Pasca bermain dengan puas di hari libur kemarin (hari libur Ibu dan Ayah, tepatnya), Fatha tidur dengan bahagia. Posisi tidurnya yang mendesak posisi tidur Ayah merupakan posisi yang paling nyaman menurutnya, apalagi karena jarang-jarang bisa dilakukan :)
Paginya, saat bangun, Fatha sudah mencari-cari botol face toner dan menyerahkannya pada saya.
"Inyak, Ijitin," ucapnya. Rupanya Fatha meminta saya memijat kakinya dengan "minyak" yang ia bawa. Saya memintanya untuk berbaring tengkurap dan mulai mengoleskan face toner ke kaki dan tangannya lalu mulai memijatnya perlahan.
"Kakak capek ya? Kaki dan tangannya pegal-pegal? Sini ibu pijat pelan-pelan," ujar saya.
Seusai sesi pijat-memijat, saya meminta Fatha untuk mengucapkan terima kasih,
"Ma'acih," ucapnya. Sampai saat ini Fatha belum mau secara sukarela memanggil saya sebagai "ibu" meski dulu pernah berhasil menyebut "mbu". Ia lebih memilih memanggil saya (atau orang lain) dengan sebutan "mama" atau "nenen" (khusus saya).
Setelahnya, waktu mandi bagi Fatha. Di saat Ayah Fatha sedang ada di rumah, saya memercayakan urusan memandikan pada Sang Ayah. Momen bonding tampaknya banyak terbangun di sana. Ayah Fatha akan mengenalkan konsep panas dan dingin melalui air mandi, mengajarkan pada Fatha pula adab buang air besar dan kecil yang benar, yaitu dengan berjongkok. Ketika saya perhatikan, Fatha sedang senang-senangnya menirukan kata-kata apa pun yang ia dengar.
"Fatha sikat gigi dulu ya," bujuk ayahnya. Fatha akan menirukan,
"Kat gigi," sambil meraih sikat gigi dan mulai membuka mulutnya.
"Ciduknya dipegang erat-erat ya," pesan ayahnya lagi. Fatha kembali menirukan,
"Ciduk". FYI, ciduk adalah istilah Bahasa Jawa untuk gayung.
Pasca mandi, tidak seperti biasanya, Fatha meminta tambahan waktu nenen. Saya merasa ini ada hubungannya dengan kondisi badannya yang kurang fit. Jadi saya kabulkan saja keinginannya. Saya kembali bertanya apakah ia sedang merasa sakit di salah satu anggota tubuhnya. Dengan tegas Fatha menjawab,
"Tidak."
Ternyata sesi menyusu tidak berlangsung lama, ia meminta saya duduk di sebelahnya dan ia mulai membuka-buka buku cerita miliknya. Ia mulai menyebut satu per satu objek yang ada di buku.
"La" (bola, dulu ia sudah sempat mampu mengucap boa, namun saat ini "la" lebih sering digunakan untuk menyebut objek tersebut).
"Miong/Ucing" (kucing yang bersuara "meong")
"Njing/Awk awk" (anjing bersuara awk awk)
"Atu" (sepatu)
Fatha juga sudah mengenal konsep "dua". Ketika melihat sepasang objek (misalnya dua ekor cicak di dinding), ia akan segera menyebut "cicak dua". Sampai saat ini baru angka "dua" yang ia pahami dengan baik maknanya.
Jika disimpulkan dalam bentuk tabel, kurang lebih gaya belajar Fatha berdasarkan pengamatan di atas adalah sebagai berikut:
Fatha sepertinya masih menunjukkan kecenderungan gaya belajar yang dominan auditori. Apalagi saat ini ia sedang gemar-gemarnya menirukan suara maupun kata-kata yang kami ucapkan. Bahkan suara bersin pun pernah ia tirukan dengan jenaka.
Ketika berada di tempat dengan objek berwarna-warni atau asing yang baru ia lihat, biasanya gaya belajar visualnya mulai muncul. Ia akan mulai menunjuk dan bertanya.
Blog ini berisi kisah hidup, perjuangan, cerita-cerita manis, dan semua hal yang harus membuat saya lebih bersyukur. Meskipun saya percaya bahwa “tidak semua hal perlu di-publish”, namun keputusan telah dibuat untuk menuliskan pengalaman tersebut di blog ini agar semakin banyak orang yang membacanya. Semoga bisa memberikan manfaat untuk lebih banyak orang..
[…] Fatha memang sedang dalam fase meniru. Salah satu kebiasaan ayahnya yang baru-baru ini senang ia tiru adalah dipijat. Setelah aktivitas fisik yang melelahkan, Fatha merasa perlu pijatan, seperti yang ia lakukan kemarin. […]
The Saputros terdiri dari Ayah, Ibu, Fatha, dan Nadin. Ibu yang akan paling sering muncul di sini karena mendapat tugas dan kewajiban sebagai pemegang kunci rumah. Semoga kisah keluarga kami bermanfaat untuk pembaca..
Menulis adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan fokus pada apa yang sedang saya lakukan.
Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Semacam belanja online :)
Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.
Menulis secara online merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mengabadikan cerita dan kisah kami sekeluarga. Semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Ananda.
[…] Fatha memang sedang dalam fase meniru. Salah satu kebiasaan ayahnya yang baru-baru ini senang ia tiru adalah dipijat. Setelah aktivitas fisik yang melelahkan, Fatha merasa perlu pijatan, seperti yang ia lakukan kemarin. […]
ReplyDelete