Home Top Ad

Responsive Ads Here

Search This Blog

Masalah memantapkan hati mengenai pemilihan jenis latihan kemandirian untuk Fatha yang kemarin  dan beberapa saat lalu sempat membuat saya ...

Masalah memantapkan hati mengenai pemilihan jenis latihan kemandirian untuk Fatha yang kemarin dan beberapa saat lalu sempat membuat saya galau, alhamdulillah mulai menunjukkan titik terangnya. Semua berawal dari keisengan saya memantau perkembangan Fatha melalui Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).

Kuesioner ini memiliki dua bagian besar, yaitu bagian utama (penilaian perkembangan) dan cara melakukan stimulasi perkembangan pada anak. Oh iya, sebelum menggunakannya, kita harus memilih terlebih dahulu kategori usia yang sesuai bagi si kecil. Misalnya Fatha yang berusia 16 bulan cocok menggunakan penilaian perkembangan untuk usia 15 bulan. Sedangkan stimulasi perkembangannya menggunakan cara stimulasi untuk kategori usia 15-18 bulan.
Berdasarkan KPSP di atas, beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk menstimulasi kemampuan sosialisasi dan kemandiriannya adalah dengan membiarkan anak membuka bajunya sendiri dan memberi bantuan sesedikit mungkin. Selain itu anak bisa dilatih membereskan mainan dan membantu kegiatan di rumah. Awalnya dengan memberikan bantuan, sedikit demi sedikit biarkan ia melakukan sendiri.

Saya semakin yakin bahwa kesepakatan kami kemarin mengenai latihan kemandirian sudah cukup tepat. Kemampuan melepas baju sendiri memang sudah seharusnya dimiliki oleh anak seusia Fatha. Oleh sebab itu kami makin bersemangat melakukan latihan ini.

Hari kesembilan, Fatha sudah bisa lebih konsisten melepas pakaiannya meskipun kadang diikuti dengan lari-lari dan menjelajah kamar. Selain itu Fatha juga sudah mulai rajin meletakkan mainannya yang selesai digunakan ke dalam kotak mainannya walau harus dengan instruksi dari ibu.

PicsArt_10-15-01.14.42

#Harike9
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Alhamdulillah hingga hari kedelapan, praktek latihan kemandirian Fatha masih terasa menantang dan menyenangkan. Ia masih konsisten melepas...


Alhamdulillah hingga hari kedelapan, praktek latihan kemandirian Fatha masih terasa menantang dan menyenangkan. Ia masih konsisten melepas kaos dan celananya sendiri dengan sedikit bantuan. Bonusnya, Fatha sekarang langsung meletakkan baju kotornya ke dalam ember cucian tanpa disuruh.

Bahkan hari ini, ketika ember yang biasa digunakan untuk mengumpulkan cucian sedang dipakai menampung air, Fatha secara otomatis masih meletakkan bajunya ke dalam ember tersebut. Akibatnya air bersih kami harus digunakan untuk keperluan selain mencuci piring dan pakaian :)

Bonus lainnya, Fatha sudah makin bersemangat makan dan menyuap sendiri makanan dari piringnya. Meskipun masih berantakan dan belum konsisten hingga habis.

Beberapa hal yang saya jadikan catatan penting mengenai latihan kemandirian selama 8 hari ini di antaranya adalah:

1. Mengenali kemauan dan kesiapan anak dengan baik

Biasanya anak akan menunjukkan tanda-tanda kesiapan melakukan sesuatu hal. Contohnya untuk toilet training, berdasarkan kisah teman-teman, anak sudah mampu meberikan sinyal akan BAB atau BAK. Biarpun belum bisa berkata, misalnya, anak yan memberikan sinyal dengan gestur atau bahasa tubuh sudah dapat dilatih toilet training.

Untuk kasus Fatha, ia sudah menunjukkan keinginannya untuk memilih pakaian yang akan dikenakan maupun melepas bajunya sendiri. Juga keinginan untuk makan dengan usahanya sendiri (termasuk menyuapi orang lain jika sudah mulai bosan).

Walau kadang saya masih merasa ragu, apakah pilihan jenis latihan ini sudah sesuai bagi Fatha atau belum, tapi selama konsisten menjalaninya, alhamdulillah perlahan menunjukkan hasil yang membahagiakan.

2. Memberikan kepercayaan pada anak untuk melakukan semuanya sendiri.

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih kemandiriannya, orang tua perlu menahan diri untuk tidak langsung memberikan bantuan ketika anak mendapat kesulitan saat praktek. Poin ini masih menjadi tantangan bagi saya karena biasanya saya merasa "gatal" untuk langsung turun tangan membantu. Terutama jika diburu waktu dan gerakan Fatha dirasa kurang cepat.

Tentunya kepercayaan tadi tetap perlu diimbangi dengan pengawasan. Dalam kasus Fatha hari ini, ia sudah berhasil mencelupkan pakaian kotornya ke dalam ember yang tidak seharusnya. Lain waktu saya harus mengawasinya dengan lebih baik agar tidak kecolongan lagi. Hehehe.

Anyway, terima kasih sudah mau berusaha ya Nak ^^

#Harike8
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Hari terakhir minggu pertama ini sangat menantang buat Ibu Fatha mempraktekkan latihan kemandirian untuk Fatha. Pasalnya kondisi ayah Fath...


Hari terakhir minggu pertama ini sangat menantang buat Ibu Fatha mempraktekkan latihan kemandirian untuk Fatha. Pasalnya kondisi ayah Fatha yang baru saja keluar dari RS akibat vertigo yang dideritanya dan Fatha yang masih diare.

Ibu yang masih ada pekerjaan di luar kantor akhirnya memboyong ayah dan Fatha ke hotel sehingga bisa diawasi dengan baik tanpa memecah perhatian seperti hari-hari sebelumnya, pergi pulang di dua kota. Ibu belum bisa memberikan pilihan pakaian Fatha untuk dibawa karena waktu yang cukup terbatas. Pun ketika waktu tidur tiba, Fatha masih asyik menjelajah kamar tidurnya.

PicsArt_10-13-10.36.31.png

Meskipun demikian, saat menjelang mandi keesokan harinya, Fatha cukup kooperatif. Ia melepas sendiri piyama tidurnya setelah dibantu ibu membuka kancing bajunya.

Acara mandi juga terasa menyenangkan karena Fatha bermain air di "ember mandi" yang berukuran lebih besar daripada yang ada di rumah.

PicsArt_10-13-11.10.36.jpg

Fatha juga sudah mulai ingin melakukan semuanya sendiri, termasuk mencoba membasuh sabun mandi yang ada di seluruh tubuh dengan menggunakan "gayung" (ia menyebutnya "duk" alias "ciduk", bahasa Jawa untuk gayung). "Gayung" yang ia gunakan sebenarnya adalah mangkok plastiknya yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan.

Terima kasih sudah bekerja sama dengan baik ya Nak..

#Harike7
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Cerita latihan melepas baju Fatha kemarin sore ter-skip karena saya pulang dari kantor cukup malam. Itu pun karena Fatha sudah beranjak ti...


Cerita latihan melepas baju Fatha kemarin sore ter-skip karena saya pulang dari kantor cukup malam. Itu pun karena Fatha sudah beranjak tidur dan merasa belum dipamiti ibunya sehingga agak rewel. Maafkan ibu ya, Nak..

Pagi ini Fatha sudah cukup konsisten mampu melepas kaos dalamnya sendiri. Memang belum ada peningkatan dengan jenis pakaian lain, tapi sudah cukup membuat saya bahagia.

Satu cerita bahagia lainnya, ia sudah berbaik hati membantu orang tuanya menyapu lantai.

"Apu, apu," ujarnya menunjuk sapu di sudut tersembunyi di samping rumah.

"Fatha mau menyapu lantai? Boleh, ambil saja," jawab saya.

Dan ia langsung mempraktekkan gaya menyapu lantai sambil memegang sisir.

Dalam hal menyapu, sepertinya Fatha lebih rajin daripada ibunya. Hehehe

PicsArt_10-12-01.34.31

#Harike6
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Semakin hari Fatha sudah makin lihai membuka kaos dalamnya sendiri. Semalam saya sengaja memakaikan kaos luar yang longgar. Hasilnya, p...

Semakin hari Fatha sudah makin lihai membuka kaos dalamnya sendiri. Semalam saya sengaja memakaikan kaos luar yang longgar.

Hasilnya, pagi ini saat akan mandi, Fatha berhasil membuka kaos dalam dan kaos luarnya sendiri. "Masya Allah, sudah makin pintar anak ibu melepas pakaian.."

Namun Fatha masih kesulitan melepas celana panjangnya sendiri. Nanti sore rencananya kami coba lagi saat ia mengenakan celana pendek.

Di samping melepas pakaian, rupanya tanpa sadar Fatha sudah mengembangkan kemampuan lainnya. Ia sudah bisa tidur sendiri tanpa ditemani.

Jadi semalam, pasca menyusu, Fatha sudah siap dengan selimutnya dan mengusir nyamuk-nyamuk dari dalam kelambu. Ia meminta saya menutup resliting kelambu lalu merebahkan dirinya di atas bantal. Selanjutnya ia sudah asyik dengan senandungnya sendiri dan tak berapa lama ia tertidur.

Alhamdulillah, makin besar anak ibu makin mandiri..

Meskipun beberapa kali di malam hari ia masih terbangun meminta "nenen", tapi semangat mandirinya membuat ibu bahagia..

#Harike5
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Hari keempat, Fatha sudah berhasil melepas kaos dalamnya sendiri dengan sukses. Melepas pakaian luar terutama yang tidak berkancing masih ...


Hari keempat, Fatha sudah berhasil melepas kaos dalamnya sendiri dengan sukses. Melepas pakaian luar terutama yang tidak berkancing masih menjadi tantangan sendiri untuknya.

PicsArt_10-10-02.19.54.png

Meskipun semalam Fatha mengeluh sakit perut (yang belakangan diketahui karena diare), alhamdulillah ia masih bersemangat berlatih melepas pakaian sesuai pembicaraan kami kemarin.

Oh iya, frekuensi BABnya alhamdulillah sudah mulai berkurang. Tinggal menambah asupan cairan lewat minuman dan makanan.

Kembali ke masalah berpakaian, Fatha masih berlatih melepas celana sendiri (ia masih kesulitan menyeimbangkan tubuh, jadi latihan dilakukan sambil duduk) dan kaos kami pilihkan yang cukup longgar dan berkancing agar Fatha mudah membuka.

Target besok insyaAllah ditingkatkan menjadi "mampu melepas celana/baju sendiri".

#Harike4
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Menindaklanjuti kesalahan yang saya lakukan di hari kedua , malam kemarin saya "ngobrol" dengan Fatha. Sebelumnya, setelah sh...

Menindaklanjuti kesalahan yang saya lakukan di hari kedua, malam kemarin saya "ngobrol" dengan Fatha.

Sebelumnya, setelah sholat maghrib, Fatha sempat terpeleset dan jatuh karena bekas pel yang masih basah. Saya sempat menyesal luar biasa dan menyalahkan diri sendiri. Perasaan bersalah itu kemudian mulai berkurang setelah saya meminta maaf padanya dan memeluknya.

Kembali pada "diskusi" saya dengan Fatha. Saya menyampaikan rencana latihan kemandirian pada Fatha,

"Nak, mulai besok, kita bekerja sama yuk. Sebelum mandi, Fatha lepas baju sendiri ya. Pilih baju sendiri.."

Saya memantapkan niat dengan latihan kemandirian kali ini. Hari kemarin selain belum memberikan informasi pada Fatha mengenai tantangan 10 hari, saya juga belum mantap dengan pilihan tantangan yang kami lakukan. Saya sempat berpikir, jangan-jangan Fatha belum siap dengan latihan ini. Jangan-jangan ia masih terlalu kecil untuk diajarkan memilih baju dan melapas pakaian sendiri.

Namun diskusi semalam teman-teman di grup WhatsApp menyemangati saya bahwa kita cukup memberikan kepercayaan pada anak, dan biarkan ia melakukan sendiri dengan pengawasan dan bimbingan. Jadi saya kembali membulatkan tekad untuk melatih Fatha masalah per-baju-an ini.

Alhamdulillah tadi pagi setelah bangun tidur, Fatha begitu kooperatif diajak memilih pakaian dan melepas baju sendiri. Saat ini ia masih membutuhkan bantuan untuk melepas kaos luar, namun ia sudah mahir melepas kaos dalam sendiri.

Good job, Nak..

Bonus kegiatan yang membuat saya bahagia hari ini: Fatha semangat makan sendiri meski awalnya masih sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri ^.^;

PicsArt_10-09-10.43.00.jpg

Lagi-lagi komunikasi produktif harus kami praktekkan lagi,

"Nak, mari makan sambil duduk," dan ia pun mengikuti instruksi sambil menirukan, "duduk"

"Makan dengan tangan kanan, Nak," da  ia pun menggunakan kedua tangan untuk memegang tempe goreng favoritnya.

Terima kasih, Fatha :)

#Harike3
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Hari Senin pagi, Ibu dan Ayah Fatha sudah akan berangkat bekerja lagi. Sebelum mandi, Ibu menawarkan pilihan kepada Fatha, akan mengenakan ...

Hari Senin pagi, Ibu dan Ayah Fatha sudah akan berangkat bekerja lagi. Sebelum mandi, Ibu menawarkan pilihan kepada Fatha, akan mengenakan baju lengan pendek atau singlet mengingat akhir-akhir ini cuaca panas sekali. Ia kemudian mengambil sendiri pakaian pilihannya.

Oke, sudah ada kemajuan dari hari kemarin. Ia tidak lagi mengambil semua pakaian dari dalam kontainer dan membuangnya ke lantai.

Tapii, sepasang celana dan kaos yang ia ambil kemudian dilemparnya begitu saja ke lantai..

PicsArt_10-08-10.10.30.jpg

Pak Suami memberikan instruksi singkat pada Fatha untuk memungut dan mengembalikan pakaian kepada Ibu. Hasilnya, Fatha belum menggubris instruksi Ayah..



PicsArt_10-08-09.58.06

Saya dan Pak Suami saling melempar pandang. Baiklah, ada yang salah di sini.

Setelah kami diskusikan lagi setelah Fatha mandi, rupanya kami belum melakukan sounding kepada Fatha. Inilah masalahnya. Barangkali Fatha belum merasa terlibat dalam latihan ini.

Insya Allah dengan mengikuti kaidah choose the right timemalam ini saat quality time, Ibu akan berkisah pada Fatha mengenai rencana latihan kemandirian ini. Semoga cerita besok bisa lebih sukses. Aamiin..


#Harike2
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Level kedua tantangan Bunda Sayang sudah dimulai. Bulan ini tema yang telah ditentukan adalah "Melatih Kemandirian". Bagi Fatha y...

Level kedua tantangan Bunda Sayang sudah dimulai. Bulan ini tema yang telah ditentukan adalah "Melatih Kemandirian". Bagi Fatha yang sebentar lagi menginjak usia 16 bulan, ada beberapa tema yang bisa kami pilih.

1. Toilet training (TT)
Sebelum usia 2 tahun idealnya toilet training sudah dituntaskan. Berdasarkan pengalaman teman-teman yang memulai TT pada usia >2 tahun, tantangannya jauh lebih besar karena anak sudah mulai memiliki banyak alasan.

Ketika saya diskusikan hal ini dengan Ayah dan Uti, kami sepakat untuk memulainya dalam waktu dekat, insyaAllah pada usia 18 bulan. Saat ini kami akan melengkapi dahulu peralatan yang dibutuhkan untuk TT, misalnya perlak dan training pants. Perlak yang kami miliki saat ini sudah tidak cukup untuk Fatha mengingat daya jelajahnya saat tidur saat ini sama luasnya dengan ukuran kasur.

2. Memilih pakaian sendiri
Sebenarnya selama beberapa bulan terakhir, kami sudah beberapa kali mempersilakan Fatha untuk menentukan sendiri pilihan berpakaiannya. Hanya saja belum konsisten. Memakai baju sendiri saat ini pun masih belum sepenuhnya bisa dilakukan karena Fatha masih sering teralihkan fokusnya dan lebih asyik bermain daripada ganti baju. Melepas pakaian cenderung lebih bisa dia lakukan karena lebih mudah dan mungkin Fatha rasakan lebih seru.

3. Merapikan mainan
Opsi lainnya adalah merapikan mainan setelah selesai dimainkan. Termasuk memungut kembali mainannya (atau benda apa pun) yang sering ia lempar keluar jendela kamar.

4. Makan sendiri
Proses makan bagi Fatha selama ini terlihat menyenangkan apabila melibatkannya secara aktif. Jadi selama ini kami menyiapkan dua buah sendok, satu untuk ia gunakan sendiri dan masih kami bantu menyuapkan makanan dengan sendok lainnya. Fatha juga sudah menunjukkan keinginannya untuk melakukan hal yang sama, menyuapi orang lain. Sebenarnya kami lihat ia sudah siap untuk makan sendiri, sehingga untuk fokus latihan kemandirian ini kami pilih poin yang lain. Tetap Fatha kami persilakan untuk berlatih makan sendiri dengan bantuan orang tua.

Menyapih tidak masuk hitungan saat ini karena kami sepakat memberikan hak ASI hingga 2 tahun.

Akhirnya setelah diskusi singkat, kami sepakat mengutamakan poin kedua, memilih pakaian sendiri, sebagai target jangka pendek. Jika memungkinkan, "merapikan mainan" akan kami jadikan opsi keduanya.

Aktivitas Fatha memilih pakaian hari pertama. Awalnya ibu langsung membukakan kontainer pakaian ya. Ternyata hasilnya kurang sesuai harapan. Fatha terlalu bersemangat sampai-sampai banyak potong pakaian yang ia hamburkan keluar wadah.

PicsArt_10-08-10.14.29.png

Ibu pun membatasi pilihan menjadi dua opsi, dan inilah hasilnya setelah ia kenakan seusai mandi pagi.

PicsArt_10-08-10.12.07.jpg

#Harike1
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak ...

Selama lebih dari dua pekan terakhir, saya mencoba mempraktekkan Komunikasi Produktif bersama suami dan anak. Berhasil? Belum semua. Tidak bisa dianggap gagal  karena banyak sekali manfaat yang kami sekeluarga dapatkan.

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti perkuliahan Bunda Sayang (Bunsay) Ibu Profesional Batch 4 ini. Materi yang disampaikan pada level pertama ini benar-benar hal mendasar yang sangat saya butuhkan, terutama untuk keluarga tersayang. Jika mengenang kembali masa awal saya menikah dengan Pak Suami, betapa banyak cerita-cerita lucu, sedih, mengesankan akibat miss komunikasi.

Semakin matang usia pernikahan, semakin kami menyadari bahwa banyak hal yang harus disinkronkan agar kedamaian keluarga tercapai. Persis seperti materi Komukasi Produktif yang saya dapatkan pada pertemuan pertama Bunda Sayang, bahwa setiap pasangan suami istri berasal dari dua individu yang berbeda dengan latar belakang yang juga berbeda. Perbedaan latar belakang ini meliputi cara pandang (Frame of Reference/FoR) maupun pengalaman masa lalu (Frame of Experience/FoE).

Kami berdua mengakui, tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang berat karena merupakan masa penyesuaian bagi kami. Walaupun begitu, kami beruntung karena Allah memberikan kesempatan bagi kami untuk dapat mengenal individu masing-masing di tiga tahun pertama pernikahan. Kami memiliki cukup waktu untuk dapat melebur ego masing masing menjadi kepentingan bersama.

Saat itu kami menyusun cita-cita dan rencana mengenai seperti apa model pengasuhan yang akan kami terapkan untuk putra-putri kami nantinya. Berkaca dari kondisi pengasuhan yang kurang ideal di masa lalu, kami pun menyusun strategi untuk menjadi orang tua idaman versi kami.

Alhamdulillah tidak lama setelah konsep tersebut terbentuk, Allah memercayakan Fatha dalam kehidupan kami. Berbagai idealisme yang dulu pernah kami cita-citakan tentunya tidak selalu dapat tercapai. Terlebih kondisi pernikahan saya dan Pak Suami harus dijalani dengan jarak jauh dan hanya dapat bertemu sepekan sekali rentan mengalami miss komunikasi.

Di saat-saat seperti ini, prinsip-prinsip mengenai komunikasi produktif yang saya dapatkan dari kelas Bunda Sayang sangat membantu dan menguatkan.

Kali ini saya akan bercerita mengenai beberapa kisah yang belum sempat ditulis saat menyelesaikan tugas tantangan materi level 1.

Persiapan

Beberapa langkah permulaan sudah saya lakukan sebelum mempraktekkan komunikasi produktif hasil perkuliahan lalu. Langkah-langkah tersebut adalah
  1. Sounding kepada Pak Suami dan Ananda.
Selain meminta ijin dan restu kepada suami, saya juga menyampaikan review mengenai materi yang sudah saya dapatkan. Harapan saya, selain mendapatkan dukungan suami, ia pun dapat turut menerapkan praktek tersebut dan memperoleh manfaatnya. Fatha juga saya info dengan cara sederhana, sekaligus meminta doanya, "mohon bantuan dan kerja samanya ya Nak. InsyaAllah ibu sedang belajar berbicara dengan Fatha sengan lebih sabar".
  1. Berdoa meminta kekuatan, kelancaran, serta mampu konsisten menjalankan tantangan.
Bukan hanya tantangan selama 17 hari, namun sepanjang hidup. Saya juga berharap pada Allah agar ilmu yang saya dapatkan ini bermanfaat bagi kami sekeluarga, bahkan mungkin dapat ditularkan pada orang lain.

Praktek Komunikasi Produktif

Komunikasi Produktif dalam keluarga yang paling mendasar tentunya adalah komunikasi kepada diri sendiri. Diumpamakan jika pribadi kita sebagai teko, maka apa yang akan kita tumpahkan ke luar merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Untuk itu diperlukan pikiran yang selalu positif dalam memandang sesuatu. Selain itu pemilihan kata-kata yang positif juga perlu dilakukan untuk dapat memberikan energi dalam berkomunikasi.

Bagi saya pribadi, mengendalikan emosi merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam komunikasi dengan diri sendiri. Begitu emosi dan perasaan negatif muncul, biasanya segala pikiran jernih dan kesadaran untuk menghadapi lawan bicara akan buyar dan bubar jalan. Beberapa kisah tentang ikhtiar saya mengendalikan emosi bisa dibaca di sini dan sini

Selanjutnya komunikasi dengan pasangan perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang benar agar kedua belah pihak merasa saling dihargai. Ada lima (5) kaidah yang perlu dipegang teguh untuk dapat mencapai kualitas komunikasi yang baik. Tentu saja hal ini berlaku untuk komunikasi dengan orang dewasa lainnya. Kaidah-kaidah tersebut adalah:

1. Clear and clarity

Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi haruslah jelas dan lugas. Sebagai perempuan yang menyukai bahasa kode, kita harus benar-benar memastikan bahasa tersebut dipahami oleh pasangan :)

2. Memilih waktu yang tepat

Pemilihan waktu yang tepat menentukan kondisi emosi saat mengirim dan menerima pesan. Waktu yang terbaik untuk masing-masing pasangan bisa jadi berbeda. Di awal pernikahan, saya tipe orang yang harus menyelesaikan masalah sebelum tidur. Berkebalikan dengan Pak Suami yang memilih meredakan emosi dengan tidur, baru keesokan paginya dibahas bersama-sama dan saling meminta maaf. Pada akhirnya, kami sama-sama dapat saling memahami dan sepakat untuk tidak menyelesaikan sesuatu dalam kondisi emosi tidak stabil.

3. 7-38-55 (7% bahasa verbal : 38% intonasi suara : 55% bahasa tubuh)

Bahasa tubuh memegang peran paling penting dalam efektivitas penyampaian pesan, diikuti intonasi suara. Kesungguhan dan kejujuran dalam berkomunikasi dapat terbaca melalui bahasa tubuh ini. Salah satu upaya yang kami lakukan saat ini adalah berbicara dengan orang lain tanpa memandang HP. Fokus perhatian hanya kepada penerima pesan sehingga ia merasa dihargai.

4. Kontak mata yang intens

Kesungguhan dan perhatian juga dapat ditunjukkan dengan kontak mata yang intens. Bukan hanya pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak. Hal ini sudah kami sepakati, termasuk dalam berkomunikasi dengan ananda. Menyejajarkan posisi mata dengan anak dan menatap mata saat berkomunikasi akan membuat anak merasa dihargai.

5. Hasil komunikasi merupakan tanggung jawab pemberi pesan

Bagaimana pun hasil komunikasi, apakah berhasil atau tidak, merupakan tanggung jawab kita sebagai pemberi pesan. Diharapkan kita tidak akan menyalahkan orang lain jika terjadi miss komunikasi karena ikhtiar komunikasi yang baik sudah dilakukan.

Cerita singkat praktek komunikasi saya dengan Pak Suami dapat disimak di sini dan sini.

Komunikasi dengan anak pun perlu mendapat perhatian khusus semuda apapun usia anak. Dalam kasus saya, Fatha yang berusia 15 bulan ternyata sudah sangat tanggap dengan praktek komunikasi yang saya lakukan. Dari sebelas (11) kaidah komunikasi produktif untuk anak, saya baru dapat mempraktekkan 6 poin, yaitu:
  1. Keep Information Short & Simple (K.I.S.S.)
Hampir setiap kali instruksi yang saya gunakan dengan singkat dan sederhana.. Bagi anak dengan rentang konsentrasi yang masih terbatas seperti Fatha, cara ini cukup efektif. Intip cerita tentang K.I.S.S. pada hari ke-38101214, dan 17
  1. Mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah
Seperti halnya komunikasi dengan orang dewasa, intonasi suara memiliki peranan cukup penting dalam komunikasi. Bahkan untuk anak-anak, ketika saat berkomunikasi kita menyejajarkan posisi mata kita dengan mereka, anak merasa lebih diperhatikan. Praktek mengenai poin ini kami lakukan di hari ke-235, dan 17.
  1. Mengatakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
Poin ini rupanya sudah sering dipraktekkan oleh generasi sebelum kami. Alasannya, karena pamali berkata buruk. "Nanti jatuh lho," misalnya. Qodarullah pada jaman eyang dan orang tua saya, kata-kata tersebut jika diucapkan orang tua, justru dapat terjadi pada anaknya.

Saya sih melihatnya dari sudut pandang yang lain. Memberikan sounding positif pada anak justru menjadikan komunikasi berlangsung efektif. Anak lebih dapat menangkap maksud kita. Kisah tentang ini dapat diintip pada link hari ke-3 dan 5.
  1. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Pujian atau kritikan yang disampaikan kepada ananda perlu diberikan sebagai bentuk penghargaan maupun bahan perbaikan. Untuk itu keduanya perlu disampaikan secara spesifik, menyebutkan hal apa yang baik menurut kita hingga layak diberikan pujian. Atau jika kritikan, bagian apa yang masih harus diperbaiki untuk kritikan. Jadi yang dipuji atau dikritik adalah tindakan atau sikap anak. Bukan pribadinya. Contoh pemberian pujian untuk Fatha kami lakukan di hari ke-5 dan 10
  1. Mengganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
Seperti halnya orang dewasa, anak juga memiliki perasaan. Komunikasi dengannya pun harus memperhatikan perasaannya. untuk itu kita sebagai orang tua perlu menunjukkan empati saat berkomunikasi. Karena yang muncul dari hati, biasanya akan mengena di hati.  Saya mempraktekkan hal ini di hari ke-361011, dan 14
  1. Mengganti perintah dengan pilihan
Selain memberikan instruksi, ada kalanya saya ingin meminta pendapat pada Fatha. Mengingat usianya masih cukup muda, pendapatnya saya dapatkan dengan cara memberikan pilihan sempit, hanya 2 pilihan. Cerita lengkapnya dapat dilihat di sini.

Beberapa poin kaidah komunikasi produktif masih belum saya praktekkan,. Direncanakan beberapa saat lagi ketika kemampuan berbahasa Fatha lebih berkembang, insyaAllah akan saya dan Pak Suami lakukan. Poin-poin tersebut adalah:
  1. Fokus ke depan, bukan masa lalu

  2. Mengganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

  3. Fokus pada solusi, bukan masalah

  4. Mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman

  5. Mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
Ringkasan mengenai kaidah komunikasi produktif saya sarikan dari materi perkuliahan Bunda Sayang dalam bentuk skema Mind Map di bawah ini.
PicsArt_10-01-01.56.41

Alhamdulillah. kami sekeluarga menikmati game tantangan level ini. Semoga kami sekeluarga dapat terus menjalin komunikasi yang baik satu sama lain.

#aliranrasa
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Bahan Bacaan

Institut Ibu Profesional,. Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1, 2018

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza
Media, 2014

Hari terakhir praktek komunikasi produktif bersama Ananda terasa menyenangkan. Fatha sangat kooperatif diajak bekerja sama. Berawal da...


Hari terakhir praktek komunikasi produktif bersama Ananda terasa menyenangkan. Fatha sangat kooperatif diajak bekerja sama.

Berawal dari hobi baru Fatha saat menjelang tidur. Ia akan mencari posisi favorit di tepi tempat tidur dengan bagian pinggang hingga kaki menjuntai ke arah lantai. Kepalanya akan direbahkan di atas bantal dan tangannya menggenggam selimut kesayangannya.

Berkali-kali saya ingatkan ia untuk naik ke tempat tidur dan tidur dalam posisi yang saya anggap aman. Berkali-kali pula ia menggoda saya dengan senyuman lebar dan kembali pada posisi lamanya.

Kembali saya mengingat-kaidah kaidah komunikasi yang sekiranya dapat saya terapkan untuk kasus ini. Kali ini saya mencoba menjaga kalimat instruksi sesingkat dan sesederhana mungkin (KISS), mengendalikan intonasi suara, menggunakan suara ramah, serta memberikan pujian spesifik.

Saya berkata seramah mungkin, "Nak, ibu dongengi yuk. Sini tidur di samping ibu."

Ia mendekat ke arah saya.

"Nah, shalihnya anak ibu, mau mendengarkan saran ibu."

Fatha tertawa-tawa dan mulailah saya membacakan buku.

Ah, betapa anak saya sudah makin dewasa, bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Alhamdulillah..

#hari17
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Alhamdulillah sudah lebih dari dua pekan praktek komunikasi produktif saya lakukan untuk anak maupun suami. Beberapa berhasil baik, meski a...

Alhamdulillah sudah lebih dari dua pekan praktek komunikasi produktif saya lakukan untuk anak maupun suami. Beberapa berhasil baik, meski ada gagalnya juga.

Ada keasyikan tersendiri mereviu dan melihat lembali kisah-kisah selama 15 hari ini. Belum semua prinsip komunikasi bisa saya terapkan untuk keluarga namun saya optimis kami mampu untuk konsisten menerapkannya hingga nanti-nanti.

20181001_231641.jpg

Praktek komunikasi produktif ini juga membuat saya meyakini bahwa toddler atau anak-anak seusia Fatha pun ternyata sudah mampu berkomunikasi dengan baik. Banyak kata yang masih belum bisa dikatakan dengan jelas. Akan tetapi usahanya untuk menyampaikan pendapat atau perasaannya sangat layak diacungi jempol.

Itulah sebabnya komunikasi produktif sudah bisa diterpakan untuk bayi sekalipun. Karena mereka adalah makhluk pembelajar. Mampu menirukan apa yang orang-orang terdekatnya lakukan.

Kami sebagai orang tua harus makin mampu memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Tugas saya yang paling dekat saat ini adalah mengendalikan emosi, komunikasi produktif dengan diri sendiri yang ternyata paling sulit dipraktekkan.

Insya Allah besok pagi saya akan mencoba meringkas kembali bab mengenai komunikasi produktif ini. Harapan saya, kebiasaan baik yang sudah dilakukan tetap konsisten dilakukan hingga nanti.

#hari16
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional