Fatha sedang sangat bersemangat mengajak siapa saja yang ada di dekatnya membaca bersama. Seperti kemarin malam, setelah sesi mandi berakhir, ia mengajak Om Adhit-nya membaca bersama. Fatha memilih sendiri buku yang ia inginkan, kemudian membawa dengan kedua tangannya ke arah Om Adhit yang sedang berada di ruang tamu bersama Uti. Fatha kemudian menarik-narik kaki Omnya dan memintanya duduk di samping Fatha.
Mereka pun mulai membaca buku bersama.
Oh ya, sebelum membuka halaman buku, Fatha menyerahkan kacamata kesayangannya pada Om Adhit. Ia beranggapan bahwa kacamata adalah benda yang wajib dikenakan saat akan membaca buku, koran, maupun majalah. Penyebab munculnya anggapan itu adalah kebiasaan Uti dan Ayah Fatha yang membutuhkan kacamata baca maupun minus agar dapat membaca dengan jelas.
Kegiatan membaca buku didominasi oleh Fatha. Ia bercerita pada Om Adhit mengenai alat-alat transportasi. Ia menyebutkan satu persatu alat transportasi yang ada di dalam buku.
"Sepeda, (pe)sawat, bis" adalah beberapa contohnya.
Fatha juga menyebutkan tokoh-tokoh di dalam cerita dengan orang-orang yang dekat dalam kesehariannya. Ia menganggap keluarga di dalam buku cerita adalah ayah, ibu, Kak Fatha, dan Mbak Bulan. Mbak Bulan adalah putri sepupu ibu yang sepantaran dengannya. Fatha merasa akrab dengan Mbak Bulan karena sering mendengar cerita dari Uti atau saudara-saudara lain tentang Mbak Bulan. Maklum di keluarga besar, saling menanyakan atau berbagi kabar adalah hal yang wajar.
Selain membaca dongeng sendiri, rupanya menjelang tidur, Fatha masih ingin berkisah pada Ibu. Ia menggelar selimut tipisnya yang digunakan jika hawa cukup panas. Sebelumnya selimut ini adalah kain bedong atau pelapis perlak Fatha. Saat ini beralih fungsi karena Fatha sudah tak lagi menggunakan bedong maupun perlak (kan sudah ada sprei tahan air:) ).
Selimut bergambar beruang ini menjadi bahan dongengnya. Ia bercerita pada Ibu tentang beruang kecil dan bola mainannya. Meskipun banyak kata yang belum Ibu pahami, Ibu Fatha terus memancingnya untuk terus bercerita.
Setelah diingat-ingat lagi, dugaan Ibu, Fatha meniru cara mendongeng Ayah yang juga digunakan Uti. Ayah Fatha sering menggunakan tokoh-tokoh bergambar pada handuk, sprei, maupun sarung bantal untuk menceritakan suatu kisah pada Fatha. Uti akhirnya mengikuti jejak Ayah untuk menggunakan "alat peraga" tersebut saat bercerita. Domba hitam dan ungu, beruang Pooh dan kawan-kawannya, mobil-mobil dan truk derek adalah sebagian tema yang sering disampaikan Ayah dan Uti pada Fatha.
Ibu menyimpulkan, Fatha cepat menangkap ilmu baru melalui gaya belajar visual dari tokoh-tokoh bergambar dan auditori dari suara Ayah dan Uti saat bercerita.
Blog ini berisi kisah hidup, perjuangan, cerita-cerita manis, dan semua hal yang harus membuat saya lebih bersyukur. Meskipun saya percaya bahwa “tidak semua hal perlu di-publish”, namun keputusan telah dibuat untuk menuliskan pengalaman tersebut di blog ini agar semakin banyak orang yang membacanya. Semoga bisa memberikan manfaat untuk lebih banyak orang..
The Saputros terdiri dari Ayah, Ibu, Fatha, dan Nadin. Ibu yang akan paling sering muncul di sini karena mendapat tugas dan kewajiban sebagai pemegang kunci rumah. Semoga kisah keluarga kami bermanfaat untuk pembaca..
Menulis adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Semacam belanja online :)
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Menulis secara online merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mengabadikan cerita dan kisah kami sekeluarga. Semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Ananda.
0 comment(s):