Hari Sabtu ini menjadi hari yang dinantikan oleh kami sekeluarga. Sejak sepekan yang lalu Ayah sudah menginformasikan bahwa beliau akan ada acara workshop di Semarang. Kami pun merencanakan akan menghabiskan akhir pekan di Semarang sekaligus menginap di sana.
Ibu sudah memesan penginapan via aplikasi online. Hazotel nama penginapannya. Merupakan salah satu hotel syariah yang lokasinya di Banyumanik, Semarang. Tidak terlalu jauh dari venue acara Ayah.
Pagi tadi selepas Subuh kami sudah mulai bersiap-siap. Ibu memastikan seluruh pakaian serta perlengkapan menginap sudah diangkut. Ayah memandikan Fatha, memastikannya sudah sarapan dan siap berangkat.
Kami pun berangkat menuju lokasi. Tiba di O-mama-mia, Ayah melakukan registrasi ulang dan memberikan kejutan untuk Fatha. Rupanya peserta workshop mendapatkan suvenir berupa coklat berbentuk huruf yang dapat dipesan sesuai permintaan. Ayah memilih nama "Fatha".
Ibu pun mupeng.
Fatha pun melepas Ayah untuk menuntut ilmu. Ia sempat melambaikan tangan pada Ayah sebelum beranjak menuju lokasi bermain.
Jadi permainan kami hari ini menjadi salah satu family project yang sudah saya dan Fatha susun sebelumnya. Proyek kali ini mengambil lokasi di Trans Studio Mini Setiabudi. Beberapa hari sebelum hari ini, saya sudah mengajak Fatha merencanakan kegiatan. Fatha akan berperan sebagai leader. Ia yang akan menentukan wahana permainan yang akan kami coba meskipun kenyataannya banyak permainan yang belum boleh diikuti oleh anak berusia 1,5 tahun :)
Pukul 10 tepat, kami sudah berada di lokasi. Sebelum menuju wahana permainan, Fatha sudah menunjuk troli pengangkut barang belanjaan. Ia menarik tangan saya dan meminta didudukkan di dalam troli. Sesuai kesepakatan, saya mengikuti keinginannya. Fatha menunjuk arah atau objek yang ia inginkan dan tugas saya mendorong troli ke arah tersebut.
Fatha menyapa hampir semua orang baik pengunjung maupun petugas di sana dengan senyum dan lambaian tangan. Alhamdulillah hari masih cukup pagi. Jadi belum terlalu banyak orang yang disapanya :)
Di tengah wara-wiri melihat sekeliling, Fatha mendadak minta "maem". Saya menawarkannya makan nasi dan lauk namun ia menolak. Rupanya yang diinginkannya adalah es krim. Es krim santan rasa kacang hijau adalah pilihannya. Alhamdulillah bisa habis separuh cup (jangan bertanya siapa yang menghabiskan sisanya).
Setelah selesai dengan es krim dan tak lupa minum air putih ("ninik"), Fatha menarik tangan saya mencari mobil-mobilan yang ia inginkan. Pilihan jatuh pada mobil sedan berwarna biru. Selama hampir satu jam ia mengamati sekelilingnya: orang-orang berlalu-lalang hingga roller coaster yang melintas di atas kami.
Karena jam tidur Fatha sudah terlewat jauh, saya sempat membawanya menuju ruang laktasi untuk meninabobokkannya. Rupanya tak manjur. Fokus perhatiannya masih pada riuh ramai di kejauhan. Tak berapa lama ia kembali mengajak saya menuju mobil-mobilan sebelumnya.
Untunglah Om Adhit sudah selesai dengan pekerjaannya, dan menjemput kami. Fatha dan Om Adhit sempat mencoba 1 wahana permainan yang diinginkan Fatha: kereta api, kemudian kami pergi makan dan kembali ke hotel. Fatha bisa puas tidur setelahnya, alhamdulillah.
Hasil pengamatan gaya belajar Fatha berdasarkan proyek bermain di taman hiburan ini menunjukkan Fatha masih dominan visual (dilihat dari caranya mengamati sekeliling) dan auditori (kepekaannya terhadap suara orang maupun permainan di kejauhan). Saya belum dapat menilai kemampuan kinestetiknya karena belum ada cukup kesempatan untuk mengajaknya "terjun" ke playground tingkat tiga karena khawatir Fatha sudah cukup mengantuk.
Blog ini berisi kisah hidup, perjuangan, cerita-cerita manis, dan semua hal yang harus membuat saya lebih bersyukur. Meskipun saya percaya bahwa “tidak semua hal perlu di-publish”, namun keputusan telah dibuat untuk menuliskan pengalaman tersebut di blog ini agar semakin banyak orang yang membacanya. Semoga bisa memberikan manfaat untuk lebih banyak orang..
The Saputros terdiri dari Ayah, Ibu, Fatha, dan Nadin. Ibu yang akan paling sering muncul di sini karena mendapat tugas dan kewajiban sebagai pemegang kunci rumah. Semoga kisah keluarga kami bermanfaat untuk pembaca..
Menulis adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Semacam belanja online :)
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Menulis secara online merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mengabadikan cerita dan kisah kami sekeluarga. Semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Ananda.
Senangnya Fatha....
ReplyDelete