pekan berturut-turut menyimpulkan suatu hal. Bahwa saat ini Fatha masih bisa mengembangkan ketiga gaya belajarnya tergantung dari jenis kegiatan yang ia lakukan. Ada kalanya Fatha menunjukkan kecenderungan gaya belajar visual saat bermain dengan gambar dan warna, di lain waktu kinestetik yang lebih dominan saat harus mengerahkan kemampuan motorik kasarnya.
Semua tantangan yang sudah dilalui pada level ini membuat kami bisa lebih kreatif bermain dan belajar. Terima kasih untuk fasilitator Mbak Sindu dan teman-teman sekelas batch #4 atas sharing ilmu dan pengalamannya sehingga tantangan bulan ini berjalan lancar :)
Hari ini saya harus kembali bertugas di luar kota dan haru berangkat subuh. Fatha baru saja terbangun ketika saya sudah bersiap berangkat. Belum banyak waktu berkualitas yang kami lakukan pagi tadi. Namun ada satu hal yang saya amati dari salah satu hal kesukaan Fatha. Ia sangat suka selimut.
Sering Fatha ditemukan sedang memeluk erat selimut, menyeret-nyeret selimut keluar kamar, atau pasang kuda-kuda menyusu sambil menggenggam erat selimut kesayangannya.
Akhir-akhir ini bahkan saya lihat Fatha senang melapisi baby nest jaman bayinya dengan selimut. Ia akan betah sekali bermain-main di situ. Apalagi ketika menunggu Uti selesai sholat, ia ikut mengikuti gerakan Uti di atas selimut di dalam baby nest-nya.
Berdasarkan beberapa sumber bacaan di sini dan sini, sentuhan dan kenyamanan adalah hal yang penting bagi anak dengan tipe kinestetik.
Hal ini cukup menyenangkan bagi saya yang gaya belajar sekundernya adalah kinestetik dan bahasa cintanya adalah sentuhan. Sama-sama klik dengan Fatha. Mungkin karena usia Fatha yang masih sangat belia sehingga belum menunjukkan kecondongan gaya belajar pada salah satu gaya tertentu. Dengan kata lain, ia masih mahir menggunakan gaya belajar apapun.
Melanjutkan trip Semarang Sabtu kemarin, Fatha sangat bersemangat mengenal tempat-tempat baru. Bahkan sesederhana kamar hotel. Ia sudah mengeksplorasi setiap sudut kamar termasuk saklar lampu, keran air, jendela, tempat sampah, pintu kamar mandi, hingga telepon. Salah satu permainan yang akhirnya kami lakukan terinspirasi dari telepon yang berkali-kali diraih Fatha.
Jadi sebelumnya saya sudah memastikan kabel konektor dilepas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semisal salah sambung. Telepon pun kami pindahkan dari atas meja ke atas tempat tidur agar Fatha leluasa bermain peran.
Fatha memulai dengan mengangkat gagang telepon dan mulai memberikan salam,
"Haloooo."
Saya mengambil remote AC (yang sebelumnya juga digunakan Fatha sebagai telepon karena dianggapnya mirip ponsel :) ) dan menjawab salamnya,
"Halo assalamu'alaikum."
"Calam," jawab Fatha lagi. Oh iya, Fatha sudah mampu mengucapkan "Akum" alias "Assalamu'alaikum" jika masuk rumah dan menjawab "Calam" atau "Wa'alaikumsalam" jika ada yang memberinya salam terlebih dahulu.
Selanjutnya kami bercakap-cakap semampunya dan sepahamnya ^^
Lewat permainan dengan telepon ini, Fatha melatih gaya belajar kinestetiknya dari bermain peran dan auditori dan percakapan yang kami lakukan.
Hari Sabtu ini menjadi hari yang dinantikan oleh kami sekeluarga. Sejak sepekan yang lalu Ayah sudah menginformasikan bahwa beliau akan ada acara workshop di Semarang. Kami pun merencanakan akan menghabiskan akhir pekan di Semarang sekaligus menginap di sana.
Ibu sudah memesan penginapan via aplikasi online. Hazotel nama penginapannya. Merupakan salah satu hotel syariah yang lokasinya di Banyumanik, Semarang. Tidak terlalu jauh dari venue acara Ayah.
Pagi tadi selepas Subuh kami sudah mulai bersiap-siap. Ibu memastikan seluruh pakaian serta perlengkapan menginap sudah diangkut. Ayah memandikan Fatha, memastikannya sudah sarapan dan siap berangkat.
Kami pun berangkat menuju lokasi. Tiba di O-mama-mia, Ayah melakukan registrasi ulang dan memberikan kejutan untuk Fatha. Rupanya peserta workshop mendapatkan suvenir berupa coklat berbentuk huruf yang dapat dipesan sesuai permintaan. Ayah memilih nama "Fatha".
Ibu pun mupeng.
Fatha pun melepas Ayah untuk menuntut ilmu. Ia sempat melambaikan tangan pada Ayah sebelum beranjak menuju lokasi bermain.
Jadi permainan kami hari ini menjadi salah satu family project yang sudah saya dan Fatha susun sebelumnya. Proyek kali ini mengambil lokasi di Trans Studio Mini Setiabudi. Beberapa hari sebelum hari ini, saya sudah mengajak Fatha merencanakan kegiatan. Fatha akan berperan sebagai leader. Ia yang akan menentukan wahana permainan yang akan kami coba meskipun kenyataannya banyak permainan yang belum boleh diikuti oleh anak berusia 1,5 tahun :)
Pukul 10 tepat, kami sudah berada di lokasi. Sebelum menuju wahana permainan, Fatha sudah menunjuk troli pengangkut barang belanjaan. Ia menarik tangan saya dan meminta didudukkan di dalam troli. Sesuai kesepakatan, saya mengikuti keinginannya. Fatha menunjuk arah atau objek yang ia inginkan dan tugas saya mendorong troli ke arah tersebut.
Fatha menyapa hampir semua orang baik pengunjung maupun petugas di sana dengan senyum dan lambaian tangan. Alhamdulillah hari masih cukup pagi. Jadi belum terlalu banyak orang yang disapanya :)
Di tengah wara-wiri melihat sekeliling, Fatha mendadak minta "maem". Saya menawarkannya makan nasi dan lauk namun ia menolak. Rupanya yang diinginkannya adalah es krim. Es krim santan rasa kacang hijau adalah pilihannya. Alhamdulillah bisa habis separuh cup (jangan bertanya siapa yang menghabiskan sisanya).
Setelah selesai dengan es krim dan tak lupa minum air putih ("ninik"), Fatha menarik tangan saya mencari mobil-mobilan yang ia inginkan. Pilihan jatuh pada mobil sedan berwarna biru. Selama hampir satu jam ia mengamati sekelilingnya: orang-orang berlalu-lalang hingga roller coaster yang melintas di atas kami.
Karena jam tidur Fatha sudah terlewat jauh, saya sempat membawanya menuju ruang laktasi untuk meninabobokkannya. Rupanya tak manjur. Fokus perhatiannya masih pada riuh ramai di kejauhan. Tak berapa lama ia kembali mengajak saya menuju mobil-mobilan sebelumnya.
Untunglah Om Adhit sudah selesai dengan pekerjaannya, dan menjemput kami. Fatha dan Om Adhit sempat mencoba 1 wahana permainan yang diinginkan Fatha: kereta api, kemudian kami pergi makan dan kembali ke hotel. Fatha bisa puas tidur setelahnya, alhamdulillah.
Hasil pengamatan gaya belajar Fatha berdasarkan proyek bermain di taman hiburan ini menunjukkan Fatha masih dominan visual (dilihat dari caranya mengamati sekeliling) dan auditori (kepekaannya terhadap suara orang maupun permainan di kejauhan). Saya belum dapat menilai kemampuan kinestetiknya karena belum ada cukup kesempatan untuk mengajaknya "terjun" ke playground tingkat tiga karena khawatir Fatha sudah cukup mengantuk.
Fatha sedang sangat bersemangat mengajak siapa saja yang ada di dekatnya membaca bersama. Seperti kemarin malam, setelah sesi mandi berakhir, ia mengajak Om Adhit-nya membaca bersama. Fatha memilih sendiri buku yang ia inginkan, kemudian membawa dengan kedua tangannya ke arah Om Adhit yang sedang berada di ruang tamu bersama Uti. Fatha kemudian menarik-narik kaki Omnya dan memintanya duduk di samping Fatha.
Mereka pun mulai membaca buku bersama.
Oh ya, sebelum membuka halaman buku, Fatha menyerahkan kacamata kesayangannya pada Om Adhit. Ia beranggapan bahwa kacamata adalah benda yang wajib dikenakan saat akan membaca buku, koran, maupun majalah. Penyebab munculnya anggapan itu adalah kebiasaan Uti dan Ayah Fatha yang membutuhkan kacamata baca maupun minus agar dapat membaca dengan jelas.
Kegiatan membaca buku didominasi oleh Fatha. Ia bercerita pada Om Adhit mengenai alat-alat transportasi. Ia menyebutkan satu persatu alat transportasi yang ada di dalam buku.
"Sepeda, (pe)sawat, bis" adalah beberapa contohnya.
Fatha juga menyebutkan tokoh-tokoh di dalam cerita dengan orang-orang yang dekat dalam kesehariannya. Ia menganggap keluarga di dalam buku cerita adalah ayah, ibu, Kak Fatha, dan Mbak Bulan. Mbak Bulan adalah putri sepupu ibu yang sepantaran dengannya. Fatha merasa akrab dengan Mbak Bulan karena sering mendengar cerita dari Uti atau saudara-saudara lain tentang Mbak Bulan. Maklum di keluarga besar, saling menanyakan atau berbagi kabar adalah hal yang wajar.
Selain membaca dongeng sendiri, rupanya menjelang tidur, Fatha masih ingin berkisah pada Ibu. Ia menggelar selimut tipisnya yang digunakan jika hawa cukup panas. Sebelumnya selimut ini adalah kain bedong atau pelapis perlak Fatha. Saat ini beralih fungsi karena Fatha sudah tak lagi menggunakan bedong maupun perlak (kan sudah ada sprei tahan air:) ).
Selimut bergambar beruang ini menjadi bahan dongengnya. Ia bercerita pada Ibu tentang beruang kecil dan bola mainannya. Meskipun banyak kata yang belum Ibu pahami, Ibu Fatha terus memancingnya untuk terus bercerita.
Setelah diingat-ingat lagi, dugaan Ibu, Fatha meniru cara mendongeng Ayah yang juga digunakan Uti. Ayah Fatha sering menggunakan tokoh-tokoh bergambar pada handuk, sprei, maupun sarung bantal untuk menceritakan suatu kisah pada Fatha. Uti akhirnya mengikuti jejak Ayah untuk menggunakan "alat peraga" tersebut saat bercerita. Domba hitam dan ungu, beruang Pooh dan kawan-kawannya, mobil-mobil dan truk derek adalah sebagian tema yang sering disampaikan Ayah dan Uti pada Fatha.
Ibu menyimpulkan, Fatha cepat menangkap ilmu baru melalui gaya belajar visual dari tokoh-tokoh bergambar dan auditori dari suara Ayah dan Uti saat bercerita.
Hari ini merupakan jadwal imunisasi booster Pentabio bagi Fathal. Qodarullah saya baru beberapa menit tiba di rumah dari tugas luar kota sehingga dapat mengantarkannya ke Puskesmas. Ada beberapa kejutan menyenangkan yang diberikan Fatha sepanjang pagi tadi.
Fatha sudah berinisiatif mengenakan sepatunya sendiri tanpa meminta bantuan. Hasilnya cukup rapi karena ia tidak protes atau mengeluh kurang nyaman.
Fatha sudah berani menunggu antrian dipanggil di tempat duduk khusus anak-anak, sedangkan saya duduk agak jauh. Ia bahkan mau melahap sendiri makanan selingan berupa roti isi sosis.
Fatha sudah berani menyapa anak-anak balita di Puskesmas dan mengajaknya berbicara meskipun kata-kata Fatha masih sulit dipahami. Diawali dengan pelan-melan mencolek lawan bicaranya, diikuti dengan senyuman, dan dilanjitkan dengan ocehan.
Fatha sudah berani disuntik pada bagian lengan dan hanya berteriak tak nyaman saat jarum suntik menembus kulitnya. Setelahnya, ia sudah bisa tersenyum kembali.
Fatha di Ruang Tunggu
Mengamati calon lawan bicara
Sepatu hasil pemasangan sendiri
Alhamdulillah hari ini banyak kemandirian dan kecerdasan baru yang dikembangkan oleh Fatha. Secara umum, ia berhasil menerapkan hal-hal yang sehari-hari ia amati secara visual melalui contoh dari orang tua (cara mengenakan sepatu) maupun secara auditori (kata-kata yang ia gunakan untuk menyapa anak lain, meskipun belum jelas). Contoh-contoh itu kemudian ia praktekkan dengan menggunakan gaya belajar kinestetik.
Rasa ingin tahu yang besar merupakan salah satu karakteristik anak sebagai bagian dari fitrah belajarnya. Tak terkecuali Fatha. Ia sudah berada pada fase usia yang selalu ingin tahu dengan cara kerja suatu benda.
Malam tadi Fatha mengajak saya bermain-main dengan playmat-nya. Ia memindah-mindahkan mainan tersebut dari sudut kamar satu ke sudut lainnya, kemudian mulai bosan dan dibongkarnyalah mainan tersebut. Ia mulai memainkan satu persatu bagian playmat.
Setelah bosan, saatnya membereskan semua mainan tadi. Ia mulai mencoba menyusun satu persatu bagian playmat yang dilepas. Awalnya ia merasa kesulitan. Saya mencoba menawarkan bantuan dan dijawab dengan "mau" serta anggukan kepalanya.
Saya mencontohkan pada Fatha cara menyambungkan bagian tiang dengan bagian intinya. Fatha pun segera mengikuti meskipun masih mengalami kesulitan. Akhirnya saya menawarkan bantuan dan Fatha bersedia menyelesaikan pemasangan bersama-sama.
Kombinasi kinestetik dan visual masih mendominasi gaya belajar Fatha pada aktivitas kali ini. Ringkasannya kurang lebih sebagai berikut.
Mengamati segala gerak-gerik dan perilaku Si Kecil memang menyenangkan. Ada saja ide kreatifnya untuk menciptakan permainannya sendiri. Di rumah, kami (saya, Ayah, dan Uti Fatha) sepakat untuk membiarkan Fatha menyentuh berbagai macam peralatan rumah tangga selama itu tidak membahayakan. Saya memperhatikan akhir-akhir ini kemampuan Fatha bertambah dengan pesat.
Selain sudah mampu menuang susu sendiri ke dalam gelas dengan berhati-hati, minum sendiri dengan gelas bergagang, serta berinisiatif mengelap sendiri tumpahan susu di lantai, rupanya ia sudah bisa minum vitamin resep dari bu dokter tanpa drama. Semalam saya takjub karena Fatha meminum sendiri asam folat dan sirup zat besi dari sendok dan melanjutkan dengan minum air putih.
Masya Allah, tabarokalloh..
Fatha memang sedang dalam fase meniru. Salah satu kebiasaan ayahnya yang baru-baru ini senang ia tiru adalah dipijat. Setelah aktivitas fisik yang melelahkan, Fatha merasa perlu pijatan, seperti yang ia lakukan kemarin.
Kali ini Fatha sudah memposisikan dirinya di atas tempat tidur dan meminta diambilkan "inyak" untuk "ijitin". Utinya yang gemas dengan ulah Fatha tersebut berkomentar,
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," sambil mengeluarkan ponsel dan mulai memotret.
Fatha sudah bisa menyatakan pijatan ibu "enak" untuk badannya yang "pegal". Persis seperti ayahnya :)
Paginya seusai mandi, Fatha masih meminta dipijat. Sepertinya dia mulai ketagihan pijatan lembut ibunya. Hehehe..
Setelah mandi, biasanya keranjang atau ember berisi pakaian kotor akan kami bawa ke mesin cuci. Khusus pakaian dalam, batik, atau kerudung, kami akan mencucinya dengan tangan. Fatha sepertinya merekam baik hal tersebut. Jadi ketika saya mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ia "membantu" dengan cara memilah-milah pakaiannya sendiri dan mulai dipisahkan dari pakaian ibunya. Bahkan Fatha sempat mempraktekkan cara kami mengucek pakaian.
Aktivitas terakhir pagi tadi, Fatha sempat melihat saya mengambil gunting untuk memotong benang yang terurai dari pakaian. Saya mengatakan padanya bahwa ia sudah memiliki guntingnya sendiri, gunting khusus anak-anak. Ia pun mulai mempraktekkan cara menggenggam gunting dan mulai belajar memotong kertas dengan menggunakan gunting tersebut. Memang Fatha belum bisa menggunting dengan rapi seperti seharusnya, namun ia sudah mulai mengenal bagaimana cara gunting bekerja.
Untuk beberapa aktivitas, biasanya ia meniru karena sebelumnya sudah sering mengamati kami para orang dewasa di sekitarnya melakukan hal serupa. Dalam hal ini ia menggunakan gaya belajar visual. Namun ada kalanya Fatha menirukan apa yang ia dengar, terutama untuk kata-kata yang sudah pernah ia dengar sebelumnya atau justru baru saja ia dengar. Dalam kasus ini, ia menggunakan gaya belajar auditori. Sedangkan gaya belajar kinestetik ia praktekkan saat mulai bermain peran atau menirukan aktivitas kami. Secara singkat, aktivitas yang ia lakukan di hari ke-8 ini bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Pasca bermain dengan puas di hari libur kemarin (hari libur Ibu dan Ayah, tepatnya), Fatha tidur dengan bahagia. Posisi tidurnya yang mendesak posisi tidur Ayah merupakan posisi yang paling nyaman menurutnya, apalagi karena jarang-jarang bisa dilakukan :)
Paginya, saat bangun, Fatha sudah mencari-cari botol face toner dan menyerahkannya pada saya.
"Inyak, Ijitin," ucapnya. Rupanya Fatha meminta saya memijat kakinya dengan "minyak" yang ia bawa. Saya memintanya untuk berbaring tengkurap dan mulai mengoleskan face toner ke kaki dan tangannya lalu mulai memijatnya perlahan.
"Kakak capek ya? Kaki dan tangannya pegal-pegal? Sini ibu pijat pelan-pelan," ujar saya.
Seusai sesi pijat-memijat, saya meminta Fatha untuk mengucapkan terima kasih,
"Ma'acih," ucapnya. Sampai saat ini Fatha belum mau secara sukarela memanggil saya sebagai "ibu" meski dulu pernah berhasil menyebut "mbu". Ia lebih memilih memanggil saya (atau orang lain) dengan sebutan "mama" atau "nenen" (khusus saya).
Setelahnya, waktu mandi bagi Fatha. Di saat Ayah Fatha sedang ada di rumah, saya memercayakan urusan memandikan pada Sang Ayah. Momen bonding tampaknya banyak terbangun di sana. Ayah Fatha akan mengenalkan konsep panas dan dingin melalui air mandi, mengajarkan pada Fatha pula adab buang air besar dan kecil yang benar, yaitu dengan berjongkok. Ketika saya perhatikan, Fatha sedang senang-senangnya menirukan kata-kata apa pun yang ia dengar.
"Fatha sikat gigi dulu ya," bujuk ayahnya. Fatha akan menirukan,
"Kat gigi," sambil meraih sikat gigi dan mulai membuka mulutnya.
"Ciduknya dipegang erat-erat ya," pesan ayahnya lagi. Fatha kembali menirukan,
"Ciduk". FYI, ciduk adalah istilah Bahasa Jawa untuk gayung.
Pasca mandi, tidak seperti biasanya, Fatha meminta tambahan waktu nenen. Saya merasa ini ada hubungannya dengan kondisi badannya yang kurang fit. Jadi saya kabulkan saja keinginannya. Saya kembali bertanya apakah ia sedang merasa sakit di salah satu anggota tubuhnya. Dengan tegas Fatha menjawab,
"Tidak."
Ternyata sesi menyusu tidak berlangsung lama, ia meminta saya duduk di sebelahnya dan ia mulai membuka-buka buku cerita miliknya. Ia mulai menyebut satu per satu objek yang ada di buku.
"La" (bola, dulu ia sudah sempat mampu mengucap boa, namun saat ini "la" lebih sering digunakan untuk menyebut objek tersebut).
"Miong/Ucing" (kucing yang bersuara "meong")
"Njing/Awk awk" (anjing bersuara awk awk)
"Atu" (sepatu)
Fatha juga sudah mengenal konsep "dua". Ketika melihat sepasang objek (misalnya dua ekor cicak di dinding), ia akan segera menyebut "cicak dua". Sampai saat ini baru angka "dua" yang ia pahami dengan baik maknanya.
Jika disimpulkan dalam bentuk tabel, kurang lebih gaya belajar Fatha berdasarkan pengamatan di atas adalah sebagai berikut:
Fatha sepertinya masih menunjukkan kecenderungan gaya belajar yang dominan auditori. Apalagi saat ini ia sedang gemar-gemarnya menirukan suara maupun kata-kata yang kami ucapkan. Bahkan suara bersin pun pernah ia tirukan dengan jenaka.
Ketika berada di tempat dengan objek berwarna-warni atau asing yang baru ia lihat, biasanya gaya belajar visualnya mulai muncul. Ia akan mulai menunjuk dan bertanya.
#harike8
#Tantangan10hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel4
Hari libur kali ini terasa spesial karena ada hiburan berbeda dari akhir pekan biasanya. Pasar malam diselenggarakan tidak jauh dari alun...
Hari libur kali ini terasa spesial karena ada hiburan berbeda dari akhir pekan biasanya. Pasar malam diselenggarakan tidak jauh dari alun-alun kota dan kami baru mengetahuinya malam tadi ketika tanpa sengaja berjalan-jalan melaluinya.
Sebelum bercerita tentang pasar malam, kita mulai dulu dari rangkaian kegiatan Fatha seharian ini.
Pagi tadi, Fatha bermain di playmat bersama Ayah. Mereka berdua asyik dengan berbagai mainan yang digantung pada playmat. Sekilas terlihat seperti dua orang anak sebaya sedang berbagi mainan :)
Uniknya, kedua ayah dan anak ini sama-sama menggemari salah satu orgel, mainan berbentuk kuda poni yang ketika ditekan tombolnya akan mengeluarkan lagu Fur Elise. Saat terdengar lagu tersebut, spontan Fatha menggerakkan anggota tubuhnya, berjoget mengikuti irama lagu.
Setelah mandi pagi, Fatha mengajak Ayah bermain ke kolam ikan Yang Yut, melihat ikan-ikan mas yang berenang. Ia juga penasaran melempar bola ke dalam kolam, lalu berusaha mengambil bola di dalam kolam dengan menggunakan sapu lidi bergagang panjang. Setelah berhasil mengeluarkan bola dari dalam kolam dengan bantuan Mas Aleandra dan Mas Yoel, ia masih ingin mengulang melempar bola kembali ke dalam kolam.
Untuk mengalihkan perhatiannya, kedua kakak tadi menunjukkan empat ekor kodok yang asyik berenang di dalam kolam dengan gaya katak. Mas Ale menjaring sang kodok satu per satu dan mengeluarkannya dari dalam kolam atas perintah Yang Yut.
"Supaya kodoknya tidak bertelur di dalam kolam," Yang Yut beralasan.
Fatha tertarik melihat kodok-kodok yang berlompatan di luar kolam dan mulai mengejar salah satunya.
Kami pun beranjak pulang saat tiba waktu Fatha makan.
Malamnya, berhubung Bubi dan Om Adhit pulang ke rumah, kami pun berkeliling kota. Tanpa direncanakan, kami melewati alun-alun kota dan menemukan keramaian pasar malam di sana. Akhirnya kami sepakat untuk mampir beberapa saat.
Memasuki area pasar malam, Fatha mulai tertarik mengamati berbagai kios makanan dengan display yang menarik: gula-gula kapas, cumi dan sosis bakar, berbagai sate nugget dan tempura, minuman dalam kemasan, hingga berbagai wahana permainan seperti bianglala, kora-kora, playground, dan tong setan.
Saya sempat mengira Fatha akan terpikat untuk masuk ke dalam playground dan berlompat-lompatan di dalamnya. Rupanya Fatha menolak ketika kami tawari. Barangkali ia sudah mulai lelah karena waktu sudah cukup malam. Ia lebih memilih mendengarkan musik-musik dari kejauhan dan mulai berjoget.
Dari ketiga kegiatan yang dilakukan hari ini, Fatha menunjukkan gaya belajar yang dominan auditori diikuti visual. Bisa jadi karena situasi pasar malam cukup ramai sehingga ia kurang nyaman bergabung dan mengerahkan seluruh energinya untuk beraktivitas secara fisik.
The Saputros terdiri dari Ayah, Ibu, Fatha, dan Nadin. Ibu yang akan paling sering muncul di sini karena mendapat tugas dan kewajiban sebagai pemegang kunci rumah. Semoga kisah keluarga kami bermanfaat untuk pembaca..
Menulis adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Semacam belanja online :)
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Menulis secara online merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mengabadikan cerita dan kisah kami sekeluarga. Semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Ananda.
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances